Elara berdiri di depan cermin kamar mandi.
Ia menatap wajahnya sendiri.
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada mata kedua.
Tidak ada retakan.
Tidak ada tanda bahwa sebagian dirinya adalah sesuatu yang lain.
Dan itu justru yang menakutkan.
Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat ke kaca.
“Kalau kamu ada di sana,” bisiknya, “katakan sesuatu.”
Pantulan itu tersenyum.
Elara tidak.
“Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri,” kata suara itu.
Elara tersentak mundur.
Ia berbalik.
Tidak ada siapa pun.
Namun suara itu terdengar lagi.
Di dalam kepalanya.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
Kamu membangun aku untuk menanggung hal-hal yang kamu tidak mau tanggung.
Elara memegang kepalanya.
“Aku tidak membangun apa pun.”
Tentu saja kamu membangun aku. Kamu selalu membangun sesuatu saat kamu takut.
Napas Elara terengah.
“Diam.”
Tidak.
Suara itu terasa… hangat.
Familiar.
Seperti dirinya sendiri setelah tiga gelas anggur dan satu keputusan buruk.
Ia duduk di lantai.
Punggung bersandar ke dinding.
“Katakan padaku apa yang kamu lakukan.”
Aku melindungimu.
“Dengan apa?”
Dengan menjadi hal yang kamu tidak mau jadi.
Elara menutup mata.
Bayangan datang.
Dirinya.
Berteriak.
Memecahkan kaca.
Menyakiti seseorang.
Bukan karena benci.
Karena harus.
Elara terisak.
“Apa yang kamu lakukan pada orang-orang?”
Aku mengatakan kebenaran yang mereka tidak mau dengar.
“Dan itu membuat mereka mati?”
Hening.
Itu jawaban.
Pintu kamar terbuka.
Arkana masuk.
“Elara?”
Ia melihatnya di lantai.
Berjalan cepat.
Berlutut di depannya.
“Ada apa?”
Elara menatapnya.
Air mata di pipinya belum kering.
“Dia berbicara padaku.”
Wajah Arkana mengeras.
“Dia mulai aktif.”
“Dia bilang dia melindungiku.”
Arkana menggeleng.
“Dia bukan pelindung. Dia mekanisme bertahan hidup yang rusak.”
“Itu masih bagian dariku.”
“Bagian yang berbahaya.”
Elara berdiri.
Menghadapi Arkana.
“Kalau dia berbahaya, berarti aku juga.”
Arkana menatapnya.
Dan untuk sesaat… ia tidak membantah.
Itu lebih menyakitkan dari seribu bantahan.
Elara tidak ingat kapan terakhir kali ia tertidur tanpa rasa takut.
Ia hanya ingat bahwa saat matanya tertutup, dunia tidak menjadi gelap — ia menjadi padat.
Seolah ruang di dalam kepalanya bukan ruang kosong, tapi kamar sempit yang diisi oleh terlalu banyak versi dirinya sendiri.
Dan salah satu versi itu… tidak mau diam.
Pagi datang dalam bentuk suara hujan ringan di luar jendela.
Jakarta belum sepenuhnya bangun.
Lampu kota masih menyala.
Langit abu-abu menggantung rendah.
Elara duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya.
Di belakang matanya, suara itu berbisik.
Kamu lelah karena kamu terus melawan.
“Aku tidak melawan,” bisik Elara.
Ia tidak yakin apakah ia berbicara atau hanya berpikir.
Kamu melawan fakta bahwa kamu membutuhkanku.
Elara berdiri.
Berjalan ke kamar mandi.
Membasuh wajah.
Air dingin membantu sejenak.
Namun pantulan di cermin tidak berubah.
Wajah itu tetap wajahnya.
Tapi sekarang ia tahu — ia tidak sendirian di baliknya.
Ketukan pelan di pintu.
“Elara?”
Suara Arkana.
Ia selalu datang terlalu tepat waktu.
Seolah ia tahu kapan Elara berada di ambang sesuatu.
“Masuk.”
Arkana masuk dengan ekspresi yang berusaha netral.
Namun Elara sudah belajar membaca mikro-ekspresinya.
Ia tegang.
“Ada laporan semalam,” kata Arkana.
“Laporan apa?”
“Seorang perawat ditemukan pingsan di lorong barat. Dia tidak ingat apa pun tentang satu jam terakhir.”
Elara menelan ludah.
“Dan kamu berpikir itu aku?”
“Aku berpikir… itu bukan kamu.”
Elara tersenyum kecil.
“Itu bukan jawaban yang meyakinkan.”
Arkana melangkah mendekat.
“Tidak ada tanda kekerasan. Tidak ada luka. Hanya… kehilangan waktu.”
Elara memejamkan mata.
Suara itu tertawa kecil di dalam kepalanya.
Lihat? Aku rapi. Aku tidak pernah ceroboh.
“Berhenti,” bisik Elara.
“Apa?” tanya Arkana.
“Bukan kamu.”
Arkana menatapnya tajam.
“Kamu mendengarnya lagi.”
Itu bukan pertanyaan.
Elara mengangguk.
“Apa yang dia katakan?”
“Bahwa dia tidak pernah ceroboh.”
Arkana memejamkan mata.
“Dia sedang menguji batas.”
Elara menatap Arkana.
“Kamu juga.”
Arkana membuka mata.
Tatapannya lebih tajam dari biasanya.
“Kita perlu menurunkannya.”
“Kita?” ulang Elara.
“Aku tidak akan membiarkan kamu berubah menjadi sesuatu yang kamu takuti.”
“Apa kamu takut aku berubah… atau kamu takut aku mengingat?”
Itu menghantam Arkana.
Ia tidak langsung menjawab.
Elara tertawa pelan.
“Aku akan membantumu.”
Arkana menatapnya.
“Bagaimana?”
“Aku akan berhenti melawan dia.”
Arkana menegang.
“Itu ide yang buruk.”
“Tidak. Itu satu-satunya cara untuk tahu apa yang dia inginkan.”
Arkana menatapnya lama.
Lalu menggeleng.
“Kamu tidak akan melakukannya.”
Elara melangkah mendekat.
Jarak mereka sangat dekat.
Ia bisa mencium aroma sabun dan kopi di bajunya.
Ia bisa merasakan panas tubuhnya.
“Aku sudah melakukannya.”
Arkana menahan napas.
Dan Elara tahu — ia baru saja mengambil alih satu hal yang sangat Arkana butuhkan: kontrol.
Hari itu berjalan lambat.
Elara berpura-pura normal.
Makan.
Berbicara.
Tertawa kecil saat Arkana mencoba melucu dengan cara yang canggung.
Namun di dalam, ia membuka pintu.
Baik, katanya dalam hati. Apa yang kamu mau?
Suara itu tidak langsung menjawab.
Ia menikmati itu.
Menunggu.
Menguji.
Akhirnya:
Aku mau kamu berhenti berpura-pura kamu rapuh.
Elara berhenti berjalan.
Ia berdiri di koridor.
“Rapuh?”
Kamu bukan rapuh. Kamu hanya dibuat merasa kecil.
“Oleh siapa?”
Hening.
Lalu:
Oleh orang yang takut pada apa yang bisa kamu lakukan.
Elara memikirkan Arkana.
Memikirkan tangan Arkana di rambutnya.
Suaranya yang lembut.
Proteksinya.
Dan ketakutannya.
“Jadi kamu mau aku melawan Arkana?”
Aku mau kamu berhenti membiarkan dia memilihkan hidupmu.
Itu masuk terlalu dalam.
Elara kembali ke kamarnya.
Ia duduk.
Menunggu.
Dan suara itu mulai menunjukkan sesuatu.
Fragmen.
Kenangan yang bocor.
Dirinya di sebuah ruangan.
Berteriak pada Arkana.
“Kamu tidak berhak memutuskan siapa aku!”
Arkana menjawab, menangis:
“Aku tidak bisa kehilanganmu!”
Lalu Elara berkata sesuatu yang sekarang terasa seperti racun:
“Kalau begitu buat aku lupa.”
Air mata Elara jatuh.
Ia menutup mulutnya.
Ia benar-benar memilih ini.
Dan itu membuatnya lebih bersalah… dan lebih marah.
Malam datang.
Lampu kota menyala.
Arkana datang lagi.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Tenang.”
Itu bohong.
Namun Arkana ingin percaya itu.
“Aku akan menghentikan prosedur lanjutan sementara.”
“Kenapa?”
“Kamu terlihat… terlalu stabil.”
Elara tersenyum.
“Kamu takut aku stabil?”
Arkana tidak menjawab.
Itu jawaban.
Elara berdiri.
Mendekat.
“Kalau aku utuh, kamu kehilangan kendali.”
Arkana menegang.
“Elara…”
“Kalau aku rapuh, kamu bisa menjagaku.”
“Elara, ini bukan tentang kendali.”
“Ini selalu tentang kendali.”
Keheningan menggantung.
Arkana akhirnya berkata:
“Aku takut kehilanganmu.”
Elara mengangguk.
“Itu masalahmu.”
Ia menoleh ke jendela.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak takut pada suara di kepalanya.
Ia takut pada cinta yang membungkusnya seperti sangkar.
Elara terbangun dengan rasa asin di bibirnya.
Bukan dari air mata.
Dari darah.
Ia duduk tersentak di ranjang, tangan naik ke wajahnya. Hidungnya sedikit berdarah, mungkin pecah karena udara ruangan terlalu kering atau karena mimpi yang terlalu berat.
Namun bukan itu yang membuat jantungnya berdebar.
Yang membuatnya berdebar adalah kenyataan bahwa ia tidak mengingat bagaimana ia tertidur.
Jam dinding menunjukkan pukul 04.12.
Ia tidak pernah tertidur sebelum jam lima akhir-akhir ini.
Ia berdiri perlahan, berjalan ke kamar mandi, mencuci wajah. Air dingin membasuh kulitnya, dan ia menatap pantulan dirinya sendiri.
Matanya tampak… lebih tenang.
Itu yang salah.
Biasanya ada ketegangan.
Biasanya ada rasa bersalah.
Sekarang hanya ada kehampaan yang jernih.
Kamu tidur nyenyak, kata suara itu lembut.
Elara menutup matanya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Tidak ada yang tidak perlu.
Itu jawaban paling berbahaya.
Ketukan keras di pintu.
“Elara!”
Suara Arkana.
Terlalu keras.
Terlalu panik.
Ia membuka pintu.
Arkana berdiri di sana dengan wajah pucat.
“Ada insiden,” katanya.
Elara menahan napas.
“Insiden apa?”
“Seorang pasien di bangsal psikiatri mencoba melompat dari lantai tiga. Dia selamat. Tapi dia mengatakan sesuatu.”
Elara menelan ludah.
“Apa?”
“Dia menyebut namamu.”
Dunia terasa bergeser.
“Aku tidak pernah bertemu dia.”
“Dia bilang kamu datang ke kamarnya malam tadi.”
Elara menatap Arkana.
“Aku tidak keluar kamar.”
Arkana menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya… ia ragu.
Bukan ragu pada Elara.
Ragu pada realitas.
“Dia menggambarkanmu dengan tepat,” lanjut Arkana. “Rambut. Cara bicaramu. Bahkan bekas luka kecil di tanganmu.”
Elara menurunkan pandangan ke tangannya.
Bekas luka kecil di pergelangan.
Ia tidak ingat mendapatkannya.
“Apa yang dia katakan aku lakukan?”
Arkana menelan ludah.
“Dia bilang kamu duduk di sampingnya dan berkata: ‘Kalau kamu melompat, rasa sakitnya akan berhenti.’”
Elara merasa dingin.
“Itu bukan aku.”
Itu benar, bisik suara itu. Itu aku.
Elara memejamkan mata.
“Kamu mendorong orang bunuh diri.”
Tidak. Aku hanya mengatakan kebenaran yang ingin dia dengar.
“Kebenaran yang membunuh.”
Atau membebaskan.
Elara membuka mata.
Menatap Arkana.
“Apa kamu percaya aku?”
Arkana ragu.
Itu menyakitkan.
“Tidak sepenuhnya,” katanya jujur.
Elara mengangguk.
“Bagus.”
Arkana terdiam.
“Itu berarti kamu akhirnya melihatku sebagai manusia… bukan proyek.”
Arkana menegang.
“Aku tidak pernah melihatmu sebagai proyek.”
Elara tersenyum pahit.
“Kamu menyimpanku di ruang bawah tanah dengan kabel di kepalaku.”
Arkana tidak punya jawaban.
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju bangsal psikiatri.
Lorong itu lebih gelap.
Lebih dingin.
Pasien itu duduk di ranjangnya, tangan diperban.
Wajahnya kosong.
Ketika melihat Elara, ia tersenyum.
“Aku tahu kamu akan datang.”
Elara membeku.
“Apa yang aku katakan padamu?” tanya Elara pelan.
“Kamu bilang… dunia ini bukan tempat untuk orang yang merasa terlalu dalam.”
Elara menahan napas.
Itu kalimatnya.
Itu benar-benar sesuatu yang akan ia katakan.
Dan itu membuatnya lebih takut daripada jika itu bukan.
“Apa lagi?” tanya Arkana.
Pasien itu menatap Arkana.
“Kamu yang mengikatnya.”
Arkana menegang.
“Mengikat siapa?”
“Dia.”
Ia menunjuk Elara.
“Kamu membuatnya kecil supaya dia tidak menyakitimu.”
Elara menoleh ke Arkana.
Itu terlalu tepat.
Pasien itu tersenyum lagi.
“Dia bilang kamu bukan jahat. Kamu hanya pengecut.”
Itu menghantam.
Arkana memucat.
“Elara, ini hanya proyeksi.”
Elara mengangguk.
“Ya. Tapi dari siapa?”
Mereka meninggalkan ruangan itu dalam diam.
Di koridor, Arkana berhenti.
“Aku akan memindahkanmu dari sini.”
“Tidak.”
“Kamu tidak aman.”
“Tidak. Dunia yang tidak aman. Aku hanya cerminnya.”
Arkana menatapnya.
“Elara… kalau ini terus berlanjut, kamu bisa melukai orang.”
Elara tersenyum.
“Aku sudah melakukannya.”
Itu bukan ancaman.
Itu fakta.
Dan itu yang membuat Arkana takut.
Malam itu, Elara duduk di kamarnya.
Lampu mati.
Kota bersinar di kejauhan.
“Apa tujuanmu?” tanya Elara.
Aku mau kamu berhenti meminta izin untuk menjadi dirimu sendiri.
“Dengan menghancurkan orang lain?”
Dengan menghentikan kepalsuan.
Elara menutup mata.
“Kamu bukan kebenaran. Kamu hanya bagian dariku yang terluka.”
Dan kamu adalah bagian dariku yang takut.
Keheningan jatuh.
Dan Elara sadar:
Tidak ada pihak yang sepenuhnya benar.
Namun ada pihak yang akan menang.
Dan ia tidak tahu apakah ia ingin itu dirinya… atau bukan.