“Xu Jiale…” Fu Xiaoyu terbangun dalam keadaan linglung, dan hari sudah sore. Dia setengah menutup matanya, secara naluriah mengulurkan tangannya, tapi kemudian hidungnya berkedut secara alami— Hidungnya mencium aroma yang sangat asing, aroma feromon bercampur dengan sedikit rasa mint yang menyegarkan namun luar biasa manis. Aroma yang memikat itu menariknya, bagai seberkas bulu halus yang senantiasa membelai hatinya. Ia memikatnya bagai binatang kecil, dan ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di bahu yang familiar itu. “Mm…” Xu Jiale mengeluarkan dengungan dalam secara naluriah, namun tetap menutup matanya. Pada saat ini, Xu Jiale masih tertidur lelap, bernapas perlahan dan teratur. Matahari sore yang kemerahan menerobos balkon ke dalam ruangan, dan segalanya terasa tenang. Fu Xiao

