Prolog

985 Kata
                Langit Bandara Haneda hari ini terlihat sangat cerah, berwarna biru, lengkap dengan guratan samar awan putih di beberapa sudut. Aku menengadah sebentar, lalu mengedarkan pandangan. “Sampai jumpa lagi, Jepang!” aku menggumam pelan, lalu segera berjalan menuju pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.                 Setiba di dalam pesawat, aku bergegas menuju tempat duduk yang tertera di boarding pass. Aku bersyukur mendapat tempat duduk yang dekat jendela, itu artinya, aku bisa melamun sembari menikmati pemandangan luar                   Aku baru saja memperbaiki posisi dudukku, ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki datang. Laki-laki itu sempat menatapku sejenak, lalu akhirnya duduk tepat di sebelahku. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena dia memakai topi hitam, juga masker berwarna hitam. “Mbak, bawa minum, nggak?”                 Mendengar pertanyaan dalam Bahasa Indonesia, praktis aku menoleh dengan ekspresi terkejut. Laki-laki ini orang Indonesia? Meski pesawat ini memang menuju Indonesia, tetapi dari tadi aku lihat kebanyakan penumpang, bukan berwajah orang Indonesia. “Bawa, atau nggak?” tanyanya lagi.   “Bawa. Bentar...”                    Aku reflek membuka ranselku, lalu menyerahkan air mineral baru yang tadi sempat aku beli sebelum ke Bandara. Aku dibuat melongo, ketika laki-laki itu menghabiskan air mineralku sampai habis tak tersisa. “Saya beli airnya, berapa?”                 Aku buru-buru menggeleng. “E-enggak usah. Nanti juga dapat minum.” “Kalau gitu, makasih banyak.” Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.                 Aku menggeram tertahan ketika merasakan ponsel di saku celanaku bergetar. Pasti dari Papi! Benar saja, begitu aku meraih ponsel, kontak yang tertera di layar adalah kontak Papi. “Hallo, Pi? Iya, ini aku udah di pesawat, sebentar lagi berangkat. Ya, nanti aku kabarin. Udah ya, Pi, hapenya mau aku matiin.”  Setelah sambungan terputus, aku segera mematikan ponsel, lalu merebahkan badan di sandaran kursi. Selama kurang lebih tuju setengah jam perjalanan, aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku terus berpikir bagaimana nanti aku harus menghadapi Papi dan Mami setibanya di rumah.                 Coba beri tahu aku, siapa di dunia ini yang suka dijodohkan? Kalau ada, bawa ke depanku, aku ajak dia ngobrol. Kenapa dia mau, dan apa alasannya?                 Papi dan Mami itu, penampilan luarnya saja yang terlihat modern, tetapi pemikirannya benar-benar kuno! Memangnya masih jaman, anak muda jaman sekarang menikah karena dijodohkan? Mana basi juga, ada acara ancam-mengancam!                 Sebelumnya, perkenalkan namaku Deana Sylva Anjani, dua puluh lima tahun, seorang designer pakaian, dan biasa dipanggil Dean.                 ‘Ih, cantik-cantik namanya panggilannya kaya cowok!’                 Ungkapan seperti itu sudah kudengar tak terhitung jumlahnya. Salahkan orang tuaku, kenapa mereka maksa memanggilku dengan sebutan Dean dari kecil. Mereka menolak mentah-mentah ketika ada orang lain yang menyarankan memanggilku dengan panggilan Ana, Sylva, atau Anjani. Kata mereka, nama Dean adalah nama yang paling cocok untukku                 Kembali ke orang tuaku, jadi alasan utama aku pulang dari Jepang adalah mereka. Mereka dengan segala pemikiran kunonya menyuruhku pulang untuk dijodohkan dengan anak dari teman mereka. Ancamannya pun semakin kuno, bahkan basi. Kata mereka, kalau aku tidak mau dijodohkan, semua fasilitasku dicabut dan namaku dihapus dari daftar waris.                 Sebenarnya, aku bisa saja menghidupi diriku dengan uang yang sudah aku hasilkan sendiri. Akan tetapi, aku sama sekali tidak rela kalau uang yang Papi dan Mami hasilkan akan jatuh ke tangan kakak angkatku, manusia yang bisanya cuma menghabiskan duit orang tua. Aku tidak ingin hasil kerja keras Papi dan Mami hanya dibuat foya-foya oleh manusia parasit itu. Juga, aku tidak ingin menjadi anak durhaka.                 Sejujurnya, aku lebih nyaman tinggal di Jepang. Selain menghasilkan banyak uang di sana, aku juga bisa belajar banyak hal, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Sayangnya, sebagai manusia biasa, aku hanya bisa berencana, Tuhan-lah yang pada akhirnya menentukan jalan hidupku akan bagaimana.                 Yang aku pikirkan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pulang adalah, bagaimana aku menyelamatkan namaku, juga menyenangkan kedua orang tuaku. Umur tidak ada yang tahu, jadi aku masih berpikir untuk menyenangkan mereka selagi masih ada.                 Kalau masalah perjodohan, itu bisa dipikir sambil jalan. Aku akan mencari cara untuk bebas. Semoga laki-laki yang akan dijodohkan denganku tidak menyukaiku. Serius, baru kali ini aku berharap orang tidak menyukaiku. Ckck! ...                 Aku yakin, mataku pasti terlihat sayu, juga badanku pasti terlihat kuyu begitu keluar dari bandara. Aku menarik koper dan duduk di kursi tunggu, menunggu orang suruhan Papi datang menjemput. “Ikut duduk.” Tiba-tiba saja, laki-laki yang tadi duduk di sebelahku datang. Aku tak menjawab, juga tak berniat menanggapi. Ini fasilitas umum, jadi sebenarnya laki-laki tadi tidak perlu izin. “Neng Dean!” aku langsung celingukan begitu mendengar namaku dipanggil. “Eh? Pak Jono, ya?” senyumku seketika terbit, setelah melihat ada laki-laki paruh baya menghampiriku dengan papan kecil bertuliskan namaku. “Iya, Neng. Saya yang di tugaskan sama Pak Agus buat jemput Neng Dean di bandara.”                 Seketika itu, aku berdiri, lalu menarik koper hitam yang berada di sebelah kananku. “Ayo, pak. Saya udah pengen banget sampai rumah, terus tidur.”   “Iya, Neng. Sini, kopernya biar saya yang bawa.”    “Terimakasih banyak, Pak.”                 Setelah tiba di mobil, aku segera masuk di jok belakang. “Kopernya taruh samping saya saja, Pak. Jangan di bagasi. Isinya agak nganu, jadi jangan sampai dibuka orang lain.”                 Pak Jono tertawa pelan begitu mendengar kata ‘nganu’. Beliau mengambil kembali koper yang baru saja ditaruh di bagasi, lalu segera memberikannya padaku.    “Eh Neng, sebentar, kok nama kopernya Dilano, bukan Deana?” “He? Masa?”                 Aku mendelik, lalu kembali turun dan memeriksa koper hitam yang Pak Jono bawa. Aku jongkok, memeriksa nama yang tertera di kertas yang diselipkan di sudut koper.                 Dilano Praja Winata, Jakarta. “Pak, minta tolong buruan lari ke dalam! Ini kayaknya koper milik laki-laki yang tadi duduk di sebelah saya!” “Baik, Neng. Saya masuk bentar.”                 Saat itu juga, Pak Jono berlari masuk, dan beliau sudah kembali dalam hitungan detik. “Udah nggak ada orang di bangku tadi, Neng.” “Beneran, Pak?” “Iya. Bangkunya sudah kosong.”                 Seketika itu, aku terduduk di lantai. “Mati, aku!” *** Lean On Me - 11/8/21 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN