Setelah pertarungan panas semalam, semburat merah di pipi Elena tak kunjung lenyap. Entahlah padahal ini bukan yang pertama, tapi tetap saja apa yang terjadi diantara dirinya dan Arlan semalam benar-benar... "Bunda." Elena tak meneruskan lamunannya. Ia berbalik dan menadapati Erland sudah berdiri tak jauh dari posisi Elena berada dengan seragam lengkap. "Eh... ada apa, A?" Bocah laki-laki itu menatap bundanya dengan tatapan penuh tanya. Bukan tanpa alasan, hampir lima menit Erland memperhatikan bundanya yang sibuk senyum-senyum sendiri dengan wajah memerah. "Bunda kenapa? Kok senyum-senyum sendiri? Mukanya juga merah." "Hm... nggak apa-apa, A." Erland menaikan sebelah alisnya, "Yakin gak ada apa-apa?" Belum sempat Elena menjawab, tiba-tiba ia melihat suaminya melintas melewati dapur

