Marahan dan minta maaf

1470 Kata

Setelah pertarungan panas semalam, semburat merah di pipi Elena tak kunjung lenyap. Entahlah padahal ini bukan yang pertama, tapi tetap saja apa yang terjadi diantara dirinya dan Arlan semalam benar-benar... "Bunda." Elena tak meneruskan lamunannya. Ia berbalik dan menadapati Erland sudah berdiri tak jauh dari posisi Elena berada dengan seragam lengkap. "Eh... ada apa, A?" Bocah laki-laki itu menatap bundanya dengan tatapan penuh tanya. Bukan tanpa alasan, hampir lima menit Erland memperhatikan bundanya yang sibuk senyum-senyum sendiri dengan wajah memerah. "Bunda kenapa? Kok senyum-senyum sendiri? Mukanya juga merah." "Hm... nggak apa-apa, A." Erland menaikan sebelah alisnya, "Yakin gak ada apa-apa?" Belum sempat Elena menjawab, tiba-tiba ia melihat suaminya melintas melewati dapur

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN