Disappointed

1530 Kata
Tuk...tuk..tuk... Kaca pintu mobil diketuk oleh seseorang, dan aku terkejut saat melihat kak Rose yang mengetuk kaca pintu disisi kak Willy. ***** MEGGY POV Kak Willy membuka kaca pintu mobil disisinya. "Hai Rose, ada apa?" Tanya kak Willy. "Jahat banget sih! Aku kan juga mau pulang, anterin juga ya..., kan sejalan sama rumah kamu. Ya...???" Pinta kak Rose sambil bergelayut manja di pintu mobil. "Iya deh. masuk buruan!" Ucap Willy. "Tapi aku bisa mual kalau duduk di belakang, aku duduk di depan aja deh tuker sama Meggy, nggak apa kan?" Kembali kak Rose merajuk. "Nggak usah! kalau mau nebeng ya duduk di belakang! Kursi depan sudah penuh!" Tolak kak Willy tegas. "Eh nggak apa kak, biar Meggy yang duduk di belakang, daripada kak Rose muntah didalam mobil." ucapku namun tanganku segera ditahan oleh Willy. "Meg, kamu duduk aja di sebelah aku, biar Rose yang dibelakang. Rose buruan masuk atau aku tinggal nih!" Ucap kak Willy padaku lalu memaksa kak Rose untuk tetap duduk di belakang, dan kak Rose masuk dengan wajah manyun karena gagal merayu kak Willy. Lalu mobilpun mulai melaju di jalan raya. "Will, kamu ntar malam bakalan ikut pesta dansa nggak?" Tanya kak Rose dari kursi belakang. "Nggak ah, aku masih belum boleh terlalu banyak kegiatan."sahut kak Willy. "Kalau Meggy ikut nggak?" Tanya kak Rose padaku. "Saya juga nggak ikut kak Rose, itu kan harus datang berpasangan dengan pakaian couple, saya nggak punya pasangan kak." Ucapku yang langsung membuat kak Willy menoleh menatapku. "Kenapa kamu nggak ajak Ryan aja? kan beda kampus nggak apa-apa." ucap kak Rose. "Eh nggak kak, mending saya di rumah aja." Sahutku pada kak rose. "Berhenti disini aja kak, saya masuk nya jalan kaki saja." Ucapku saat tiba di pintu gerbang rumahku. "Aku anter sampe ke depan pintu rumah." Paksa kak Willy lalu mobil pun masuk ke dalam halaman setelah pak Junedi membuka gerbang. "Aku nggak mampir deh ya. Lain kali aja, soalnya aku masih harus nganter si comel ini pulang dulu." Ucap kak Willy sebelum aku keluar turun dari mobil. "Iya kak, nggak apa kok. Terima kasih ya kak sudah anterin Meggy. Kak Willy hati-hati ya... Bye kak Rose." Pamitku lalu keluar turun dari mobil. Kak Rose pun pindah ke kursi penumpang yang di depan di samping kak Willy. Ada perasaan nyeri cemas karena cemburu dalam hatiku melihat kak Rose yang kini hanya berdua di mobil bersama kak Willy. Tapi aku juga masih merasa tak punya hak untuk melarangnya. Sampai detik ini Kak Willy belum pernah memintaku untuk menjadi kekasihnya, meskipun kami sudah beberapa kali berciuman. Entahlah apa status hubunganku dengan kak Willy ini, aku hanya menghela napas berat lalu masuk ke dalam rumah. Drrtt.... Drrttt... Ada sebuah chat message masuk ke smartphoneku. Kak Willy. Senyum donk... jangan murung gitu nanti cantiknya hilang lho. Tenang saja... aku nggak ngapa-ngapain kok sama Rose. Janji deh ??? Aku jadi tersenyum sendiri melangkah lagi masuk ke rumah. ****** WILLY POV Meggy terlihat murung saat turun dari mobilku tadi. Dia pasti berpikir macam-macam karena aku hanya berdua dengan Rose saat ini. Aku langsung mengirimkan chat message pada Meggy. "Will, mampir ke rumahku dulu yuk! Aku merindukanmu Will. Aku selalu kesepian Will selama kamu di Tiongkok." Ucap Rose sambil memeluk sebelah lenganku dan bersender di lenganku Aku tak ingin lagi Meggy menangis gara-gara tingkah Rose. "Ah! biasanya juga kamu yang agresif sama aku." Keluh Rose. "Itu masa lalu Rose! lagipula aku juga melakukan itu masih dalam batasan kok gak kelewat sampe jebol perawanmu!" Sahutku mengingatkan Rose. "Aku rela kok kalo kamu yang jebol perawanku duluan. Aku cinta sama kamu Willy, apapun milikku untukmu Willy sayang." Ucap Rose semakin menggila sambil meletakkan tangannya di pahaku dan mulai membelaiku disana. Ciiiiittt.. Mobil mendadak aku rem dengan sangat keras dan membuat kening Rose terbentur dashboard. DUGH! "Turun! Aku nggak mau urusan sama kamu lagi! CEPAT KELUAR DARI MOBILKU!!!" bentakku pada Rose. Rose langsung menangis saat kubentak kasar. "Willy, please jangan tinggalin aku disini, rumahku masih jauh dan nggak ada taxi atau angkutan apapun disini. Ini daerah rawan kejahatan Willy. Please..." Tangis Rose memohon. Aku menghela napas kesal. "Aku akan mengantarmu kalau kamu bisa jaga sikapmu! Jangan melakukan hal bodoh seperti tadi!" Ucapku dengan kesal, dan Rose mengangguk. Akhirnya aku mengantarkan Rose pulang sampai ke rumahnya. Daerah ini memang rawan kejahatan, aku juga akan merasa bersalah kalau terjadi apa-apa pada Rose. Cup. Rose mengucapkan terima kasih dan mengecup pipiku saat tiba di depan rumahnya lalu keluar turun dari mobilku. Aku langsung melajukan mobilku ke rumah. Setibanya di rumah, mamaku sudah menyiapkan segala obatku, karena aku tak boleh terlambat sedikit saja mengkonsumsi obatku. "Sudah selesai melepas kangennya sama Meggy?" Tanya mom menggodaku. "Cuma sebentar, soalnya tadi Rose maksa ikut diantar pulang juga. Ya mau gimana lagi?" Keluhku kesal dan menyesal karena sudah membiarkan Rose ikut juga. "Ya sudahlah, kalau masih kangen ya di telepon aja Meggy nya. Istirahat dulu sana rebahan di kamar biar nggak kecapekan." Pesan mom lalu aku naik ke lantai atas menuju kamarku, setelah selesai menelan obatku. "Kenapa Lo gak ngajak Ryan aja?" Mendadak pertanyaan Rose pada Meggy tadi muncul di pikiranku. Selama aku pergi berobat, apa yang sudah terjadi antara Meggy dan Ryan? Seperti apa hubungan mereka sampai Rose bertanya seperti itu? Pikiranku melayang ada curiga dan sepercik cemburu membakar hatiku. "Lebih baik aku menghadiri pesta dansa nanti malam, Robin dan Olin juga hadir, tak mungkin Meggy tak hadir." Batinku. Malam Hari. Pesta Dansa sudah dimulai, aku sengaja datang terlambat menggunakan motor supaya mudah untuk parkir. "Hai Willy, ternyata kamu datang juga sayang." sapa Rose yang sialnya langsung mengetahui kedatanganku. Rose langsung bergelayut dilenganku, membuatku risih. "Rose, lepasin tanganku! Apa-apaan sih?!" Kesalku sambil kutarik lenganku lalu pergi menjauh dari rose. Bruugh!! Sial! aku menabrak seorang pria saat menghindari Rose. "Willy?!" "Ryan?!" Ucap kami bersamaan setelah bertabrakan. "Kamu datang juga kesini?!" "Kamu datang juga kesini?!" Ucap kami juga bersamaan lagi. Akhirnya kami pun tertawa bersama. "Aku bosan di rumah terus, kamu kesini sama siapa?" Ucapku menyelidiki apakah Meggy datang bersama Ryan. "Aku diajak Mikhael." Jawab Ryan. Datar. "Kamu bareng Meggy ya?" Tanya Ryan membuatku bingung. "Nggak. Aku nggak bareng Meggy, aku datang sendirian. Kamu lihat Meggy? Dimana?" Tanyaku. "Entahlah, aku belum melihatnya dari awal tadi." Sahut Ryan. "Itu ada Robin dan Olin, mungkin Meggy juga ada disana. Kamu kangen Meggy ya???" Goda Ryan dan aku hanya tersenyum lalu menepuk lengan Ryan berpamitan dan melangkah mendekati Robin dan Olin. "Lhoh? Kok kamu datang kesini bro?" Tanya Robin heran. "Lhoh kok kak Willy disini?! Tadi Meggy menolak ikut karena kak Willy katanya juga nggak datang." Ucap Olin juga bingung. "Eh anu... itu... apa Meggy nggak datang kemari bareng kalian?" Tanyaku dan Robin juga Olin kompak menggelengkan kepala. "s**t!!! Kejamnya aku sudah curiga sama Meggy, padahal Meggy sudah percaya sama aku!" Rutukku dalam batin. "Willy, ayo kita foto bareng teman angkatan!" Ajak Rose yang mendadak ada disitu dan segera menarik tanganku. "Lepasin Rose! aku nggak mood, aku mau balik aja!" Ucapku kesal pada Rose. "Wow! ternyata kamu masih aja berhubungan sama bitchy satu ini bro." tegur Ryan yang juga sudah ada di situ. Robin dan Olin langsung menatapku penuh amarah. "Gila kamu Ry! Jaga mulutmu!! Aku sudah nggak ada hubungan apapun sama comel satu ini!!! " Ucapku meradang. "Ayo Willy! nggak usah ngurusin mereka deh." Ucap Rose masih menarik tanganku. "Lepasin Rose!!!" marahku sambil menarik kasar tanganku lepas dari Rose. "Nggak usah munafik deh kamu, kasihan Meggy tahu! Ups..! aku lupa! playboy sepertimu kan nggak pernah punya rasa kasihan sama cewek ya..." Ucap Ryan yang langsung menohok harga diriku. Tanganku sudah mengepal dan siap memberikan pukulan ke mulut Ryan namun ditahan oleh Robin. "Stop Will, Ryan benar. Kasihan Meggy kalau dia sampai tahu bahwa kamu ada disini apalagi tahu kalo kamu disini bareng Rose." Ucap Robin. "Bro, aku datang sendirian, percaya sama aku, aku sudah lama nggak berhubungan sama Rose. Dia aja tuh yang masih kepedean bersikap seolah pacarku!" Jelasku pada Robin namun tampaknya tetap tak menyakinkan Robin dan Olin apalagi Ryan. "Baiklah aku nyerah, terserah kamu mau bilang apapun. Aku lebih baik pulang aja." Pamitku lalu pergi keluar dari aula sekolah. Saat aku hendak menstater motorku tiba-tiba Rose sudah naik dibelakangku, membonceng diatas motorku tanpa permisi. "Turun Rose! Jangan ganggu aku lagi!" Geram aku melihat tingkah Rose yang semakin menggila. "Nggak mau ah! aku mau ikut kamu pulang aja! disini nggak seru. Tapi kalo bareng kamu selalu seru." Ucap Rose cuek masih tetap diatas motorku. "Wooohooo!!! Tertangkap basah lagi! Dasar munafik!" Suara Ryan lagi dan saat aku menoleh ternyata ada Robin dan juga Olin di parkiran ini. "Astaga Tuhan! Kenapa harus seperti ini sih?!" Batinku putus asa. "Ryan stop! Lebih baik kita pulang dan pastikan Meggy baik-baik saja dan tidak melihat kebersamaan mereka berdua. Aku kecewa sama kamu bro!" ucap Robin dengan nada kesal. Apa yang harus kulakukan? rasanya aku ingin membunuh Rose saat ini juga di hadapan mereka, supaya mereka percaya bahwa aku tidak ada apapun dengan Rose. "Turun Rose! Turun sekarang juga dari motorku atau aku akan berlaku kasar padamu dan mempermalukanmu di hadapan seluruh sekolah!!!" seruku penuh emosi dan kebencian terhadap ular ini. ******* Waduch!!! Gawat nih!!! Please Love n comment & follow me ya... Thank u readers...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN