Galang mengelus kepala Viany yang terdiam di depan rumah. Perempuan itu memang sedikit pendiam setelah pertengkaran antara dirinya dengan Raga satu bulan lalu. Entahlah apa yang sedang Raga lakukan sekarang, yang jelas Viany merasa tidak tenang. Apalagi komunikasi mereka kemarin buruk sekali. Bukan apa-apa, Viany hanya terbawa emosi karena terlalu rindu dan Raga tidak bisa pulang. "Dek, makan yuk. Atau mau jalan-jalan keluar mumpung mas libur nih," Viany menggeleng pelan. Tidak ada gairah untuk melanjutkan apapun, bahkan pengambilan masa cutinya ini tidak ada faedahnya kecuali untuk menunggu persalinan yang semakin dekat. Semakin dekat persalinannya, semakin besar pula ketakutannya. Galang menghela napas panjang dan memilih duduk disamping Viany, setidaknya dia berusaha untuk menemani ad

