Pukul sebelas malam, Fera dan Angel baru selesai. Itupun karena keduanya dipanggil Rian dan juga Gean untuk segera beristirahat. Kalau tidak diberitahu, kemungkinan ketiga perempuan itu akan terus asik mengobrol san melupakan waktu. “Lho, kok lo masih di sini? Mau tidur sama gua? Emangnya boleh?” Gean yang baru selesai menyiapkan berkas kantor dan juga pakaian untuk bekerja besok langsung menolehkan kepala mendengar suara Fera yang ada di belakangnya. Gadis tinggi kurus itu menatap Gean dengan wajah datarnya seperti biasa. Membuat Gean diam-diam mendengkus melihatnya. Apa rasa kesal juga dirasakan oleh para temannya begitu melihat wajahnya yang seperti Fera? Pantas saja Papanya sampai sekesal itu jika melihat wajahnya yang sedang marah. Ternyata wajah datar saja sudah membuat kesal.

