Beberapa bulan berlalu, sudah ada beberapa kompetisi yang Vivi ikuti. Dan semua itu membuatnya lelah, karena kepala sekolah sungguh gila akan prestasi yang dibawa muridnya. Setiap bulan, pihak sekolah selalu mendaftarkan kelas Bahasa ke dalam beberapa perlombaan kebudayaan yang dilaksanakan oleh berbagai Negara di Asia. Tidak hanya Vivi, Theo, dan Barton juga mengeluh karena merasa seperti sedang dimanfaatkan oleh pihak sekolah. Kali ini, Theo, Vivi, dan juga Barton memutuskan untuk menemui kepala sekolah di ruangannya. Mereka datang ke sana saat jam istirahat berlangsung. Tok Tok Tok Vivi mengetuk pintu perlahan, dan akhirnya pintu itu terbuka. Terlihat seorang pria berbadan tambun, sedang berdiri di sana. “Ternyata kalian, ayo masuk! Ada yang ingin kalian sampaikan pada saya?” tany

