Ren duduk di ruangan berukuran 5x6 meter itu dengan wajah gusar. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu. Namun kali ini, seseorang telah berhasil membuat emosi Ren yang selalu stabil menjadi sedikit tertekan.
Winarno dan Jordy yang telah menunggunya dapat melihat jelas kegusaran di wajah bodyguard itu. Keduanya terlihat masih tenang meskipun telah mendengar berita yang cukup mengejutkan dari mulut Ren beberapa saat yang lalu.
"Hanya aku dan Winarno yang mengetahui rahasia yang sudah kita tutup rapat selama bertahun-tahun ini. Sungguh aneh jika Angkasa Group bisa mengetahuinya." Jordy Miller, pemilik Prismax Group akhirnya buka suara.
Winarno tertunduk sambil memejamkan matanya, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Tapi Tuan Besar.. Aku kira bukan hanya Bapak dan Tuan Besar saja yang mengetahui hal ini." Ren yang sedari tadi gusar mendadak teringat sesuatu. "Rumah Sakit yang selalu saya kunjungi setiap kali terluka dan sakit.. Bukankah mereka memiliki rekam medik saya? Dokter yang Tuan Besar tunjuk untuk merawat juga mengetahui identitas saya.."
"Benar! Rumah sakit itu.." Winarno mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut sekaligus tak percaya. "Saya pernah mendengar bahwa Angkasa Group memiliki saham pada sebuah rumah sakit."
"Jadi begitu.." Jordy mengusap dagunya sambil berpikir. Ia tidak mengira rahasia yang ia tutup-tutupi akan tercium oleh musuhnya hanya karena hal sepele yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
Selama ini, ia selalu percaya bahwa pihak rumah sakit yang merawat Ren akan menjaga rahasia anak itu karena berkaitan dengan kode etik kedokteran. Ia memilih rumah sakit itu karena sepanjang pengetahuannya rumah sakit tersebut memiliki reputasi yang baik demi menjaga privasi pasien-pasiennya.
Sejak Ren tinggal bersamanya, tidak jarang ia terluka akibat pekerjaannya dan ketika latihan hariannya. Karena desakannya pulalah, Ren diminta untuk selalu melakukan check up setiap bulan untuk menjaga kondisi tubuhnya. Jordy tidak ingin bodyguard anaknya itu memiliki masalah kesehatan yang akan mengganggu pekerjaannya kelak. Namun tak disangka tindakannya ini justru menjadi boomerang baginya. Memudahkan lawan-lawan bisnisnya untuk mengendus kelemahan Ren.
"Aku tidak mengira Angkasa Group memiliki koneksi seluas ini. Kita benar-benar ceroboh Winarno."
Winarno kembali menunduk dalam-dalam.
"Segera perintahkan orang-orangmu untuk mengambil dokumen rekam medik itu Winarno. Minta dokter yang menangani Ren untuk tidak membuka mulutnya. Jangan sampai seorang pun tahu. Lakukan dengan sangat hati-hati."
Mendengar perintah Tuan Besarnya, Winarno lantas mengangkat wajahnya dan segera berdiri. "Siap Tuan." Tanpa menunggu lebih lama, ia berjalan keluar ruangan setelah lebih dulu membungkukkan tubuhnya di depan Jordy.
Sepeninggal Winarno, suasana kembali hening. Hanya terdengar ketukan jari-jari Jordy di atas meja kerjanya. Pria itu menatap langit-langit ruang kerjanya cukup lama.
"Tuan Besar..,"Ren memecah keheningan yang melanda. "Mengenai Bastian, apakah Anda ingin saya memberi pelajaran padanya? Saya selalu siap untuk itu".
Jordy menghentikan gerakan jari-jarinya lalu mengubah posisi duduknya menghadap Ren. "Tidak perlu. Tetap awasi dia dari kejauhan. Aku sangat mengenal pribadi putriku. Sheira tidak akan terpikat dengan laki-laki seperti itu," sahutnya yakin.
"Baik, saya mengerti. Kalau begitu saya-" Ren hendak bangkit dari duduknya ketika dilihatnya tangan Jordy memberi isyarat padanya untuk segera duduk kembali. Ren menghempaskan kembali pantatnya ke sofa empuk disana sambil tidak lepas menatap Jordy dengan heran.
"Bagaimana dengan latihan menembakmu?"
Ren menautkan kedua alisnya mencoba memahami kemana arah pembicaraan Tuannya ini. "Cukup menyenangkan, Tuan."
"Hmm." Jordy mengangguk puas. "Bisakah aku meminta satu hal padamu?"
"Dan bisakah aku untuk tidak menolaknya Tuan?"
Mendengar jawaban Ren, Jordy kontan tersenyum. "Kau masih tidak berubah. Sejak pertama kali kita bertemu."
Jordy bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Ren. Setelah meletakkan tubuhnya di sofa tepat di hadapan Ren, lagi-lagi ia tersenyum.
"Kau tahu berapa usiaku? Suatu hari, usia ini akan merenggutku dari sisi putriku." Jordy terdiam sesaat. "Aku ingin kau bisa menjaga putriku, meskipun nanti aku sudah tidak ada. Aku hanya bisa mempercayaimu nak. Tolong, jagalah Sheira untukku. Tetaplah untuk selalu berada disisinya, sepanjang hidupnya. Apa kau sanggup?"
Wajah Ren tertegun sejenak. Ia tidak mengira Tuan Besarnya tiba-tiba berkata demikian.
"Ketika aku menyatakan diriku untuk mengikutimu Tuan, sejak itulah aku sudah menyerahkan hidupku untukmu. Anda tidak perlu khawatir. Anda lah yang telah menjagaku selama ini. Anda juga yang menyelamatkanku dari kerasnya hidup di jalanan. Selain orangtuaku, Anda adalah orang yang sangat kuhormati Tuan. Aku akan mengabdikan diriku untuk melindungi putri Anda."
"Terima kasih nak," lagi-lagi Jordy tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada bawahannya yang lain. "Kau bisa keluar sekarang."
"Saya permisi Tuan."
***
Sheira dan ketiga teman-temannya baru saja keluar dari kantin ketika segerombolan senior perempuan menghalangi jalan mereka di koridor. Sheira menajamkan matanya memandangi mereka. Tidak satupun wajah-wajah itu yang dikenalinya. Ada urusan apa mereka dengan dirinya dan teman-temannya, pikir Sheira.
Seorang gadis yang tampaknya 'leader' dari gerombolan itu maju selangkah. Bibirnya yang dibalut lipstick berwarna merah muda tersenyum. Sheira sempat mengamati bibir itu sekilas. Menggunakan make up di sekolah jelas melanggar peraturan. Namun gadis ini sepertinya tidak mempedulikannya. Salah satu tangannya berkacak pinggang, seolah menantang.
"Ada apa nih? Kakak menghalangi jalan kami." Vello berinisiatif untuk bertanya lebih dulu.
"Gue gak punya urusan sama lo. Minggir!" Gadis itu mendorong tubuh Vello kesamping. Membuatnya hampir terjatuh. Untung saja Chika dengan cepat menangkap tubuhnya.
Tangan gadis itu terulur menarik lengan Arra dengan paksa. "Elo yang namanya Arra?"
"Ya. Ada perlu apa Kak Deena jauh-jauh dari lantai dua kesini?" balas Arra menatap lurus-lurus seniornya itu tanpa perasaan takut.
Kelas X dan XI memang dipisahkan oleh lantai meskipun masih satu bangunan. Namun tangga yang digunakan untuk ke lantai dua dimana jalan masuk satu-satunya yang menghubungan kelas X dan XI terletak di ujung lorong yang jaraknya cukup jauh dari lokasi kantin. Hal ini pulalah yang menyebabkan siswa kelas XI lebih banyak menghabiskan jam istirahat mereka di kelas atau di warung soto Mang Udin, si penjaga sekolah, yang letaknya dibelakang bangunan utama.
"Punya nyali juga lo ya." Gadis yang bernama Deena itu menyipitkan matanya menatap Arra.
"Udah langsung hajar aja Dee." Salah satu temannya memanasi.
"Kenapa dulu nih? Salah saya apa? Saya gak ngerasa kalau pernah ganggu Kak Deena."
"Tapi elo gangguin Arki," desis Deena dengan nada tajam.
"Lo gak tau kalau Arki itu udah incerannya Deena dari dulu? Lo masih anak baru disini udah sok nempel-nempel dia," timpal salah satu temannya lagi.
"Heh asal lo tau ya senior belagu! Arra sama Kak Arki itu-" Chika mendadak maju bergerak hendak menghardik Deena.
"Chika!" Arra menahan temannya itu untuk berbicara. Ia tidak ingin emosi sahabatnya yang suka meluap-luap itu tidak terkontrol. Arra tahu benar Chika memang tipe perempuan yang tidak banyak bicara. Namun jika sedang marah, Chika tidak segan-segan untuk melabrak apapun yang ada didepannya. Hal ini sudah disadari Arra ketika mereka SMP dulu. Vello yang notabene saat itu primadona sekolah menjadi incaran kakak kelas perempuan yang iri padanya. Arra ingat benar ketika Chika dengan wajah berangnya berteriak bak orang kesetanan di depan senior-senior mereka saat itu. Chika bahkan tidak segan untuk main tangan. Hal yang membuat Arra cukup bergidik karena ngeri.
Belum sempat Arra menjelaskan hubungannya dengan Arki pada senior-senior di depannya ini, tangannya sudah ditarik dengan paksa oleh Deena. Kejadiannya berlangsung cukup cepat. Deena menyeretnya dan membawanya masuk ke dalam toilet perempuan sementara ketiga teman-temannya yang lain dihadang oleh gerombolan Deena cs.
Melihat hal ini, Sheira yang sedari tadi menunjukkan ekspresi tenang lantas berjalan mengikuti kemana Deena membawa Arra pergi. Berbeda dengan Vello dan Chika yang masing-masing tangannya dicekal oleh para senior, Sheira tampak dengan mudah membebaskan dirinya. Bukan karena ia cukup kuat. Hanya saja sepertinya para senior itu sedikit takut mengintimidasinya mengingat ia adalah putri tunggal dari pemilik Prismax Group. Ahli waris yang nantinya bisa menghancurkan pekerjaan orangtua mereka hanya dengan jentikan jari.
Di saat yang bersamaan, Ren yang saat itu tengah berada di kantin mendadak kehilangan jejak dari nona mudanya. Gadis itu sungguh lihai berkelit dari pengawasannya. Baru saja Ren memalingkan wajahnya ke arah lain, Sheira dan ketiga teman-temannya sudah menghilang dari pandangannya.
"Ckk.. Cewek itu..," gerutu Ren geram.
Ketika ia hendak membayar makan siangnya, tiba-tiba seseorang berlari memasuki kantin. Gadis itu membisikkan sesuatu kepada temannya yang sedang menikmati semangkuk bakso. Ren seringkali berpapasan dengannya di lorong. Ren juga ingat bahwa gadis itu salah satu pengagum Sheira yang dengan diam-diam selalu melirik setiap kali ia dan Sheira tak sengaja berpapasan dengannya.
"Ehh?? Arra dilabrak? Arra kelas sebelah?" Gadis yang tengah menikmati bakso itu berseru kaget begitu mendengar ucapan temannya.
Ucapan gadis itu membuat Ren bergegas menghampiri mereka.
"Bagaimana dengan Sheira? Apa dia baik-baik aja?"
Gadis itu terlihat kaget melihat Ren mendekatinya. Dadanya terlihat naik turun mengatur nafasnya akibat berlari tadi.
"Gimana dengan Sheira? Dimana mereka?" ulang Ren tidak sabar. Dicekalnya lengan gadis itu sehingga membuat gadis itu langsung meringis kesakitan.
"She.. Sheira tadi gue liat ngikutin Arra yang dibawa ke toilet.."
Belum selesai gadis itu melanjutkan ucapannya, Ren sudah melesat pergi. Ia sempat melihat Vello dan Chika yang tengah berusaha melepaskan diri dari teman-teman Deena. Sheira tidak tampak diantaranya.
"Ren!" seru Vello begitu melihat kehadirannya. Mata gadis itu seolah meminta pertolongan.
Ren tidak menggubrisnya. Yang ada dipikirannya adalah Sheira. Ia tidak ingin nona mudanya itu menjadi korban bullying di sekolah.
Tidak butuh waktu lama bagi Ren untuk tiba di toilet perempuan. Suara-suara gaduh dari dalam toilet terdengar jelas ditelinganya. Dengan sekali tendangan, pintu toilet yang semula terkunci dari dalam langsung terbuka.
Dari dalam toilet, dilihatnya seorang gadis tengah menarik kerah baju Arra dengan paksa. Tubuh Arra yang dibalut seragam telah basah seluruhnya. Rambutnya berantakan. Bau pembersih lantai menyeruak dari tubuhnya. Ren melirik Sheira yang berdiri tak jauh dari Arra. Nona mudanya itu terlihat menahan lengan gadis yang tengah mencengkram baju seragam Arra. Selang air berada tak jauh dari kakinya. Membuat sepatu dan rok yang dikenakannya basah terkena cipratan air. Kondisi Sheira terlihat jauh lebih baik dibandingkan Arra. Setidaknya itu yang Ren simpulkan untuk sesaat.
"Ren?!" Sheira berseru begitu dilihat bodyguardnya itu datang.
Ren menerobos masuk. Dengan cepat, dibawanya Sheira ke balik punggungnya. Menyembunyikan tubuh gadis itu agar aman dari balik tubuhnya. Tangan Ren bergerak menarik lengan Deena yang tengah mencengkram Arra, memelintirnya sedikit sehingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah sambil mengaduh kesakitan.
Meskipun Deena terlihat berani, dalam hati jantungnya berdegup ketakutan. Ia tahu reputasi Ren sebagai bodyguard Sheira. Ren tidak segan-segan melawan siapapun yang mengusik Sheira. Laki-laki atau perempuan. Ren tidak akan berbelas kasihan sama sekali.
"Gue gak ada urusan sama lo!" seru Deena sambil menggelus lengannya yang sakit. "Tinggalin gue sama cewek ini disini! Gue gak ada niat cari masalah sama tuan putri terhormat lo itu."
"Masalah Arra adalah masalah gue juga." Sheira yang berdiri dibalik punggung Ren bersuara. Ia lalu menggeser tubuh tegap yang menghalanginya itu.
"Oh punya rasa solidaritas juga rupanya tuan putri ini," ejek Deena. Meskipun takut, ia tidak ingin terlihat lemah di depan Sheira dan Arra. Apalagi salah satu dari gadis itu adalah rival dalam kehidupan cintanya.
Arra yang tengah menggigil menahan dingin di sudut ruangan tertawa. Ia lalu bergerak mendekati Deena. "Kenapa? Lo iri karena gue punya teman-teman yang selalu setia dukung gue sementara elo cuma ngandelin gerombolan lo yang kemana-mana ngikutin lo cuma karena numpang beken?!"
Mata Deena melotot marah. Ia tidak mengira Arra masih punya keberanian untuk melawannya setelah apa yang ia lakukan pada gadis itu. Salah satu tangannya yang tidak sakit bergerak hendak menampar Arra. Namun belum sempat ia melayangkan tamparan di wajah Arra, Sheira lagi-lagi lebih dulu menahan tangannya. Melihat ini, Deena mendorong tangannya kearah Sheira, membuat gadis itu terdorong beberapa langkah. Untungnya lengan Ren dengan sigap menangkap tubuh itu lalu merengkuhnya ke dalam dadanya.
"Lepasin gue!! Biar gue kasih pelajaran nenek sihir ini!" Sheira mencoba melepaskan lengan yang memeluk pinggangnya itu. Tangannya mendorong dan sesekali memukul d**a Ren.
"Wah.. Wah.. Pemandangan yang manis sekali. Sang ksatria pelindung mencoba melindungi tuan putrinya dari tangan nenek sihir yang jahat. Tapi gue sedikit keberatan dengan sebutan nenek sihir. Gimana kalau ratu?"
Ren tidak bereaksi. Dia melirik Arra sekilas. Gadis itu perlu segera mengganti pakaiannya. Sebenarnya Ren masih ingin bermain-main dengan gadis yang disebut nenek sihir oleh nonanya ini, namun melihat kondisi Arra mau tidak mau ia mengurungkan niatnya.
Dengan tangan kirinya yang bebas, lagi-lagi Ren meraih lengan Deena yang tadi diserangnya. Gadis itu tidak sempat berkelit. Dengan sekali gerakan, ia putar tangan itu kebalik punggung, menahan gadis itu untuk mencoba bergerak. Salah satu kakinya menggeser selang air yang masih menyala dan melambungkannya keatas tepat mengenai dan menyiram wajah Deena. Gadis itu tergeragap begitu air yang dingin menyentuh kulitnya.
Arra yang melihat hal tersebut bergegas meraih ujung selang yang hampir kembali terjatuh le bawah lalu mengarahkannya ke tubuh Deena. Tidak hanya itu, rok, kaki, rambut tak luput dari serangan Arra. Setelah itu, sebotol pembersih lantai yang masih tersisa ia guyurkan tepat di atas rambut Deena. Gadis itu tersenyum puas begitu melihat hasil karyanya. Ia tampak tidak peduli lagi dengan dingin yang menyergapnya beberapa saat yang lalu.
Diperlakukan demikian, kontan membuat Deena menjerit frustasi. Dia berteriak menyuruh Arra menghentikan aksinya. Tangannya menggapai-gapai mencoba menghalangi Arra. Namun matanya yang terasa perih tertutup rapat akibat cairan pembersih yang mengenai matanya membuat perlawanannya sia-sia.
Beberapa orang anak sudah bergerombol di pintu toilet, menyaksikan pemandangan yang jarang terjadi itu tanpa melakukan apa-apa. Teriakan Deena yang kencang sepertinya telah mengundang para siswa lainnya untuk menonton kejadian itu.
Melihat situasi yang semakin ramai, Ren bergegas membawa Sheira keluar dari toilet. Sheira masih berada dalam dekapannya, menatap Deena dengan sorot kebencian. Seolah tanpa beban, Ren membawa Sheira menuju ruang ganti olahraga untuk perempuan. Mata Ren sempat melotot memandangi siswa lain yang mencuri pandang padanya dan Sheira selama di koridor. Arra turut berjalan mengikuti keduanya dari belakang.
Tiba di pintu ruang ganti, Vello dan Chika sudah menyambut mereka dengan sorot khawatir. Mata Vello bahkan sempat berkaca-kaca melihat keadaan Arra.
"Ra, lo gak apa-apa? Ada yang luka?"
Arra menggeleng. Matanya melirik Ren yang berdiri disampingnya.
Ren melepaskan lengannya dari pinggang Sheira lalu berjongkok untuk memeriksa sepatu gadis itu. Sepatu yang baru dibelinya itu tampak basah. Kaos kaki yang dikenakannya juga terlihat lembab.
Ren mendongak menatap Vello dan Chika. "Kalian bantu Arra untuk bersih-bersih. Gue bakal urus Sheira." Ucapannya perlahan namun terdengar seperti memerintah.
Tanpa menunggu lebih lama, Vello dan Chika membawa Arra masuk keruang ganti. Meninggalkan Ren dan Sheira berdua di depan pintu.
Ren mendudukkan Sheira kesebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu dekat jendela ruang ganti. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, ia kembali berjongkok lalu melepaskan sepatu yang dikenakan Sheira.
"Gue bisa sendiri, lepas." Sheira menepis kedua tangan yang kini hendak melepas kaos kakinya itu. Tubuhnya menunduk sambil mencoba meraih kaos kaki yang dikenakannya.
"Lo ada sepatu cadangan?" tanya Ren sembari memperhatikan Sheira yang masih berusaha melepaskan kaos kakinya.
Sheira mendengus. "Lo kira gue mobil yang kemana-mana bawa ban cadangan?"
"Nih pake sepatu gue." Ren lalu melepas sepatu sneakersnya. Menyodorkannya tepat di depan kedua kaki gadis itu.
Ukuran sepatu mereka memang terpaut dua nomor. Sheira sendiri tidak habis pikir, mengapa Ren memiliki kaki yang cukup kecil untuk ukuran seorang pria. Namun hal itu tidak terlalu dipermasalahkan olehnya. Menurutnya ada banyak pria yang menggunakan ukuran 40 selain Ren.
Sepatu itu terlihat sedikit kebesaran dikakinya. Ren membantunya mengikat tali-tali sepatunya dengan kencang sehingga cukup kuat untuk tidak terlepas jika dipakai berjalan nanti.
Setelah ia rasa ikatannya cukup kuat, Ren bangkit berdiri. "Tunggu disini, gue mau ke mobil ngambil sendal". Ia melepaskan kaos kakinya dengan asal-asalan lalu berlari kecil menuju parkiran. Sambil menenteng sepatu dan kaos kaki Sheira yang basah, telapak kakinya yang tanpa alas sesekali berjengit begitu merasakan panasnya lantai yang terkena sinar matahari langsung.
"Lho Shei, Ren kemana?" Vello muncul tiba-tiba dari balik pintu ruang ganti. Matanya berkeliling mencari sosok Ren.
"Ke parkiran. Kenapa?"
"Gak pa-pa." Vello lalu duduk disampingnya. Matanya menangkap sepatu yang kini dikenakan Sheira.
Seolah mengerti kemana arah pandangan temannya, Sheira berkata,"sepatu gue basah."
"Oh.."
Vello terdiam. Matanya lurus menatap lapangan basket di depan mereka. Ia teringat kejadian beberapa menit yang lalu saat dicekal oleh teman-temannya Deena. Seumur hidupnya, tidak pernah ada pria yang bisa menolaknya. Namun kejadian tadi seolah membuka matanya. Ren berbeda. Ren tidak pernah menatap padanya. Tidak pernah sekalipun memikirkannya. Vello masih ingat jelas ketika ia berusaha meminta pertolongan pada Ren untuk melepaskannya dari kepungan teman-teman Deena. Ren mengabaikannya. Vello paham akan tugas Ren sebagai bodyguard Sheira. Tapi menurutnya sikap Ren itu terkesan berlebihan. Tidak mementingkan siapapun, hanya pada Sheira seorang. Hal ini mau tidak mau membuat hati Vello sedikit terbakar cemburu.
"Vell?"
Vello menoleh kaget begitu disadarinya tangan Sheira telah mengguncang bahunya. "Eh? Iya? Kenapa Shei?"
"Lo ngelamun? Gue tadi ngajakin lo buat masuk bantuin Arra. Chika pasti kerepotan."
"Oh iya iya." Vello bangkit berdiri. Ia kemudian menyusul Sheira yang telah lebih dulu berjalan memasuki ruang ganti.
***
Setibanya dirumah, Sheira disambut Mamanya dengan suka cita. Nyonya Miller memeluk putrinya itu dengan penuh kasih. Memandanginya sejenak dari atas ke bawah. Memastikan jika putri semata wayangnya itu kembali kerumah dengan keadaan baik-baik saja. Hal ini sudah menjadi kebiasaan baginya setiap kali menyambut kepulangan Sheira. Namun kali ini, ekspresi Nyonya besar itu mendadak berubah begitu melihat sepatu yang dikenakan putrinya.
"Dimana sepatu kamu?"
"Basah, Ma."
"Kenapa bisa basah?"
Sheira terlihat enggan untuk menjelaskan lebih lanjut. Ia tidak ingin membuat Mamanya khawatir.
"Ren benar-benar gak bisa diandalkan. Begini saja tidak bisa menjaga kamu." Nyonya Miller mulai mengeluarkan kekesalannya. Sejak dulu, ia memang tidak menyukai keberadaan Ren dirumahnya. Hanya karena bujukan suaminya lah akhirnya ia membiarkan Ren untuk selalu berada di sisi Sheira. Menurutnya, Ren akan membawa petaka bagi keluarganya. Memang selama ini Ren selalu berhasil melaksanakan tugasnya melindungi putri tersayangnya itu. Namun ada saja kesalahan kecil Ren yang selalu dibesar-besarkannya, dikeluhkannya pada suaminya.
"Sheira gak apa-apa Ma. Tadi waktu ke toilet, sepatu Sheira basah kena cipratan air," bohong Sheira meredakan emosi Mamanya. Hal yang dikatakannya tidak sepenuhnya bualan. Sepatunya memang terkena cipratan selang air di toilet akibat membantu Arra yang tengah dimarahi oleh Deena.
"Sheira masuk kamar dulu ya Ma. Capek banget mau istirahat."
Nyonya Miller mengangguk. Dipandanginya punggung putrinya itu hingga naik ke lantai atas.
Sheira merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Matanya terpejam sesaat mengingat kejadian siang tadi di sekolah. Tidak berapa lama, matanya kembali terbuka. Ia lalu melirik sepatu sneakers dikakinya sejenak. Dengan ujung jari-jarinya, ia mengusap sepatu berwarna hitam itu perlahan. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil begitu teringat sosok Ren yang memasuki kelas dengan sendal jepit merk 'Swallow'nya. Wajah dingin itu terlihat memerah dan tidak nyaman ketika seisi kelas memperhatikan kakinya sambil berbisik-bisik. Saat itu Sheira hendak tertawa. Ia jarang sekali melihat ekspresi seperti itu di wajah bodyguardnya. Namun mengingat ia harus menjaga sikap di depan teman-teman sekelasnya, Sheira hanya mampu menahan tawanya dalam hati.
Selama ini, Sheira selalu berusaha menjaga sikapnya di depan umum. Ia hanya tersenyum dan tertawa jika diperlukan. Berbicara hanya seperlunya. Bersikap tenang. Bukan berarti Sheira sengaja menutupi kepribadiannya yang sebenarnya. Sejak kecil tabiatnya sudah seperti itu. Hanya di depan kedua orangtua nya lah ia baru merengek manja dan sesekali tertawa sumringah. Menurutnya, cukup kedua orangtuanya yang mengetahui sisinya yang lain.
***
Bastian Angkasa, putra kedua dari pemilik Angkasa Group itu berjalan hilir mudik di dalam kamarnya dengan gelisah. Ayahnya, Angkasa Wijaya baru saja menelponnya dan mengatakan bahwa senjata mereka satu-satunya untuk mendekati Sheira telah lenyap, hilang, tercuri. Bastian sangat yakin pelakunya pasti ada hubungannya dengan Prismax Group. Sistem keamanan di rumah sakit itu sangat ketat. Namun sang pelaku sama sekali tidak terendus pihak keamanan dan CCTV. Benar-benar lihai. Hanya orang-orang dari Prismax Group yang mampu melakukannya.
"Santai bro, bokap lo abis ngomong apa sampe lo kebakaran jenggot begini." Gilang, teman sekelasnya yang saat itu tengah bermain kerumahnya berkomentar.
"Ini soal Sheira."
"Sheira lagi? Gue pikir lo udah nyerah untuk dapetin cewek itu."
"Sejak kapan gue pernah menyerah dengan target gue?" Bastian mendadak berhenti hilir mudik dan memandang Gilang dengan tajam.
"Lo gak takut sama Ren? Lo bisa abis kalau berani sentuh tuh cewek."
Bastian bergerak mendekati Dio. Dirangkulnya bahu Dio sambil tersenyum. "Tenang. Gue tau rahasia yang bisa bikin orang itu gak mampu buat pamerin taringnya."
"Dari kemarin lo bilang rahasia, tapi sampai sekarang lo gak kasih tahu gue rahasia apa itu."
"Itu karena gue nunggu moment yang pas untuk bongkar rahasia dia. Barusan bokap gue kasih kabar kalau bukti-bukti mengenai rahasia dia sudah hilang. Tapi lo tenang aja, gue masih punya seribu cara untuk menunjukkan keseluruh isi sekolah, siapa Renandaz Dawizard itu sebenarnya," jelas Bastian dengan wajah yakin.
"Jangan sampai senjata yang lo punya itu justru berbalik menikam lo."
Bastian tergelak mendengar nasehat Gilang. Matanya yang dari tadi gelisah kini menyorotkan emosi yang membara.
***