“Apa itu tadi, Zai?” tanya Hilya tak sabar.
“Tenang dulu, Nek. Pasti ada kesalahpahaman di sini,” ujar Arisha mencoba meredakan emosi Nenek. Dia menoleh pada Zaina, lalu mengedipkan mata.
“Bukan apa-apa, Nek. Kak Barra cuma mau bisikin sesuatu. Kak Khafi saja yang terlalu curiga.” Zaina melirik sang nenek yang melebarkan mata.
“Apa Barra melakukan sesuatu padamu?”
“Memangnya Kak Barra bisa ngelakuin apa? Kalaupun ada yang jail, itu pasti aku. Iya, kan? Nenek kayak enggak kenal Kak Barra saja.”
Zaina menelan ludah. Apa yang dia katakan memang benar. Setiap ada kejadian yang melewati batas, selalu dia sumber masalahnya. Barra mungkin suka menggoda, tetapi tidak cukup berani untuk melakukan tindakan tak pantas padanya. Dialah yang terus melangkah tanpa berpikir panjang akibat dari tindakan tersebut.
Sama seperti dengan kejadian barusan. Zaina tidak tahu apa alasan Barra mendekatkan diri. Ketika pria itu begitu dekat, dia refleks menutup mata tanpa mengetahui tujuannya. Entah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Barra. Mengapa Barra terus bertindak begitu?
Setelah kepergok oleh Khafi, Barra dibawa pergi entah ke mana. Sementara Zaina disidang oleh sang nenek dan kakak iparnya. Jujur saja, gadis itu sedikit khawatir pada nasib Barra. Khafi orang yang sangat tegas dalam segala hal. Meski begitu, dia tidak akan memperlakukan Barra dengan buruk, bukan?
Kalau ada yang memahami Khafi dengan baik, orang itu sudah pasti Barra. Mempertimbangkan semua sikap Barra, mestinya Khafi tidak begitu mempermasalahkan hal ini. Toh, tidak ada yang terjadi antara Barra dan sang adik. Kepala mereka hanya saling berdekatan.
Kemudian, ada bisikan yang mengganggu. Jika Zaina saja salah menilai perlakuan Barra, mungkin orang lain juga bisa begitu. Dia berada tepat di depan Barra dan seharusnya tahu bagaimana ekspresi pria itu. Namun, dia malah mengikuti insting tanpa pertimbangan. Dia bahkan tidak memikirkan apa yang dilakukannya benar atau salah. Apa yang memenuhi kepalanya tadi?
Orang lain yang menyaksikan kedekatan Zaina dan Barra dari jauh mungkin akan lebih salah paham. Posisi keduanya terlalu mencurigakan. Siapa pun bisa menyimpan prasangka. Entah mau buruk atau sebaliknya. Kenapa juga Zaina tidak menghindari Barra? Malah terkesan menantikan kelanjutan tindakan pria itu.
“Sepertinya itu masuk akal. Pria seperti Barra tidak akan melakukan tindakan yang melewati batas kesopanan. Iya, kan?”
“Nenek betul. Aku juga setuju,” timpal Arisha, lalu tersenyum meyakinkan.
“Tapi, Kak Khafi enggak bakal ngapa-ngapain kak Barra, kan?”
“Mereka sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalah ini. Kamu tidak usah ikut campur. Sebentar lagi mereka akan tertawa bersama.”
Mendengar ada kata “dewasa” dalam kalimat Nenek, Zaina mengkeret. Apa dia masih saja dianggap sebagai anak kecil? Kapan semua orang akan memperlakukannya sebagai wanita dewasa? Apa dia harus menunggu sampai mencapai kepala tiga seperti Khafi dan Barra?
Padahal Zaina sudah memiliki kartu tanda penduduk. Dia tidak dianggap anak oleh negara. Lagi pula, bukankah umur hanya angka. Kedewasaan tidak dilihat dari umur seseorang. Melainkan dari cara mereka memandang dunia ini. Jadi, bukankah sedikit berlebihan kalau masih ada yang menganggap Zaina sebagai anak kecil?
Kalau sudah membicarakan mengenai dewasa, Barra pasti akan memenangkan gelar itu. Dia penuh dengan nasihat-nasihat yang digunakan untuk melindungi seseorang. Lalu, kenapa hati Zaina terasa tidak nyaman? Apa sebenarnya yang dia harapkan setelah membuat keributan?
“Sudah malam. Nenek capek sekali. Istirahat saja. Tidak ada gunanya menunggu Khafi dan Barra. Mereka akan sangat lama.”
“Nenek istirahat saja dulu,” kata Arisha. “Aku temani Nenek ke kamar?”
Nenek mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum. Dia tidak mengatakan apapun lagi dan berjalan pelan menuju kamar. Zaina sekarang sudah mulai bernapas dengan normal. Dia tidak perlu mencari alasan untuk menghindari hukuman. Sumber masalahnya sudah pergi.
“Sekarang kamu mau ngomong?”
Bagaimana bisa Zaina lupa kalau ada Arisha di sana. Sama seperti Khafi, sang kakak ipar juga sangat suka menginterogasi seseorang. Meski tidak pernah memaksa, dia punya beberapa cara untuk memancing seseorang mengatakan yang sebenarnya. Apa yang harus dia katakan untuk menghindari masalah?
Melihat bagaimana cara Arisha menatap Zaina, pasti dia sudah memiliki cara untuk memancing kejujuran sang adik ipar. Dia meneliti setiap jengkal wajah Zaina. Mungkin sedang memastikan benar atau tidak sikapnya.
“Ngomong apa? Bukannya tadi sudah?” Zaina mencoba tersenyum.
“Tidak usah menghindar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kamu sebal pada Kak Barra, kenapa kalian malah dekat seperti tadi?”
“Aku memang masih sebal,” ujar Zaina dengan suara meninggi. “Karena itu, aku harus menyelesaikan semua urusan, bukan?”
Kening Arisha mengerut. Zaina meringis. Dia memandang jauh ke depan dan bertanya-tanya mengenai apa yang dialami oleh Barra. Meski tahu kalau itu tidak berguna, dia tetap melakukannya. Dia sungguh ingin tahu apa yang dilakukan oleh Barra dan sang kakak. Apa pun itu, semoga mereka tidak apa-apa.
Gerakan Barra saat mendekatkan wajah pada Zaina begitu mengesankan. Zaina lagi-lagi harus terpengaruh oleh hal itu. Padahal sudah berulang kali tergoda dan akhirnya mendapatkan kekecewaan. Akan tetapi, dia tetap menginginkan pertemuan dengan Barra sebelum memejamkan mata.
Hanya saja, tampaknya keinginan itu tidak akan terwujud. Selain karena ini sudah sangat larut, ada Arisha bersamanya. Apa sebaiknya dia pura-pura mengantuk dan menunggu di kamar? Jika mendengar suara Barra, dia akan tetap memenuhi dunia dengan celoteh yang dianggap tidak tahu aturan.
“Sudahlah. Kita tidak akan membahas mengenai kakakmu lagi.”
“Oke.” Zaina bersorak dalam hati. “Apa Kakak akan menginap malam ini?”
“Rencananya tidak, tapi entah jika kakakmu berubah pikiran.”
Kedua sudut bibir Zaina terangkat. Lebih baik dia diam sebelum mengatakan sesuatu yang akan dia sesali. Berbicara dengan Arisha juga harus sangat berhati-hati. Dia tidak mau terlihat sangat berharap pada Barra. Bagaimana kalau berita mengenai lamaran Barra tersebar? Bukankah dia akan terlihat begitu menyedihkan.
***
“Sebaiknya kamu memberikan alasan yang memuaskan,” ujar Khafi tajam.
“Alasan yang memuaskan? Alasan seperti apa yang kamu mau?”
“Jangan main-main. Kita memang bersahabat. Bahkan sudah seperti saudara. Tapi aku tidak akan memaafkan kalau kamu sampai melakukan hal memalukan pada Zaina.” Kedua mata Khafi membesar.
Untung saja Khafi cepat menyadari keadaan. Dia menoleh tepat waktu. Meski mencoba untuk tetap tenang, dia tetap saja ingin meledak. Seperti sekarang. Dia mengepalkan kedua tinju sambil menatap Barra penuh perhitungan. Jika Barra berani menyangkal perbuatannya, dia tidak akan melepaskan pria itu.
Khafi tidak keberatan dengan sikap Barra yang terkadang suka menggoda wanita. Dia tahu betul kalau itu hanya sekadar hiburan bagi sang sahabat. Namun, lain cerita jika sasaran Barra adalah sang adik, Zaina. Mana bisa dia tinggal diam menyaksikan adiknya diperlakukan tidak pantas?
Yang lebih membuat Khafi emosi adalah kenyataan jika Zaina tidak menghindar. Seakan sang adik memang menginginkan hal ini. Dia bahkan bisa melihat ada kekecewaan di wajah Zaina saat melihat dirinya. Sebenarnya apa yang sudah dia lewatkan beberapa hari belakangan?
Semua terlalu mendadak dan Khafi masih belum bisa menyimpulkan. Dia perlu beberapa waktu untuk menenangkan pikiran. Otaknya mengepul hanya karena melihat kejadian tadi. Kalau menuruti kata hati, dia pasti sudah memberikan pukulan pada Barra. Bukan malah membawanya ke ruangan ini dan menginterogasi.
“Aku hanya ingin membisikkan sesuatu pada Zaina. Kamu berlebihan.”
“Jangan coba-coba mengelak. Aku bisa melihat kalau ada niat lain di matamu itu.” Khafi menunjuk kedua mata Barra dengan telunjuk dan jari tengahnya.
“Memangnya apa yang kamu lihat? Apa yang kamu tahu?”
“Jangan membuatku marah, Bar. Walaupun kita sudah bersahabat lama dan kamu sangat dekat dengan Zaina, tapi bukan berarti kamu bisa memanfaatkan dia.”
“Aku? Memanfaatkan dia? Kata-katamu terlalu kasar.” Barra masih ingin mengulur waktu. Dia tidak tahu apa harus mengatakan yang sebenarnya pada Khafi.
Meminta restu sebagai calon adik ipar pada Khafi bukanlah hal mudah. Sifat tegasnya tidak akan pernah berubah sedikit pun. Kalau Barra salah memilih kata, bisa-bisa dia akan diperintahkan untuk menjauhi Zaina. Jadi, dia masih berperang dengan semua suara yang ada di kepala. Keputusan apa yang tepat?
Salahkan tubuh Barra yang sulit untuk dikendalikan. Pikirannya sangat kacau setiap kali melihat Zaina berdandan sedikit saja. Mungkin memang akan lebih baik jika dia menjauh dari gadis itu. Beruntung dia tidak membatalkan rencana kepergiannya. Dia harus menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.
Kalaupun Khafi mengizinkan, tentu tidak sekarang. Larangan pacaran sebelum menamatkan masa belajar adalah aturan mutlak. Tidak ada yang boleh membantah. Jadi, bagaimana bisa Barra membujuk Khafi dengan kata-kata. Namun, kalau tidak mengungkapkan isi hatinya, Khafi akan terus salah paham.
Setelah menekan Barra malam ini, Khafi pasti akan beralih pada sang adik. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jalan terbaik adalah mengaku. Lagi pula, kalau Barra tidak jujur, Khafi akan menyelidiki hal ini. Bukankah lebih gawat jika Khafi turun tangan memeriksa kebenarannya.
“Kalau begitu, jaga matamu dari dia. Dia masih muda. Jangan mengganggunya.”
“Baiklah. Aku rasa aku perlu meluruskan. Pertama, aku tidak mengganggu Zaina. Kedua, aku tidak memanfaatkan Zaina. Ketiga, dia memang paling dekat denganku.”
“Apa maksud poin ketiga itu?” tanya Khafi dengan kening berkerut.
“Bukankah sudah jelas? Dari semua orang yang ada di sekelilingnya, akulah yang paling dekat dengan dia. Kamu tahu itu, kan?”
“Jadi?” desak Khafi. Masih belum mengerti maksud Barra.
“Jadi, aku akan terus menjadi orang yang paling dekat dengannya.”
“Itu sudah pasti. Walaupun kamu sudah menemukan orang yang kamu sukai, dia akan tetap ...” Khafi berhenti sejenak, lalu menghela napas. “Katakan saja langsung. Jangan membuatku menebak-nebak. Aku sedang malas berpikir.”
“Wah! Ini hal yang menakjubkan! Seorang Khafi malas berpikir? Kamu yakin?”
“Apa kamu bermaksud membuatku bertambah marah?”
“Kamu sedang marah padaku?” Barra balik bertanya.
Khafi tersenyum miring. Dia memperhatikan Barra yang terlihat tidak takut sedikit pun. Sepertinya sahabatnya itu terlalu lama dibiarkan sehingga merusak prinsip yang dia buat selama ini. Sesekali, Barra memang perlu diberi pelajar. Apa hukuman untuk orang yang bersalah seperti dia?
“Kamu pernah mencium Zaina?” tanya Khafi tajam. Barra memutar bola mata.
“Apa menurutmu aku akan mencium seorang mahasiswi? Aku bukan orang yang suka melakukan tindakan berlebihan pada wanita. Kamu tahu betul kalau aku menghormati wanita mana pun. Atau kamu sudah lupa?”
“Lalu, bagaimana kamu menjelaskan tentang ekspresi Zaina saat aku memergoki kalian?” Khafi cukup yakin kalau Zaina sangat terkejut dengan kedatangannya tadi. Dia bahkan sempat melihat lirikan mata sang adik.
“Memangnya ada apa dengan ekspresi Zaina?” Barra masih belum mau mengaku.
“Zaina menyukaimu?” Pertanyaan membunuh itu akhirnya membuat Barra mematung. Menyadari perubahan sikap sang kawan, Khafi melotot. “Apa kamu sengaja memanfaatkan dia karena dia menyukaimu.”
“Aku sudah bilang kalau aku tidak memanfaatkan dia,” ujar Barra mulai kesal.
“Lalu, apa yang kamu lakukan padanya? Kenapa dia bisa suka padamu?”
“Bukankah jawabannya sangat mudah?”
“Jangan mengatakan omong kosong. Dia masih sangat muda, jadi ....”
“Jadi, aku akan menunggu dua tahun untuk melamarnya. Itu sebabnya aku ingin pergi. Aku ingin memberi ruang untuk Zaina agar bisa meyakinkan perasaannya.” Khafi membelalak. Dia sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua kalimat lenyap.