Hari minggu ini, Erland mengajak Hana jalan-jalan sebagai bentuk balas budi karena Hana sudah mau mengurusinya ketika ia sakit di sekolah. Meskipun belum benar-benar fit, Erland tetap memaksakan diri untuk pergi. Suaranya masih terdengar serak, karena dua hari terakhir ini ia mengalami radang tenggorokan yang cukup parah. Erland mengerti betul kondisinya, biar bagaimana pun ia tidak terlalu bodoh untuk sekedar memahami apa yang terjadi pada tubuhnya. Asam lambung yang kembali mengalir ke kerongkongan bisa menjadi pencetus terjadinya iritasi pada kerongkongan. Hal ini dapat menyebabkan nyeri pada tenggorokan serta rasa tercekik atau sesak napas.
"Kak, lo suka es krim gak?" tanya Erland memecah keheningan. Kini keduanya tengah duduk di salah satu taman.
"Suka. Kenapa?"
"Makan es krim yuk."
Hana menyipitkan matanya, "Es krim? Suara lo aja masih kedengeran kayak Dewi Persik versi cowok, serak-serak banjir gitu. Mau sok ngajakin makan es krim."
Erland memajukan bibirnya, membuat Hana gemas seketika.
"Erland, gue mau bikin pengakuan sama lo," ujar Hana tiba-tiba.
"Pengakuan apa?"
"Ada deh, tapi ada syaratnya."
"Lo yang bikin pengakuan, kok lo yang ngajuin syarat sih, Kak?"
Hana terkekeh, "Karena ini emang rahasia."
"Oke. Apa syaratnya?" tanya Erland lagi.
"Lo cukup jawab pertanyaan gue dengan jujur. Kemarin lo diapain sama Bagas?"
Erland awalnya enggan menjawab, tapi melihat kesungguhan di mata Hana, ia akhirnya jujur, "Kemarin gue lagi makan di kelas, tiba-tiba Bagas sama temen-temennya dateng. Gue nggak ladenin awalnya, tapi dia nyakitin sahabat gue. Gue kepancing dan gitulah. Tapi sumpah gue belum sempet pukul dia. Dia yang pukul gue duluan, makanya kemarin lo lihat gue muntah-muntah kan, Kak."
Hana terdiam cukup lama. Benar perkiraannya. Memang Bagas yang lebih dulu mencari masalah. "Udah gue duga. Oh, iya. Waktu dulu ketemuan sama Bagas lo ngapain?"
"Bagas nantangin gue minum. Dia bilang, Renata mana mau sama bocah ingusan kayak gue. Dan lagi-lagi gue kena jebakannya dia, gue dibikin mabuk berat dan sempat dibikin babak belur."
"Astaga. Bocah s***p emang tuh si Bagas! Otaknya ketinggalan di rahim emaknya kali, ya? Bisa sampai nggak mikir gitu."
Erland menggembungkan pipinya menahan tawa, "Gue juga sih yang salah. Harusnya gue nggak memperjuangkan apa yang udah jadi milik orang lain. Sekarang giliran lo, Kak. Katanya mau bikin pengakuan."
Hana meraup oksigen sebanyak-banyaknya, sebelum akhirnya bersuara, "Sebenarnya Renata nyuruh gue deketin lo, supaya akhirnya lo jauhin dia, tapi sumpah gue nggak bisa berbuat sejauh itu. Bagi gue, perasaan bukan ajang main-main. Setelah kemarin lo dan bokap lo kasih gue tumpangan, dan kalian sangat ramah, gue jadi mikir kalau lo sama sekali nggak pantes buat disakiti."
"Gue udah tahu itu."
Hana melotot, "Tahu dari mana?"
"Pas kemarin lo nanya gue lagi nggak sehat, dan lo bilang sempat lihat gue di rumah sakit, gue sadar kalau itu bukan kebetulan. Terlalu mengada-ada kalau lo bilang itu kebetulan. Gue tahu itu ada sangkut pautnya sama Renata, karena dia emang bersikeras nolak gue."
Hana tertegun, "Maafin gue. Sumpah gue nggak maksud ikut mainin lo."
"Gak apa-apa. Gue ngerti kok. Lo cuma berusaha jadi sahabat yang baik buat dia," sahut Erland.
Hana mengangguk, "Tapi gue salah. Kalau gue Sayang sama dia Harusnya gue benar-benar bertugas sebagai sahabat. Menegur saat dia salah, ikut bahagia saat dia bahagia."
"Kak, makasih ya lo udah mau jadi temen gue. Makasih juga lo ada buat gue, nampung semua unek-unek gue."
"Kita temenan kan sekarang?"
Erland tersenyum, lantas mengangguk.
***
Bagas menghilang lagi, dan itu cukup membuat mood Renata di hari libur ini berantakan. Ponselnya aktif, tapi tidak sekalipun laki-laki itu mengangkat telfon atau sekedar membalas pesannya.
Renata : Bagas.
Renata : Bagas kamu kemana sih? Ilang-ilang terus.
Renata : BAGAS LAZUARDI ARDANA.
Renata : Bagas aku kangen ?
Renata : Ini hari Minggu, apa gak bisa kamu nemuin aku? Ngajak jalan kayak biasa?
Renata : Kangen, Gas ????
Tetap tak ada balasan. Karena bosan, Renata lantas membuka akun instagramnya, dan seketika kelopak matanya melebar melihat foto yang diunggah Erland.

Hati Renata semakin tak karuan. Secepat itukah Erland mengalihkan cinta untuknya pada Hana? Hatinya sedikit tersentil melihat adegan itu. Ah, bahkan mereka sudah sampai berpelukan. Apa mungkin mereka sudah benar-benar resmi berpacaran? Tidak mungkin.
Sementara ditempat lain, orang yang membuat Renata gundah gulana, justru tengah asik bersama kekasihnya yang lain. Bagas duduk bersandar pada kepala tempat tidur sambil menyesap sebatang rokok, dan Irene membenamkan kepalanya di d**a bidang Bagas. Tebak sendiri apa yang baru saja mereka lalukan. Begitulah anak muda kebanyakan, bertindak tanpa banyak pertimbangan. Dengan mengatasnamakan cinta, mereka melakukan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, pada akhirnya mereka akan saling menyalahkan. Laki-lakinya bejad, atau wanitanya yang terlalu murah. Hal demikian tidak sepantasnya terjadi, jika keduanya saling menjaga. Wanita menutup auratnya, dan laki-laki menjaga pandangannya.
"Gas sumpah, ya, HP kamu berisik banget! Pasti Renata lagi deh!"
Bagas tertawa kecil, "Biarin aja. Kalau aku matiin dia nanti curiga."
"Sini aku yang bales!"
"Jangan sayang. Aku bales sebentar, ya," Bagas bergerak turun dari tempat tidur, kemudian mengambil ponselnya.
Renata : Bagas.
Renata : Bagas kamu kemana sih? Ilang-ilang terus.
Renata : BAGAS LAZUARDI ARDANA.
Renata : Bagas aku kangen ?
Renata : Ini hari minggu, apa gak bisa kamu nemuin aku? Ngajak jalan kayak biasa?
Renata : Kangen, Gas ????
Bagas : Maaf, Ren. Aku baru bangun. Semalam begadang, Mamaku lagi sakit.
Renata : Sakit apa? Aku jengukin, ya? Sekalian kita ketemu.
Bagas : Besok aja, Ren. Aku capek banget gak mau diganggu dulu.
Renata : Yaudah iya.
Bagas : Jangan marah baby. Do'ain aku jangan sampe sakit. Love you ?
Renata : Jangan lupa makan, ya, Gas. Love you too ?
"Lihat, gini doang dia luluh," ujar Bagas sembari menunjukan pesan yang dikirimnya untuk Renata pada Irene.
Irene terbahak, "Cewek tolol."
***
Arlan, Erland, Elena dan Reina tengah makan malam bersama. Elena sempat mengomel karena melihat foto yang diposting putranya.
"A, Bunda titip jangan kelewatan kalau sama perempuan. Itu peluk-peluk gitu kan belum muhrim. Dosa nanti A. Kalau ada setan lewat terus kebablasan gimana?"
"Yaampun, Bunda, aku nggak ngapa-ngapain. Itu di tempat rame lagian. Mana mungkin macem-macem," tukas Erland.
"Apa salahnya sedikit menjaga, A. Yang namanya nafsu, khilaf, kan nggak ada yang tahu," Arlan menimpali.
Reina yang tak mengerti apa-apa, memilih menyibukan diri dengan dua potong paha ayam goreng di piringnya.
"Ergh... " Erland bersendawa, membuat semua yang ada di meja makan menoleh ke arahnya. "Maaf, kelepasan."
"Aa jolok. Kata Bunda itu lebih gak sopan dali ntut."
Erland menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lantas melempar senyum kikuk. Diceramahi bocah empat tahun benar-benar sangat memalukan. Perutnya memang sering cepat lapar, cepat pula kenyang.
"Obatnya tadi diminum sebelum makan, kan, A?" tanya Elena.
"Lupa Bunda."
"Yaampun kamu ini gimana, kata dokter kan harus teratur diminumnya."
"Dua jam setelah makan obatnya baru bisa kamu minum, A. Obat lambung, lebih efektif diminum pada saat lambung dalam kondisi kosong."
Erland mengangguk patuh. Ia berharap banyak obat-obatan itu bisa mempercepat kesembuhannya. Erland tak tahan dengan kondisi perutnya yang sering terasa tidak nyaman. Telat makan sedikit, langsung berkeringat dingin. Ulu hatinya sakit, mual bahkan muntah. Perutnya kembung membuatnya sering bersendawa atau buang angin, belum lagi tenggorokannya sakit. Tak jarang pula ia merasa sesak. Sangat menjengkelkan.
***
Usai makan malam dan minum obat, Erland langsung masuk kamar. Ia menuruti anjuran dokter untuk tidak dulu berbaring sampai tiga jam setelah makan. Tapi karena hal itu, kini Erland malah tidak bisa tidur, padahal jam digital yang tertata apik di atas meja kecil samping tempat tidurnya sudah menunjukan angka 01.44 WIB. Ia mengambil guling, memeluknya, lalu berjalan keluar dari kamar. Jika sudah seperti ini, biasanya sang bundalah yang bisa membuatnya tertidur pulas.
Tokk... Tokk... Tokk
Ia mengetuk pintu kamar ayah dan bundanya.
Di dalam sana, Elena dan Arlan terperanjat kaget mendengar pintu kamar diketuk. Siapa pula yang mengetuk pintu kamar mereka tengah malam begini. Yang jelas itu bukan Reina, karena Reina pasti lebih memilih menangis untuk membangunkan ayah bundanya, daripada repot-repot mengetuk pintu. Dengan gerakan cepat, Elena memunguti pakaian yang berserakan di lantai, kemudian mengenakannya lagi. Suara ketukan itu tak juga berhenti yang disusul suara panggilan putra sulung mereka—Erland.
Tokk... Tokk... Tokk
"Bunda, buka."
"Pakai bajunya, Lan," ujar Elena dengan suara pelan. Dilemparnya pakaian Arlan, agar segera dikenakan suaminya.
Setelah yakin semuanya terlihat normal, Elena langsung membuka pintu. Ia mendapati Erland sudah berdiri di depan pintu dengan wajah pucatnya, sambil memeluk sebuah guling, "Ada apa, A? Kok udah malam belum tidur?"
"Gak bisa tidur, Bunda. Perutnya sakit lagi. Mau tidur di sini sama Bunda."
Elena melotot. Erland tidak boleh tidur di kamarnya, takut jika putranya itu menemukan sesuatu. "Bunda temenin di kamar Aa, ya? Yuk tidur lagi," tutur Elena seraya menggiring putranya menjauh dari kamarnya.
Erland mengangguk.
Bersambung...