Ketika fajar yang masih pucat perlahan menyingsing di ufuk Brooklyn, Rizwan terbangun dari tidurnya yang tidak pulas akibat dering telepon yang tiba-tiba memecah kesunyian pagi. Dengan sedikit rasa lelah yang masih membebani, ia meraih ponselnya dan melihat nomor tak dikenal yang tertera di layar. Dalam tiga detik yang sunyi dan penuh tanya, namanya tak kunjung muncul, tetapi akhirnya, Rizwan menggerakkan bibirnya dan menjawab dengan suara yang sedikit serak, seraya berusaha menenangkan diri, “Halo… siapa?” Namun, tidak ada respons yang langsung menyusul. Tiga detik pertama hanya dipenuhi suara desahan napas yang terdengar dari seberang telepon, memberikan kesan misteri yang mencekam. Hingga akhirnya, muncul suara lembut dan tegas yang tidak bisa diidentifikasi sebagai suara laki-laki ma

