BAB 2

1497 Kata
Pak Endang menghapus air mata palsunya untuk Dini. “Jika dengan kelembutan Kamu tidak menurut. Terpaksa Aku akan berbuat kasar demi mengamankan pekerjaanku.” Perlahan dengan pandangan yang sudah rabun, Pak Endang membuntuti Dini hingga ke rumahnya. Terlihat rumah cukup besar namun sederhana dengan halaman yang cukup luas nan asri. “Di sini rupanya Kamu tinggal.” Ujar pak Endang bersembunyi di balik pohon. Dering suara Hp. “Gawat si Bos.” Menerima panggilan dari bos Bowo. “Di mana Kamu?” Marah. “Sedang membuntuti si Dini bos.” Gugup. “Jangan hanya membuntuti, culik saja sekalian.” “Sabar bos. Kita harus main cantik. Kita tidak boleh berbuat kriminal bos.” “Apa maksudmu?” “Saya ada rencana Bos.” “Apa?” penasaran. “Saya sudah tahu Rumah wanita incaran Bos.” “Aku tidak butuh rumahnya. Cepat Kamu masuk dan bawa wanita itu.” “Sabar Bos, dengarkan dulu rencana Saya.” “Apa?, Jika gagal Kau tidak akan bisa keluar dari kota ini.” “Kita harus melakukan pendekatan dulu bos.” “Banyak omong Kau. Aku beri Kau waktu 3 hari, jika Kau tidak bisa membawa wanita itu ke hadapanku, Kau akan pulang ke kampung hanya tinggal nama.” “Jangan seperti itu Bos.” Panggilan telepon di akhiri secara paksa oleh Bowo. Pak Endang tidak henti – hentinya mengumpat “Dasar pria tua, malah di matiin lagi teleponnya.” Pak Endang kebingungan. “Orang kaya kalau sudah ada maunya suka bikin repot semua orang, padahal yang punya duit itu istrinya. Dia hanya numpang hidup saja sudah begitu kelakuannya. Apa lagi kalau uang yang dia miliki hasil kerja kerasnya, bakal habis wanita di dunia ini dan menjadi selirnya.” Ujar Pak Endang mengumpat sambil melihat telepon genggam miliknya dan pergi meninggalkan rumah Dini. Di sisi lain Bowo tidak mau menunggu lama, Dia tidak henti - hentinya mengumpat dan kembali berpikir serta mencari cara agar bisa mendapatkan dan memiliki Dini. “Aku sebelumnya tidak pernah seperti ini jika melihat perempuan. Dia memang berbeda dari wanita lain yang pernah Aku temui, dan Aku rasa laki – laki lain merasakan hal yang sama denganku.” Ujar Bowo sambil tersenyum kecil membayangkan wajah Dini. “Aku tidak percaya jika rencana si Endang akan berhasil.” Bowo mengambil Hp miliknya dan menelepon Diki. “Halo Ki, Kamu di mana?” “Saya lagi di Resto bos. Ada apa?” “Cepat ke rumahku sekarang.” Ujar Bowo tegas. “Saya akan ke sana nanti bos, sudah tutup Resto bos, di sini sedang ramai pengunjung.” “Saya tidak peduli, jika perlu tutup saja Resto sekarang. Yang penting Kamu sekarang datang ke rumahku. Cepat!” Diki menutup teleponnya. Tanpa basa – basi Dia bergegas pergi meninggalkan area Resto. Sebisa dan secepat mungkin Diki mengajak lari tunggangannya, hingga sesampainya di rumah Bowo ,Diki di hadapkan dengan sosok pria tua yang tengah menunggu dengan wajah kesal. “Lama sekali Kamu sampai. Jarak dari resto ke sini hanya 10 menit, kenapa Kamu bisa sampai ke sini dengan waktu 30 menit.” “Saya harus melakukan overhandle dulu bos, Resto sedang penuh dengan pengunjung.” “Aku tidak menerima alasan, Kamu tetap salah bagiku.” “Tapi bos...” “Sudah tutup mulutmu, jika salah ya salah. Sudah Aku tidak mau membahas hal ini lagi. Aku menyuruhmu ke sini ada hal yang sangat penting.” “Ada hal apa bos?” “Pekerjaan ini cukup kotor, bahkan termasuk tindakan Kriminal.” “Maksud bos?” Mengerutkan dahi. “Kamu harus menculik seseorang untukku.” Ujar Bowo tegas. Diki terdiam. “Siapa Bos?” “Wanita idamanku.” “Yang mana lagi bos?, Bukannya bos sudah memiliki semua yang di inginkan termasuk wanita yang sebulan lalu bos nikahi.” “Jangan terlalu keras, nanti Istri tuaku mendengar.” Ujar Bowo berbisik. “Lalu siapa lagi yang bos maksud?” Diki kebingungan. “Ini wanita sangat berbeda, belum pernah Aku segila ini terhadap satu perempuan, wajahnya begitu cantik natural, postur tubuhnya tinggi dengan lekuk badan yang indah.” Ujar Bowo. Dalam Hati Diki mengumpat. “Bukannya setiap ada wanita cantik, bos selalu ingin memilikinya. Kamu ini sudah uzur, orang tua sepertimu harusnya memikirkan bekal kematian bukannya terus mencari wanita. Sisakan untuk Aku satu Bos, Dasar serakah.” “Sebutkan saja ciri – ciri wanita itu Bos.” Ujar Diki. “Kamu yakin mau menerima pekerjaan kotor ini.” “Asalkan bayarannya sesuai aja bos.” “Kamu mau apa?” “Bos nawarinnya apa dulu?” “Rumah dua lantai, dan mobil.” “Mobil yang mana bos?” Diki tersenyum. “Terserah Kamu, pilih salah satu dari 8 mobil milikku.” “Jangan bercanda bos, mobil bos mahal semua.” “Kamu ini!, Kapan Aku pernah bercanda, Kamu ini tidak level untuk berguyon denganku.” Mendengar hal Itu Diki terdiam, dalam hatinya ada sedikit rasa sakit tentang perkataan dari Bowo, Namun Diki mencoba sabar dan memahami sifat dari Bowo yang berbicara semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain. “Ya sudah bos, siapa nama wanita Itu?” “Namanya Dini. Untuk lebih jelasnya sekarang Kamu pergi tanyakan ke si Endang. Dan Ingat Aku tidak mau mendengar kata gagal dan Aku ingin si Dini ada di rumah ini 3 hari dari sekarang dan jangan sampai menggores kulit halusnya. Camkan itu!” Diki hanya mengangguk, dan bergegas pergi menemui Pak Endang yang sama – sama tengah kebingungan. Mereka berdua pun berjanjian di suatu tempat, tepatnya di Hotel ternama di kota itu. Diki dan Pak Endang duduk di satu meja, mereka berdua saling menatap dan Pak Endang menjelaskan semua secara rinci, baik tempat tinggal dan ciri – ciri orang bernama Dini itu. “Apa benar ada wanita secantik Itu?” Ujar Diki penasaran. “Aku juga tidak menyangka, tapi mataku ini tidak bisa di bohongi, mataku bisa di katakan rabun tapi tetap jelas jika melihat wanita cantik. Apalagi si bos, sejauh apa pun jaraknya, jika ada wanita cantik Dia pasti bisa mengendusnya dan pasti mendapatkannya.” Ujar Pak Endang. “Tapi Aku sedang kebingungan dan tengah mencari cara untuk memenuhi permintaan bos Kita, waktu yang di berikan hanya 3 hari, susah kalau jadi orang pesuruh seperti Kita.” Ujar Diki memegangi kepalanya. “Memang gila orang Itu, mentang - mentang punya harta, bertindak semaunya saja.” Ujar Pak Endang. “Sudah Itu tidak membantu.” Ujar Diki kesal. “Tapi Kamu juga setuju kan tentang kelakuan bos kita?” Tanya Pak Endang. “Ia memang.” Ujar Diki mengangguk. Lalu Pak Endang teringat jika Dini memang sedang mencari pekerjaan. pak Endang langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Diki tanpa Kata. “Mau ke mana Pak?” Ujar Diki menatap ke arah pak Endang. Diki pun mengikuti Pak Endang hingga area lobi. “Mau apa pria tua itu di lobi Hotel, bukannya bantu mikir malah ngobrol sama karyawan Hotel.” Cukup lama Pak Endang berbincang hingga membuat Diki kesal dan memutuskan untuk kembali ke mejanya. Satu jam berlalu. “Dari mana saja Pak?” Tanya Diki ketus. Pak Endang tersenyum dan duduk. “Bukannya bantu malah, menggoda karyawan Hotel.” Ujar Diki kesal. “Aku memang menggodanya. tapi untuk membantu Kita.” Ujar Pak Endang tersenyum. “Maksudnya?” mengerutkan dahi. “Aku memintanya untuk menelepon Dini dan menawarkan pekerjaan untuknya.” “Lalu?” “Bodoh Kamu. Ya jika Dia datang ke Hotel ini Kita lebih mudah menangkapnya. Kita sekap saja di salah satu kamar Hotel. Lalu kita telepon si bos. Biarkan Dia lanjutkan tujuannya di sini. Kita bisa pulang dengan tenang.” Ujar Pak Endang. “Yakin akan berhasil?” “Coba saja dulu, cuma karyawan Hotel itu minta bayaran cukup mahal.” “Berapa?” “Dia meminta kita membayarnya sebanyak 300 juta.” “Wah gila, kita saja belum tentu di bayar sebanyak Itu.” Ujar Diki berbohong. “Tenang, Aku yang akan bilang ke si bos.” Ujar Pak Endang. Diki terdiam sejenak, dalam hatinya kembali bingung, antara dikejar waktu tiga hari dan ketakutan akan kehilangan bonus jika melibatkan orang lain. “Jangan bilang ke si bos!, bahaya.” “Bahaya bagaimana?” “Karier kita akan tamat, jika si bos tahu kita malah meminta bantuan orang lain.” Pak Endang terdiam. “Bukan hanya karier, tapi keselamatan Kita akan terancam.” Ujar Diki mengancam. “Lalu bagaimana?” “Kita tetap jalankan rencanamu, tapi Aku yang akan tanggung jawab dengan uang bayaran untuknya.” “Kamu punya uang dari mana?” “Ada!, Nanti Aku jelaskan.” “Jangan main – main Kamu, Ini bukan uang sedikit, gaji kita juga selama satu tahun tidak akan cukup untuk membayar sebanyak 300 juta.” “Sudah jangan di pikirkan, fokus saja pada pekerjaan kita. Kita sedang di kejar waktu, jangan sampai Kita berdua habis jadi bulan – bulanan pria tua itu.“ Ujar Diki tersenyum Pak Endang dan Diki dalam hatinya masih menyimpan keraguan dan ketakutan yang sangat mendalam, terutama ancaman – ancaman yang di berikan Bowo memang tidak pernah gagal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN