Rumah terasa terlalu sunyi malam itu. Lampu ruang tamu masih menyala, tapi tidak ada satu pun suara yang menyambut ketika Alven membuka pintu. Biasanya Nadira selalu menoleh, selalu menunggu, selalu tersenyum kecil ketika ia pulang. Tapi hari ini… tidak. Sepatu Nadira ada di depan kamar. Pintu tertutup. Dan dari baliknya, terdengar suara pelan— bukan suara orang berbicara, tapi suara seseorang menahan tangis. Alven menutup pintu rumah perlahan, meletakkan kotak makanan yang tadi ia beli di meja. Makanan favorit Nadira—sup ayam, puding mangga, dan pastel hangat. Ia membeli semuanya dengan harapan kecil: semoga istrinya tidak marah terlalu lama. Napasnya berat ketika ia mengetuk pintu kamar. Tok. Tok. “Ra?” Tidak ada jawaban. Alven membuka pintu pelan. Kamar gelap kecuali lampu

