Lonceng tanda berakhirnya jam pelajaran pertama berbunyi. Banyak siswa yang keluar berlarian menuju kantin untuk menikmati hidangan di sana. Sementara itu, Vivi menunggu Theo di dalam kelas. Hingga akhirnya ia merasa kesal, Vivi meraih ponselnya dan menelepon Theo.
"Hmm?"
"Matheo Cristian Jaya! Berani banget lu bikin gue nunggu!" teriak Vivi.
"Astaga, Yang! Lupa, Ayang! Wait ... otewe ndoro putri," ujar Theo.
Vivi mengatur napasnya perlahan, lalu duduk kembali menunggu kedatangan Theo. Saat melihat kekasihnya berlari menghampiri dirinya, Vivi sudah sangat kesal.
"Maaf ,Yang. Ketiduran di rooftop, Anjeli bangke kagak bangunin gue!" gerutu Theo.
"Gue nanti ngemall ama anak-anak cheers, mana kartu kredit yang platinum!" ujar Vivi sembari meminta hal yang paling di takuti olehTheo.
Theo hanya bisa pasrah memberikan kartu kredit miliknya, lalu mereka berjalan menuju kantin bersama. Di belakang mereka ada tiga teman Vivi yang mengekor. Mereka selalu mengikuti Vivi kemanapun cewek itu melangkah.
"Yang, nanti mobilnya gue bawa ya?" pinta Vivi.
"Iya, entar gue balik ama Arde aja."
"Mau makan apa?" tanya Vivi.
"Udah kenyang, lu aja yang makan, gue temenin," ujar Theo.
"Oke."
Vivi memesan makanan, sementara Theo duduk di meja nomor sepuluh. Saat duduk seorang cewek datang mendekati Theo dan memberikan sekotak hadiah. Theo hanya menaikkan alisnya menanggapi cewek itu.
"Gu-gue Wanda ... anak bahasa juga, ki-kita satu kelas," jelasnya tergagap.
Vivi yang melihat hal itu hanya bisa berkacak pinggang sambil tersenyum. Ternyata cewek itu tidak mengenal siapa Theo selama ini. Hanya karena Vivi jarang masuk ke dalam kelas Theo, cewek itu berpikir jika Theo masih sendiri.
"Teh Oreo," panggil Raga.
"Hmm."
"Vivi liat loh!" ujar Raga sembari meringis melihat Vivi dengan jus alpukat di tangannya.
"Gue tau, biarin aja. Sesekali ribut biar entar malem makin panas di ranjang," celetuk Theo.
"Wanjay ,keknya ada yang chat kalo selakangannya sakit tuh tadi ke Ami," sahut Raga.
"Kalo kagak gitu kagak nikmat cuy," ujar Theo.
Sedangkan Wanda masih berdiri di hadapan Theo dengan wajah yang terlihat gugup. Dia kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan ucapannya yang terjeda.
"Gu-gue pengen kenal deket ama lu," ucap Wanda.
Dan tepat disaat itu juga segelas jus alpukat membasahi ujung kepala hingga pakaian seragam sekolah Wanda. Banyak pasang mata yang melihat hal itu, dan mereka memilih untuk mengabaikannya, karena mereka sendiri tahu jika Vivi marah seperti apa.
"Tuker jus alpukat gue sekarang juga! Lu pesen di sana, buruan!" seru Vivi.
Wanda terdiam sejenak, lalu ia berjalan menuju stand minuman. Setelah itu Wanda pergi dari sana dengan kondisi tubuh yang lengket akibat jus alpukat. Sedangkan Vivi memilih duduk di samping Theo, menunggu makanan dan minuman miliknya datang. Lalu tatapan tajam mata Vivi ditujukan pada Theo yang sedang tersenyum.
"Jangan marah-marah, Yang. Entar keriput loh," celetuk Theo.
Plak ...
Vivi memukul kepala Theo dengan keras hingga mengaduh. Hadiah yang diberi Wanda juga dibuang ke tempat sampah oleh Vivi. Raga yang melihat kedua pasangan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ami mana?" tanya Vivi.
"Di kelasnya lah ," jawab Raga.
"Udah baikan kan?" tanya Theo.
"Udeh," jawab Raga singkat.
"Bagus deh! Awas aja lo bikin sahabat gue mewek lagi!" ancam Vivi.
"Anjaylah gue diancam. Ampun nyai ...," ujar Raga sambil tertawa.
Vivi memalingkan wajahnya ketika kedua kaum Adam itu tertawa melihat ekspresinya. Tidak lama kemudian mereka melihat Rhea dengan headphone yang terpasang di lehernya ,Rhea berjalan mendekati Vivi dan duduk bersama mereka di sana.
"Oris mana ,Rhe?" tanya Theo.
"Lu pikir gue emaknya yang selalu tau dimana Oris berada?" celetuk Rhea.
"Yeee ... biasanya kan emang gitu, lu ama Oris kan pasangan emak ama anak," sahut Raga.
"Timpuk nih!" ucap Rhea sembari mengangkat gelas milik Vivi.
"Weits ... itu minuman belom gue sentuh, jangan lu lemparin ke Raga dong! Sini gue minum dulu, baru lu boleh lempar ke Raga," ujar Vivi sambil merampas gelas minuman itu.
"Gue tadi ketemu Oris, tapi tadi sebelum jam istirahat," ujar Theo.
"Dimana?" sahut Rhea.
"Depan kantin, katanya sih dari ruang guru."
"Owh, yang tadi ... iya gue tau kalo itu, kan dia lewat depan kelas gue," ujar Rhea.
Akhirnya pesanan makanan mereka datang, keempat anak GAS itu menyantap makanan masing-masing hingga habis. Dan beberapa menit kemudian, lonceng untuk jam pelajaran kedua berbunyi. Theo dan Vivi kembali ke kelas mereka, begitu juga dengan Raga dan juga Rhea.
***
Setelah jam sekolah berakhir, Theo menghampiri Vivi di kelasnya. Ia memberikan kunci mobil pada Vivi dan berpesan untuk langsung pulang setelah selesai berbelanja di mall. Vivi hanya tersenyum , dan memberikan satu kecupan pada bibir Theo.
"Jangan pulang malem-malem!" pesan Theo.
"Iya, cuma bentar kok. Beli baju ama liat model lingeri terbaru," ujar Vivi.
"Gue balik jam lima, kalo lu belom ada di rumah, gue bakal kasih hukuman lebih sadis lagi," ancam Theo.
"Gue suka heran ama lu ,Yang. Apa kagak bosen kek begitu tiap hari?"
"Owh, lu bosen?" sahut Theo kesal.
"Gak sih, cuma heran aja!"
"Ya udah, gue gak pulang! Gue tidur rumah Raga aja deh!" celetuk Theo.
"Mulai, ngancem!"
Vivi berdecak kesal saat melihat Theo yang bersikap seperti anak kecil. Ia hanya bisa mengalah untuk saat ini, karena bagaimanapun Vivi terlalu takut jika Theo meninggalkan dirinya lagi seperti dulu.
"The, ditungguin ama pelatih tuh!" panggil Arde dari depan pintu kelas.
"Oke."
Theo mencium bibir Vivi sekilas lalu keluar dari sana. Sementara Vivi juga segera pergi bersama Ghea ke mall untuk berbelanja. Vivi berjalan menuju area parkir mobil , disana ia bertemu dengan Ranjiel dan Lia yang juga akan pulang.
"Pipi kok sendiri? Theo mana?" tanya Lia.
"Lagi latihan, gue mau ngemall nih, mau ikut?" tawar Vivi.
"Gak deh, Lia mau pulamg aja."
"Oke deh, hati-hati dijalan buat kalian," ucap Vivi.
Lia melambaikan tangannya, lalu memeluk Ranjiel dari belakang.
Setelah kepergian kedua temannya, Vivi akhirnya masuk ke dalam mobil ,lalu menyalakan mesin mobil itu. Cewek itu melaju kencang menuju salah satu mall terbesar di Jakarta.
***
Di lapangan belakang, tempat anak pecinta alam melakukan latihan panjat dinding. Theo sedang melakukan pemanasan bersama Arde dan Rahmad. Di sana tidak hanya hadir mereka bertiga, tetapi juga beberapa anak lainnya yang mengikuti ekstrakurikuler itu.
Seorang pelatih dengan seragam KOPASKA datang dan melihat kegiatan itu. Pelatih itu bernama Kalistyo, seorang anggota pasukan khusus di Armada I Pondok Dayung. Lelaki dengan tinggi 170 cm dan berbadan kekar, juga memiliki otot yang tercetak jelas itu sangat disiplin dan juga tegas. Ia selalu melatih anak didiknya dengan keras dan terarah.
"Theo, satu bulan lagi ada perlombaan tingkat nasional, kamu maju dengan Arde ya?" ujar Kalistyo.
"Siap ,Pak!" jawab Theo dengan tegas.
Setelah melakukan pemanasan, tim untuk latihan panjat dinding sudah bersiap di posisi masing-masing. Kali ini Theo akan melakukan lintas jalur, pertama-tama untuk melatih teknik, lalu melatih kekuatan tangannya.
"The, jangan lupa balance," ucap Arde.
"Oke."
Theo sudah siap dengan mengenakan hernes, dan kantong magnesium di bagian belakang. Dan saat pelatih meniup peluit tanda di mulai, Theo segera naik ke atas dengan perlahan. Satu persatu alatnya terpasang. Hingga lima menit berlalu ,Theo sudah sampai di alat ke empat. Papan dengan tinggi 20 meter itu menjulang tinggi ke atas, dengan beberapa bagian yang terbentuk seperti lintasan yang memiliki poin terbatas.
Suara sorakan terdengar dari siswa cewek yang melihat aksi Theo. Mereka beruntung karena Vivi tidak ikut melihat latihan itu. Karena jika Vivi berada di sana, bisa di pastikan Theo akan ia seret turun dan pulang ke rumah. Bahkan Vivi pernah melakukannya saat Theo pertama kali melakukan latihan untuk lomba.
Selesai dengan latihan pertamanya, Theo meluncur ke bawah dengan bantuan salah satu temannya. Saat Theo sudah melepaskan pengaman yang dikenakannya, Theo berjalan menuju tempat tasnya berada. Di sana seorang cewek datang memberikan sebotol minuman pada Theo. Theo melihat Wanda ,cewek yang disiram minuman oleh Vivi di kantin tadi siang.
"Masih berani aja lu," ucap The menerima minuman itu.
"Kalian cuma pacaran ,belum menikah. Kenapa gue harus takut, lagian persaingan ini secara sehat kok," celetuk Wanda.
"Boleh juga lu."
Theo tersenyum sembari meminum air yang Wanda beri. Wanda memutuskan untuk duduk di samping Theo ,dan bertanya beberapa hal pada cowok itu.
"Udah lama ya pacaran sama cewek tadi?" tanya Wanda.
"Udah dari orok, lu keknya anak baru ya? Lu beneran kagak tau siapa gue dan Vivi?" tanya Theo.
"Gue taunya lu anak GAS, kalian adalah kumpulan anak jenius ,dan juga kaya."
Theo mengangguk menanggapi Wanda, lalu cewek itu melanjutkan pertanyaannya pada Theo.
"Lu kok bisa betah sih ama cewek barbar gitu?"
"Mungkin cewek kayak lo itu banyak, tapi gak ada cewek yang bisa gantiin Vivi di hati gue. Nakal boleh lah ... tapi hati gue cuma buat dia," jelas Theo.
"Jadi selingkuhan juga mau kok, gue denger anak GAS selalu punya banyak cewek ya?"
"Mungkin yang lu maksud Ranjiel dan Ovi, kalau mereka jangan ditanya lagi, playboy kelas kakap mereka itu, kalo gue udah beda lagi, tapi kalo lu mau jadi selingkuhan, mending minta izin dulu aja ke Vivi," terang Theo.
"Hah? Wah lu gila ya? Nyuruh gue izin ke cewek barbar itu," celetuk Wanda.
"Lu liat aja Shap ama Lia, mereka selalu disamperin ama selingkuhan cowoknya buat minta izin, Kalo lu kagak berani, jangan sekali-kali nampakin diri di hadapan gue," ujar Theo.
"Kan kita satu kelas, kalo lu bilang kek begitu tentu aja kagak bisa," ujar Wanda.
"Bisa. Lu tau kan? Kalo masuk ke sekolah ini butuh perjuangan yang keras, anak GAS memiliki tiket khusus untuk mengeluarkan setiap siswa bermasalah seperti lu," ujar Theo dengan nada jutek.
Wanda terdiam, kali ini ia kalah telak karena status GAS di sekolah itu. Wanda berdiri dari posisinya, lalu berjalan menjauhi Theo.
"Siape tuh?" tanya Arde yang baru saja menyelesaikan kegiatan latihannya.
"Katanya anak kelas kita, Wanda ... lu kenal kagak?" tanya Theo.
"Owh, tau kok ... pendiam sih kalo di kelas, suka curi-curi pandang ke lu boss. Dia juga beberapa kali kepergok Shomad ngambil foto lu," jelas Arde.
"Bangke! Dan lu baru ngomong ke gue sekarang?"
"Maaf, Bos ... tuh anak kelihatannya kagak berbahaya sih, karena menurut info orang tuanya seorang pebisnis biasa," jelas Arde lagi.
"Awasin gerak geriknya, gue ada curiga ama dia," ujar Theo.
"Siap!"