Gavin menerima surat dari HRD lalu memainkannya di kedua tangannya.
Tatapan Gavin tertuju ke Adrian. Sudut bibir kanannya naik, memberi tahu pada Adrian kalau di perusahaan ini dia yang berkuasa.
Adrian menatap ke amplop putih di tangan Gavin dengan tatapan tajam. Bukan dia takut dipecat, tapi dia tidak percaya kalau papanya akan melakukan hal ini.
Maya berpegangan pada sandaran kursi. Kakinya hampir saja tidak mampu menopang berat badannya sendiri, sampai badannya sedikit bergetar. Wajahnya juga lebih pucat, takut kalau ancaman pemecatan pada dirinya benar akan terjadi.
“May, duduk aja. Kayaknya kamu gak enak badan,” ucap Gavin sambil tersenyum pada Maya.
“Ayo kita liat reaksi orang gila ini yang belagu sok berkuasa ini saat menerima surat peringatan pertamanya,” gumam Gavin dalam hati, yang sudah penasaran melihat reaksi kejatuhan Adrian.
Gavin mulai merobek amplop di tangannya itu dengan senyum miring. Dia membuka perlahan lipatan kertas panjang itu dan membacanya perlahan.
Raut wajah Gavin mendadak berubah. Dia bahkan membaca surat itu berulang kali, siapa tahu dia salah membaca nama.
“Pak,” panggil Maya pelan dengan nada bergetar.
Gavin melihat ke Maya dengan mulut sedikit terbuka. “May,” ucap Gavin pelan lalu menyodorkan surat di tangannya pada Maya.
Maya menatap nanar ke arah kertas putih di depannya. Dia tidak punya kemampuan untuk mengambil surat itu karena terlalu takut.
Adrian yang masih ada di sana, sudah penasaran dengan isi dari surat itu. Dia langsung merampas kertas di tangan Gavin dan membacanya.
“Adrian!” tegur tegas Gavin karena Adrian bertindak tidak sopan.
Tanpa peduli dengan teguran Gavin, Adrian langsung membaca isi surat itu.
Adrian meremas kertas di tangannya. “b******k!” umpat Adrian marah.
Maya semakin bingung melihat reaksi Adrian. Dia melihat raut kemarahan itu kembali muncul di wajah tampan roommate-nya.
“Pak.” Panggil Maya pelan.
“Pak apa isi suratnya?” tanya Maya ingin tahu.
Gavin melihat ke Maya. “May, ternyata yang dap—“
“May, cepet pulang! Tunggu aku di rumah!” perintah Adrian sambil menatap tegas wanita cantik di depannya.
“Hah?” Maya melongok mendengar perintah Adrian.
Tanpa menjelaskan lagi, Adrian segera pergi meninggalkan ruangan Gavin. Tentu saja dia akan menuntut penjelasan pada pimpinan perusahaan yang telah membuat keputusan tidak masuk akal.
Adrian tidak memedulikan panggilan Maya. Dia melangkah cepat dengan langkah penuh amarah menuju ke arah lift.
“Apa-apaan ini, Pa. Apa papa bener-bener mau buat masalah ama Adrian?!” geram Adrian di dalam lift sambil meremas kertas di tangannya sampai tidak berbentuk lagi.
Tanpa mengetuk, pintu ruangan CEO terbuka lebar. Tangan Adrian langsung menyingkirkan tubuh sekretaris papanya, yang kaget tiba-tiba pintu terbuka dari luar saat dia akan keluar dari ruangan itu.
“Eh Pak, kam—“ ucapan Dea, sekretaris Surya, terhenti saat Surya menyuruh sekretarisnya pergi lewat isyarat.
Adrian Aditama berdiri di depan meja kerja papanya dengan wajah merah padam, penuh kemarahan. Dia menatap papanya, seolah siap mengadili atas tindakan papanya pada Maya.
Surya yang sedang meninjau dokumen, melihat putranya berdiri dengan wajah merah padam. Dia tahu putranya sedang marah, tapi dia tidak tahu sebabnya.
Surya kembali melihat ke berkasnya. “Ada apa, Adrian? Masih jam kerja. Apa kamu luoa perjanjian kita?” tanya Surya dengan nada santai.
“Pa, apa yang udah Papa lakukan ke Maya?”
Mendengar nama penampung putranya disebut, Surya mendongak. “Maya? Apa maksud kamu?”
“Papa jangan main-main! Siapa yang suruh Bambang keluarin SP buat Maya?!”
“Pa, Papa kan ada di sana tadi! Papa tahu Maya nggak salah! Tapi kenapa Papa malah kasih Maya SP1. Harusnya Adrian yang dapet!” protes Adrian.
Surya kembali melihat berkasnya. Dia tersenyum melihat reaksi putranya. “Ternyata kamu udah punya empati dan kepedulian sama orang ya? Bagus, setidaknya itu modal juga buat calon pimpinan agar tidak memutuskan sesuatu secara mudah tanpa peninjauan.” Surya merasa senang, karena lagi-lagi putranya menunjukkan kemajuan.
“Pa! Gak usah alihkan pembicaraan! Kenapa Papa lakuin ini ke Maya?!”
Surya meninggalkan berkasnya. Dia menngangkat gagang telepon untuk memanggil Beni masuk ke ruangannya.
Tak lama kemudian Beni masuk ke dalam ruang kerja Surya. Pria yang selalu membantu Surya itu kaget melihat Adrian ada di ruangan pimpinan.
Surya menyandarkan punggungnya. Dia melihat ke putranya yang sedang menunggu jawabannya sejak tadi.
“Papa gak keluarkan perintah itu. Bahkan Papa gak tau apa-apa tentang surat SP itu.”
Surya melihat ke Beni. “Kamu kasih perintah?”
Beni menggeleng. “Tidak, Pak. Memang ada apa?” tanya Beni bingung.
“Jangan bohong kamu, Ben. Kamu kan yang nyuruh Bambang tua bangka itu buay keluarkan SP1 buat Maya?” tuduh Adrian.
Beni kaget dengan tuduhan Adrian. “Hah? SP1? Saya tidak ada memberi perintah apa pun pada HRD, Pak.”
“Setelah kejadian di lobi tadi, Pak Surya juga tidak lagi membahas masalah itu. Tadi beliau meminta saya mengantarkan Bu Valerie ke butik untuk mengganti pakaiannya yang rusak, lalu mengantarkannya pulang.” Beni menjelaskan kejadian di lobi tadi yang mungkin tidak diketahui oleh Adrian.
“Mungkin itu inisiatif dari HRD karena kelakuan anak Papa yang lari seperti pengecut setelah bikin keributan,” celetuk Surya.
“Pa!” bentak Adrian tidak terima.
Adrian menatap Beni dengan tatapan tegas. “Cabut SP itu sekarang. Atau aku sendiri yang bakal bongkar siapa aku di depan semua orang dan bikin kekacauan yang lebih besar dari tadi pagi!” Adrian mengancam papanya dan Beni agar tidak mengganggu Maya.
Surya tidak memberikan tanggapan. Dia hanya melihat putranya saja. Begitu juga dengan Beni, pria itu hanya menunggu perintah Surya kepadanya.
“Sudah Papa bilang, Papa gak pernah kasih keputusan itu,” ulang Surya.
“Adrian gak mau tau, Pa. Kalo surat ini gak dicabut, Adrian yang akan bikin perhitungan sama Bambang!”
Adrian mendengus kesal laku segera melempar kertas putusan HRD itu pada Beni. Dia tidak mau tahu, pokoknya besok pagi keadaan sudah harus seperti biasanya.
Adrian pergi meninggalkan ruangan papanya. Surya hanya melihat putranya pergi dengan ekor matanya saja.
Surya menganggukkan kepalanya perlahan sambil menggerakkan pelan singgasananya. “Menarik! Demi seorang staf biasa, dia berani ngancam aku?”
“Sepertinya ada kesalahpahaman, Pak,” ucap Beni yang memang tidak pernah memberi perintah itu pada Bambang.
“Selesaikan semuanya. Jangan lupa copot jabatan Bambang dan ganti dia dengan orang yang lebih kompeten!” perintah Surya.
“Baik, Pak.” Tanpa menunggu lama lagi, Beni segera keluar agar dia bisa melakukan tugasnya pada Bambang.
Surya masih duduk santai di singgasananya. Dia tersenyum tipis sambil melihat ke depan, jauh sampai menembus dinding.
“Ok, udah Papa akan urus. Tapi ingat, ini utang yang harus kamu bayar nanti,” gumam Surya sambil memikirkan balasan apa yang dia inginkan dari putranya.
Adrian sudah melakukan penyelamatan pada Maya. Dia yakin papanya akan mendengarkan permintaannya.
Adrian kembali ke divisinya. Langkahnya tiba terhenti saat dia masih melihat Maya ada di meja kerjanya.
Adrian mendengus kesal. “Keras kepala banget sih ni anak,” gerutu Adrian melihat Maya tidak mengindahkan pesannya untuk pulang.
Adrian melangkah menuju ke meja kerja Maya. Dia berhenti di samping meja kerja Maya dan langsung menutup laptop Maya.
Maya yang kaget karena laptopnya tiba-tiba tertutup, langsung menoleh ke si pelaku. “Apa-apaan sih kamu, Mas. Gak bosen-bosennya kamu bikin masalah sama aku!”
“Pulang,” ucap Adrian pelan, menahan emosinya.
“Pulang? Ini masih jam kantor. Apa kamu bener-bener pengen aku dipecat, hah?!” pekik Maya.
“Pulang kataku, May! Emang kamu masih bisa kerja dengan baik sekarang? Emosimu gak stabil, gak akan bagus hasilnya. Pulang sana, istirahat.” Kali ini Adrian malah menutup berkas yang sedang dikerjakan Maya.
“Mas! Kamu jang—“
“Pulang, Maya! Kamu mau pulang sendiri ato aku gendong?!”