1

1203 Kata
Dua keluarga inti itu kembali berkumpul. Yang pertama adalah keluarga Pak Surya dan Bu Dian dengan anggota Tesa dan Bima. Selanjutnya adalah keluarga milik adiknya Bu Dian yaitu Dokter Vivi dengan kepala keluarga Bapak Arifin dan anggota Edo, Sindi dan Lucy. Selain acara seperti sekarang –perayaan ulang tahun Sindi, kedua keluarga itu juga sering berkumpul karena rumah mereka yang bersebelahan. Bu Dian dan suaminya hanya memiliki seorang anak pada awalnya. Lalu saat Lucy lahir, ia mengusulkan untuk merawat Bima agar Vivi, adiknya tidak kesulitan mengurusi dua anak yang hanya berbeda satu tahun dua bulan itu. “Ampun Bang....” Rengek Uci yang telinganya dijewer oleh Edo. Orang yang biasa disebutnya Abang. “Makanya jangan keluyuran terus!” “Tapi Bang, ini acara udah kuno banget tau,” protes adik bungsunya dan Edo makin memelintir telinga adiknya itu dengan kuat. Lucy Adelina atau yang lebih akrab dipanggil Uci itu menahan suara kesakitannya dengan menggigit pipi bagian dalamnya. Ini sudah hal biasa baginya, biasa menerima hukuman dan terlalu biasa untuk membantah setiap ucapan Abangnya yang lebih menyayangi Kak Sindi. “Bang,” itu suara Bima, suara yang paling tidak disukainya. Rasa sakit itu hilang, telinganya kebas. Membuka matanya Uci menatap tajam pada Bima. Ia tidak akan pernah merasa bersyukur atas apapun yang dilakukan Bima untuknya. Semua penderitaannya berawal dari Bima dan selamanya akan begitu. Menjauh darinya adalah satu-satunya solusi yang ditawarkan dunia padanya dan tentu saja ia akan mengambil itu secepat yang ia bisa. “Turunkan pandanganmu, Ci.” oh ini suara kakak satu-satunya yang dimiliki Uci, Sindi Elzira Agnia. “Kenapa?” tanyanya sambil tetap menatap Bima nyalang. “Hormati Abangmu.” “Oh, jadi Kakak yang mengusulkan pembagian Abang ini sejak awal? Pantas Bang Edo sayang banget sama Kakak! Dan aku dapat dia? “ tunjuk Uci pada Bima, sedang yang ditunjuk tetap menampilkan wajah datar. Uci tak pernah suka dengan Bima, ia tahu mereka saudara kandung. Tapi sikap Bima yang memperlakukan orang tua dan saudara kandungnya dengan dingin membuatnya membenci sang Abang sampai rasanya ingin mati. Lain dengan perlakuan yang didapatnya dari Bima, ia tidak akan ambil pusing lagi. Selesai acara tiup lilin dan potong kue, gadis itu kembali memasang kardigannya. “Mau kemana kamu?” Tanya Edo. Lagi-lagi mendengar suara berbahaya dari Abangnya itu membuat setan dalam diri Uci kembali berontak. “Sudah kan? Pacarku juga ulang tahun hari ini. Jadi kenapa aku ga ngelakuin acara memuakkan ini sama dia?” Gadis itu pergi meninggalkan orang tuanya yang hanya bisa bungkam. Arifin dan Vivi bukan memanjakan anak bungsunya, hanya saja jika mereka ikut memarahi Uci, mereka takut anak keras kepala itu akan lari dari rumah mengingat betapa keras kepalanya dia. Dan pacar? Pacar yang mana yang dimaksud Uci? Gadis dua puluh tahun itu justru terlihat sedang berjalan dalam diam menyusuri koridor-koridor disebuah SMU. SMU Garuda tempat di mana penyesalan terdalamnya bermula. Disana juga dulu ia bisa diam-diam memperhatikan seseorang sesuka hati. “Kamu lagi?” Penjaga sekolah itu hanya geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan perkerjaannya, membiarkan Uci dengan kebiasaannya. Terpaku pada kelas dua belas ipa tujuh. Dulu semua baik-baik saja, begitu pikirnya. Jika saja Uci tak terlahir dengan ego dan keras kepala yang tak terkalahkan mungkin Reza masih seseorang yang menyapanya dengan senyum saat ia ketahuan memperhatikannya. Dan jika saja waktu itu Bima tak pernah memainkan perannya sebagai Abang mungkin Reza tak akan membencinya. Reza Reza Reza Reza selalu ada dia dalam pikiran maupun hari-hari Uci. Gadis itu bahkan rela mati-matian belajar agar bisa berada di fakultas dan jurusan yang sama dengan Reza. Dan sekarang ia merasa keputusannya untuk tidak menyerah pada Reza adalah kesalahan yang fatal. 'Kamu apain Salma?' 'Kok kamu nuduh aku gitu sih?' 'Kamu itu menakutkan tau ga? Kamu kaya monster!' “Ya ya ya aku monster, terus kenapa? Kamu takut Jak? Seberapa berharga Salma sampai aku harus menerima tatapan kejam itu? Oke.. di sini aku yang kejam lalu salahku juga kalau si kejam ini menyukaimu?” tanya Uci pada kelas yang sedang dibelakanginya. Dering hape menghantarkan Uci pada alam nyata dan entah apa yang dikatakan penelfon itu ia bergegas meninggalkan sekolah dengan hape tetap pada telinga. “Andai lo masih ada Dar, lo pasti bakal ikutan senang denger tawaran perkerjaan pertama gue,” gumam Uuci. Jelas sudah jika telfon tadi berhubungan dengan tawaran pekerjaan yang barusan disebutnya. Uci terburu-buru memasuki tempatnya janjian dengan Indah, teman satu jurusannya sekaligus teman yang paling sering tampak bersamanya. Ia tertegun melihat dengan siapa Indah duduk, Reza. Tanpa ia sadari, Uci selalu memperhatikan tepi bibir Reza sejak kejadian Bang Bima memukul wajahnya dengan emosi bulan lalu. Satu lagi point plus untuk membenci Bima. “Duduk Ci,” tegur Indah, pada temannya yang masih sempat melamun di siang bolong. Duduk di depan Reza? Dan membiarkan cowok itu kembali memupuk rasa benci padanya? NO! teriak batinnya tapi gadis itu tetap duduk sesuai perintah. “Jadi gini Ci, Ejak lagi butuh orang dan gue rekomendasiin lo. Lo kan tau sendiri laki gue gimana?” “Laki? Lo udah nikah Ndah? Kok ga ngundang gue?” Tanya Uci mencoba berkelakar, barang kali dengan begitu suasana memuakkan ini bisa berubah menjadi tidak terlalu pekat. “Ckck, maksud gue Bram. Secepatnya bakal jadi laki gue kok dan lo tenang aja.. lo nanti gue jadiin pager ayunya,” sahut Indah dengan wajah berserinya, bangga sekali dirinya dengan apa yang barusan ia katakan.  “Boleh tuh, tapi pasangin gue sama sepupu ganteng lo ya?” pinta Uci sambil mengangkat-angkat alisnya. Indah memang paling bisa diandalkan. Sayang sekali Uci pada temannya yang satu ini. “Ya ya ya terserah lo aja ntar, jadi?” “Apa?” “Lo terima ga?” tanya Indah yang sudah kembali pada topik awal mereka. “Kerjanya sama dia langsung?” Tanya Uci seolah orang yang dia sebut 'dia' itu tidak ada di sana. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak menyebut nama Reza jika orangnya berada di dekatnya. “Memang apa masalahnya kalau kerjanya sama aku?” mendengar suara favoritnya itu mau tak mau Uci memutar kepalanya untuk membalas tatapan tidak bersahabat milik Reza yang rasanya sudah diproklamirkan hanya untuk Uci seorang. “Masalahnya adalah anda nyaman ga kalau berinteraksi sama monster kaya saya? Lagian mana ada monster kerja sama mangsanya?” jawab Uci dengan ekspresi setengah tidak percaya. Apa Reza masih harus mempertanyakan alasannya? Apa pria ini tidak tau betapa tunggang langgangnya Uci belajar di fakultas ini gara-gara dirinya? Sudahlah ia mengorbankan otaknya, memaksa organ tersebut untuk kerja rodi eh yang hubungannya dengan Reza sama sekali tidak bisa membaik. “Kamu lebay banget tau ga?” dengus Reza dan Uci hanya menampilkan ekspresi aneh. “Hm.. Ndah. Bilang sama temen lo itu kayaknya orang yang lo rekomendasiin ga cocok buat pekerjaannya. Kayaknya belum saatnya gue mutusin mata rantai pengangguran ini he.. he...” Setelah mengatakan penolakannya itu tanpa menoleh sedikitpun pada Reza, Uci berucap pamit dan berjalan menjauh. Sementara Reza yang ditinggalkan oleh orang yang kini tampak berusaha bersikap normal itu memukul meja kesal. Di sampingnya Indah geleng-geleng kepala. “Gue maklum sama gimana hubungan kalian kok. Tapi kalo lo udah bisa prediksi bakal kejadian begini harusnya lo nolak ketemu Uci.” “Ga usah dibahas lagi ah Ndah.. kesel gue liat tuh cewek.” 'Kesel tapi lo tetep aja manggil aku-kamu ke dia?'  tanya batin Indah tidakk mengerti, selamanya Indah tidak akan bisa mengerti. Setelah berhasil meredam gejolak amarahnya Uci mampir ke kedai ice cream dan memesan satu dengan rasa favoritnya, vanilla lattte. Gadis itu berjalan di sepanjang trotoar yang selalu tampak bersih dengan santai tak lupa memakan ice creamnya. Sesekali ia akan melirik ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya karena belakangan ia selalu merasi diawasi oleh seseorang, seseorang yang sangat dikenalnya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya ia menemui orang-orang yang tampak sangat bahagia dengan pasangan ataupun keluarganya. Tak bisa dicegah seulas senyum muncul saat diam-diam ikut meresapi kebahagiaan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN