Miracle

1373 Kata
WILLY POV "So stupid girl.... sorry Meg, aku harus buat kamu benci sama aku, daripada masa depan kamu yang hancur kalau tetap bersama aku." Batinku perih mengatakan semua itu. Hatiku sakit karena tak mampu memelukmu Meggy. Dadaku nyeri karena tadi melihat kau hampir jatuh. Hidupku hancur karena melihat hatimu yang hancur Meg. Maafkan aku... "Oh Tuhan, kumohon sebagai balasan dari penerimaanku atas penyakit ini, kumohon bahagiakan Meggy." Doaku dalam batinku yang hancur ini. ****** ROBIN POV Prang!! prang!!! "AAAARRRRGHHH!!!!!" suara Meggy sangat melengking. Bunyi barang dibanting dan pecah sudah seminggu ini selalu terdengar dari dalam kamar Meggy. Sejak keluar dari ruang ICU seminggu yang lalu, Meggy terus mengurung diri di kamar, menangis, membanting barang, berteriak seperti orang yang kehilangan akal. Entah apa yang Meggy dan Willy bicarakan di ruang ICU seminggu lalu. "Mom, dad, again??? Apa kita tak akan berbuat apapun?" Tanyaku pada orangtuaku. "Biarkan saja, untuk membangun sesuatu yang baru dan lebih kuat, memang harus menghancurkan bangunan yang lama sampai habis hancur, begitu juga hati Meggy. Hatinya terlalu rapuh, biarkan hati yang rapuh itu hancur habis, baru kita bangun bersama menjadi hati yang kuat, kita pantau dan jaga dari dekat saja" ucap Dad padaku, mom hanya mengangguk setuju dengan dad. Aku sedih melihat adikku seperti itu, ingin rasanya aku mendatangi Willy dan memukulnya sampai hancur juga, tapi dia juga sahabatku. Tak ada yang bisa aku lakukan. Drrrttt... Drrrttt... Handphone ku berbunyi... "Hallo Ry.." ucapku saat kuangkat panggilan dari Ryan. ".............." "Tapi Meggy masih hancur Ry." ".........…" "Baiklah, akan kucoba. Tapi lebih baik kamu juga segera menjemput kami kesini." Ucapku seraya menutup telepon. "Ada apa Robin?" Tanya mom padaku. "Willy akan berangkat ke Tiongkok dengan penerbangan 3 jam lagi mom, Ryan pikir ada baiknya Meggy bertemu dengan Willy sebelum dia pergi, takut pengobatannya tak berhasil bahkan bisa-bisa Willy meninggal disana mom." Jelasku dan mom pun hanya mengangguk setuju dengan pemikiran Ryan. Tok. Tok. Tok. Tak ada jawaban dari dalam kamar Meggy. Dugh! Dugh! Dugh! "Meggy! buka pintunya! kita harus segera ke bandara! kalau kamu masih mau bertemu untuk terakhir kalinya dengan Willy! karena dia akan berangkat berobat ke Tiongkok dalam 3 jam lagi! menurut Ryan kalau pengobatan ini tak berhasil, maka Willy tak akan pernah pulang lagi alias MENINGGAL!!!! Meggy kamu dengar kan??!!! Willy beresiko meninggal di Tiongkok!!!" teriak ku karena tak ada jawaban atau respon apapun dari Meggy. "MEGGY!!! MEGGY...!!!" teriakku lagi. Tetap tak ada respon dari dalam kamar Meggy. Akupun turun kembali ke ruang keluarga karena putus asa. "Hai Ry.... nggak ada respon tuh."ucapku saat kudapati Ryan sudah ada di bawah bersama mom dan dad. "Ayo Ry! ayo kak! buruan! kalau tidak kita bisa terlambat!" suara Meggy yang tiba-tiba berlari turun tangga. Matanya bengkak sembab, tapi dia sudah berpakaian rapi. Kami semua hanya melongo diam menatap Meggy. "Mbok Ijah!!!! Tolong bersihkan kamarku ya..! mom, dad, kita pergi dulu!" Teriak Meggy pada ART kami dan juga berpamitan pada mom dan dad. "Ijah, jangan lupa pakai sandal mu saat membersihkan kamar Meggy." ucap mom mengingatkan mbok Ijah, berhubung sudah seminggu ini kaki mbok Ijah selalu berdarah setiap membersihkan kamar Meggy. "Ayo! mom juga ikut kalian, mom mau memberi dukungan pada Tante Melly." Ucap mom lagi sambil mengambil tas lalu berpamitan dengan Daddy. Bandara SoeTa "Itu mereka! "kata Ryan sambil menunjuk ke sekumpulan orang-orang. Ada Willy di kursi roda dengan kepala gundulnya, Tante Melly, Om Sammy, juga Olin. Olin, gadis itu yang sudah 5 Minggu ini terus menghindariku, sejak ciuman kami secara tak sengaja terjadi di ruang musik, entah terbawa suasana atau memang sudah ada rasa dalam hati kami masing-masing. "Hai bro..." Sapaku pada Willy. "Eh! hai Rob, hai Ry, Tante...." Sedikit kaget tapi kutahu Willy kini sedang mencari sosok seseorang, siapa lagi kalau bukan Meggy. "Kamu cari siapa Will?" Tanyaku pura-pura. "Ah. eh. nggak kok, gak ada apa-apa." sangkal Willy tersenyum malu. "Kamu lagi cari anak gila ini ya..?" Tanyaku sambil melangkah ke samping agar Meggy yang bersembunyi di belakangku terlihat oleh Willy. "Hai kak...." Sapa Meggy tersenyum sambil salah tingkah. Willy pun tersenyum, sangat terlihat sekali kelegaan dalam raut wajahnya. Kami semua seolah tahu diri dan langsung menyingkir menjauh dari Willy dan Meggy. Aku pun juga langsung menarik tangan Olin supaya dia tak menjauh dan tak mencoba menghindariku lagi. ******* WILLY POV "Hai.. " sapaku kikuk, bingung harus bersikap bagaimana, ingin rasanya langsung kupeluk dan kucium gadis dihadapanku ini. Aku sangat merindukannya,benar-benar sakit hatiku seminggu ini lebih sakit dari kanker yang aku derita. "Berobat ke Tiongkok ya?" Tanya Meggy juga canggung berdiri di hadapanku. "Iya, mommy aku masih berharap aku bisa sembuh, gimana lagi dong?"sahutku mencoba tersenyum meski aku tahu kemungkinan itu hanya sangat kecil. "Apa kak Willy sudah nggak mau sembuh lagi?" Tanya Meggy "Hahhahahhahaaa..." tawaku mendengar pertanyaan Meggy. "Semua orang pasti ingin sembuh Meg, yang membuatku menyerah bukan penyakitku ini tapi aku sudah putus asa, aku putus asa dengan hatiku Meg." kataku sambil meraih tangan Meggy supaya lebih dekat lagi. "Kak...." Meggy kaget saat tangannya kuraih, tapi dia juga tidak menolak. "Matamu kenapa Meg?" tanyaku saat kulihat matanya yang sangat sembab dan bengkak. "Sakit mata kak." jawabnya, tapi sungguh dia tak pernah pandai berbohong, aku tau pasti bahwa dia sedang berbohong. "Ouw...., sakit mata atau sakit hati?" Tanyaku lagi menggodanya. "Sakit mata kaaak..." jawabnya lagi sedikit mencoba meyakinkan, tapi dia mengatakan sambil menunduk tak berani menatapku. "Ouw kirain sakit hati, padahal kalau sakit hati sudah mau aku obatin lho, tapi berhubung sakit mata ya sudah, lebih baik kamu ke dokter mata aja deh." godaku sambil meraih tangan Meggy yang satu lagi dan menariknya sehingga dia duduk di pangkuanku. "AAAhhhh!!! kak! ini di bandara!" protes Meggy hendak menghindar, tapi kutahan. "Kamu kurus sekali sih, baru ditarik segitu aja sudah langsung jatuh ke pangkuanku, Coba aku lihat matanya." kataku sambil memegang kedua pipinya sehingga wajahnya menghadap ke wajahku. Mata indahnya telah berganti bengkak, akulah yang menyebabkan itu. Hidungnya juga sedikit membesar dan merah. Bibirnya.... ya bibir merahnya bahkan terlihat semakin merah dan juga bengkak. aku merindukanmu Meggy, kutatap dalam matanya. Tak terasa tatapan intens ini membawa bibir kami masing-masing terbawa suasana dan semakin mendekat kutempelkan bibirku, kulumat dalam-dalam bibirnya, Meggypun membalas ciumanku. Ciuman lembut, dalam dan lama, seolah esok tak akan pernah ada lagi, ciuman saling merindukan, saling tersakiti, saling mengobati luka hati masing-masing. Kulepas bibirku sambil terus menatapnya. "Kak, harus sembuh ya, aku akan terus menunggu kakak pulang. Kak, sampai kapanpun aku selalu milikmu kak." janji Meggy sambil mengecup bibirku. "Meg, maafin aku ya, aku selalu membuatmu menangis dan terluka." kataku sambil mengelus pipinya dengan jempolku. "Apa yang kalian lakukan?!!" Teriakan tante Mina langsung membuat kami kaget dan Meggy melompat berdiri dari pangkuanku. "Willy ah! memalukan deh! ini kan tempat umum! budaya timur nggak pantas begitu tau! " Omel mommy aku. Aku hanya terkekeh, kulihat Meggy menunduk malu wajahnya memerah. "Okay semuanya, kami berangkat dulu ya, sudah waktunya boarding." ucap mom kepada semuanya. "Doakan saya ya Tante Mina, supaya bisa pulang dengan sehat buat melamar anak gadis Tante Mina." Pamitku sambil menarik dan mencium tangan Meggy dihadapan semuanya. "iiich kak! malu tau!" ucap Meggy dengan wajah memerah malu. Kami semua tertawa melihat tingkah Meggy yang malu-malu. "Bye Willy, hati-hati ya, disana serius berobat lho ya, soalnya seminggu ini anak Tante sudah macam orang gila aja tau gak sih?! nangis, banting barang, teriak-teriak, nggak mau keluar kamar. Ah! ampun deh! pokoknya kamu harus sembuh ya!" ucap tante Mina sambil memelukku. "Mom... kok bongkar secret gitu sih! malu tau!" sahut Meggy sambil manyun protes pada Tante Mina. Bibirnya benar-benar membuatku kecanduan ingin melumatnya terus. Akhirnya kamipun masuk ke dalam untuk proses boarding dan berangkat. **** Meggy POV "Ry, thanks ya sudah info keberangkatan Willy." Ucapku saat di mobil dalam perjalanan pulang. "Iya sama-sama Meg. Aku seneng kamu akhirnya bisa tersenyum lagi, udahan ya banting barang and teriak-teriak nya, besok masuk kelas lagi ya non." goda Ryan padaku. "Siap bos!" jawabku sambil memberi hormat padanya. Like a miracle, aku dan kak Willy bisa kembali berciuman, saat semua terasa sudah hancur, Tuhan memberikan keajaiban padaku, meski kak Willy sampai saat ini tak pernah secara langsung mengucapkan 3 kata sakral itu, aku cinta kamu. ********** Please Tap LOVE and comment + Follow my account ya... Thank you readers..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN