4

1077 Kata
Eleina terbangun dengan cepat dan segera melihat jam. Ia lega saat jarum jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Berarti ia masih memiliki waktu satu jam lagi untuk bersiap-siap ke kampus. Ia kemudian bergegas keluar saat sudah selesai berganti pakaian dan menemukan Darrius sudah duduk sarapan di sana. "Pagi, Om," sapanya ceria dan seperti biasa Darrius tidak menggubrisnya. Eleina baru menyadari jika pintunya sudah tidak dikunci lagi entah sejak kapan dan dia tak menyadarinya. Ia langsung duduk di kursinya dan mulai sarapan setelah itu bergegas ia bangun dan akan menuju ke kampus. Sebelum pergi ia merasa sangat ingin membuat Darrius kesal. "Akhirnya aku bisa bertemu kekasihku tersayang," ujar Eleina saat lewat di samping Darrius. Eleina bisa merasakan kemarahan terpancar di tubuh laki-laki itu karena membayangkan yang ingin dia bayangkan. "Aku harap Shirley tidak pergi lebih lama lagi," ujar Darrius frustrasi dan segera menyelesaikan sarapannya dan bergegas pergi ke kantornya karena jika dia sudah di sana atau sudah berada di pengadilan maka bayangan Eleina tidak akan mengusiknya lagi saat dia bekerja. Saat malam Darrius pulang ke apartemennya merasa lelah setelah menangani kasus yang sedikit alot tadi saat di pengadilan tapi semua itu tidak sia-sia karena dia memenangkan kasus itu. Sewaktu memasuki apartemen dia merasa ada sesuatu yang dia lupakan karena apartemennya terasa begitu sepi. "s**t!" umpatnya kesal dan dengan cepat menuju kamar Eleina tapi tak menemukannya di sana, begitu juga di kamar mandi. "Dia belum pulang!" bentak Darrius marah mendongakkan kepalanya ke belakang dengan lelah. Dirinya jadi merasa memiliki anak gadis padahal bahkan calon istri saja dia tidak punya. "Aku tak pernah bertemu gadis sebinal dia, entah apa yang membuatnya begitu suka berada di club malam itu." Dengan cepat dia langsung melempar tas kerjanya dan bergegas ke club malam kemarin. Penjaga masih mengenali wajahnya hingga dia tak perlu berbasa basi lagi dan begitu juga bartender langsung menunjuk di mana keberadaan gadis itu. Saat sampai di sana kali ini dia kembali menemukan Eleina bersama temannya Adelia dan 3 orang laki-laki di mana Adelia sedang sibuk mencium laki-laki yang sama. Darrius mengeretakkan gigi dengan marah dan rona gelap serta tatapan mata yang mampu menghanguskan Eleina membuat gadis itu tak berani mengatakan apa-apa. "Pulang!" bentaknya pada Eleina dan ia memilih menurut sebab ia tahu kapan bisa memancing kemarahan laki-laki itu dan kapan dia harus menyerah. "Aku akan menelepon kalian nanti, kapan-kapan kita bertemu lagi," ujar Eleina dan mengikuti Darrius yang segera menariknya keluar dari sana. Darrius menarik Eleina ke kamarnya saat mereka tiba di apartemen dan membanting pintu dengan marah saat keluar dari kamar itu. Sejak dari club dia tak berbicara pada Eleina dan begitu juga dengan Eleina sama sekali tak mencoba bicara padanya karena takut Darrius akan meledak jika terpancing. "Jika kamu pergi ke club malam itu lagi, aku tidak segan-segan memasukkanmu ke asrama selama kepergian Shirley!" bentak Darrius sambil menjauh dari kamar Eleina. "Siap, Om!" teriak Eleina dan berganti pakaian dengan lingerie yang ada di kamar itu serta tidur dengan nyenyak. Besok dia tidak ada jadwal kuliah jadi dia akan tidur hingga siang. *** Darrius merasa sangat ingin meledakkan sesuatu saat ini. Pergi ke club untuk menjemput gadis itu tidak membuatnya lebih baik dan melihat dia bersama para laki-laki itu semakin memancing kemarahannya. Dengan kesal dia membuka semua pakaiannya dan mencampakkannya sembarangan kemudian menguyur tubuhnya dengan air dingin agar kemarahnya mereda. Andai Sara dan Leon ada di sini maka dengan senang hati dia akan menyerahkan gadis itu pada mereka bahkan jika perlu melemparnya ke rumah mereka dan tak menoleh ke belakang lagi. Selesai mandi dia baru ingat jika mungkin Eleina belum makan jadi dengan terpaksa dia pergi ke kamar gadis itu dan menemukannya sudah tertidur lelap dengan selimut menutupi tubuhnya. Darrius pergi diam-diam dari sana dan memutuskan untuk tidur juga sebab dia merasa sudah sangat lelah. Kehadiran gadis itu di apartemennya semakin membuatnya merasa lelah dan bahkan baru dua hari bersamanya. Pagi dengan cepat tiba dan Darrius merasa jika bahkan dia baru saja tertidur. Dengan enggan dia bangun dan mandi, kemudian dia keluar untuk membuat sarapan tapi dirinya harus terkejut karena sarapan sudah tersedia di meja. "Mimpi apa aku semalam?" tanya Darrius tak percaya. "Pagi, Om," sapa Eleina dari pintu kamarnya. Darrius menoleh pada suara gadis itu dan seketika dia mengertakkan giginya dengan marah. "Apa kamu tidak punya pakaian lain hingga harus menyentuh lingerie di lemari?!" "Aku menyukainya dan aku tidak mungkin membelinya karena Mama pasti akan langsung membuangnya jadi daripada tidak ada yang memakainya sebaiknya aku yang mengenakannya." "Oh, Tuhan," ratap Darrius merasa jika dia akan gila. Tanpa bisa dia tahan dirinya menatap tubuh Eleina yang terbalut lingerie seksi berwarna pink yang tampak transparant dengan belahan di bagian tengah pakaiannya. "Tutupi tubuhmu saat di luar kamar, aku tidak tertarik pada tubuh anak kecil," ujar Darrius dingin. Setelah menyelesaikan sarapannya dia beranjak bangun dari kursinya. "Saat aku pulang jika kembali menemukanmu tidak ada di rumah, kamu tahu akibatnya." "Aku sudah dewasa bukan anak kecil lagi, jadi kamu tidak bisa mengatur hidupku!" pekik Eleina marah karena kembali merasa terhina atas ucapan Darrius tentang tubuhnya. "Umurmu mungkin sudah dewasa tapi sikap dan tubuhmu masih anak kecil," ujar Darrius dan bergegas pergi dari sana. "b******n!" bentak Eleina dan melemparkan gelas pada pintu yang baru saja Darrius lalui. Eleina mencoba menenangkan dirinya saat ia hanya tinggal sendirian saja di sana. "Anak kecil!" pekik Eleina kembali merasa marah. Bagaimanapun usianya sudah 22 tahun dan seharusnya bahkan ia sudah termasuk dewasa. Dengan marah ia menelanjangi dirinya dan menatap pantulan tubuhnya di cermin. Jika aku berjalan telanjang di hadapannya apa dia masih tidak akan tergoda? "Tidak! Tidak! Itu pikiran yang sungguh gila," ujar Eleina dan dengan cepat menepis hal itu dari benaknya. Tapi dia sungguh merasa sangat kesal karena hinaan Darrius pada tubuhnya. "Abaikan saja dia, anggap saja dia pria tua yang tak akan tertarik pada gadis muda." Selesai mandi ia kembali mengenakan lingerie lain yang lebih seksi, lagipula tak ada yang akan melihatnya di kamar jadi dia tak takut mengenakannya. Dia akan memakai jubah jika harus keluar. Saat duduk di ranjang dia merebahkan tubuhnya telentang di atas ranjang dan merasa sangat bosan sebab tak ada yang bisa dia lakukan dan jika ingin keluarpun ia tak berani karena takut Darrius akan memasukannya ke asrama jadi akhirnya dia memutuskan menonton film secara online saja. Eleina memutuskan menonton drama seri jadi dia tidak perlu mencari-cari film lain untuk menghabiskan waktu menunggu Darrius pulang. Saat dia sibuk menonton seseorang membunyikan bel kamar dan bergegas ia membukanya tak lupa mengenakan jubahnya dan menemukan seorang pelayan mengantarkan makan siang untuknya. "Rupanya dia masih ingat padaku," gumam Eleina sambil memakan makan siangnya setelah melepaskan jubah yang terus menuruni bahunya. Selesai makan dia kemudian kembali ke kamarnya dan melanjutkan menonton. *** Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN