BAGIAN 52 | MARI KITA BEKERJA SAMA

1194 Kata
Emilio POV  “Arghhh…tolong, jangan…jangan bunuh aku!”  Erangan Toby, semakin membuatku bersemangat. Dia berusaha untuk menarik badannya menjauh. Sebelum melangkah, aku merasakan bahwa ada langkah lain yang mendekat. Dan, melihat aku sedikit lengah, Toby berusaha untuk meraih senjata yang ada di atas meja, tepat di belakangnya.  Aku tersenyum, lalu berjalan mendekatinya.  Brughh—tubuhku terpental jauh, ketika berada di langkah ke-3. Aku merangkak, lalu berdiri dan membersihkan bajuku yang terkena debu.  Max berdiri di depanku, matanya sudah berubah warna menjadi biru. Hanya ada dia, dan Alan yang menyusul di belakangnya.  “Se…selamatkan, selamatkan aku, Max. Bunuh dia, aku…aku mohon!” Toby memegangi kaki Max, membuatku terkekeh geli.  “Asihhh…!” bruk—Max menendang tubuh Toby, lelaki tua terpental dan membentur tembok, “aku sudah mengatakannya sejak awal, Toby. Tapi kau tidak pernah mendengarkanku, seolah aku ini benar-benar bodoh dan tidak berguna!” “Aku salah, aku terlalu naif. Tolong…tolong selamatkan aku!” isak Toby, lelaki tua menangis.  Melihat drama itu, aku ingin sekali memecahkan kepala mereka. Max masih saja bodoh, seperti dulu. Dia tidak pernah tahu, sebusuk apa lelaki tua yang dia layani selama ini.  “Pergilah, Ryu ada di luar. Dia akan membawamu menuju markas pusat, aku juga sudah memanggil beberapa bantuan. Mengenai dia, kami akan mengurusnya di sini!” “B…baik, tolong bunuh dia dan bawa kepalanya padaku!” Toby melangkah dengan terpincang-pincang, darah segar masih keluar dari kakinya yang tadi aku sayat. Tidak masalah, biarkan dia pergi, aku masih ingin bersenang-senang dengan para pria bodoh itu.  “Temani dia, Alan. Biarkan aku yang mengurus bedebàh satu ini, pastikan kalian berhasil pergi dengan selamat!” “Ryu sudah di depan, dan aku tidak akan membiarkanmu melawan dia sendirian. Kekuatannya jauh di atas kita!” “Lakukan perintahku, atau kita semua akan mati jika dia berhasil membunuh Toby!” “Tapi, Max. Bukannya tidak ingin, tapi…” “Lakukan sesuai perintahku!” Di depanku, dram mereka terlihat menyenangkan. Membuatku ingin membunuh mereka lebih cepat. Alan akhirnya pergi, membantu Toby yang beberapa kali terjatuh itu untuk segera pergi. Meninggalkan Max seorang diri. Tidak apa, aku masih suka bermain solo seperti ini.  “Kau benar-benar penipu, bájingan. Sejak awal aku sudah tahu, jika kau memang hanya ingin mengambil cairan itu. Sayangnya, kau tidak tahu dimana pil-pil itu berada!” Ahhh…sepertinya pil itu ada dibuat dalam jumlah yang banyak. Aku pikir pil itu hanya dibuat dalam kapasitas kecil. Kau tahu, untuk menghindari orang-orang seperti aku. Tapi, melihat bahwa pil itu memang telah dibuat, membuatku harus melakukan rencana lain.  “Dimana pil itu?” Max tersenyum meremehkanku, dia memikirkan kepalanya, “Apa kau pikir, aku akan memberitahukannya padamu?”’ “Tidak, aku tahu jika kau memang tidak akan memberitahukannya, karena kau masih sama seperti dulu. Bodoh, dan lemah!” “Bájingan…!” Bruakk—aku terkekeh, tubuh Max terpental bermeter-meter di depanku, membentur tembok. Apa dia lupa siapa aku? Tidak mungkin, orang selemah itu ingin menghancurkan ku. Itu jelas tidak akan pernah bisa terjadi.  “Hahaha, aku sudah menduga jika malam ini sepertinya akan menjadi malam terakhirku. Tapi, aku jelas tidak ingin mati sendirian. Jika aku mati, aku juga akan mengajakmu!”  “Silahkan saja, orang lemah!” kekehku, mendekati Max yang berusaha untuk bangkit.  Tubuh Max menghilang, aku sedikit was-was, dia memiliki kemampuan yang tidak aku miliki. Kemampuannya hampir sama hebatnya dengan Alan, dan aku butuh konsentrasi tinggi untuk ini.  Srkk…begitu memalingkan perhatianku, badanku kembali terpental, gerakannya cukup cepat. Badanku membentur kaca, cukup sakit. Kaca masuk cukup dalam ke dalam tanganku, aku tersenyum lalu mencabut pecahan kaca itu.  Max kembali menyerángku, kali ini aku menghindar. Menghilang dan berdiri di belakangnya. Kakiku naik dan shhhh—tendanganku tepat sasaran. Bagian belakang kepala Max terbentur cukup kuat, membuat dia terjatuh.  Tes—darah menetes dari sepatuku, sepertinya ini akan menjadi permainan yang menyenangkan. Max berdiri, aku tidak akan langsung menyerángnya. Karena aku tahu dia itu, lemah.  “Sialan kau, kenapa tidak menyerángku lagi, hah?” teriak Max di depanku.  Aku tertawa, teriakannya tadi membuatku tahu jika dia masih seperti dulu. Pecundang yang ingin mengambil posisiku. Pecundang yang ingin menang sendiri.  “Kau tidak berubah sama-sekali, asshole. Apa Toby memberimu pellet sehingga kau terus setia di dalam penyiksaannya? Bagaimana jika, kita bekerja sama untuk menghancurkan si bájingan itu!” “Bekerja sama?” ulang Max, nada suaranya terlihat mulai goyah  “Benar, bekerja sama. Cukup beritahu saja padaku dimana si tua bangka itu meletakkan pil-pil itu, maka…kau bisa hidup hingga waktu kau tetap menjadi dirimu sendiri.” Penawaran yang cukup menarik bukan? Sangat jarang aku melakukan penawaran seperti ini. Prang—tanganku membenturkan kepala Ryu ke tembok. Dia hendak menyerángku, tapi aku kembali membenturkan kepalanya dengan keras.  Hingga 5 kali melakukannya, tubuhnya berhenti bergerak. Aku menendang badannya yang masih utuh, darah keluar dari kepalanya, otaknya hampir menyapaku. Mata yang membola itu membuatku semakin bersemangat.  “Jangan pikir, karena kau tahu dimana pil itu. Kau bisa menghindariku, Max!”  “Ryu sudah tidak bernyawa!” bisik Max pelan  “Kau benar sekali, aku sudah membenturkan titik paling sensitifnya. Lalu, sekarang apa yang ingin kau lakukan? Apakah menyerángku dengan bodoh, sama sepertinya atau menjadi bijak?” Tangan Max terkepal, sepertinya dia tidak ingin bernegosiasi denganku. Aku menghindar, tembok di belakangku runtuh karena pukulannya. Lumayan juga, batinku. Pukulan Max memang menjadi salah satu andalannya.  Max kembali bangki, kepalan tangannya mengeluarkan darah. Kembali menyerángku dengan membabi buta, tapi aku lebih dulu menghindar. Tiang di sekitarku mulai bergoyang, membuatku tersenyum.  “Kau lumayan juga, tapi sayangnya kau hanya menggunakan dengkulmu. Tidak ini…” seruku sembari menunjuk kepala.  Lihatlah si bodoh itu, dia terus menyerángku, tapi tak satupun yang bisa untuk mengenaiku. Dia berhenti dengan nafasnya yang naik turun.  “Baiklah, sekarang girliranku!” Bruak—besi yang ada tepat di atas Max terjatuh, aku berlari dan mengambilnya. Srkk—menusuknya tepat di perut Max. Dia terkejut, sama-sekali tidak menyadari keberadaanku. Aku tertawa, lalu membanting badannya yang tidak berdaya ke lantai.  Tanganku menarik besi itu dari badannya, mengeluarkan bagian dalamnya yang bercampur dengan darah. Bau semerbak tidak harus semakin mengisi udara.  “Kau…”  “Mungkin kau sama bodohnya dengan Ryu, dan juga wanita itu. Tidak apa, karena aku suka bermain dengan kalian. Tapi, aku lebih suka bermain dengan Toby, dia lebih menantang.” “Kau bájingan….arghhh!” erang Max saat aku menendang kepalanya dengan keras, darah mengalir dan keningnya, juga dari hidungnya.  “Bagaimana? Apa kau bisa memberitahuku dimana Toby menyimpan pil itu?” Senyuman Max membuatku menghela nafas, lalu membuang kepala Max ke lantai. Kakiku terangkat dan srakk—kepala itu benar-benar hancur. Semua isinya terpencar kemana-mana. Aku menatap kakiku yang lagi-lagi harus menghancurkannya.  Dia yang menginginkan ini, padahal aku sudah memberinya kesempatan untuk bernegosiasi. Sayangnya dia itu bodoh.  Aku meninggalkan 2 tubuh yang tidak bernyawa itu, lalu memasuki lorong sambil bersiul. Aku memasuki markas Toby, mengacak-acak isinya.  Senyumanku terbit dengan lebar, ketika aku mendapati beberapa pil yang ada di dalam tabung. Aku tersenyum, “Ini cukup bagiku, mungkin aku akan membunuh mereka juga!”  Begitu memasukkan pil-pil itu ke dalam ransel, aku kembali berjalan menelusuri lorong, tidak lupa sambil bersiul dan memanggil nama Toby dengan pelan. Keadaan ini, mengingatkanku pada kelakukan Toby padaku dulu. Saat menculikku malam itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN