“Harus banget antre begini? Ini kantin atau loket bantuan?” gerutu Adrian saat dia melihat antrean yang mengular di depannya.
Adrian merasa kesal karena harus bergabung dengan para pegawai kelas rendah demi mendapatkan makanan dari perusahaan. Bukan hanya itu saja, dia juga merasa risih dengan pandangan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh, yang membuatnya jengah.
Adrian berkali-kali melihat jam tangan mahalnya. Ini benar-benar membuang waktunya!
Suasana kantin kantor memang sedang ramai saat ini. Maklumlah ini akhir bulan, para karyawan banyak yang memanfaatkan fasilitas kantin demi mengirit pengeluaran.
“Sst! Sabar lah, Mas. Namanya juga jam istirahat,” bisik Maya sambil memberikan nampan pada Adrian.
“Buang-buang waktu tau! Kalo bisa lebih praktis, kenapa harus antri begini sih.”
Adrian melihat ke sudut lain di mana antrean sedikit dan tidak ada orang yang berani mengambil antrean di belakangnya.
“Kita pindah ke sana aja,” ajak Adrian.
“Eh tunggu, Mas!” Maya memegang pergelangan tangan Adrian, melarang pria itu pergi.
Adrian melihat ke Maya. “Kenapa? Itu sepi loh.”
“Itu jalur buat manajer dan para atasan. Gak boleh antri di situ kita.”
“Antrean manajer?” gumam Adrian pelan.
Adrian menatap antrean para manajer dan juga makanan yang tersedia di sana. Tampak nampan saji masih menyediakan banyak makanan, meski yang mengambilnya hanya sedikit.
“Yang makan dikit, tapi produksi makanan sebanyak itu. Pemborosan! Ini namanya menghamburkan uang perusahaan untuk hal gak penting!” geram Adrian kesal karena uang perusahaannya bocor di kantin karyawan.
Saat giliran mereka tiba, Adrian melihat deretan menu di balik kaca. Wajahnya makin masam.
“May, kamu yakin mau makan ini? Liat, ini karbohidrat semua. Nasi, mi goreng, perkedel kentang. Ini bukan makan siang, ini undangan buat pingsan karena gula darah naik! Mana nutrisinya? Mana protein berkualitasnya?” celetuk Adrian mengomentari ucapan Adrian yang menilai menu yang disajikan di depannya.
Tentu saja ucapan Adrian langsung menyita perhatian banyak orang. Baik itu pegawai atau para pekerja kantin.
Maya menjadi tidak enak pada para pekerja yang mendengar komentar pedas Adrian. Dia memukul lengan Adrian, memberi peringatan agar tidak bicara sembarangan.
“Mas, gak usah banyak momentar bisa gak sih,” bisik geram Maya di dekat Maya.
Tanpa rasa bersalah, Adrian menoleh ke Maya. “Kenapa? Apa aku salah? Kamu abis makan ini, aku jamin kamu bakalan ngantuk!”
“Kalo kamu gak mau makan, gak usah banyak omong. Antrian panjang ini!”
“Iya bener. Udah buruan ambil ato pergi aja ambil makanan tinggi proteinmu!”
Suara para karyawan yang berdiri di belakang Adrian langsung saling bersahutan. Mereka kesal karena Adrian terlalu banyak bicara dan protes.
Pegawai kantin di depan Adrian menatap tajam ke arah pria tampan yang tinggi menjulang itu. “Kamu mau makan apa gak? Kalo gak mau makan, mending pergi aja! Gak usah banyak komentar!” sungut pegawai kantin menatap geram ke Adrian.
“Udah buruan, Mas. Cepetan ambil!” perintah Maya sebelum terjadi keributan di tempat ini.
Dengan sangat terpaksa Adrian pun akhirnya mengambil makan siangnya. Cukup nasi, perkedel, ayam goreng dengan potongan mengenaskan dan semangkuk kecil sayur.
Adrian mengambil air mineral botolan untuk menemaninya makan siang.
Saat akan berjalan mencari meja, tatapan pada penduduk kantin masih terarah ke Adrian. Orang baru di kantor, tapi sudah banyak sekali omongnya.
Tentu saja kejadian di kantin siang ini langsung sampai ke meja Surya. Beni melaporkan tindakan protes Adrian tentang kantin pada atasannya.
Alih-alih marah, Surya malah tersenyum mendengar laporan itu. Adrian langsung menyoroti banyak hal di hari pertamanya bekerja. Tadi pagi dia juga sudah mendengar laporan Adrian belajar mengurusi berkas yang biasanya dia periksa juga. Senyum bangga Surya mulai terlihat.
Adrian masih membawa darahnya, meski belum sepenuhnya terasah.
“Buat jadwal bertemu tiap akhir pekan. Aku mau menilainya sendiri,” pinta Surya pada asisten pribadinya.
“Baik, Pak. Akan saya atur jadwalnya.”
Sepertinya proyek membentuk pemimpin baru dari bawah ini ada gunanya. Surya yang selalu ada di lantai atas, tidak bisa melihat apa yang terjadi di lantai bawah.
Tapi dengan adanya Adrian yang merangkak naik dari bawah, akan membantunya membenarkan sistem perusahaan dengan baik. Surya yakin, mata Adrian sangat jeli meski kata-katanya sangat pedas.
Setelah selesai makan, Adrian dan Maya pergi ke kafetaria perusahaan dulu yang ada di lobi. Adrian menginginkan kopi mahal, karena tadi dia hanya minum kopi saset yang membuat tenggorokannya sakit.
“Nih, buatmu. Gantinya kopi murah tadi,” ucap Adrian sambil memberikan gelas kopi ke Maya.
Maya kaget melihat kopi mahal untuk akhir bulan itu dibeli dengan mudah oleh Adrian. Tapi mengingat bahan makanan di rumah mereka masih berlimpah, jadi tidak perlu khawatir roommate-nya itu tidak bisa makan sampai hari gajian.
“Eh, makasih loh, Mas. Ini kop—“
“Mocachino latte. Kesukaan kamu,” potong Adrian.
Maya tersenyum lebar. “Makasih. Tau aja kesukaan aku.”
Maya mengerakkan kedua pundaknya, mengekspresikan rasa senangnya. Adrian mendengus menahan tawa melihat sikap lucu Maya.
Kedua orang itu segera kembali ke ruang kerja mereka. Jam kerja sebentar lagi akan kembali di mulai.
Adrian menyalakan lagi laptopnya, siap bekerja. Tapi baru saja dia akan membuka berkasnya, teman di samping meja kerjanya menepuk pundak Adrian saat akan duduk di kursinya.
“Dicari Pak Gavin, Dri. Suruh laporan katanya,” ucap teman Adrian.
Maya yang mendengar pesan itu, segera menyuruh Adrian untuk segera menghadap Gavin.
Adrian melihat ke pintu ruangan manajer yang tidak jauh dari mejanya. Sambil melepas napasnya kasar, Adrian menutup lagi laptopnya lalu berjalan ke arah ruang kerja Gavin.
Adrian mengetuk pintu ruang kerja Gavin sekali lalu masuk ke dalam. Dia berdiri di depan Gavin dengan malas.
Gavin mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang dia periksa. Dia kaget dengan sikap Adrian yang sangat berbeda dengan karyawan lain.
Tidak ada sopan santun pada atasan!
Mata Gavin menyipit. Dia sangat tidak suka dengan sikap Adrian yang terlihat sangat tidak menghormatinya.
Gavin meletakkan pulpennya. “Saya sudah cek data kamu. Adrian Danendra A. Apa kam—“
“Aditama. Itu nama lengkap saya!” potong Adrian memberi tahu nama belakangnya.
“Aditama?” Gavin sedikit tercengang saat mendengar nama belakang pegawai songongnya.
Nama itu sama dengan nama perusahaan tempat dia mengabdi. Tapi tanpa perlu bertanya lagi, Gavin langsung menepisnya sendiri karena nama Aditama bukan hanya dimiliki oleh pimpinan perusahaan ini saja.
“Adrian, saya sudah baca resume kamu. Tanpa pengalaman kerja, tanpa ijazah tanpa pelengkap pendukung lainnya. Kamu masuk sebagai staf admin cadangan. Kamu tahu siapa saya di sini kan?”
“Manajer Umum. Saya sudah dengar dari Maya,” jawab Adrian, menatap lurus ke mata Gavin tanpa kedip.
Gavin menggebrak meja. “Lalu kenapa sopan santun kamu tidak ada? Kamu staf baru, tapi bersikap seolah kamu yang punya gedung ini! Saya tidak suka gaya kamu.” Gavin murka pada sikap arogan Adrian yang terlaku tinggi.
Adrian justru tersenyum miring. Dia malas menanggapi Gavin yang haus hormat.
“Gaya saya memang mahal, Pak Gavin. Kalau Bapak nggak suka, ya silakan jangan dilihat.”
“Yang penting itu totalitas dan kualitas kerja kita. Bukan sopan tapi malah gak becus kerja, cuma bisa menjilat pimpinan dan menjatuhkan teman sendiri,” imbuh Adrian tegas.
Gavin merasa darahnya naik ke ubun-ubun. Dia belum pernah menghadapi bawahan seperti ini.
“Jangan sombong kamu. Saya punya kuasa untuk memecat kamu detik ini juga karena tindakan tidak sopan!”
Adrian tertawa kecil, tawa yang meremehkan. Dia tersenyum dan menaikkan kedua alisnya, seolah memberi peringatan ke Gavin kalau dia tidak bisa disentuh siapa pun di perusahaan ini.
“Pecat saja kalau bisa! Saya malah berterima kasih kalau Bapak lakuin itu sekarang.”
Adrian memiringkan sedikit kepalanya. “Masalahnya, yang bakalan dipecat itu saya ato Bapak,” ucap sarkas.
Gavin mematung dengan napas memburu mendengar semua ucapan arogan Adrian. Dia semakin yakin, orang gila ini pasti titipan petinggi perusahaan.
Tapi siapa?
Gavin kembali teringat dengan nama belakang Adrian yang mirip dengan pemilik perusahaa. Tapi mengingat kredibilitas Surya Aditama yang sangat tegas dan disiplin, pasti tidak mungkin orang itu yang menitipkan orang aneh seperti Adrian.
“Kok diem, Pak. Kalo udah gak ada yang mau ditanyakan lagi, saya mau balik. Kerjaan saya banyak,” ucap Adrian yang berhasil membuat Gavin terdiam.
Tak bisa lagi membantah Adrian, Gavin menyuruh Adrian pergi. Dia belum siap melawan Adrian karena belum memiliki senjata kuat.
**
Maya baru saja selesai tapping kartu absen saat Gavin tiba-tiba berdiri di sampingnya. Wajah manajer itu tampak kurang tidur, entah apa alasannya.
Gavin tidak melihat ada Adrian di sekitar Maya. Padahal sejak pertama kerja pria aneh itu menempel di samping Maya.
“Pagi, Pak Gavin. Tumben kok agak lesu, Pak. Abis lembur?” tanya Maya menyapa atasannya.
“Iya, hari ini ada rapat penting. Adrian mana? Kok tumben kamu sendirian,” tanya Gavin.
“Lagi ke toilet, Pak.”
Gavin mengunci pandangan Maya. “May, saya lihat kamu deket sama Adrian. Apa kamu tau siapa dia?” tanya Gavin dengan nada serius.