Persahabatan mereka sudah terjalin sejak mereka kecil. Kepolosan serta ketulusan mereka dalam persahabatan menguatkan hubungan itu. Doni sejak dulu orangnya cerewet pada orang yang di sayang. Menjadikan Keisha sedikit jengah dengan sifat sepupunya itu. Sementara Alvaro dari kecil suka sekali diam dari banyak berbicara.
Hingga masuk sekolah menengahnya pertama, Keisha merasakan ada gelayar aneh merasuki dadanya ketika setiap kali dia melihat Varo. Jantungnya berdetak lebih kencang, pipinya akan memerah ketika Varo amat perhatian dengan dirinya. Beda sekali dengan Doni, anak itu lebih suka memancing amarah Keisha tiap hari.
Kemudian perasaan itu Keisha sadari ketika masik sekolah sementara atas. Dia mencintai Varo, yang berstatus sebagai sahabatnya. Untuk mengungkapkan perasaan Keisha tidak punya nyali sama sekali. Sehingga dia sering curhat dengan Doni, mengeluarkan semua apa yang dia rasakan ketika berdekatan dengan Varo.
Sebelum akhirnya dia mengetahui kalau Varo juga memiliki perasaan yang sama seperti dia. Tidak mau membuang kesempatan, Keisha menerima ajakan Varo untuk menjadikannya pacar. Sampai lupa pesan Papanya, kalau dia dilarang keras untuk berpacaran.
Keisha seakan buta, dia malah terlihat bucin setelah berpacaran dengan Varo. Tidak sadar dia selalu menjadikan Doni sebagai kambing hitam agar bisa pergi kencan dengan pacarnya. Doni juga seakan bodoh, mau saja diperlakukan seperti. Selalu mengajak Keisha keluar di malam minggu hanya untuk menolong sepupunya itu agar bisa bertemu dnegan Varo.
Keisha dan Varo sibuk dengan hubungan mereka. Seakan lupa dengan peran Doni yang ada di kehidupan mereka. Doni malah terlihat biasa saja ketika melihat sahabat dan sepupunya berpacaran dan menelan pahit-pahit tentang perasaan yang telah tumbuh di hatinya.
Kalau dia mencintai sepupunya sendiri. Tidak ada yang salah dari perasaan itu. Yang salah hanya cinta Doni bertepuk sebelah tangan. Tidak terbalaskan oleh Keisha sendiri. Ketika melihat bertapa bahagianya Keisha berpacaran dengan Varo, Doni memutuskan untuk menutupi perasaannya ini. Agar tidak ada yang mengetahui.
Namun, dia tidak benar-benar pandai menutupi hal itu. Alvaro ternyata mengetahuinya tanpa sengaja persahabatan mereka merenggang saat itu. Doni memilih menyendiri, Varo dan Keisha jelas-jelas menjauhinya. Dan itu jelas saja mengundang pertanyaan dari beberapa teman sekelas.
Saat Doni ditanya, kenapa tidak bersama Varo dan Keisha lagi. Doni memilih tidak menjawab dan berlalu begitu saja. Hingga satu hari, ada rumor yang beredar kalau persahabatan mereka sudah bubar. Doni tidak tahu dari mana berita itu, tetapi Doni memilih acuh lagi.
Dia terlanjur sakit hati dengan perlakuan dua sahabatnya. Doni tidak akan pernah segila itu merebut Keisha dari sisi Varo. Varo yang terlalu egois, ingin memiliki Keisha seutuhnya tidak sadar kalau dulu Doni lah yang mengenalkan mereka berdua. Doni masih ingat jelas kejadian berapa tahun itu.
Ketika tamat sekolah. Doni cukup terkejut mendengar kabar kalau Alvaro siap untuk menikahi Keisha. Dia ingin mengeluarkan pendapat, tetapi mengingat hubungan mereka suka tidak seakur dulu. Doni memilih diam saja, mungkin akan ada masalah baru kalau dia ikut campur tangan. Varo pasti tidak menyukai hal itu.
Doni memilih turun tangan ketika menyiapkan semua acara pernikahan mantan sahabatnya. Itu hanya sebatas untuk menolong tantenya, selaku adik dari Ayahnya. Akan tetapi, saat menjelang akad dan keluarga mempelai perempuan sedang menunggu kedatangan rombongan mempelai laki-laki.
Tepat hari itu, Doni cukup terkejut dia mendapati telepon dari Alvaro. Sudah dua tahun sahabatnya ini tidak menghubunginya lagi semenjak persahabatan mereka terputus.
"Halo, Al. Kalian udah di ma—"
"Don, maaf. Gue nggak bisa nikahi Keisha. " Sejurus kalimat yang membuat Doni terpancing emosi.
Doni tertawa pelan. "Al, lo kalo mau bercanda di tunda dulu deh," ujarnya. Masih memikirkan kalau itu hanyalah bualan semata dari seorang Alvaro.
"Gue serius, Don. Gue nggak bisa nikah. Perusahaan Papa gue tiba-tiba mendadak gulung tikar. Papa memutuskan sepihak untuk membawa semua keluarga gue ke luar negeri. Di sana ada sanak saudara yang ingin menolong masalah yang menimpa kami hari ini."
Tangan Doni langsung terkepal kuat. "Lo jangan ambil keputusan sepihak, Al. Semua udah nunggu kedatangan keluarga lo. Dan sekarang lo dengan gampangnya bilang mau batalin pernikahan kalian?!" hardik Doni, laki-laki itu sudah emosi. Dia tidak bisa membayangkan betapa malunya keluarga mereka nanti kalau mempelai laki-laki tidak jadi datang.
"Gue nggak bisa, Don! Ini mendadak, Papa dan Mama langsung nyuruh gue batalin pernikahan gue. Mereka nggak bisa ngelapasin gue begitu aja, mereka bilang tenaga gue untuk membangun perusahaan baru masih dibutuhkan. Kalo gue nikah nanti, gue bakal terkekang karena udah punya istri." Di seberang sana Alvaro masih memberikan pembelaan untuk diri sendiri.
"Lo gila?!" teriak Doni. Sekarang laki-laki itu berada di belakang rumah. Jauh dari keluarga yang sekarang berkumpul di ruang tengah di mana pernikahan sederhana akan dilaksanakan.
"Pernikahan nggak akan batal kalo loau gantiin posisi gue." Ucapan Alvaro baru mampu membuat Doni bergeming. Laki-laki itu mendadak terdiam. "Lo cinta sama Kei, gue tau lo bakal jagain dia untuk sementara. Setelah gue selesaikan semua ini, gue bakal pulang lagi. Saat itu tugas lo jagain Keisha selesai juga."
"Stress lo!" Doni tertawa sarkas. "Lo sadar nggak sih, lagi manfaatin gue?" tanya Doni, tidak habis pikir dengan Varo.
"Gue sadar!" Terdengar helaan napas diseberang sana. "Gue cinta sama, Kei. Gue nggak mau nyakitin dia, tapi posisi gue ini lagi serba salah. Please, ngertiin gue."
"Gantiin gue sebagai mempelai laki-laki. Gue tau lo baik sama sahabat lo ini."
Sambungan telepon terputus sepihak. Doni menatap nanar pada ponselnya, setelah itu hanya bisa menahan amarah sendiri. Cukup lama terdiam di sana untuk memutuskan semuanya. Doni memutar tumit untuk menemui sang paman yang ada di dalam rumah.
Berapa kalimat pun keluar dari mulut Doni. "Doni yang akan nikahin Keisha."
Sekarang Doni menepati hal itu. Bilang saja Doni bodoh karena mau diperalat oleh Varo. Sekarang laki-laki berusia 19 tahun itu sudah sah menjadi suami dari sepupunya sendiri. Tidak ada larangan mereka untuk menikah karena Doni dan Keisha tidak ada hubungan darah. Terutama Keisha merupakan anak dari istri pertama Denis yang sudah meninggal saat melahirkan Keisha kedm dunia ini. Sementara Tante Shayra merupakan istri kedua dari Denis.
Doni membuka pintu kamar mandi, lelaki itu sudah mengenakan piyama tidurnya. Menatap nanar punggung Keisha yang terlihat bergetar. Ah, gadis itu tidak berhenti menangisi si berengsek Alvaro.
"Sia-sia air mata lo, Kei." Doni membuka suara, lelaki itu mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Menghela napas ketika Keisha masih menangis. "Stop nangis, Kei!" ujarnya lagi.
"L-lo nggak bakal ngerti." Keisha menjawab dengan suara bergetar. "Gue nggak nyangka hal ini bisa terjadi. Varo, laki-laki yang gue cinta nggak datang di hari pernikahan kami berdua. Lo nggak mikirin sakit hati gue kayak gimana," ujar Keisha lagi.
Doni mengembuskan napas berat untuk kesekian kali. Keisha dan kekerasan kepalanya sudah melekat.
"Lo bahkan nggak pernah mikirin perasaan gue," gumam Doni. Tentunya itu tidak didengar oleh Keisha karena gadis itu masih sibuk menangis.
"Varo bilang apa, sebelum dia pergi?" tanya Keisha, rupanya gadis itu masih belum menyerah untuk menanyakan hal ini.
"Lo nggak perlu tau. Itu urusan gue dengannya, sekarang lo istri gue dan milik gue. Gue nggak akan pernah lepasin lo," ucap Doni penuh penekanan. Seperti apa yang dikatakan Varo, dia tidak akan pernah menuruti perintah sahabatnya itu untuk melepaskan Keisha ketika lelaki itu kembali ke negara ini.
Doni bertekad untuk mengambil hati Keisha sebisa mungkin. Agar gadis itu berpaling dari Varo dan beralih ke dirinya ini.
Suara pintu yang diketuk menyentak Doni. Laki-laki itu beranjak dari posisi duduknya untuk membuka pintu kamar. "Iya, Bi. Ada apa?" tanya Doni, menatap Bi Asih di balik pintu.
"Anu, Den. Itu, Bapak nyuruh turun ke bawah untuk makan malam bersama," ujar Bi Asih.
"Iya, Bi." Doni mengangguk pelan. "Kita bakal nyusul nanti," sambungnya. Setelah itu Doni menutup pintu kamar kembali. Berbalik menatap Keisha yang sudah terduduk di pinggir kasur dengan tangisannya.
"Kei, please. Kali ini dengerin gue, berhenti nangis, besok lo pasti bakal sakit karena kebanyakan nangis," jelas Doni, sudah tahu kebiasaan Keisha. Gadis itu akan bisa jatuh sakit kalau keseringan menangis.
"Nggak bisa!" Keisha senggukan. "Gue masih nggak terima pernikahan ini!" Keisha menatap Doni dengan sorot tajam.
Doni mendecak pelan. "Jadi, secara nggak langsung lo nyesel udah jadi istri gue gitu?" Doni meladeni, cukup merasa kecewa dengan ucapan Keisha.
Keisha tidak menjawab, gadis itu tertunduk dengan senggukan. Doni melangkah mendekati sepupunya itu, memegang dua bahu Keisha dengan erat.
"Denger, Kei. Gue ngelakuin ini semua untuk keluarga kita." Doni berbohong, dia melakukan pernikahan ini sekaligus untuk dirinya sendiri. "Varo berengsek, kalo dia benar-benar cinta sama lo. Dia nggak bakal batalin pernikahan kalian." Doni menghapus air mata Keisha, kebiasaan waktu kecil yang Doni lakukan kalau Keisha menangis.
"Jalani hidup baru lo sekarang. Gue suami lo dan lo berhak patuh dengan perintah gue," ujar Doni lagi.
Bibir Keisha bergetar, tidak menjawab ucapan Doni. Keisha menghambur ke pelukan laki-laki itu. Pelukan Doni itu sangat nyaman setelah pelukan Papa Denis dan Varo. Ah, laki-laki itu lagi.
"Gue nggak bisa, Don. Pernikahan yang gue rancang sama Varo buyar begitu aja. Gue masih bingung kenapa dia batalin pernikahan ini secara tiba-tiba. Gue yakin, pasti ada alasannya dibalik ini semua."
Doni merotasikan bola matanya. "Apa pun alasannya, kalo dia laki-laki gentle dia tidak akan pernah ninggalin lo begitu aja," tukas Doni, mampu membuat Keisha terdiam bisu.