ENAM

3859 Kata
Siang itu sepulangnya dari sekolah, Sheira mengajak teman-temannya untuk berkunjung kerumahnya. Rencananya mereka akan mengerjakan tugas kelompok Bahasa Indonesia yang akan dikumpulkan besok lusa. Chika sempat berdecak kagum begitu masuk ke kamar pribadi Sheira yang menurutnya dua kali lebih luas dibandingkan ruang tamu dirumahnya. Kamar yang sebagian besar dindingnya dipenuhi wallpaper berwarna biru-hitam itu sungguh kontras sekali dengan kepribadian Sheira. Tidak banyak pernak-pernik khas perempuan di dalamnya. Hanya ada beberapa tumpukan majalah dan novel serta sebuah boneka beruang raksasa di atas kasur. Terdapat ruang kecil khusus untuk wardrobe yang letaknya bersebelahan dengan kamar mandi, juga meja rias dan cermin besar yang tergantung di dinding, televisi layar datar 39 inch, meja belajar dan rak berisi buku-buku. Sheira menelungkupkan tubuh di atas tempat tidur king sizenya sambil berhadapan dengan layar laptop. Sudah 15 menit berlalu sejak ia sibuk mencari bahan untuk tugas sekolah mereka dari internet. Matanya menatap penuh konsentrasi pada layar, namun di menit ke-20, bayangan seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak dilihatnya mendadak muncul. Sudah tiga hari Ren izin tidak masuk sekolah untuk menemani ayahnya ke Bangkok. Dan selama 3 hari itu pula, Sheira merasa terbebas dari pengawasan mata dingin itu. Hanya ada seorang bodyguard pengganti yang ditunjuk ayahnya menggantikan tugas Ren mengawasi Sheira dari balik gerbang sekolah. Dan selama 3 hari jugalah, Bastian dan Dennis dengan leluasa mengganggunya selama di sekolah. Kedua cowok itu seakan berlomba untuk mendapatkan perhatiannya. Sheira memejamkan matanya sejenak, mencoba mengusir sosok itu dari pikirannya. Detik berikutnya, dia kembali tenggelam dalam layar laptopnya. Namun baru beberapa menit berlalu, sosok itu kembali muncul dipikirannya, membuat Sheira mendesah frustasi. Sheira mendadak teringat akan kejadian sabtu malam itu, saat Ren bersikeras menungguinya semalam suntuk di depan pintu kamar Vello. "Shei, lo serius mau biarin Ren tidur di luar kedinginan?" Saat itu Vello yang merasa tidak enak hati membiarkan salah satu tamunya tidur di lorong kamarnya mencoba untuk berbicara pada Sheira. "Dia udah terbiasa begitu," jawab Sheira seolah tak peduli. "Biasa?" "Susah jelasinnya. Pokoknya dia tahan banting." "Karung beras kali, tahan banting," celetuk Chika seraya tertawa geli. "Ya udah kalau gitu gue mau siapin bantal sama selimut buat dia," putus Vello menyerah. "Ciee Vellooo.. Katanya mau batalin misi..," ledek Arra yang langsung dibekap mulutnya oleh Vello. Baru saja Vello mau membuka pintu kamar, Sheira dengan cepat menahan tangannya. "Tunggu, gue ikut." Meskipun Sheira jengkel setengah mati dengan Ren, namun posisi Ren yang sebagai bodyguardnya mau tidak mau membuat Sheira setidaknya harus memiliki rasa tanggung jawab atas kesehatan cowok itu. Sheira sadar, setelah ia dewasa nanti bukan hanya hidup Ren yang bergantung padanya, tapi juga seluruh hidup dari karyawan di Prismax Group. Sheira tidak ingin menjadi atasan yang tidak mempedulikan nasib anak buahnya kelak. Begitu pintu kamar dibuka, Sheira melihat Ren masih berdiri dengan posisi yang sama ketika mereka masuk ke kamar. Matanya dan mata Ren sempat beradu pandang sejenak. Setelah itu, ia melengos dan mengikuti Vello menuju kamar orangtuanya untuk mengambil selimut yang berada disana. Tanpa diminta, Ren mengikuti keduanya dari belakang dan lagi-lagi menunggu di depan pintu. Setelah mengambil selimut dari dalam salah satu lemari milik orangtuanya, Vello menyerahkan selimut itu ke tangan Sheira. "Ini, lo kasih ke dia." Sheira menerima selimut dari Vello tanpa banyak bertanya. Ia kemudian melangkah mendekati Ren yang masih setia menungguinya. Dengan sedikit ragu namun tidak menghilangkan kesan acuhnya, Sheira menyodorkan selimut itu padanya. "Nih buat lo tidur!" Ren memandangi selimut itu sejenak. "Ini." Tangan Sheira seolah tidak sabar. Ia semakin mendekatkan selimut itu ke wajah Ren. "Thanks." Akhirnya setelah cukup lama, Ren meraih selimut yang diberikan padanya. Sheira berbalik. Ia lalu mengamit lengan Vello untuk kembali ke kamar mereka. Namun belum sampai beberapa langkah, suara Ren yang serak itu menahan langkahnya. "Sheira." Sheira berhenti lalu menoleh pada bodyguard itu. "Jangan terhanyut dengan sikap Bastian." Hanya itu yang Ren katakan padanya, namun entah mengapa mampu membuat hati Sheira senang. Ia senang bahwa Ren mengkhawatirkannya meskipun terkadang kekhawatiran cowok itu terlalu berlebihan. Vello yang sempat mendengar ucapan Ren mengerenyit aneh. Sheira tahu, Vello pasti sedang mengira Ren tengah cemburu terhadap Bastian. Namun, bukannya meralat seperti yang biasanya ia lakukan, kali ini ia membiarkan Vello untuk salah paham terhadapnya. Lagipula, bukankah Vello berkata bahwa ia tidak ingin melanjutkan misinya kembali? Malam itu, Sheira tidak dapat memejamkan matanya. Berkali-kali ia berusaha memperbaiki posisi tidurnya agar nyaman. Ketiga temannya termasuk Kak Deena sudah terlelap sejak tadi. Bukannya ia merasa risih atau tidak nyaman tidur beramai-ramai dalam satu kamar, hanya saja pikirannya tertuju pada Ren yang menunggunya di balik pintu kamar. Bukan kali ini saja Ren bersikap seperti itu. Saat acara kemah ketika mereka SMP, Ren juga pernah menungguinya di luar tenda. Namun karena cuaca yang dingin disertai rintik hujan, bodyguardnya itu langsung mendapat demam keesokan harinya. Pukul 4 pagi, Sheira merasa tenggorokannya kering. Dengan hati-hati, ia bangkit dari tidurnya agar tidak membangunkan Vello dan Chika yang sedang tidur nyenyak di samping kiri kanannya. Perlahan, Sheira melangkah tanpa menimbulkan suara. Dibukanya pintu kamar dengan perlahan. Begitu pintu kamar terbuka, dilihatnya sosok Ren yang duduk bersandar pada dinding sambil memeluk bantal. Matanya terpejam. Seluruh tubuhnya terbungkus dengan selimut. Setelah melihat posisi tidur Ren yang menurutnya sedikit tidak nyaman itu mau tidak mau gadis itu merasa iba. Perlahan, ia mendekati tubuh itu. Dengan gerakan perlahan, ia mengubah posisi Ren agar tidur telentang. Dengan tenaganya yang hanya pas-pasan, ia mendorong tubuh Ren agar berpindah ke lantai. Bantal yang sedari tadi Ren peluk, ditariknya perlahan lalu diselipkannya di bawah kepala bodyguard itu. Setelah membenarkan posisi selimut di tubuh Ren, Sheira bergerak turun ke lantai bawah untuk mengambil minum. Saat kembali ke atas, Sheira sedikit terkejut begitu dilihatnya Ren sudah berdiri sambil menatapnya. Tanpa berkata apa-apa, Sheira berlalu melewati sosok itu kemudian membuka pintu kamar Vello. Belum sempat pintu terbuka setengahnya, Ren sudah menahan lengannya. "Hati-hati dengan Deena," bisik Ren di dekat telinganya. Aroma seperti lavender dari tubuh Ren menyeruak masuk ke dalam hidungnya. "Apa maksud lo?" "Deena dan Bastian.. Mereka berkomplot. Hati-hati dengan kedua orang itu," peringat Ren padanya. "Oke. Ada lagi?" Ren menggeleng. Dilepaskannya tangannya dari lengan Sheira. Namun, saat hendak masuk ke kamar, Sheira mendadak ingin bertanya sesuatu pada cowok itu. Ia kembali berbalik, menatap mata tajam itu dalam-dalam. "Kenapa lo begitu ingin ngelindungin gue?" "Huh?" Ren menatapnya sedikit terkejut. Mungkin tidak menyangka akan diberi pertanyaan semacam itu. "Itu.." "Bukan hanya karena elo dibayar untuk jadi bodyguard gue kan? Gak ada bodyguard yang selebay elo." "Itu karena.." Ren terlihat ragu untuk menjawab. "Karena apa?" Ren tampak gelisah. Sheira sangat yakin cowok itu sendiri bahkan tidak mengetahui jawaban dari pertanyaannya. "Gue kenal lo dari kecil. Selalu ada disisi lo selama 10 tahun.. Mungkin waktu 10 tahun sudah cukup buat gue untuk menganggap lo bukan hanya sebagai majikan gue tapi juga.." "Apa?" todong Sheira tidak sabar. "Gue bingung jelasinnya. Gue ngerasa udah ada ikatan yang kuat antara lo dan gue." "Ikatan yang kuat?" "Semacam itu.." jawab Ren dengan nada tak yakin. "Hmm." Sheira menatap cowok di depannya dengan wajah tidak puas. Ketika hendak masuk ke kamar, lagi-lagi suara Ren membuatnya berhenti. "Gue ngerasa kalau hidup gue di dunia ini hanya untuk ngelindungin lo." Mendengar itu, d**a Sheira mendadak berdesir. Ia dapat merasakan sesuatu bergejolak di perutnya. Dengan cepat, ia menutup pintu kamar tanpa memandangi sosok yang membuat tubuhnya bereaksi aneh itu. "Shei.. Sheiraaaa!!" Suara cempreng Chika membawa Sheira kembali dari lamunannya. Gadis itu tengah mencoret-coret buku dengan stabilo kuning ketika didapatinya Sheira tengah melamun. "Eh iya Ren, kenapa?" Sheira terlihat gelagapan menjawab. Chika menatapnya heran. Tidak biasanya Chika mendapati Sheira tidak berkonsentrasi seperti saat ini. "Tadi gue bilang, gue gak ketemu artikel persuasifnya yang lain, bisa lo cariin lewat google?" "Oke, tunggu sebentar." Sheira kembali sibuk dengan laptopnya. Chika yang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya akhirnya kembali buka suara. "Elo kenapa Shei? Dari tadi gue perhatiin ngelamun terus." Vello dan Arra yang tengah sibuk menyalin beberapa artikel kontan menoleh menatap Sheira. "Gak pa-pa, lanjutin aja kerjaannya." Sheira pura-pura sibuk di depan laptopnya. "Lo kangen 'dia' kan?" Pertanyaan Vello langsung membuat telinga Sheira memanas. "Kangen siapa?" tanyanya berlagak tidak tahu. "Ren." DEG!! "Enggak!" Buru-buru Sheira menetralkan jantungnya yang mendadak bereaksi ketika nama itu disebut. Tidak mungkin seorang Sheira Jeevana Miller merindukan sosok dingin dan menyebalkan itu. "Elo tiap hari sama dia, kemana-mana bareng dia. Cuma waktu tidur sama di kamar mandi aja yang gak ada dia. Jadi wajar kok Shei kalau lo kangen sama dia. Ini pertama kalinya kalian berjauhan dalam waktu yang lama kan?" Vello berbicara sambil terus menatapnya. "Tiap ngeliat kalian berdua itu gak seperti nona muda dan bodyguardnya, tapi kaya adik kakak." Arra ikut bersuara. "Bukan adik kakak, tapi kaya pasangan yang lagi pacaran," ralat Vello. "Kalian itu sebenarnya saling peduli cuma sama-sama gengsi dan introvert. Jadi susah untuk saling ekspresiin perasaan satu sama lain." Vello mengangguk menyetujui pendapat Chika barusan. "Lo udah coba hubungin dia belum Shei?" "Hubungin Ren? Buat apa?" Vello berdecak gemas melihat wajah Sheira yang masih menunjukkan raut tenang itu. "Tanya kabarnya, lagi dimana, sedang apa. Memangnya lo gak penasaran?" Sheira menggeleng. "Lo gak ngerasa kalau lo itu terlalu dingin sebagai majikan Shei?" tanya Arra padanya. "Jangan sampai sikap dingin lo ini ngebuat lo menyesal Sheira." "Gue gak kangen sama Ren." "Jangan bohongin diri lo sendiri Shei," nasehat Vello. "Gue gak bohong." "Terus tadi lo nyebutin nama Ren itu apa?" tanya Chika lagi. "Kapan?" "Tadi waktu gue panggil. Lo jawab begini.." Chika berdeham sebentar. "Eh iya Ren, kenapa?" ucap Chika seraya menirukan ekspresi Sheira yang sempat gelagapan. "Gue gak bilang begitu," elak Sheira cepat. Sangat memalukan bagi dirinya jika tertangkap basah sedang memikirkan bodyguardnya sendiri. "Gue denger dengan jelas lo bilang begitu sayaaang.." Chika mulai gemas dengan reaksi Sheira. "Enggak!" "Ih, kuping gue belom b***k kali. Jelas-jelas lo manggil gue 'Ren'!!" "Gue panggil lo 'Chika'!" Sheira masih tak ingin mengakui. "Haaah, iya deh terserah." Chika akhirnya mengalah. Melihat kedua temannya yang sempat beradu argumen itu akhirnya membuat Vello sedikit khawatir. Vello lalu mengambil smartphone dari dalam tas sekolahnya. Setelah menekan tombol panggilan, ia menempelkan smartphone itu ketelinganya. "Hallo? Lo lagi dimana?" jeda sejenak. "Lagi sibuk gak? Ada yang mau ngomong sama lo." "Siapa itu Vell?" Chika menatap Vello dengan sebal karena temannya itu mendadak merusak moment ia dan Sheira. Sebagai jawaban, Vello hanya menempelkan jari telunjuknya di atas bibir. Chika bukannya kesal karena Sheira menyangkal ucapannya, ia justru senang karena akhirnya bisa berdebat secara normal dengan Sheira. Biasanya, jika tidak terlalu diperlukan, Sheira akan pelit berbicara. Sejak pertama kali ia dan teman-temannya berkenalan dengan Sheira, belum pernah ia melihat Sheira menunjukkan emosinya dengan kentara. "Bisa? Iya.. Iya. Sebentar." Vello lalu menjulurkan smartphonenya kepada Sheira. "Nih.." "Siapa?" Sheira langsung bangkit dari tidurannya. "Ren," jawab Vello dengan kalem. Mata Sheira langsung mendelik. Ia lantas menggeleng dengan kuat. "Ini.." Dengan memaksa, Vello meletakkan smartphone itu di tangan Sheira. "Udah, ngomong aja sama orangnya." Dengan ragu-ragu, Sheira akhirnya meletakkan smartphone itu di daun telinganya. "Sheira?" Suara yang sudah beberapa hari tidak di dengarnya itu langsung bergema di gendang telinganya. Membuat Sheira mau tidak mau merasa sedikit gugup. "Hallo?" Mendengar tidak ada jawaban, sosok yang kini berada ribuan mil jauhnya itu kembali bersuara. "Iya ini gue," jawab Sheira setelah berhasil mengatur kegugupannya. Vello, Arra dan Chika langsung bergerombol di dekatnya, berusaha menguping apa yang dibicarakan oleh Ren. "Lo lagi sama Vello sekarang? Bukannya udah jam pulang sekolah?" "Kita lagi ngerjain tugas kelompok," jawab Sheira berusaha terdengar seperti biasanya. "Berempat lagi? Dirumah siapa kali ini?" tanya Ren dari seberang sana. "Di kamar gue." "Oh." "Eng.. Lo dimana? Papa baik-baik aja kan?" Sheira langsung mendesah menyesal begitu sadar dengan pertanyaannya mengenai keadaannya ayahnya. "Gue lagi di depan ruang rapat. Tuan besar lagi rapat sekarang. Lo ngehubungin gue karena gak bisa hubungin hapenya?" "Bu-" "Telpon aja ke hapenya setengah jam lagi." "Dasar Ren bodoh," maki Chika perlahan. "Apa? Suara siapa itu?" Ren sepertinya mendengar makian Chika barusan. "Chika.." gumam Sheira hampir tak terdengar. dipelototinya Chika dengan wajah tidak senang. "Kalau penting, lo bisa sampein pesan lo ke gue. Nanti gue kasih tahu Tuan besar kalau lo nel-" "EH!! Jangan!" seru Sheira gelagapan. "Kenapa?" "Gue gak mau ganggu Papa." "Oh." "Kapan pulang?" Hening sejenak. "Gue gak tau. Lo udah kangen?" tanya Ren yang langsung membuat telinga Sheira makin memanas. "Siapa yang kangen sama lo!!" "Bukan sama gue, maksudnya Tuan besar," ralat Ren. "Eh? Oh.. Iya," jawab Sheira. Wajahnya langsung memerah menahan malu. Di sebelahnya, Arra sibuk menyikut-nyikut lengannya sedangkan Vello dan Chika hanya terkikik geli. "Ya udah gue tutup." "O.. Oke." Setelah berkata demikian, Sheira lantas mengembalikan smartphone berwarna gold itu ke tangan Vello. "Payah." "Selalu dingin" "Hambar." Chika, Vello dan Arra gantian berkomentar. Ketiga wajah gadis itu terlihat tidak puas. Sheira hanya tersenyum masam. "Oh iya, lo sering telponan sama Ren? Kok gak cerita-cerita ke kita?" todong Arra sambil menatap Vello. "Memangnya gue harus banget cerita ke elo Ra?" Vello terkikik geli begitu melihat wajah Arra yang merasa seolah dikhianati itu. "Lo sendiri kan yang minta untuk gak lanjutin misi kita. Ini tau-tau udah sering telponan aja sama Ren." "Baru beberapa hari ini kok. Itu juga gak sering." "Itu namanya kemajuan. Sudah ada komunikasi di antara kalian." Bukannya menanggapi ucapan Arra, Vello justru menoleh menatap Sheira. "Lo gak apa-apa Shei?" "Maksud lo?" "Lo pasti tanya-tanya dalam hati kenapa gue bisa tukeran nomor dan telpon-telponan sama Ren kan?" tebak Vello sambil tersenyum kecil menatapnya. "Enggak." "Beneran?" "Iya." "Sebelum berangkat ke Bangkok, Ren nanya nomor telpon gue. Dia bilang buat jaga-jaga kalau tiba-tiba terjadi sesuatu sama lo dan nomor lo gak bisa dihubungin," tutur Vello tanpa diminta. Diliriknya ekspresi Sheira yang masih terlihat tenang. "Meskipun dia mau pergi jauh, Ren masih sempet-sempetnya mikirin keadaan lo Shei. Dia takut bakal terjadi apa-apa sama lo ketika dia gak ada." "Gue bukan anak kecil lagi." "Tenang aja, yang gue lihat dia gak pernah anggap lo seperti anak kecil," komentar Vello. "Tapi tuan putri," timpal Arra yang diiringi derai tawa oleh kedua sahabatnya. "Ya udah sekarang kita lanjutin aja ngerjain tugas Bahasa Indonesianya. Gue gak mau pulang kemaleman. Bisa kena amuk Kak Arki." Keempat gadis itu lantas kembali serius dengan bagiannya masing-masing. Sheira kembali hanyut menatap layar laptopnya. Pikirannya sudah lebih tenang sekarang. Mungkin benar kata Vello, ia merindukan sosok bodyguardnya itu. Mereka selalu bersama selama hampir 10 tahun belakangan. Sudah tentu akan ada rasa rindu ketika tiba-tiba bodyguardnya itu tidak berada disampingnya. Sama seperti ia merindukan kamarnya setiap kali ia tinggal pergi liburan ke rumah Kakek dan Neneknya di Bali. Ya, pasti rindu semacam itu. *** Ren berjalan sendirian dalam kegelapan di ruangan yang berukuran 10x10 meter itu. Sejak tadi, ia mendengar suara-suara yang meskipun samar masih bisa tertangkap oleh telinganya. Suara-suara yang mencurigakan. Setelah memeriksa Tuan besarnya yang masih tertidur pulas di ranjang, Ren bergerak menyusuri ruangan President suite salah satu hotel bintang lima di Bangkok itu dengan seksama. Matanya mencoba membiasakan diri dalam kegelapan yang sunyi. Kembali terdengar langkah kaki. Kali ini tidak hanya satu, tapi dua orang. Ren menyipitkan matanya dan mamasang tajam telinganya mencoba mencari sosok-sosok misterius yang hendak mencoba mengganggu ketenangan Tuan besarnya itu. Tiba-tiba, Ren merasakan ada hembusan angin dari belakangnya. Refleks, Ren menoleh dan segera menangkis sesuatu yang bergerak kearahnya dengan kedua lengannya. Rasa perih sekaligus nyeri langsung terasa dari lengannya. Ren bahkan bisa merasakan tetesan darah yang mulai mengalir dari celah jaketnya. "Siapa kalian?!" bentak Ren kepada si penyerang. Tidak ada jawaban. Sebagai gantinya ia merasakan hembusan angin kembali datang dari bagian depan dan belakang. Ren menunduk. Dengan gerakan seperti capoeira, ia menahan telapak tangannya di keramik yang dingin kemudian menggerakkan kedua kakinya keatas membentuk gerakan berputar kemudian mendarat kembali dengan kedua kakinya. Terdengar suara geraman begitu kakinya terasa mengenai bagian tubuh orang-orang itu. Tanpa menunggu lebih lama, Ren kembali melancarkan aksinya. Kali ini ia mengatur pernafasannya lalu mendorong kedua tangannya ke depan, membuat lawan di depannya mengeluarkan suara seperti terjatuh. Meskipun hanya dorongan ringan, namun dorongan ini mampu menghancurkan 6 hingga 7 lempeng besi. Ren sudah terbiasa melakukannya ketika mempelajari Merpati Putih saat SMP. Hembusan angin itu mulai kembali terasa di tengkuknya. Ren berbalik dan mengerahkan ujung sikunya hingga membentur benda kenyal kemudian dengan salah satu tangannya yang lain ia mengangkat tubuh itu kemudian membantingnya ke lantai. Hanya butuh tidak kurang dari 2 menit bagi Ren untuk merobohkan lawan-lawannya yang tak terlihat ini. BRAK!! Terdengar bunyi kaca yang pecah disusul jerit kesakitan di depannya. Ren dengan sigap bergerak mencari tombol lampu di dinding. Tidak butuh waktu lama bagi Ren untuk menyalakan lampu. Begitu lampu menyala, dua orang berpakaian hitam yang menyerangnya tadi masih mengaduh di lantai. Masing-masih memegang perut dan punggungnya yang sakit. "Ada ribut-ribut apa ini?" Jordy Miller, muncul dari balik pintu kamarnya dengan heran. Ketika dilihatnya dua orang berpakaian hitam berada di ruangannya sambil mengerang kesakitan, wajahnya langsung berubah mengerti. Tanpa banyak bertanya, Jordy bergerak menuju telepon di kamarnya dan menghubungi pihak keamanan hotel. Setelah itu, ia kembali menuju ruang depan dimana Ren tengah mengikat kedua orang berpakaian hitam tadi. "Siapa mereka?" tanya Jordy. "Saya gak tau Tuan besar. Akan saya tanyakan kepada keduanya." Ren berjongkok menatap kedua orang asing di depannya ini. "Who are you?! What do you want from us?" Ren mencoba menggunakan Bahasa Inggris pada keduanya. Tidak ada jawaban. Ren kembali bersuara. Kali ini ia berbicara dengan Bahasa Thailand. "Khun peng khrai? Thi sung khun ti ni krab?" (*Siapa kalian? Siapa yang mengirim kalian kemari?) Kedua orang di depannya mulai bereaksi. "Say ncai.. Say ncai krab," desis salah satu diantara mereka dengan wajah takut. (*Maafkan aku.. Maafkan aku) Ren memandang keduanya dengan tatapan tajam. "Bagaimana?" tanya Jordy lagi. "Siapa yang mengirim mereka kemari?" "Mereka tidak memberitahukannya Tuan besar. Lebih baik kita tunggu polisi untuk datang kemari." Jordy mengangguk. Matanya lalu tertumbuk pada lengan Ren yang dibalut jaket berlengan panjang. Terdapat tetesan darah yang merembes dari jaketnya. "Nak, lenganmu!" Ren melirik kedua lengannya sekilas. "Tidak apa-apa Tuan. Hanya luka kecil. Tangan saya tergores senjata yang mereka bawa tadi." "Kita harus bergegas ke rumah sakit sekarang!" Wajah Jody terlihat khawatir. "Gak perlu Tuan," tolak Ren dengan halus. "Saya bisa mengobati sendiri luka ini. Saya ingin ikut ke kantor polisi sebagai saksi. Lagipula, bahasa Thailand saya cukup fasih. Anda akan bingung jika di interogasi oleh polisi Thailand nantinya Tuan." "Tapi lukamu kelihatannya cukup serius." "Tidak, Tuan. Saya bisa mengatasinya. Hal seperti ini sudah sering saya alami" Jordy tampak keberatan mendengar penolakan bodyguard anaknya itu. Namun jika harus membayangkan dirinya duduk di kantor polisi tanpa mengerti apapun yang ditanyakan cukup membuat ia akhirnya mengalah. "Baiklah jika kamu bilang begitu.." *** Sheira berdiri cukup lama di depan pagar sekolahnya. Sudah lebih dari 15 menit ia menunggu bodyguard pengganti untuk menjemputnya. Namun sosok pria berusia 35 tahun itu tidak muncul-muncul di hadapannya. Ia bahkan menolak ajakan teman-temannya untuk diantar pulang karena mengira sang bodyguard akan segera menjemputnya. Tidak seharusnya bodyguardnya itu pergi tanpa perintah darinya. Sesuai arahan Om Winarno, seharusnya sang bodyguard selalu menungguinya di depan gerbang sekolah. Tapi kali ini, pria itu menghilang entah kemana. Sheira memang sedikit tidak suka akan sikap bodyguard pengganti yang bernama Surya itu. Selain karena matanya yang suka mencuri-curi pandang ke arah Sheira dengan tatapan nakal, Surya juga seringkali tidak menghormati privasinya dengan tidak menjaga jarak aman padanya. Sungguh mengganggu. Berbeda sekali dengan sosok Ren yang selama ini mampu membuatnya nyaman. "Maaf, saya terlambat." Surya muncul di depannya sambil berlari-lari kecil menghampirinya. Sheira tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia hanya mendengus kesal lalu berjalan memasuki Porsche Cayenne nya dengan tergesa-gesa. Di dalam perjalanan, lagi-lagi Surya melirik kearahnya melalui kaca spion tengah. Padahal Sheira sudah sengaja memilih duduk di belakang kemudi guna menghindari tatapan nakal Surya. Belum sampai 5 menit di perjalanan, Surya tiba-tiba membelokkan mobilnya ke sebuah jalan yang sempit, membuat dahi Sheira berkerut bingung. Ini bukanlah jalan menuju kerumahnya. "Apa yang Om lakukan? Ini bukan jalan menuju ke rumah." Surya tidak menjawab. "Om!" "Ini jalan tikus Non", jawab Surya akhirnya. Mendengar jawaban Surya, Sheira tidak serta merta langsung percaya. Firasatnya mendadak merasakan sesuatu yang janggal. Dengan gerakan pelan takut diketahui oleh Surya, Sheira mulai meraba-raba mencari smartphone dari dalam tas ranselnya. Setelah ia menemukan benda itu, tangannya dengan cepat mencari tombol untuk membuka kunci pengaman yang otomatis terbuka menggunakan sidik jarinya. Sheira tidak berani untuk mengeluarkan benda itu dari dalam tas, takut diketahui oleh Surya yang sejak tadi masih menunjukkan gelagat aneh. Terus menerus memperhatikannya dari kaca spion. Hanya dengan bermodalkan instingnya, Sheira berusaha mencari tombol speed dial dan menekan angka 4, nomor telepon Winarno. Samar-samar, terdengar bunyi nada sambung dari dalam tas nya. Sheira mendesah lega begitu dirasa ia telah melakukannya dengan benar. Surya membawa Porsche yang ditumpangi Sheira masuk kedalam sebuah bangunan lama. Setelah memarkirkan mobilnya, Surya lalu membukakan pintu untuk Sheira. "Kok kesini?" tanya Sheira yang memang sudah menyadari gelagat tidak beres sejak tadi. "Eh.. Iya saya ada perlu sebentar dengan teman yang kebetulan tinggal di dekat sini." "Kalau begitu aku tunggu di dalam mobil aja Om." "Uhm, tapi teman saya mau ketemu sama Non Sheira. Dia bilang penggemarnya Non." "Suruh dia kesini." "Tapi Non.." "Kalau dia mau ketemu, suruh dia yang kesini." Sheira bersikeras tidak ingin keluar dari dalam mobilnya. Surya mulai terlihat tidak sabar. Dengan sekali hentakan, ditariknya lengan Sheira agar keluar dari dalam mobil. Diperlakukan demikian, Sheira tidak lantas panik. Ia langsung berseru memerintahkan bodyguard itu untuk menghentikan sikap kasarnya. "Om! Lepas!!" "Saya sudah berusaha sopan sama kamu, tapi kamu yang memaksa saya melakukan ini." Mata Surya menatap Sheira dengan sorot penuh kebencian. "Om mau apa?" Bukannya terlihat takut dengan ekspresi Surya, Sheira justru balik menantang. Ia memang sudah merasa dari awal bertemu ada yang tidak beres dengan bodyguard pengganti ini. "Ikut saya!" Surya menarik lengan Sheira dengan paksa. Dengan tangannya yang kokoh, tubuh Sheira ia seret masuk ke dalam sebuah gudang di dalam bangunan yang terlihat sudah lama tidak terpakai. "Lepas Om!!" Sheira mencoba meronta dengan segenap kekuatannya. Tapi tubuh Surya yang jauh lebih besar darinya membuat tenaga gadis SMA itu kewalahan. Surya menghempaskan Sheira hingga membentur dinding. Ditatapnya Sheira dengan senyum menyeringai. Dengan seutas tali, diikatnya kedua tangan Sheira agar tidak bisa bergerak. Sheira masih mencoba untuk berontak, namun lagi-lagi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Surya. "Kamu tau kenapa saya melakukan ini?" Surya bertanya padanya setelah berhasil mengikatnya. "Gak perlu!" tukas Sheila cepat. Meskipun dalam keadaan terdesak, ia tidak ingin terlihat lemah oleh lawan-lawannya. Sheira bukan gadis cengeng yang dengan mudah menangis atau merengek. "Semua ini karena Papa kamu!" Tanpa bisa ditahan, Surya sudah menyemburkan kemarahannya. "Papa kamu dulu pernah membuat bisnis orangtua saya bangkrut! Kamu tau!!" Sheira tertawa mengejek. "Bukan salah Papa kalau perusahaan orangtua Om bangkrut. Itu karena mereka tidak bisa menyaingi produk-produk yang dihasilkan oleh Prismax Group." Sheira tidak percaya Ayahnya bisa demikian. Selama ini yang Sheira tahu, ayahnya selalu menjalankan bisnis dengan jujur. Itulah salah satu alasan mengapa rekan bisnis ayahnya puas jika bekerjasama dengan Prismax Group. Jadi, jika Surya mengatakan ayahnya penyebab kebangkrutan perusahaan orangtuanya, sudah pasti orangtua Surya dulu adalah saingan bisnis ayahnya. "Gadis b******k!" Tangan Surya bergerak keatas hendak menampar Sheira. Serta merta Sheira menutup kedua matanya, mencoba untuk menerima rasa sakit yang akan dirasakannya. 1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik.. Tidak ada apapun yang terjadi. Perlahan, Sheira membuka kedua matanya. Dia menatap kaget melihat Surya sudah terkapar di lantai gudang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tidak jauh dari tempatnya, seseorang yang sangat dikenal Sheira berdiri sambil menatap Sheira dalam-dalam. Renandaz Dawizard. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN