Episode 5

1027 Kata
"ngapain lagi kamu di sini hah?" "Ica cuma mau lihat Ifan kak ..." "Ga perlu, Ifan pasti juga ga mau lihat wajah kamu." hardiknya. "Nak ... jangan gitu sayang, Ifan emang pergi tapi bukan salah Ica, Ryan" ujar mamanya menghampiri. "Mama kenapa sih belain dia, semua ga ada yang ngerti perasaan Ryan. Pokonya kamu pergi dari sini." Adrian mendorong tubuh Anisa hingga terjatuh dilantai. Beberapa orang yang melayat langsung menyaksikan keributan tersebut. "Ryan !!! kamu ga boleh kaya gini nak." "Ryan benci dia mahh .." Adrian berlalu meninggalkan mereka dengan amarahnya. "Ica ga pa-pa kan nak ..." "Nggk Tante ..." "Ya udah Tante bukan larang Ica buat liat Ifan ya sayang tapi Tante mohon Ica pulang ya, Ica liat sendiri kan kak Ryan Masi emosi tadi ..." bujuknya. "Tapi Tante ... hiks. Hikss .. izinkan Ica sebentar aja buat liat Ifan sebelum ica pergi ... Ica mohon Tante .." Bu Risma membelai rambut panjang gadis kecil itu dan mengangguk pelan. "Baiklah sebelum kak Ryan balik ya" "Makasih Tante ..." Ica berlari ke arah mayit yang tertutup kain batik di ruang tengah yang sudah di kelilingi banyak pelayat. Tangisnya pecah saat melihat pucat wajahnya, bayangan Ifan di hari terakhir mereka ketemu, sahabat terisak. "Ca ... pulang yuk, kakak anter." Seorang pria yang sebaya dengan Adrian membelai rambutnya dengan tenang dan Ica menurut saja kepada nya, setelah berpamitan pada bu Risma mereka langsung pergi. Baim mengantar Ica ke rumah pamannya dimana dia tinggal dia sudah lama tidak tinggal bersamaorang tuanya karena orang tuanya bekerja di luar kota, Anisa yang memilih menetap di desa sampai ia lulus sekolah dasar dan saat ini orang tuanya tidak bisa hadir karena kesibukan mereka dan pak Wijaya memaklumi kondisi sahabatnya yang baru saja memulai bisnisnya di kota Jakarta. Dia sendiri memiliki beberapa pusat dan cabang kantor di Jakarta siapa yang tidak tau CEO dari grup Wijaya di sana yang namanya tersohor meskipun ia memilih tinggal di Bandung. "Kita jangan pulang dulu ya kak." "Terus Ica mau kemana?" "Ica mau lihat Ifan di makamkan kak." "Tapi ca..gimana nanti kalau Ryan marah dan nyakitin kamu lagi." "Ica janji itu ga akan terjadi kak." "Tapi ..." "Kak ... Ica mohon ..." Dengan berat hati Baim memutar sepeda motor kembali dan menunggu dari kejauhan sampai tubuh Ifan di bopong ke pemakaman. Satu persatu orang sudah pulang dan terlihat jelas Adrian menangis memeluk batu nisan bertuliskan nama Irfan Wijaya adik bungsunya tersayang. Disampingnya berdiri pasangan istri yang menenangkan.Tanpa mereka melihat dari balik pohon besar di pintu masuk makam dua orang sedang menangis dalam mereka, menangis dalam sampai akhirnya mereka pulang. Barulah kedua orang itu keluar dari persembunyiannya. "Ifan ... hiks..maafin Ica, Fan ...." tangisnya semakin menjadi-jadi memeluk batu nisan seperti yang Ryan lakukan. "Udah ca. Kita kirim do'a aja buat Ifan dia pasti tau bukan Ica yang buat dia meninggal." Dan mereka berdoa bersama disana untuk mendiang sahabatnya. setelah kejadian itu Ica tidak pernah lagi bertemu dengan Adrian sampai hari ini dia datang kerumahnya namun Adrian tak ada disana. "Jadi kamu mau berangkat sekarang." "Iya om, paman dan bibik udah beli tiket bis nya." "Ica hati-hati ya nak ... jaga diri baik-baik salam buat Ayah, Ibu." "Siap ante ... tapi Ica ...." Ica diam cari mencari seseorang yang tidak dilihatnya. "Nanti om sama Tante sampein salam Ica ke kak Ryan, pokonya om mau sampe sana Ica harus kabarin om ya." "Makasih om." "Hati-hati ya sayang ya, jangan lupakan om dan Tante disini." "Iya Tante ica janji ..." Setelah percakapan Singgat yang penuh emosi, tak pernah lagi bertemu dengan mereka. Tanpa ia sadari sudah melukai hati seseorang karena kepegiannya. Flashback off) * Seminggu setelah pernikahannya Adrian memutuskan untuk tinggal di apartemen bersama istrinya. Meskipun sempat ditolak oleh orang tuanya dan pada akhirnya mereka mengalah. "Mah..gimana Adrian bisa jadi kepala rumah tangga kalau terus ada dibawah naungan Papa dan Mama." "Tapi gimana dengan Ica nanti disana pasti capek kan, ngurusin kamu sendirian." "Ica harus belajar jadi istri yang baik dong buat Ryan ...." "Kalau gitu kamu harus punya pembantu disana untuk bantu Ica, mama ga mau menantu mama kecapean." "Mah ... tolong ga perlu, lagi pula Ica ga mungkin kecapean kok Ryan janji sama mama gak akan buat Ica lelah dan capek. Ryan mau bina rumah tangga Ryan berdua mah ..." "Ryan ada bener nya juga mah, dia harus belajar jadi suami yang baik untuk ica" pak Wijaya datang menengahi Perdebatan anak dan istrinya. "Tapi pah ..." "Kalau kita ga kasih kesempatan buat dia hidup mandiri lalu kapan dia bisa jadi lebih baik mah." "Makasih pah pengertiannya." "Baiklah mamah izinin kamu. "lirihnya berat setelah suaminya juga ikut membujuk. Adrian tersenyum penuh kemenangan, saat itu Anisa minta izin ke rumah sakit sebentar ada hal yang harus ia selsaikan. Mereka tidak tau saja apa alasan Adrian untuk pindah. Karena dia ga mau Ica di perlakukan seperti putri raja oleh mereka disana Janjinya pada Ica kalau akan membuka neraka pada gadis itu tak mungkin terwujud jika dia terus tinggal bersama keluarga, bagaimana mungkin hal itu bisa ia lakukan. Ryan tersenyum sinis mengingat perdebatannya dengan ibunya dulu Sekarang sudah tinggal mereka, tinggal di apartemen yang lumayan mewah, sebenernya bukan keinginannya tapi keinginan paparnya yang membelikannya apartemen itu dan apa boleh buat dia harus mau tinggal disana. "Udah siap kak." "Bagus! Sekarang lo siapin baju gue. Gue ada meeting di kantor dan gue ga mau baju gue kusut. " "Iya." anisa menarik nafas panjang Salahnya juga kemarin ga sempat setrika baju Adrian yang akan digunakan hari ini. Kemarin dia capek sekali hingga lupa melakukan nya. Diliriknya arloji nya sebentar Ia kembali menarik nafas panjang dan tugas nya. * Maaf dok Anisa datang terlambat hari ini, adaurusan negara yang lebih penting * Kira-kira seperti SMS yang dikirim ke dokter Alifio Juliansyah. Dan kembali melanjutkan tugasnya Hanya sebentar semua rapi. Dia memang selalu menyediakan keperluan Adrian setiap hari kecuali urusan makanan karena Adrian ga mau makan apapun yang dia buat dan Ica bisa faham itu. Ia sangat tau suaminya membencinya Untuk bisa membantu keperluannya saja, Ica sudah sangat bersyukur karena dengan begitu setidaknya ia dapat memberikan perhatian untuk suaminya. Meskipun Adrian menganggapnya tidak lebih seperti pembantu di rumah tangga mereka sendiri. Tapi Anisa siap melakukannya dengan senang hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN