"Devan ..." "Ya, Raina? Hal apa yang ingin kau minta dariku?" Devan mendekat ke arah Raina dan memegang tangannya, sebelum Devan memegang tangan Raina, justru Raina lah yang melayangkan tangannya agar Devan genggam. Gadis ini benar-benar. Tangan lembut itu terasa dingin dan berkeringat. Devan dapat merasakannya, sedikit agak lengket. Raina terkekeh, "Kenapa gak kamu obati aja luka ini, obat kimia membuatku tambah sakit." "Maksudmu, aku harus berikan lagi tumbukan biji itu?" Raina tersenyum sambil mengangguk. Ternyata Devan mengerti apa yang dia inginkan. Raina tahu khasiat obat itu untuk apa dan dia juga pernah merasakannya. Begitu nyaman juga, cepat sembuh. Raina tidak mau berlama-lama di Rumah Sakit karena dokter menyarankan dirinya agar tinggal di RS Polri untuk beberapa har

