BAGIAN 17 | PEMBUNUHÁN KE-3

2032 Kata
“Bukan Holmes pelakunya, tapi ada orang lain yang melakukan hal itu!” aku berseru setelah mengamati lamat-lamat bahwa ada kejanggalan di tubuh korban.  Yuwen berhenti mengambil gambar, menatapku dengan tatapan meminta penjelasan. Tapi sebelum aku sempat menjawabnya, pendengaranku lebih dulu menangkap sesuatu yang datang dari arah pintu lagi. Kami berdua saling menatap, tapi sosok yang datang itu tidak kunjung membuka pintu. “Apa menurutmu, ada orang lain yang datang lagi?” Tanya Yuwen, “Apa mungkin itu adalah pelaku aslinya?” “Bisa jadi, tapi sudah 15 menit, langkah kaki itu tidak beranjak dari tempatnya yang tadi. Aku jadi curiga jika ada orang lain yang ingin mencuri, tapi tersesat. Aku hanya berharap jika dia tidak mengetahui pintu rahasia itu, dan kita bisa segera turun. Karena ini sudah hampir pagi, matahari akan beranjak dari peraduannya sebentar lagi!” Selama bermenit-menit kami terdiam tanpa melakukan gerakan apapun tentunya, suara langkah itu kembali terdengar menjauh. Irama langkah itu, aku yakin jika sosok tadi itu sepertinya bukanlah Holmes atau seseorang yang ikut dengannya. Karena langkah itu terdengar tidak yakin dan penuh dengan keraguan, sepertinya sosok itu sudah berjalan menuruni tangga. Suara langkah kakinya menghilang setelah 15 langkah, dan itu artinya dia berjalan menelusuri anak tangga. “Kita turun sekarang, siapapun itu, dan jika dia menyerang kita nantinya. Maka kita juga harus siap menghadapinya, apapun yang terjadi!” Yuwen tanpa mengatakan apa-apa lekas mengikutiku dengan kameranya, kami meninggalkan mayat itu di atap dengan bukti-bukti yang sudah kami kumpulkan. Sampel darah juga sudah diambil oleh Yuwen, mungkin setelah ini, kami akan melakukan pemeriksaan untuk mencari tahu identitas dari korban. Kami tidak keluar dari pintu gerbang, melainkan dari tembok dekat dari pintu belakang. “HEY, SIAPA DI SANA!” Suara itu berasal dari hotel, tanpa menunggu waktu lama. Aku dan Yuwen lekas menaiki tembok dengan cepat dan masuk ke mobil. Menjauh dari area hotel, sepertinya pemuda itu adalah penghuni hotel yang tinggal di sana. Aku sempat mencurigainya, tapi jelas ini hanya dugaanku saja. Mungkin dia memang sudah terbangun di saat jam-jam sekarang ini. Setibanya di tempat Conan sekitar pukul 8 pagi, kami lekas bergabung untuk sarapan. Sam mengatakan jika acara makan malam mereka tidak terlalu lancar. “Dia seperti mempunyai suatu rahasia, ketika aku tidak sengaja bertanya, dia jadi marah dan lekas kembali dengan terburu-buru. Jika kalian membaca pesan teks-ku, mungkin kalian masih sempat untuk keluar dari hotel itu dan bersembunyi!” “Kami memang tidak punya cukup banyak waktu untuk kabur, tapi ada sesuatu yang menarik. Holmes memang kembali ke hotelnya, dan dia memasuki kamar wanita itu. Sedikit beruntung karena dia tidak masuk ke pintu rahasia, entah dia tahu ada pintu rahasia di hotelnya atau dia memang sedang tidak ingin!” “Pintu rahasia?” “Terima kasih, Conan!” Seruku, dengan lekas mengambil sendok dari atas meja dan memasukkan sup hangat itu ke dalam mulutku. Rasanya luar biasa nikmat, dan aku memang menyukai sup sapi ini. Conan juga memberikan hal yang sama pada Yuwen dan Sam. Lalu bergabung duduk di sebelahku. “Holmes memiliki sebuah pintu rahasia, dan kami menemukan hal yang lebih besar daripada sekedar korban wanita itu. Seorang tubuh lelaki yang sudah tidak bernyawa diikat diatas kursi, sebuah simpul benang merah ada di masing-masing sudut. Tangan dan kakinya terdapat bekas luka, dan juga bekas simpul. Aku yakin, pembunuh memang ahli dalam bidang simpul menyimpul itu. Simpul itu begitu kokoh, sehingga mampu membunuh dengan sangat cepat. Mayat nya masih segar, masih sekitar 5 hari lalu, menurut diagnosis Emilio. Kami membawa beberapa bukti, mungkin dalam beberapa hari ini kami tidak akan keluar dari kamar!” “Mayat?” Tanya Sam, cukup terkejut dengan info yang baru saja di beritahukan oleh Yuwen, “Boleh aku melihat wajahnya?” Yuwen mengambil kameranya dan menyerahkan gambar yang kami ambil dari hotel Conan itu padanya. Conan ikut melihat wajah itu dengan raut wajah gemetaran. Itu wajar menurutku, jika tidak terbiasa untuk melihat mayat, maka pasti akan bergetar saat pertama kali melihat korban pembunuhan seperti ini. Dalam kasus yang aku hadapi, tidak pernah aku mendapati kasus seperti ini. Terlebih, aku juga curiga kenapa pendengaranku sama-sekali tidak berfungsi di saat seperti ini. Hal ini cukup membuat pekerjaan ini terasa berat untukku. “Sepertinya aku tahu wajah ini! Jika tidak salah, sepertinya ini adalah mayat dari penghuni hotel itu juga, aku sempat mengambil>“Jadi, apa kau memiliki prasangka jika Conan adalah pelakunya?” Sam mengangguk sembari menatapku, “Jika bukan dia, kemungkinan lainnya, dia tahu siapa pembunuhnya dan berpura-pura tidak tahu untuk menutupi jejak mereka. Tidak mungkin dia tidak tahu apa-apa, aku yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu!” “Itu akan terungkap setelah kami melakukan pemeriksaan, setelah makan pagi ini sampai malam. Mungkin kami tidak akan keluar dari kamar, jadi, mungkin Anda bisa mengawasi gerak-gerik dari Conan lebih dulu. Sekalipun begitu, kami juga akan membantu mengawasinya. Beberapa kamera pengawas kami letakkan di hotel itu, itu akan membantu  untuk mengawasinya!” “Baik, aku akan berangkat setelah ini. Aku akan kembali memakai mobilmu, Conan. Apa kau keberatan karena hal itu?” Conan menggeleng, “Tidak sama-sekali, kalian bebas menggunakannya untuk membantu pekerjaan kalian. Tapi jangan sampai rusak, aku punya kenangan dengan mobil itu. Ah, aku juga ingin  menyampaikan jika beberapa masyarakat berterima kasih padamu, Emilio. Ternyata sebelumnya, serigala hitam itu juga memangsa beberapa sapi rakyat, sudah banyak keluhan dari mereka. Namun tidak ada yang seberani dirimu nak, jadi, kami benar-benar berterima kasih padamu!” Aku mengangguk, “Tapi bisa aku bertanya padamu, Conan? Maaf jika ini mengganggu privasi kamu, tapi aku butuh kepastian dari hal ini setelah aku melihatnya!” “Apa kau melihatku hari itu berlari dari rumah dengan sesuatu yang aku bungkus di tanganku?” Seru Conan lebih dulu dengan raut wajah lucu, dia seperti ingin menertawaiku, “Aku tahu memang melihatku saat itu, aku juga hendak menyapamu malam itu. Tapi tidak banyak waktu, aku pikir aku bisa menyapamu setelah kembali!” “Lalu, apa yang kau lakukan malam itu, Conan?” tanya Sam “Kau tahu pendeta gereja? Itu adalah benda miliknya yang sengaja di titipkan di sini, katanya itu begitu berharga dan tidak sembarang orang boleh tahu hal itu. Sedikit bocoran karena aku mengintip benda milik pendeta itu, itu adalah gambar-gambar wanita, aku tidak tahu pastinya karena aku tidak punya hak untuk mengintipnya.  Malam itu dia memintaku untuk membawakan barang-barangnya itu, dia ingin pergi ke Hong Kong dan meninggalkan jabatannya itu. Beberapa minggu lalu, juga sudah dilakukan perpisahan untuknya!” “Bedebáh itu!” seruku pelan, namun Conan mendengarnya. “Kau harus sabar anak muda, tidak semua yang terlihat baik itu baik. Itu semua tergantung pada seberapa besar kepercayaanmu. Sejujurnya, aku ini adalah seorang atheis yang tidak percaya pada Tuhanmu itu, tapi, aku juga pergi ke gereja untuk mencari tahu kenapa aku seorang atheis dan sangat sulit  percaya mengenai hal-hal itu.” *** Percakapan singkat di meja makan itu cukup memberikan gambaran, bahwa apa yang Conan katakan itu memang benar. Tapi untuk sekarang, aku mengabaikannya dan berusaha untuk melupakannya. Aku tidak perlu mengetahui mengenai masalah-masalah orang lain yang nantinya bisa membebani pikiranku. Aku hanya mengisi kapasitas otakku dengan hal-hal yang memang aku butuhkan dan jika itu penting. Selama bersekolah pun, aku bahkan tidak menguasai pelajaran politik, ekonomi dan sebagian hal yang aku anggap tidak penting. Otak seseorang itu seperti kamar kosong, kita yang memilih apa yang akan di isi ke dalamnya. Orang bodoh akan memungut semua barang, bahkan membelinya untuk dimasukkan ke dalam kamar itu, sekalipun dia tahu itu tidak akan berguna untuknya. Alhasil, kamar itu akan penuh dengan hal-hal yang tidak kita butuhkan dan tidak perlu. Sama hal nya dengan otak, orang bijak hanya mengisi otaknya dengan hal-hal yang penting saja. Itu kenapa orang bijak bisa berkembang lebih cepat dengan kemampuan mereka, dibandingkan dengan orang pintar yang mengisi semua otaknya dengan apapun yang ia peroleh. Aku pernah membawa karya-karya dari penulis besar, katakanlah seperti karya Sir. Sherlock Holmes, William Shakespeare dan masih banyak lagi. Aku tidak mengatakan jika karya-karya sastra mereka itu adalah yang terbaik. Hanya saja, apa yang tertulis di dalam karya mereka itu menurutku benar adanya. Yuwen masuk ke kamar dengan beberapa kantong plastik di tangannya, dia meletakkan semua barang-barang itu di atas meja kerjaku. “Aku sudah membeli beberapa bahan yang mungkin kau butuhkan, tidak mudah mencari bahan-bahan yang kau tulis, ada beberapa cairan kimia yang tidak aku dapatkan!” “Aku tahu, tidak masalah, aku bisa melakukannya dengan bahan-bahan ini. Tapi, apa semua bahan utama tersedia?” Yuwen mengangguk sembari mengeluarkan bahan-bahan utama. Aku lekas mengambil sampel darah dari kantong plastik menatap darah itu, membuatku teringat dengan beberapa kejadian yang rasanya pernah aku lalui sendiri. Semua bahan sudah tersedia di depan meja, aku lekas masuk dalam duniaku sendiri. Beberapa tetesan dari zat yang ada tidak memberikan reaksi pada darah. Yuwen mendapatkan bagian untuk mencari tahu apakah ada sidik jari yang tertinggal atau tidak. Berjam-jam lamanya berada di dalam pemikiranku sendiri, semua bahan utama hampir habis, dan sama-sekali tidak ada bekas yang tertinggal. “Ini adalah data yang aku temukan, bagaimana denganmu? Apa kau mendapatkan sesuatu dari percobaanmu itu?” Aku menggeleng, “Tidak ada sama-sekali, ini aneh, apa mungkin dia dibunuh tanpa disentuh sama-sekali?” “Kemungkinan kau benar, aku juga tidak mendapatkan apa-apa dari bagian tubuhnya, tapi beruntung dengan darahnya itu kita mendapatkan>Penjelasan Yuwen membuatku memikirkan sesuatu hal, “5…10…15, apa arti dari pola itu? Jika gadis itu terbunuh setelah 5 hari di sana, lalu lelaki itu terbunuh setelah 10 hari di sana. Kemungkinan besar, lelaki yang tersisa itu juga akan terbunuh dalam waktu dekat. Apa kamu sependapat denganku, Yuwen?” “Aku setuju, tapi aku tidak menemukan kejanggalan di angka 5. Atau apa si pembunuh hanya menyukai angka itu saja dan dia melakukan pembunuhan di tanggal-tanggal itu?” “Kemungkinan benar, apa kau kepikiran dengan sesuatu? Saat meninggalkan kamar wanita itu, aku juga melihat jam yang mati namun menunjuk pada angka 5 tepat. Itu sebuah kesengajaan atau memang dia terbunuh pada saat jam itu?” “Tidak tahu, tapi kita harus segera mencari tahu keluarga korban, dia mungkin tidak tahu jika lelaki ini sudah terbunuh. Tapi, apa kau tidak merasakan sesuatu, Lio? Aku takut, jika pembunuhan ini lagi-lagi ada sangkut pautnya denganmu!” Sembari mengambil jaketku, aku menatap ke arah peternakan Conan yang mulai ramai. Ini sudah memasuki sore, dan hewan-hewan itu sudah waktunya makan. Aku menatap Yuwen, “Itu masih menjadi misteri bagiku. Karena aku juga tidak bisa mendengar apa yang terjadi di ruangan itu, aku bahkan sudah mencobanya sebanyak 3 kali. Tapi sepertinya ada yang menghalangi pendengaranku untuk kali ini, ini terasa lebih menyulitkan daripada sebelumnya. Lekaslah ambil jaketmu, dan kita akan pergi segera!” Kami segera turun dari ruangan, bertepatan dengan bunyi suara mobil yang aku dengar dari arah luar. Klik—pintu rumah Conan terbuka dan Sam muncul dengan raut wajahnya yang panik. “Conan ingin melarikan diri, dia menuju pelabuhan di seberang kota, aku tidak tahu apakah dia adalah pelakunya. Tapi ini cukup mencurigakan, aku juga menemui beberapa petugas keamanan di hotel itu, katanya ada sesuatu yang tidak beres. Mereka tidak menemukan mayat yang aku laporkan tadi pagi, ini tidak masuk akal.” “Apa maksudmu, mayat itu menghilang?” Sam mengangguk, dia mengambil senjatanya yang ada di atas meja, lalu segera menuju mobil. Aku dan Yuwen lekas mengikuti Sam, dan pergi dengan cepat. Bahkan mengabaikan sapaan dari Conan yang berada di peternakannya. “Bagaimana mungkin mayat itu menghilang?” “Aku tidak tahu, tapi kita harus lekas menuju kesana. Hal yang lebih mengejutkan, pemuda yang juga tersisa di sana, mati terbunuh dengan cara yang sama. Dia terbunuh di dalam kamarnya, dengan simpul yang mencekik lehernya.” “Dia terbunuh?” Tanya Yuwen panik, “Pukul berapa?” “Pukul 12 siang tadi, di perkirakan dia sudah tewas sejak pagi tadi. Darahnya sudah membeku, tidak ada pembuluh darah yang pecah. Namun lelaki itu tidak lagi bisa diselamatkan!” Mobil yang dikendarai Sam berhenti di depan hotel Holmes, kami lekas turun dan berlari memasuki gedung itu. beberapa petugas lekas membuka garis pembatas, aku masuk ke dalam dan menatap ruangan yang sedang dijaga dan juga diperiksa itu. Tubuh lelaki itu sudah beku, simpul mengikat di lehernya dan juga semua pergelangan kaki dan tangannya. Lagi-lagi dengan simpul dan warna yang sama. Aku menghela nafas, siapa bájingan yang melakukan  hal ini? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN