Pak Devan

458 Kata
Jodoh memanng tidak ada yang tahu. Aku tak pernah membayangkan kalau calon suamiku adalah Pak Devan, dosen di kampusku. Pak Devan adalah salah satu dosen yang banyak penggemarnya, terutama di Fakultas Tehnik Arsitektur. Selain tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan, dia juga terkenal disiplin, tegas dan berwibawa. Aku lebih suka menyebytnya galak. Aku memandangi wajah Pak Devan yang sedang menerangkan "Metode Perancangan Arsitektur" di depan kelas. Percuma ganteng kalau killer. Gumamku sembari mengetuk-ngetuk bolpoin ke meja. "Kiran, Kirana Ayu Larasati!" Aku terkejut dengan panggilan setelah Mira, sahabatku menyenggol lenganku. "Iya Pak, saya!" "Keluar dari kelas saya! Saya hanya mengajar mahasiswa yang serius menyimak, bukan mengoceh sendiri!" Katanya. "Maaf Pak, saya serius menyimak!" "Keluar!" Tegasnya. Aku keluar dengan hati jengkel. Astagfirullah, ada ya orang model begitu! ******* Hari ini aku berangkat kuliah terlambat. Setelah sampai di parkiran kampus, aku kebingungan mencari parkir karena sudah penuh. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil di belakangku yang terdengar tak sabar. Dengam susah payah aku mencoba memarkirkan mobil. Ketika turun dari mobil, kudengar suara seseorang di depan mobilku. "Pastikan SIM lulus dengan benar, bukan karena nyogok." Siapa lagi kalau bukan suara dosen killer itu. "Iya Pak, maaf." Jawabku. Tapi dia terus melangkah tanpa memperdulikanku. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. "Pastikan kamu ada di kelas saya dua menit lagi karena saya akan memberikan kuis." Katanya dengan raut muka datar, lalu bergegas menuju Gedung A. Aku mengelus d**a sendiri dan berlari kecil di belakangnya. Ya Allah Pak, dua menit?! Hari ini kan kelasnya di Gedung A lantai 3! Mana bisa sampai sana dua menit!! Duh Gusti, semoga sabarku nggak berkurang. Akhirnya aku sampai di gedung A lantai 3 setelah terengah-engah menaiki tangga. Kulihat Maya dan Mira kedua sahabatku sudah berdiri di depan kelas. "Kelas belum mulai? Kok sepi?" tanyaku heran. Tadi apa maksudnya Pak Devan bilang kelas mulai dua menit lagi? "Masih tiga puluh menit lagi, Kiran, Memangnya lo nggak lihat jadwal?" sahut Mira. "Kalian pada ngapain di situ?" tanyaku. "Kita lagi nungguin Pak Devan, mau ngumpulin tugas," jawab Maya. "Lho kan masih minggu depan deadline tugasnya." ujarku heran. "Biar jadi yang pertama," lanjut Maya. Aku menggelengkan kepala melihat tinggak kedua sahabatku. Tak lama terlihat Pak Devan berjalan mendekati kelas. Maya dan Mira langsung menyerahkan tugasnya dengan senyum paling manis. "Jangan pernah mendahului perintah saya. Sekarang kumpulkan tugas kalian di meja saya!" kata Pak Devan. Lalu dia berjalan begitu saja masuk ke kelas. Kedua sahabatku yang absurd itu langsung mengikutinya. "Hari ini kalian berdua tidak usah ikut kelas saya!" Duaaaar!! Hahahaha Aku yang masih berdiri di ambang pintu kelas, tak bisa menahan tawa. Namun, segera kututup mulutku. Duh, begini amat ya calon suamiku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN