Segara yang tinggal di apartemen elite, dikejutkan oleh kedatangan Mamanya sendiri—yang langsung saja menerobos masuk, karena wanita paruh baya itu mengetahui password dari pintu apartemennya. Sungguh mengesalkan, meskipun wanita ini adalah orangtuamu sendiri. But—come on! Lain kali Segara akan mengingat kalau dia perlu mengupgrade keamanan pintu apartemennya dengan memakai sidik jari. Hanya sidik jarinya seorang yang didaftarkan. Agar tak ada lagi orang yang datang tiba-tiba begini.
“Mama ada keperluan apa datang ke sini?” Segara yang tadi cek ruang depan, karena terdengar suara ribut-ribut—yang rupanya dibuat oleh sepatu Mamanya yang terantuk meja—kini melangkah kembali ke ruang rekreasi. Diikuti oleh langkah kaki Salma Alankar—Mamanya, yang terus mengekori di belakang punggungnya.
“Kok nanyanya gitu, sih? Emangnya Mama ini nggak boleh jenguk anak sendiri?” Timpal Salma. Sebal karena anak lelakinya seperti dispenser—kadang hangat, kadang dingin. Ya begini ini. “Kamu kan lebih sering tinggal di sini, karena deket sama kantor. Coba jawab, jadi Mama mesti pergi ke mana lagi kalau kangen kamu selain berkunjung ke apartemen?”
“Nanti juga aku pulang.” Jawab Segara dengan enteng.
“Nantinya kamu itu satu abad.” Sindir Salma, yang kali itu berhasil membuat Segara benar-benar diam. “Anak laki itu jangan suka PHP. Apalagi PHP-in Mamanya sendiri.”
Segara mendengus. Omongan Mamanya pasti didengar oleh teman-teman dan sepupunya yang sejak siang lalu ada di apartemennya. Terbukti, cekikikan mereka terdengar sampai ke luar ruang rekreasi. Sialan.
“Lagi sama teman-temanmu?” Salma yang sepertinya juga mendengar suara mereka, bertanya. Segara mengiyakan.
Saat mereka sudah sampai di muka ruang rekreasi yang tertutup, Segara menghentikan langkahnya lalu berbalik. Dan bilang, “Aku mau ambil handphone. Mama tunggu di sini.”
Tapi Salma kelihatannya tak setuju, “Mama juga mau masuk, Mama mau nyapa teman-teman kamu.”
“Nggak perlu.” Sambar Segara. “Tujuan Mama ke sini pasti buat ngobrolin sesuatu sama aku, kan? Kita ngobrol di ruang tamu aja.”
“Siapa bilang sama kamu aja?” Tantang Salma, yang tanpa bisa dicegah Segara, keburu melenggang masuk ke dalam ruang rekreasi di apartemennya. Yang luas, nyaman, dan juga sedikit bernuansa temaram. Dengan sofa-sofa dan meja, satu set home theater, bar, beberapa buah alat gym serta seperangkat permainan bilyar di paling ujung ruangan. Ketika Salma masuk ke sana, gelak tawa dari empat orang lelaki yang duduk di sofa otomatis terhenti. Mereka semua kompak menengok.
“Eh, ada Orion rupanya.” Sapa Salma dengan senang.
Yang dibalas dengan juga sama ramah oleh sepupunya Segara itu, anak dari adik lelaki Salma, “Halo, Tante Salma.”
Lalu Salma menyapa yang lainnya. Ada teman-teman Segara yang sudah dikenal olehnya sejak dulu. Karena mereka teman kuliah Segara. Marvel, Keanu, dan Galen.
“Kebetulan—kebetulan,” Salma langsung duduk santai bersama mereka di sofa. Meski Segara sudah bilang kalau ada hal yang ingin Mamanya sampaikan, mereka berdua bisa bicara secara pribadi di ruang tamu. “Gara—kamu juga duduk. Mama mau bicara sama kalian semua.” Titah Salma. Dan mau tidak mau, Segara menurut. Yang lainnya tersenyum mesem-mesem saat melihat ekspresi Segara.
“Kalian sebagai para pemegang saham—kecuali Galen nggak lagi, ya, karena udah bikin bisnis sendiri.” Serentak saja suasana berubah menjadi serius. Apa ini tentang sesuatu yang berhubungan dengan I-Line Skycraper? “Harus pintar membaca peluang bisnis yang ada. Jadi, Tante ke apartemen sebenarnya untuk ngobrolin peluang ini sama Gara.” Dengan pelan wanita itu mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tas. Lantas ia taruh berkas itu di atas meja sofa biar semua mata bisa melihatnya.
“Tante dapet fax ini dari Luminous. Kalian tahu?”
“Perusahaan—fashion wanita?” Marvel dengan meragu angkat bicara, karena lupa-lupa ingat dengan nama perusahaan tersebut. “Yang dari Belgia itu?”
“Betul sekali!” Salma makin antusias. “Mereka kirim penawaran kerjasama ke Tante, salah satu anak perusahaannya rencananya akan diakuisisi. Mereka ingin I-Line yang ambil.”
Kedua alis Segara menyatu mendengarnya, “Masa?”
“Iya, Gara. Makanya Mama mau kamu mengakuisisi anak perusahaan ini. Dan kalian—sebagai pemegang saham di I-Line harus setuju.” Mereka membiarkan Salma selesai bicara lebih dulu. “Anak perusahaannya Lunar. Itu, loh, Lunar, yang produksi gaun-gaunnya cantik-cantik. Sayangnya, perusahaan induk mereka inflasi. Mereka butuh kita untuk tetap membuat produksi Lunar jalan lagi. Sayang sekali kalau brand sebagus itu kita biarkan bangkrut gitu aja.”
Semua orang diam. Dan nampaknya hanya Segara yang berani untuk buka mulut, “Kenapa aku harus mengakuisisi anak perusahaan mereka? Lagi pula, aku nggak tertarik sama fashion wanita.” Segara melirik teman-temannya yang nampak sedang berpikir. “Aku yakin yang lain juga nggak setuju.”
“Kenapa nggak setuju?” Salma bertanya, yang lainnya saling lirik. “Kita bisa buat brandnya makin terkenal, lho.”
Segara mendesah kesal, “Ma, kami perusahaan yang memproduksi sportwear.” Tetapi sadar bahwa sebagai anak, dia mesti bersikap lebih sabar terhadap Mamanya. “Suddenly you come, and say that we have to acquire a company. What reaction should I give besides “huh” to that statement?” Sebentar, Segara sebetulnya bukan anak yang durhaka. Dia sayang sekali Mamanya. Tapi terkadang ucapannya bisa sangat sarkastik pada siapa pun.
Dan Salma langsung mematah-matahkan argumen dari putranya, “Apa masalahnya? Dulu Samsung produsen mie, dan coba liat sekarang—mereka udah jadi perusahaan raksasa yang merambah bisnis apa pun. Elektronik, terus apalagi, ya? Banyak banget, Gara. Kalian juga mestinya gitu. Kreatif.”
Segara memijit pelipisnya, “Itu bahkan nggak relevan sebagai perbandingan.” Lantas napasnya yang lelah terdengar mengembus.
“Dengar, Gara—dan yang lainnya.” Salma kini makin mencondongkan tubuhnya ke depan. Berapi-api karena penuh semangat. “Ini saat yang tepat untuk memulai hal baru. Kalian nggak mungkin stuck di tempat aja, dong. Harus ada hal yang baru untuk diproduksi.” Barangkali, setelah Salma mengatakan hal ini—ada beberapa teman Segara yang mempertimbangkan usul tersebut. “Oke, perusahaan kalian ini emang bergerak di bidang produksi sportwear berkualitas nomor satu di Asia. Tapi nggak ada salahnya kalian mencoba ke pakaian wanita, seperti gaun.”
“Coba bayangin,” Salma kian antusias. “Usaha kalian bisa sukses karena banyak orang suka olahraga. Mereka pasti beli baju buat main bola, main basket, main tenis, dan main olahraga lainnya. Kalian juga nyediain sportwear lengkap buat laki-laki dan wanita. Tapi kali ini—pakaian yang hanya khusus untuk para ladies.” Salma makin dramatis saat menjelaskannya pada mereka semua. “Perempuan itu nggak bisa kalau nggak pakai gaun ke acara-acara besar. Gaun yang cantik dan mahal pasti akan selalu mereka buru. Sama seperti sportwear, usaha ini juga nggak akan ada matinya.”
Diam-diam, yang lain menyetujui apa yang dikatakan oleh Salma. Maka Salma pun menatap putranya, “Mama ini fashionista sejati. Nanti Mama bantuin pengembangan Lunar biar setara Chanel dan Gucci. Dan—kamu juga harus ingat satu hal, Gara. Mama dan Papamu masih investor di I-Line Skycraper. Masukan dari Mama harus dipertimbangkan—atau bahkan kalau bisa harus langsung diterima.”
Segara mengalah, meski posisi Mama dan Papanya jelas tidak seberpengaruh itu pada I-Line, “Oke, biar kami pikirkan usul Mama.” Berkas dari Mamanya diambil oleh Segara. Ada logo elegan milik Luminous di atasnya. “Aku akan kabari Mama satu minggu ke depan.”
Salma senang bukan kepalang. Wanita itu sudah sejak lama menginginkan salah satu anggota keluarganya mempunyai bisnis di bidang fashion yang lebih kental. Tentu agar mereka memiliki kesempatan bekerjasama dengan para desainer yang berkelas dunia.
Salma menyentuh wajah Segara, “Gitu, dong. Mama tunggu kabar baiknya, ya, Sayang.”
Segara mengangguk, “Kalau Mama mau pulang, biar aku yang antar ke rumah.”
“Nggak, nggak perlu.” Salma sedang ada di mood yang sangat bagus. “Kamu di sini aja sama teman-temanmu, biar bisa langsung diskusi. Mama bawa mobil sendiri, kok.”
Segara tak habis pikir. Begitulah Mamanya jika sedang ada maunya. Namun meskipun begitu, Segara tetap mengantar Salma sampai ke depan pintu apartemen. Ketika wanita paruh baya itu sudah pergi dan masuk ke dalam lift, ponsel di dalam saku celananya berdering. Ada sebuah nama yang tertera, dan Segara mengangkatnya usai jeda sepuluh detik.
“Honey, temenin aku shopping, yuk?” Nada yang dipakai oleh si penelepon kedengaran merajuk. Segara hendak bilang kalau sekarang dia sedang sibuk, tetapi suara itu lebih dulu menginterupsi. “Tadi aku WA Tante Salma, katanya kamu lagi free di apartemen.”
What the f**k. Mamanya benar-benar—
“Yaaa?” Pertanyaan pendek itu terasa menodong.
Segara akhirnya mengambil napas, sabar, “Oke. Aku jemput kamu.”
“Yeay! Makasih, tunangan aku.” Suara yang manja itu mengalun ke dalam pendengaran Segara. “Aku siap-siap dulu biar cantik. See you, tho.” Lalu sambungan itu pun terputus.
Karena hal ini, Segara harus pergi dari kumpul-kumpul bersama para temannya. Apa boleh buat? Daripada Mamanya nanti mengomel karena Segara malas mengantar tunangannya berbelanja. Jadi lebih baik, dia pergi sekarang, agar juga cepat kembali. Sewaktu berjalan menuju kamarnya, di ruang tamu justru Segara berpapasan dengan Galen yang nampak sekali sumringah wajahnya. Padahal sejak beberapa jam lalu, pria itu uring-uringan karena batal bertemu dengan tamu kantor.
“Cabut dulu.” Galen nyengir sembari satu tangannya mengangkat ponsel. “Biasa—gebetan lagi kena masalah, doi minta ditemenin.” Ucapnya, masih dengan cengengesannya.
Segara tergelak atas pernyataan Galen itu. Caranya berinteraksi dengan teman-temannya memang berbeda dengan interaksinya pada anggota keluarga. Sebab, teman-temannya adalah sedikit dari yang tahu betapa “nakal” pergaulan seorang Segara. Begitulah lelaki, agaknya tumbuh nakal bersama.
“Semua cewek dibilang gebetan.” Segara menyidekap kedua tangannya di depan d**a, “Hati-hati aja tagihan kartu kredit lu babak belur.”
“Eits, seorang Galen nggak pernah menyesal udah ngeluarin duit banyak demi cewek ini.” Galen merevisi apa kata Segara dengan bangga. “Kali ini, gebetan gua cuma ada satu, man. Yang ini beda. Lebih hot daripada Lana Rhoades.”
Satu alis Segara naik, sangsi—maka Galen kembali melanjutkan ucapannya, “We’ll see—bola mata lu bakal tetep stay di tempat nggak kalo liat doi. Nanti, jangan iri sama gua.”
Tanpa bisa dicegah, Segara mendengus untuk kedua kalinya pada hari itu. Tak ada yang bisa membuat Segara lepas kendali—apalagi hanya karena seorang wanita. Lebih-lebih apa kata Galen tadi? Iri? Absolutely no. Ah, dan bisa saja si Galen cuma membual.
Dan sebelum pintu apartemen itu benar-benar tertutup lagi, Galen masih sempat berteriak buat Segara, “Kapan-kapan pasti gua kenalin. Tapi awas kalo lu embat!”
Demi peringatan yang sangat tidak masuk akal itu—maka untuk ketiga dan terakhir kalinya, Segara mendengus.
***