Bagian 41

986 Kata

Pagi itu mobil hitam Alven melaju pelan keluar dari gerbang mansion. Cuaca cerah, langit biru, tapi suasana dalam mobil lebih hangat lagi—lebih tepatnya… agak manis lengket gara-gara nasib panggilan baru Nadira, yang entah kenapa bikin Alven ketawa sepanjang jalan. Nadira bersandar nyaman, memeluk tas kerja di pangkuannya. “Mas, pelan—pelan dong…” katanya sambil melihat speedometer. Alven melirik. Bibirnya langsung terangkat nakal. “Kamu manggil aku apa barusan?” Nadira pura-pura sibuk sama kacanya. “Apaan sih… biasa aja.” “Enggak biasa,” sanggah Alven sambil memiringkan badan dikit. “Kamu manggil aku ‘Mas’ tiga kali sejak dari dapur.” Nadira memelotot. “Terus kenapa? Kamu kan suamiku.” Alven nyengir puas. “Oh jadi kamu sadar?” Nadira langsung manyun, pipinya merah. “Udah deh jangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN