BAB 3 - CERAMAH KELUARGA BESAR

1966 Kata
"Hm, gimana kabarmu, dek? Abang kangen udah berbulan-bulan nggak ketemu," ucap Raga lewat telepon sambil menatap ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar. Raga melebarkan senyumannya setelah beberapa minggu tidak bisa menghubungi pacarnya karena sinyal yang tidak tentu. Sekalinya ada sinyal, pasti ada  anggota keluarganya yang menelepon untuk menyuruhnya pulang. Bahkan, Raga belum sempat memberi tahu sang pacar soal kepulangannya ke Jogja. Bagaimana caranya dia bilang jika kepulangannya hanya untuk bertemu dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya. Dia sedikit lega saat mendengarkan suara pacarnya yang begitu merdu. Bagaimana tidak rindu, selama lebih dari sembilan bulan mereka tidak pernah bertemu karena urusan Raga di kemiliteran. Harus tugas sana dan sini, sebagai seorang tentara dia tidak bisa memilih untuk ditugaskan di mana dan kadang akses untuk bertemu dengan sang pacar sekalipun juga sulit. "Abang baik-baik aja kok, dek. Ya udah kalau kamu masih sibuk, nanti hubungin abang setelah kamu selesai kerja. Abang sayang kamu," ucapnya lirih dengan senyuman tipis untuk sekedar kata-kata mengakhiri sambungan telepon mereka. "Uh, so sweet amat mas," ucap seorang perempuan diambang pintu kamar Raga dengan wajah mengejek. Adik kandungnya itu memang menyebalkan sekali apalagi saat dia sudah berhasil menyebarkan fotonya di sampul majalah ternama itu. Ayusha Dewi Joyodiningrat—adik perempuan satu-satunya, berprofesi sebagai fotografer andalan sebuah majalah terkenal yaitu majalah Realita yang menampilkan gaya hidup dan juga trend masa kini. Kebetulan, Raga menjadi model dadakan karena tema waktu itu memang merujuk pada laki-laki modern yang suka bergaya formal. Padahal aslinya Raga tidak pernah memakai jas atau semacamnya. Ayu menatap sang kakak yang mendengus sebal. Mungkin sejak fotonya mejeng di sampul majalah, laki-laki dengan profesi tentara itu sedikit dendam pada sang adik. Apalagi karena beberapa insiden dengan perempuan di kereta tempo lalu. Raga berjalan ke arah kasur dan merebahkan tubuhnya, dia hanya punya waktu sampai jam tujuh untuk memikirkan apa yang akan dia katakan pada keluarga besarnya jika dia perlu mempertimbangkan semuanya. Bagi seorang Raga, pernikahan adalah hal yang sakral. Tapi apakah dengan perjodohan bodoh ini, pernikahannya akan terjamin bahagia? Ayu berjalan ke arah masnya yang nampak lesu, "mas kenapa nggak bilang sama pacarnya mas kalau mas Raga bakalan segera menikah dengan pilihan keluarga kita? Mas kan tahu, tradisi tetap tradisi. Aku atau mas bakalan mendapatkan apa yang dinamakan masa tenggang kebebasan. Mas sendiri paham kalau kita nggak akan bebas untuk memilih jodoh yang kita mau." Ucapan Ayu  membuat Raga terdiam dengan banyak pikiran yang bercokol di dalam kepalanya. Laki-laki itumenatap ke arah Ayu dan menaikkan bahunya, "mas juga mau bilang, tapi belum saatnya aja sih. Mas juga harus membuat pertimbangan besar untuk hidup mas ke depan. Bagaimana juga, menjadi istri seorang tentara itu nggak mudah. Mas nggak mau membuat perempuan yang akan dijodohkan dengan mas itu terbebani. Mas nggak akan bisa berada disampingnya setiap saat karena tugas. Kalau masalah pacar mas, kamu nggak perlu khawatir karena dia juga udah tahu soal semuanya sejak mas dan dia memutuskan untuk pacaran," jelas Raga yang hanya diangguki oleh Ayu. Ayu menatap ke arah leher Raga yang terlihat memerah karena laki-laki itu hanya memakai pakaian tanpa kerah. Ayu sontak langsung duduk disamping masnya dan buru-buru menarik kaos Raga untuk memastikan apa yang dia lihat benar-benar sebuah tanda yang biasanya dibuat oleh suaminya. Ya, Ayu memang sudah menikah dua tahun yang lalu. Keluarga mereka memang menerapkan setiap perempuan dijodohkan dan dikenalkan dengan laki-laki yang sudah dipilihkan keluarga besarnya saat umur mereka menginjak dua puluh tahun. Sama halnya dengan Raga dan calonnya nanti. Mereka bisa saja bersepakat kapan akan menikah. Namun sepertinya dari pihak keluarganya meminta untuk mempercepat pernikahan. Mereka tidak mau menunggu Raga sampai berumur lebih dari tiga puluh tahun untuk menikah. Laki-laki itu mendelik karena melihat Ayu yang tiba-tiba menarik pakaiannya dengan paksa. Membuat laki-laki itu hanya bisa terdiam dengan wajah bingungnya. Ayu menaikkan sebelah alisnya dan menatap Raga dengan tatapan menyelidik. "Mas semalam ngapain aja? Kok ada bekas merah di leher mas? Atau jangan-jangan mas suka melakukan hal yang seperti itu. Atau jangan-jangan mas sudah nggak perjaka lagi makanya mas mau berusaha untuk membatalkan perjodohan," tebak Ayu yang semakin membuat Raga kaget. Raga lupa dengan tanda di lehernya itu. Ini bukan sebuah hasil kenakalannya, namun dia mendapatkan tanda ini karena digigit perempuan m***m di kereta kemarin. Pasti adiknya ini sedang berpikiran yang tidak-tidak. Lagipula siapa yang tidak berpikiran negatif jika ada bekas di lehernya dengan aksen merah seperti ini. Lalu bagaimana cara menjelaskan pada adiknya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan memikirkan soal kejadian kemarin saja sudah membuat wajahnya memanas. Ayu mendekatkan dirinya ke arah sang kakak yang diam saja karena bingung menjelaskan soal tanda merah di lehernya itu. Raga tahu, mereka bukan anak-anak yang tidak paham dengan bekas seperti ini. Tapi Raga jelas-jelas masih polos karena dia juga tidak pernah melakukan apapun selama hidupnya. Walaupun dia tentara dan suka berjalan-jalan di daerah-daerah yang banyak penduduknya dan bertemu dengan orang-orang baru, tapi Raga sangat menjunjung harkat dan martabat keluarga ningrat yang dia sandang. "Malah bengong! Nah, kenapa juga muka mas merah kaya gitu. Jangan-jangan mas lagi mikir yang jorok-jorok. Jelas lah, orang sampai umur segini masih belum nikah. Tapi jangan lah mas sama sembarang perempuan. Mas itu harusnya tahu kalau hal kaya gitu nggak baik dan bikin mas rugi. Gimana kalau perempuan itu hamil dan ngacak-ngacak pesta pernikahan mas nanti kaya di sinetron. Masa iya aku harus bikin cerpen kisah percintaan masku sendiri," ucap Ayu dengan wajah sok prihatin yang dibuat-buat. Raga bangun dari tidurannya dan menatap ke arah Ayu, "kamu pikir mas semesum itu apa. Ini memang bekas gigitan tapi mas masih suci, oke? Mas nggak akan melakukan sesuatu kecuali sama istri mas besok. Emangnya muka mas ada muka-muka mesumnya apa? Dari dulu udah jelas kalau mas terbukti anak baik-baik dan nggak banyak tingkah." Ucap Raga dengan percaya diri. "Raga," hanya dengan sebuah panggilan dari ruangan depan sudah mampu membuat keduanya diam. Saat-saat mendebarkan akan segera Raga hadapi. Raga beranjak dari duduknya dan berjalan pelan ke arah orang yang memanggilnya yang tidak lain adalah eyang kakungnya sendiri. Raga tersenyum kaku saat kedua bola matanya sudah menangkap seluruh anggota keluarganya datang. Termasuk pakdhe, budhe, paklek, dan buleknya. Yang pada intinya adalah, keturunan asli dari keluarga Joyodiningrat. Raga menyalami semuanya dan duduk di depan eyang kakung dan eyang putrinya. Semua orang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia benar-benar merasa sedang berada di kandang musuh. Raga yang biasanya galak di depan anak buahnya, sekarang hanya bisa terdiam dengan menunduk. Mana berani dia mendongak ke arah orangtua. Adanya dianggap tidak sopan. "Ehm," eyang kakungnya kini membuka suara dengan deheman yang cukup keras dan membuat semuanya diam. Jantung Raga berdetak dengan cepat, semua ini membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Apalagi ketika semua orang memfokuskan pandangan mereka ke arahnya. "Wes ngerti ngopo sliramu kudu bali, le? Sliramu sesuk sore bakal ditemokke karo calon sisihanmu. Tresno ora tresno jelas sliramu kudu nganggo tata krama. Ora pareng kasar, petakhilan, lan kurang ajar. Eyang manut kowe saiki, sliramu siap kapan ketemu putune Notonegoro?" Raga melihat ke arah orang-orang di dalam rumahnya yang menunggu jawabannya. Apalagi ayahnya juga diam saja meski dirinya tertekan seperti ini. (Udah tahu kenapa kamu harus pulang kan, Nak? Besok sore kamu akan dipertemukan dengan calon istrimu. Cinta atau tidak cinta, kamu harus menggunakan sopan santun. Tidak boleh kasar, bertingkah seenaknya, dan kurang ajar. Sekarang eyang ikut kamu, kamu siapnya kapan bertemu dengan cucunya Notonegoro?) Raga meremas jemarinya, jika boleh jujur sekalipun Raga tidak akan siap bertemu dengan orang itu meskipun dirinya kenal. Dia masih berharap jika semuanya gagal karena calonnya kabur atau apalah. Namun sepertinya perempuan itu juga sangatlah memikirkan kehormatan dan martabat keluarganya. Sama seperti dirinya yang sebenarnya ingin menolak namun takut dengan respon keluarganya. "Iya eyang. Raga ikut kapan saja waktunya," Raga menghela napasnya kasar dan kembali menunduk. Sudah cukup lama dia menghindari pertemuan keluarga yang membahas masalah perjodohan. Namun akhirnya dia harus terlibat dengan sebuah perjodohan bodoh yang harusnya tidak pernah ada pada jaman modern seperti saat ini. Dia pikir, dengan berjalannya waktu, tradisi keluarganya akan segera berakhir. Namun, malah semakin gencar karena para sesepuh menjadi lebih gampang mencari bibit unggulnya. Eyang kakungnya mengangguk dan kembali mengusap wajah keriputnya. Sebenarnya kenapa harus dia yang menjadi urutan ketiga dalam pernikahan cucu dari eyang kakungnya yang akan digelar dengan mewah. Kata mewah di sini adalah memakai adat jawa dan juga prosesi Jawa juga. Apalagi dia harapan dari semua orang karena garis keturunan angkatan memang langsung mengalir di darahnya. Eyang buyutnya—ayah dari eyang kakungnya adalah seorang prajurit, eyang kakungnya juga seorang prajurit, ayahnya juga pensiunan tentara AU, mungkin hanya dirinya yang berbeda matra dengan ketiga keturunan sebelumnya karena semuanya angkatan udara dan Raga memilih menjadi seorang angkatan darat. Bahkan saat ini pangkatnya sudah kapten. "Maaf sebelumnya, Raga mau menanyakan satu hal pada eyang kakung. Apa calon yang akan dijodohkan dengan Raga tahu kalau Raga itu seorang TNI yang akan ditempatkan di mana saja, yang akan meninggalkan dia kapanpun negara butuh, apa lagi untuk pengajuan juga cukup sulit. Apa eyang kakung sudah mempertimbangkan semuanya dengan baik? Raga nggak mau kalau calonnya Raga kaget dengan profesi Raga sebenarnya. Jadi, Raga harap dia akan bertahan dengan perjodohan ini," ucap Raga dengan sedikit tersenyum.  Ayahnya yang duduk disebelah kanan eyang kakungnya hanya bisa menatap tajam ke arahnya. Semua masih diam dan tak berpendapat karena masalah perjodohan memang cukuplah sensitif jika dibicarakan. Apalagi ini adalah Raga yang sejak kecil memang dikenal paling berani berargumen dan juga berani membantah apa yang eyangnya ucapkan jika tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. "Eyang paham opo sing dadi susahe atimu. Eyang ngerti dadi bojone prajurit kui angel lan ora kabeh wong wadon iso. Nanging kowe ora perlu kuatir soal sing iki. Calon bojomu udu wong sembarangan, bapakne kui yo podo-podo mantan prajurit. Dadi putrane wis paham rasane ditinggal, rasane adoh seko wong sing kang di tresnani." (Eyang paham apa yang jadi susahnya hatimu. Eyang tahu menjadi istri prajurit itu susah dan tidak semua perempuan bisa. Tapi kamu tidak perlu khawatir soal ini. Calon istrimu bukan orang sembarangan, bapaknya sama-sama mantan prajurit. Jadi anaknya sudah paham rasanya ditinggal, rasanya jauh dari orang yang di sayang.) Shit! Umpat Raga meskipun dari dalam hati. Dia pikir jika akan mudah menggagalkan semuanya namun ternyata eyang kakungnya lebih memiliki persiapan yang matang. Raga hanya bisa nyengir dengan pikirannya yang kacau. Mungkin dia harus segera melihat seperti apakah calonnya itu sampai sesulit ini menggagalkan rencana perjodohan gila itu. Ayu dari ambang pintu hanya bisa tertawa mengejek ke arah Raga. Sedangkan Raga hanya bisa memasang wajah kesalnya dengan banyak umpatan di dalam hatinya. Rasanya dia tidak mau pulang saja jika akhirnya akan begini. Pertemuan mereka diakhiri dengan cepat dan memutuskan jika mereka akan datang besok untuk bertemu dengan calon Raga itu. Raga menghempas tubuhnya ke kasur kembali dengan kasar lalu memejamkan kedua bola matanya. Rasanya dia perlu memberi tahu dengan jelas kepada orang-orang tua di sana jika anak muda sepertinya tidak mau dijodohkan dengan orang yang tidak dia cintai. Ayu kembali masuk ke dalam kamar masnya, "udahlah masku tersayang, terima aja perjodohan ini. Siapa tahu ini yang terbaik untuk kelangsungan hidup mas kedepannya. Lagian aku pernah ada di posisi mas dan mati-matian menolak perjodohan ini. Tapi nyatanya setelah menikah aku jatuh cinta juga sama mas Reno. Setiap orang ada kelebihannya mas. Percaya deh sama aku," ucap Ayu menasehati masnya yang masih memejamkan matanya. Raga mendengus sebal, "hm ya, mas bakalan ketemu sama dia besok. Mau tahu juga, sebagus apa sih itu perempuan sampai susah banget batalin perjodohan gila ini. Siapa tahu dia juga ada pacar kan," Ayu menaikkan kedua bahunya acuh lalu keluar dari kamar Raga dengan cepat. Tidak berapa lama Ayu kembali masuk ke dalam kamar Raga, "tapi kalau udah nikah nih mas, bakalan lebih seru. Apalagi mas kan enggak pernah punya pengalaman cinta yang indah kan? Sama cewek aja takut," ucap Ayu mengejek yang membuat Raga langsung melemparkan sepatunya ke arah sang adik. "Dasar adik durhaka," teriak Raga dengan kesal karena Ayu mulai menodai harga dirinya kembali. "Raga," Hanya suara lirih dari eyang kakungnya saja sudah membuat Raga menciut. Ternyata sesepuh di keluarganya itu memang menakutkan dan tanpa dipaksa saja dirinya sudah menunduk. Raga mendengus lirih dengan wajah kesal, "harusnya sejak dulu aku ganti KK!" ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN