Part 106 - Pertemuan dengan Mbah Toid

216 Kata

Nata duduk di dipan itu. Sebuah bangku panjang terbuat dari bambu. Suara khas berbunyi saat diduduki. Beberapa tanaman herbal tumbuh subur di depan halaman rumah Mbah Toid. "Apakah Mbah menanam ini semua untuk pengobatannya?" Gumam Nata. "Mas...," suara perempuan bermata sayu itu mengalihkan fokus Nata. "Eh, Iya, Bu." "Bapak sedang siap-siap. Mungkin sebentar lagi keluar. Saya ijin pamit dulu, yah." "Langsung pamit, Bu?" "Iya, Mas Nata. Kasian anak saya nunggu di rumah sendirian." "Salam untuk anaknya ya, Bu. InsyaAllah nanti mampir ke sana." "Terima kasih, Mas." "Saya yang terima kasih, Bu. Sudah menyempatkan waktunya. Maaf, ya ngrepotin." "Ndapapa, Mas. Permisi, ya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, hati-hati, Bu." Perempuan bermata sayu itu mengambil capingnya. Bersiap pula

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN