Arkana mulai merasa ada sesuatu yang salah bukan dari data — tapi dari keheningan.
Elara terlalu patuh.
Ia mengikuti jadwal.
Minum obat.
Tidak melawan.
Tidak memancing.
Dan itu bukan Elara.
Ia mengenal Elara cukup lama untuk tahu: diam bukan berarti tenang.
Diam berarti menunggu.
Ia memeriksa log.
Tidak ada anomali.
Tidak ada pelanggaran.
Tidak ada alarm.
Dan itu justru menakutkan.
Ia memanggil Rani ke ruangannya.
Rani masuk dengan wajah sedikit tegang.
“Kamu terlihat gugup,” kata Arkana datar.
“Tidak, Dokter… hanya lelah.”
“Kamu menghabiskan lebih banyak waktu dengan Elara akhir-akhir ini.”
Rani terdiam sepersekian detik terlalu lama.
“Aku hanya… merasa dia butuh ditemani.”
“Dia bukan pasien biasa.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu memperlakukannya seperti orang biasa.”
Rani menelan ludah.
“Bukankah itu yang kita mau? Dia sembuh?”
Arkana menatap Rani lama.
“Kita mau dia stabil.”
“Itu beda?”
Arkana tidak menjawab.
Ia beralih ke layar.
“Apakah Elara pernah meminta sesuatu yang melanggar protokol?”
Rani ragu.
“Tidak… secara langsung.”
“Secara tidak langsung?”
Rani terdiam.
Itu jawaban.
Arkana berdiri.
“Kalau dia memintamu melakukan apa pun yang terasa salah, laporkan.”
Rani mengangguk.
Namun matanya tidak lagi meyakinkan.
Dan Arkana melihatnya.
Itu retakan pertama.
Malam itu, Elara duduk di kamarnya.
Ia tahu Arkana curiga.
Ia mengharapkan itu.
Karena kecurigaan membuat orang membuat kesalahan.
Dan kesalahan membuka pintu.
Rani datang lebih malam dari biasanya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rani.
Elara menatapnya.
“Apa kamu akan melaporkanku?”
Rani tersentak.
“Tidak! Aku hanya—”
“Tidak apa-apa kalau iya.”
Rani bingung.
Elara tersenyum kecil.
“Semua orang pada akhirnya memilih sistem.”
Rani menggenggam tangannya sendiri.
“Aku hanya tidak mau kamu disakiti.”
Elara berdiri.
Mendekat.
Jarak mereka terlalu dekat untuk ruangan sekecil itu.
“Apa kamu percaya aku akan menyakitimu?”
Rani menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Kalau begitu… percayalah juga bahwa aku tidak ingin menyakiti siapa pun.”
Rani menelan ludah.
“Aku percaya kamu.”
Dan di situlah Rani kalah.
Karena Elara tidak butuh kepatuhan.
Ia butuh kepercayaan.
Beberapa hari kemudian, alarm berbunyi di lantai lain.
Seorang pasien kabur.
Semua staf panik.
Arkana berlari ke pusat kontrol.
Semua fokus teralihkan.
Dan itu memberi Elara tepat waktu yang ia butuhkan.
Ia tidak kabur.
Ia tidak lari.
Ia hanya bergerak satu lantai.
Masuk ke ruang arsip lama.
Ruang yang tidak lagi dipakai.
Tidak diawasi.
Di sana ada berkas-berkas lama.
Versi awal program ECHO.
Catatan Arkana sebelum semuanya disterilkan.
Dan di sana Elara menemukan sesuatu.
Nama lain.
Nama proyek lama.
Bukan “ECHO”.
Tapi “ORPHEUS”.
Tujuan:
Menciptakan struktur kognitif sekunder untuk menyerap beban trauma ekstrem agar subjek dapat tetap berfungsi.
Struktur sekunder.
Bukan penyembuhan.
Pengalihan.
Ia menelan napas.
Itu bukan kesalahan.
Itu keputusan.
Ia bukan disembuhkan.
Ia dibagi.
Dan bagian yang dibuang…
… adalah bagian yang kini bicara padanya.
Arkana menemukan Elara di ruang arsip.
Ia tidak marah.
Ia terlihat… hancur.
“Kamu tidak seharusnya ada di sini.”
Elara memegang berkas itu.
“Kamu menciptakan bagian dariku.”
Arkana membeku.
“Kamu tidak mengerti—”
“Kamu menciptakan monster… lalu menguncinya di dalam diriku.”
Arkana mendekat.
“Aku mencoba menyelamatkanmu.”
“Dari apa?”
“Dari dirimu sendiri.”
Elara tertawa kecil, pahit.
“Dan sekarang siapa yang perlu diselamatkan?”
Arkana tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia tidak tahu.
Ruang arsip terasa lebih dingin setelah Arkana pergi.
Bukan karena suhu.
Karena makna.
Elara duduk di lantai, punggungnya bersandar pada rak logam berisi berkas-berkas lama. Tangannya masih memegang map ORPHEUS.
Huruf-hurufnya tercetak rapi.
Terlalu rapi untuk sesuatu yang mencabik jiwa seseorang.
Ia membuka halaman demi halaman.
Diagram struktur kognitif.
Catatan neurologis.
Dan tulisan tangan Arkana di pinggir halaman:
Subjek tidak bisa menahan beban penuh. Solusi: pisahkan, bukan hapus.
Pisahkan.
Bukan sembuhkan.
Bukan pulihkan.
Pisahkan.
Dan yang dipisahkan tidak pernah diberi hak untuk ada.
Elara menutup matanya.
Sekarang kamu tahu, bisik suara itu.
“Kamu adalah bagian yang dipisahkan,” kata Elara pelan.
Aku adalah bagian yang kamu tidak sanggup simpan.
“Kamu adalah rasa marah.”
Aku adalah perlindungan.
“Kamu adalah kegelapan.”
Aku adalah batas.
Elara membuka mata.
“Batas apa?”
Batas sebelum kamu hancur.
Ia terdiam.
Selama ini ia mengira suara itu adalah kerusakan.
Kesalahan.
Efek samping.
Namun ini bukan kegagalan sistem.
Ini adalah fungsi.
Ia berdiri perlahan.
Melihat kembali catatan Arkana.
Struktur sekunder akan menyerap impuls destruktif, agresi, dan keinginan ekstrem demi menjaga integritas kepribadian utama.
Agresi.
Destruktif.
Keinginan ekstrem.
Semua yang dianggap “tidak pantas” untuk manusia yang berfungsi.
Semua yang terlalu jujur.
Dan Arkana mengurungnya.
Bukan karena itu berbahaya.
Tapi karena itu tidak nyaman.
Elara merasakan sesuatu yang hampir seperti… kasihan.
Bukan pada dirinya.
Pada Arkana.
Ia kembali ke kamarnya tanpa dihentikan.
Sistem masih percaya ia ada di tempat tidur.
Itu celah yang ia ciptakan.
Namun ia tidak menggunakan celah itu untuk kabur.
Ia menggunakannya untuk berpikir.
Malam itu, Arkana tidak datang.
Tidak memanggil.
Tidak menginterogasi.
Ia memberi ruang.
Dan ruang adalah bentuk pengakuan pertama.
Rani datang larut malam.
Wajahnya cemas.
“Kamu tidak apa-apa?” bisik Rani.
Elara menatapnya.
“Kamu tahu apa yang paling berbahaya dari sistem ini?”
Rani menggeleng.
“Bukan kurungan.”
“Bukan obat.”
“Bukan kamera.”
Rani menunggu.
“Yang paling berbahaya… adalah membuat orang percaya bahwa itu demi kebaikan mereka.”
Rani menelan ludah.
“Kamu bicara seperti orang yang sudah menyerah.”
Elara tersenyum kecil.
“Tidak. Aku bicara seperti orang yang akhirnya mengerti.”
Ia berdiri.
Mendekat ke Rani.
Tidak menyentuh.
Tidak melanggar jarak.
Namun kehadirannya cukup membuat Rani tegang.
“Apa kamu mau membantuku… atau mau menyelamatkan dirimu sendiri?” tanya Elara lembut.
Rani ragu.
“Apa bedanya?”
Elara menatap matanya.
“Kalau kamu membantuku, kamu akan kehilangan rasa nyamanmu.”
“Kalau kamu menyelamatkan dirimu, kamu akan kehilangan kejujuranmu.”
Rani terdiam lama.
Itu pilihan yang tidak adil.
Dan sistem selalu memaksa orang memilih di antara dua hal yang menyakitkan.
“Aku tidak mau kamu hancur,” kata Rani akhirnya.
Elara mengangguk.
“Bagus. Maka jangan mencoba menyelamatkanku.”
Rani bingung.
“Biarkan aku menjadi utuh.”
Rani menelan napas.
“Itu menakutkan.”
“Ya.”
“Itu bisa berbahaya.”
“Ya.”
Rani memejamkan mata.
Lalu mengangguk.
Dan di situlah pergeseran kedua terjadi.
Bukan kontrol.
Bukan manipulasi.
Tapi kolaborasi.
Arkana berdiri sendirian di ruang kontrol.
Ia menatap grafik Elara.
Ada perubahan.
Bukan lonjakan.
Bukan anomali.
Tapi… integrasi.
Struktur sekunder mulai muncul dalam data utama.
Itu tidak seharusnya terjadi.
Ia membuka file ORPHEUS.
Membaca ulang catatan lamanya.
Dan untuk pertama kalinya, ia membaca sebagai orang yang salah.
Bukan sebagai ilmuwan.
Ia teringat wajah Elara saat ia berkata:
“Kamu menciptakan monster… lalu menguncinya di dalam diriku.”
Ia dulu percaya itu perlu.
Sekarang ia tidak yakin.
Ia menekan tombol komunikasi.
“Elara.”
Tidak ada jawaban.
“Elara, tolong jawab.”
Beberapa detik kemudian:
“Ya, Arkana.”
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Kita perlu bicara.”
“Kita selalu bicara.”
“Kali ini… aku yang ingin mendengar.”
Hening.
Lalu:
“Itu baru menarik.”
Arkana menelan ludah.
“Kamu tahu apa yang ORPHEUS lakukan padamu.”
“Ya.”
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Itu lebih buruk,” bisik Arkana.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan.”
Elara tersenyum di kamarnya.
Menatap kamera.
“Kamu akhirnya mengerti bagaimana rasanya menjadi aku.”
Arkana menutup mata.
“Kita bisa memperbaikinya.”
“Kita tidak rusak.”
“Kita bisa menggabungkannya kembali.”
“Itu bukan penggabungan.”
“Itu penghapusan.”
Arkana terdiam.
“Dan aku tidak akan menghapus diriku sendiri agar kamu merasa lebih nyaman.”
“Itu tidak adil.”
“Benar.”
“Ini berbahaya.”
“Benar.”
“Kamu bisa kehilangan kendali.”
Elara tersenyum.
“Aku baru saja mendapatkannya.”