Duduk di kursi pesawat dengan wajah murungnya, Gean tidak bisa menutupi rasa kesalnya melihat kaca di sebelahnya. Matanya menatap awan putih yang menggumpal indah di depan sana. terlihat seperti permen kapas yang bisa ia makan kapan saja. Menarik npaas panjang, Gean coba sandarkan kepalanya pada kursi. Mencoba membuat dirinya lebih rileks daripada sebelumnya. Lengan besarnya sengaja ia jadikan penutup mata agar bisa tertidur walau hanya beberapa menit. “Kamu gak lagi takut naik pesawat, kan?” Tanya seorang wanita di sebelah Gean dengan wajahnya yang bingung. Gean segera menoleh dan menggeleng. “Nggak, Tan.” “Terus? kenapa murung banget dari awal naik pesawat? Takut ketinggian? Atau kangen Tante Riana?” Gean menggeleng lagi. Rintik—wanita yang umurnya berbeda 6 tahun dengan Gean itu

