TUJUH

1589 Kata
Menghela napasnya, Arissa keluar dari toilet hotel setelah melap tangannya dengan tissu. Dia tidak berniat kembali ke ballroom, tempat dimana pesta terselenggara karena tadi dia sudah mendapat sedikit banyak info dari Rajata. Lagipula Mario meminta dia menunggu di taman, membiarkan pria itu yang melanjutkan pencarian informasinya dari Rajata. "Aku hanya tidak mengerti, apa alasan kamu tiba-tiba memutuskan berpisah dengan aku." Suara samar terdengar dari sudut hotel yang telihat gelap karena mungkin bukan tempat yang biasa dikunjungi pengunjung hotel. Arissa berhenti sesaat karena suara itu. Bukan karena dia ingin menguping atau apa, hanya saja dia merasa tidak enak kalau harus mendengar masalah percintaan orang lain meski itu tidak sengaja. Tapi bagaimana? Dia berjanji untuk menemui Mario di taman hotel dan untuk kesana, dia harus melewati sudut hotel ini. "Aku tau kalau aku salah menyembunyikan soal orangtuaku dan statusku, tapi aku pikir itu tidak jadi masalah karena aku tidak pernah berbohong soal itu. Kamu dan orang-oranglah yang mengambil kesimpulan sendiri kalau aku hanyalah orang biasa." Kembali suara dari sudut ruangan itu terdengar, membuat Arissa semakin kebingungan apakah harus pergi atau melanjutkan niatnya ke taman hotel. Apalagi suara itu kini terdengar bergetar, tanpa melihatnyapun Arissa tau kalau orang itu tengah menahan tangis. Memutuskan untuk meninggalkan tempat itu karena tidak mau dalam posisi awkward, Arissa mengambil hp-nya untuk menghubungi Mario dan memberitahu kalau dia akan menunggu di parkiran saja. Namun saat Arissa baru membuka handbag-nya , suara dari orang yang akan dihubunginya terdengar dari tempat yang saat ini ingin dihindarinya. "Keputusan yang aku ambil waktu itu tidak ada hubungannya dengan apa yang barusan kamu katakan. Aku memilih untuk mengakhiri hubungan kita karena aku merasa tidak ada masa depan pada hubungan itu. Kamu tentu tau, menjalani suatu yang sia-sia bukanlah gayaku." Arissa termangu. Jelas suara itu milik Mario, dia tidak mungkin salah mengenalinya. Menyandarkan tubuhnya ke dinding hotel yang berada dibelakangnya, Arissa coba menenangkan dirinya. Entah kenapa ada perasaan yang tidak nyaman dalam dadanya dengan ketidak sengajaan yang ditemukannya ini. Arissa tidak tau kenapa dia harus begini karena yang dia pikir, perasaannya pada Mario sudah berakhir. "Apa yang kamu lakukan disini?" Arissa tersentak, dia terkejut dengan kemunculan Mario yang tiba-tiba ada didepannya. "Eng... euh... ohh..." Arissa tergagap, namun kegagapannya hilang saat seorang lagi muncul dari tempat yang sama Mario muncul tadi. Loh, bukankah itu Nadira? Putri sulung Rajata. Wanita itu berjalan terus, mengabaikan Arissa dan Mario. Sesaat kepala Arissa terasa kosong karena terlalu sulit memproses info yang baru didapat oleh matanya. 'Jadi Nadira adalah mantan kak Mario.' Arissa berucap dalam hati. 'Pantas kalau kak Mario menolak aku, karena seorang Arissa berbeda jauh dengan seorang Nadira.' “Aku mau ke taman belakang, tapi harus ke toilet dulu tadi.” Jawab Arissa tidak bohong. “Kak Mario bilang kita ketemuan ditamankan?” Tersenyum tipis, Arissa lalu melangkahkan kakinya duluan. “Ayo kak. Ini sudah waktunya aku pulang.” Lanjutnya lagi sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan Mario yang tidak segera mengikutinya. *** "Loh Ssa, balik kesini? Bukannya lo bilang akan langsung pulang begitu dari pengadilan?" Eline yang Arissa tau juga baru pulang dari pengadilan, menyapa Arissa yang baru turun dari mobil altis hitamnya. "Nggak jadi. Gue janji ketemu kak Mario jam 4 nanti. Jadi gue balik kesini daripada dia harus ngejemput dari rumah." Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya. Eline terkekeh karena dia tau apa yang kini Arissa kerjakan yang membuat temannya itu harus berhubungan kembali dengan Mario, meski sebenarnya dia enggan. Ya walaupun alasan keengganannya kali ini berberbeda. Jika dulu dia enggan bertemu Mario karena bitter atas penolakan pria itu, kali ini Arissa enggan karena tidak percaya dengan dirinya. Dia takut baper dan malah kembali menyukai Mario. Sambil membicarakan pekerjaan dan client mereka, Arissa dan Eline melangkah menuju kantin kantor. Disana tidak terlalu banyak orang karena memang bukan jam makan siang, jadi sudah pasti mudah buat mereka untuk mendapatkan meja. Selain itu Arissa dan Eline tidak perlu merasa segan dan canggung karena biasanya kalau jam makan siang, kantin dipenuhi senior mereka yang perlu mereka hormati. "Ohhh... tapi hari ini elo memang udah nggak ada kerja lagikan seharusnya?" Tanya Eline memastikan. Arissa mengangguk. "Yups nggak ada lagi. Sengaja gue ngebut ngerjain semuanya dalam 3 hari ini biar gue bisa fokus cari mamanya Angelo." Bibir Eline membulat. "Oh," katanya. "Emang nggak ada perkembangan dari kak Mario?" Menghembuskan napasnya malas Arissa kemudian berkata, "Nggak banyak perkembangan yang kak Mario dapat karena dia juga sibuk belakangan ini. Berdasarkan info yang kami dapat dari Rajata, kak Mario hanya bisa melacak dimana terakhir kali mama Angelo terlihat." Kepala Eline mengangguk-angguk mengerti sambil menyesap nikmat juice mangga pesanannya yang baru diantarkan pelayan kantin. Sampai sebuah ingatan mampir dipikirannya. "Oh iya Ssa, bicara soal Rajata. Lo pasti nggak menyangka kalau gue itu dekat sama Nadira, putri pertama pengusaha kakap itu." Untuk sesaat Arissa terdiam. Mie goreng yang siap dia suapkan kemulutnya dikembalikan lagi kepiringnya mendengar pernyataan dari sahabatnya itu. Dia sedikit terkejut karena Arissa baru tau tentang hal ini. Pasalnya ketika dia bercerita tentang Angelo dan masalahnya yang berhubungan dengan Rajata, Eline tidak pernah menyinggung apapun tentang kedekatannya dengan Nadira. "Terus kenapa lo nggak bantu gue kemarin-kemarin buat ketemu Rajata kalau memang lo dekat ama anaknya?" Tanya Arissa sedikit sebal karena ternyata ada Eline kian yang bisa membantu untuk bertemu dengan Rajata lebih cepat. Bibir Eline mengkerucut, mungkin karena menyadari kekesalan Arissa. "Gue juga baru tau kalau dia putrinya Rajata." "What? Gimana mungkin? Lo bilang kalian berdua dekat." Balas Arissa tidak mengerti. "Ya emang kita dekat. Dekatttt... banget malah, tapi itu waktu kita SMA dulu. Kita berdua sama-sama anak pramuka dan kak Nadira adalah senior pembimbing gue. Tapi dulu gue nggak penasaran sama kehidupan pribadi dia karena sumpah, dia itu sikapnya biasaaaa banget." Eline menekankan kata 'biasa', agar Arissa mengerti kenapa dia bisa tidak tau kalau ternyata dia adalah putri salah satu konglomerat Indonesia. "Bayangkan saja, dia ke sekolah menggunakan Trans Jakarta, barangnyapun barang-barang yang biasa anak sekolah gunakan, bukan barang bermerk seperti anak orang kaya lainnya gunakan. Penampilannya sederhana. Gue nggak ingat pernah lihat dia ngegunain makeup dan point pentingnya dia sekolah di sekolah gue. Padahal lo tau kan kalau sekolah gue itu sekolah super biasa. Bukan sekolah unggulan, sekolah terkenal ataupun sekolah dengan reputasi dan prestasi unggulan." "That's why i always think she like ordinary students in my school. Until last night, ketika gue nggak sengaja ketamu dia di mall sedang jalan dengan mamanya. Sumpah gue kaget banget waktu tau ternyata dia adalah seorang Rajata." Jelas Eline panjang lebar dan bersemangat. Berbeda dengan Eline yang semangat, Arissa malah terlihat kehilangan selera makannya. Dia malah memilih diam dan sibuk dengan pikirannya karena dia kembali terbayang kejadian malam itu. Malam dimana dia mengetahui kalau ternyata Nadira adalah mantan dari Mario. Malam yang menyadarkannya tentang banyak hal tentang Mario dan perasaan pria itu. Bilanglah Arissa sok tau atau apapun itu, tapi dia yakin sekali kalau Mario masih mempunyai 'feeling' untuk Nadira. Entah Mario sadari atau tidak, sikap dan tatapan Mario tidak setertutup biasanya karena keberadaan sulung dari Rajata tersebut. Jika biasanya Arissa kesulitan melihat diri Mario, maka malam itu dia bisa melihat sosok Mario yang lain. "Ssa... Ssa... woi... lo dengar gue nggak sih." Mengerjap Arissa kemudian melihat Eline sambil meringis. "Sorry Line, gue melamun." Katanya. Eline mendengus. "Ih lo nggak asik ih. Padahal gue lagi cerita gimana hebatnya kak Nadira karena bisa cinta sama satu cowok aja dari kecil sampai dia kuliah." "Ya?" "Lo terkejutkan?" Wajah cemberut Eline kembali bersemangat. Dia tampak antusias untuk kembali menceritakan tentang Nadira karena wajah penasaran yang ditunjukkan Arissa. "Jadi ya, saking dekatnya kami dulu kak Nadira mau cerita-cerita tentang pacarnya. Sayangnya gue lupa siapa nama pacarnya. Hanya saja gue terlalu kagum sama hubungan mereka karena meskipun masih dalam ukuran anak-anak, mereka itu kelihatan berkomitmen banget. Bayangkan aja kak Nadira pacaran sejak kak Nadira masih SMP. Pacarnya ini adalah sahabatnya dia. Katanya kak Nadira, meski waktu itu mereka masih sekolah mereka sering berbicara soal bagaimana mereka pernikahan mereka nanti, keluarga yang mereka ingin bangun dan soal anak-anak mereka. Sayangnya hubungan keduanya berakhir karena tiba-tiba saja pacar kak Nadira minta putus. Saking patah hatinya kak Nadira sampai pindah keluar negeri dan sejak saat itulah kita lost contact." Ucap Eline mengakhiri ceritanya. Mendengar cerita Eline, Arissa tidak tau harus berkomentar apa karena dia sendiri sedang bingung dengan perasaannya. Susah buatnya untuk berpikir apa yang harus dikatakannya pada Eline agar Eline tidak curiga karena seingin apapun dia bilang kalau mungkin bukanlah Mario yang sahabatnya itu maksud, tapi jauh dalam hati kecilnya yakin kalau memang Mario-lah yang tengah mereka bicarakan sekarang. Memang terlalu cepat dia mengambil kesimpulan hanya dengan menghubungkan cerita Eline dan yang didengarnya pada malam pesta itu, tapi memang itulah simpulan yang bisa ditarik otaknya dan sialnya analisis Arissa jarang meleset. Menegakkan tubuhnya yang tadinya menyandar ke meja, Arissa kemudian menyesap juice miliknya. Mengkondisikan wajahnya agar tidak terlihat terlalu tertarik sehingga Eline tidak curiga ketika dia dia bertanya. "Kok pacarnya bisa-bisa minta putus?" Bahu Eline terangkat. "Ntah, gue nggak tau sejauh itu. Yang gue tau mereka putus setelah wisudaan kak Nadira dan kak Nadira nggak tau kenapa cowok itu mutusin hubungan mereka. Saat kak Nadira coba perbaiki, cowoknya mutusin semua komunikasi mereka. Brengsekkan tuh cowok!" Arissa tidak menjawab Eline, memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan melanjutkan sesapannya pada juice miliknya. 'Gue yakin kak Mario tidak sebrengsek itu. Pasti ada alasannya kak Mario seperti ini. Kalau benar apa yang Eline katakan hubungan mereka sejak SMP sampai kuliah, itu artinya hubungan yang sangat lama. Jadi pasti ada alasan besar kak Mario yang membuatnya harus memutuskan Nadira.' Batin Arissa. 'Tapi apa? Apa alasannya?' ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN