“Kamu pasti lagi kacau banget,” ujar Kamila melihat sang sahabat yang memakan es krim ke empatnya. Dia menggelengkan kepala.
Setelah kemarin ditinggal pergi oleh Barra, Zaina tidak ke mana-mana. Dia terus mengunci diri di dalam kamar. Keluar hanya untuk makan. Perkataan Hilya tidak pernah menembus dinding pertahanan gadis itu. Merasa lelah dengan sikap cucunya, Hilya menyerah dan membiarkan Zaina berbuat apa saja.
Di sisi lain, Zaina masih memikirkan mengenai cincin yang dilihatnya kemarin. Apa maksud pesan di dalamnya? Kenapa dia harus menjaga cincin itu? Masa depan apa yang sedang dibicarakan oleh Barra? Dia sungguh tidak bisa memahami tujuan Barra memberinya hadiah itu.
“Rasanya aku mau teriak sekencangnya sampai bebanku hilang. Atau seenggaknya kurang sedikit saja.”
“Cuma karena Kak Barra pergi?”
“Aku sedih bukan karena itu, Mil.” Zaina melahap sisa es krimnya, lalu mendekat pada Kamila. “Ini masalah kado yang dikasih sama Kak Barra.”
“Sudah kamu buka?” Kamila memperbaiki duduknya. Dia menghadap Zaina sepenuhnya. “Ayo, katakan. Apa isinya?”
“Cincin.”
Kamila yang tadinya sudah bersiap untuk mendengarkan dengan antusias, tiba-tiba terdiam. Dia mengerjap beberapa kali sambil menatap Zaina. Seolah apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Bagaimana bisa Barra memberikan sebuah cincin pada Zaina?
Dari sekian banyak hadiah, mengapa harus cincin? Kamila memang tidak begitu memahami masalah asmara, tetapi memberikan benda seperti itu pada seorang gadis adalah hal tabu, bukan? Apa lagi Barra sudah berencana melamar seseorang. Lalu, mengapa Barra menghadiahkan sebuah cincin di ulang tahun Zaina?
Pantas saja Zaina terlihat tidak bersemangat begitu. Mungkin karena merasa kecewa dengan hadiah yang diterimanya. Kalau Barra memberikan itu sebelum punya niat melamar, Zaina tentu akan sangat senang. Lain lagi kalau keadaannya sudah seperti ini. Bukankah sama saja menusuk Zaina dengan pisau tak kasat mata?
“Cincin? Kamu yakin enggak ngambil kota yang salah? Mungkin saja hadiahnya tertukar dengan hadiah kakak-kakakmu.”
“Enggak mungkin. Aku khusus nyimpan kotak itu di laci biar enggak dilihat sama orang lain. Mana mungkin aku salah ambil.”
“Tapi kenapa dia ngasih kamu cincin? Dia, kan, mau ngelamar ...,” Kalimat Kamila menggantung begitu melihat wajah Zaina yang mendung. “Maksudku, dia keterlaluan. Kamu yang sabar, ya.”
“Ada yang lebih aneh lagi, Mil.”
“Apa itu?” Kamila mendekat. Dia berharap akan ada kelanjutan dari hadiah itu.
“Di dalamnya ada pesan aneh yang ditulis sama Kak Barra.”
“Pesan aneh gimana? Wajar, kan, kalau orang nulis ucapan selamat ulang tahun di kertas? Apanya yang aneh coba?”
“Tapi di kertas itu enggak tertulis ucapan selamat, Kamila.”
“Terus apa yang dia tulis? Cepat katakan!”
“Dia minta aku jaga cincin itu buat masa depan kami.”
“Apa maksudnya? Masa depan kalian?” Kamila mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuk, mencoba mencari arti dari kalimat itu.
Usaha sang sahabat untuk mencari makna perkataan Barra membuat Zaina tersenyum. Dia menghela napas, lalu mengalihkan perhatian pada orang yang berlalu lalang. Siang ini, dia mengajak Kamila berbelanja sekaligus makan di sebuah mal. Setelah mengurung diri seharian, dia juga butuh udara segar.
Seperti biasa, mal selalu ramai. Zaina memperhatikan sekelompok gadis yang terkikik, sementara yang lainnya menceritakan sesuatu. Keceriaan di wajah setiap gadis membuatnya sedikit iri. Di sebelah mereka, ada sepasang kekasih yang saling menggenggam tangan. Mereka tersenyum satu sama lain.
Melihat betapa manisnya pasangan kekasih tersebut saling memandang, Zaina bertopang dagu. Dia ikut tersenyum. Alangkah indahnya kalau dia juga bisa melalui kejadian seperti itu. Bayangan sang gadis mulai dipenuhi gambaran wajah Barra yang mengusap rambutnya sambil memberikan senyum memabukkan.
Hanyut dalam lamunan seperti itu membuat Zaina terbang. Dia menari bersama Barra yang menatapnya penuh kasih. Ketika keduanya mulai mendekat, sebuah tepukan di pundak menggagalkan semua. Meski begitu, dia mencoba untuk tidak menghiraukan gangguan itu. Akan tetapi, dia kembali merasakan sebuah tepukan.
“Mau ngelamun sampai kapan?” Zaina menoleh. Semua bayangan indah ikut menghilang. Berganti dengan wajah Kamila yang penuh tanda tanya.
“Ganggu saja, sih,” ujar Zaina. Dia mengerucutkan bibir.
“Lagian kamu ngelamun di kafe kayak gini. Mau ngelamun di rumah saja. Jangan di sini. Kalau keterusan, terus dilihati orang, kan, malu.”
“Ya, ampun. Ngelamun sebentar saja enggak boleh,” kata Zaina sewot.
“Jangan sering ngelamun. Nanti kerasukan, lho.”
“Kamu doain aku?” Suara Zaina mulai meninggi. Mata Kamila melebar. Dia meletakkan telunjuk di bibir, lalu menarik-narik sang sahabat.
“Kamu kesambet atau apa, sih, Zai? Jangan-jangan kamu jadi stres gara-gara ditinggal Kak Barra. Hayo, ngaku!”
“Mau gimana lagi. Sekuat apa pun berusaha, aku tetap enggak bisa ngelupain Kak Barra. Aku malah semakin kesepian karena enggak pernah ketemu dia.”
“Kak Barra baru pergi kemarin kalau kamu lupa ingatan.”
“Iya. Tapi rasanya kayak sudah lama banget.” Zaina menengadah ke atas. Dia melukis wajah tampan Barra yang tersenyum padanya.
Kelakuan Zaina membuat Kamila menggelengkan kepala. Dia memang pernah membaca dalam sebuah novel kalau cinta terkadang membuat seseorang kehilangan akal. Ternyata hal itu benar-benar ada di dunia ini. Gadis itu menyaksikan Zaina menggerak-gerakkan telunjuk seakan ada sebuah buku besar yang bisa digambar.
Apa orang yang sedang jatuh cinta memang seperti itu? Atau hanya Zaina yang bersikap berlebihan? Kamila tidak tahu jawabannya. Dia tidak memiliki pengalaman apa pun dalam hal percintaan. Satu-satunya petunjuk yang bisa dia jumpai adalah setumpuk bacaan di kamar.
Sejujurnya, Kamila sekadar membaca novel sebagai hiburan. Dia tidak pernah benar-benar mengerti apa yang dibacanya selama ini. Kisah percintaan bagi dirinya sama seperti hiburan karena sang kakak tidak mengizinkan memiliki pacar. Mungkin itulah sebabnya dia juga tidak bisa mengerti bagaimana perasaan Zaina sesungguhnya.
Yang Kamila mengerti, Zaina sudah terlalu dalam mencintai Barra. Dia merasa iba pada sang sahabat yang memendam cinta selama ini, tetapi tetap tidak berujung bahagia. Dia pernah mendengar jika cinta pertama tidak akan pernah berhasil. Entah benar atau tidak. Yang pasti kisah Zaina memang tidak berakhir bahagia.
“Menurut kamu, siapa orang yang bakal Kak Barra lamar?”
“Eh, omong-omong soal lamaran, apa mungkin yang dikasih ke kamu itu cincin lamaran Kak Barra?” Entah dari mana pikiran itu datang. Kamila sendiri terkejut dengan perkataannya. Dia mengerjap-ngerjap ketika melihat Zaina mematung dengan mata melebar. Apa dia sudah membuat keadaan bertambah kacau?
“Maksud kamu, Kak Barra nitipin cincin lamarannya ke aku?” Wajah Zaina kaku ketika mengajukan pertanyaan itu. Dia tidak bergerak sama sekali. Bahkan matanya juga tidak berkedip. Bayangan ngeri mulai memenuhi kepalanya.
“Aku ... Maksudku ....”
Kamila memejamkan mata sambil memaki diri dalam hati. Sudah jelas kalau Zaina sangat merindukan Barra, dia malah mengatakan omong kosong. Sekarang, sang sahabat pasti akan semakin bersedih. Dia melirik Zaina yang masih bertahan di posisi semula. Apa sebaiknya yang harus dia lakukan?
Apa cara terbaik untuk membujuk seseorang yang kecewa karena cinta? Kamila sungguh tidak tahu apa-apa mengenai hal semacam ini. Dia memandangi Zaina. Dengan gerakan sedikit ragu, dia menepuk pundak sahabatnya. Sayang, Zaina tetap tidak menunjukkan keinginan untuk mengubah posisi.
Tidak mau menyerah, Kamila menepuk pundak Zaina sampai tiga kali. Barulah sang kawan menoleh. Kedua mata Zaina berkaca-kaca. Kamila berdoa semoga Zaina tidak menangis di sini. Secara ini adalah tempat ramai. Apa kata orang kalau Zaina sampai meneteskan air mata di hadapannya.
“Mungkin saja memang gitu, kan, Mil. Dia nitipin cincin itu karena aku yang paling dekat sama dia. Masuk akal juga,” ujar Zaina lemah. Kamila menghela napas.
“Aku enggak bermaksud buat kamu sedih atau apa, Zai. Aku juga enggak tahu gimana pikiran itu bisa tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku pasti sudah gila.”
“Enggak, kok, Mil. Aku memang terlalu berharap. Cuma ....”
“Cuma apa?”
“Kenapa Kak Barra bilang 'masa depan kita'? Apa coba maksudnya? Apa dia lagi main-main? Tega banget dia mainin aku kayak gini.”
“Dia ngelakuin itu karena enggak tahu kalau kamu suka sama dia. Jadi, dia enggak bakal nyangka kalau kamu bakal sesedih ini.”
“Tetap saja. Dia itu orang yang peka. Tapi kenapa buat hal kayak gini, dia malah enggak bisa nebak? Buat orang kesal, kan?”
“Siapa yang buat orang kesal?”
“Tentu saja,” Zaina berhenti, lalu mendongak. “Daniel?”
“Hai,” sapa Daniel. Dia bergabung bersama Zaina dan Kamila. “Aku gabung, ya. Bosan, nih, nungguin Mama sama Kakak belanja.”
“Eh, enggak masalah,” ujar Zaina sambil melirik Kamila yang berusaha tersenyum.
“Aku harap aku enggak ganggu kalian,” ujar Daniel tanpa rasa bersalah.
Kepala Zaina menggeleng-geleng. Kalaupun kedatangan Daniel sangat tidak tepat waktu, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Apa lagi ketika melihat wajah lelah pemuda itu. Dia tidak tega menolak kehadirannya yang tiba-tiba. Jadi, tidak ada pilihan selain membiarkan Daniel bergabung.
Agaknya Kamila juga memikirkan hal yang sama. Saat Daniel menoleh ke suatu tempat, gadis itu melirik Zaina yang juga merasa tidak nyaman. Sementara Daniel sama sekali tidak menyadari kesalahan yang dilakukan. Dengan santai, dia memesan minuman dan camilan pada pelayan.
Melihat gelagat Daniel, Zaina cukup yakin kalau pria itu akan berada di sini untuk waktu yang lama. Kalau tidak, Daniel tidak mungkin memesan, bukan? Sepertinya kebersamaan mereka selama membuat tugas membuat Daniel bertambah santai saat bertemu. Bahkan dengan ringan memainkan telepon seluler di tempatnya.
“Omong-omong, kalian tidak berlibur? Liburan kita masih panjang.” Daniel memulai pembicaraan. Zaina dan Kamila saling pandang.
“Kami belum tahu mau liburan ke mana. Lagi pula, kita tidak harus berlibur ke suatu tempat, kan?” Kamila mencoba menimpali.
“Gimana sama kamu? Mau liburan ke mana?” tanya Zaina.
“Rencananya mau ngunjungi nenek di luar kota. Mama sama Kakak lagi cari oleh-oleh buat keluarga kami di sana.”
“Iri sekali. Aku juga mau liburan,” ujar Zaina. Dia menggembungkan pipi. “Gimana kalau kita liburan juga, Mil?”
“Ke mana?” Kamila menanggapi dengan malas.
Terus terang saja, berada di dekat Daniel sedikit tidak nyaman bagi Kamila. Dia tahu kalau pemuda itu adalah pria baik. Mungkin hanya dia yang merasakan hal ini saat bersama dengan pria setampan Daniel. Padahal semua gadis selalu ingin dekat dengan sang pria pandai.
Daniel bukan seseorang yang menilai orang lain dari penampilan. Dia memang sangat pemilih dalam berteman, tetapi bukan karena kasta. Semua itu hanya untuk menjaga pergaulan. Tidak masalah berdekatan dengan setiap orang. Namun, bukan berarti dia akan menerima mereka sebagai sahabat.
Di hadapan Daniel, Zaina mencolek tangan Kamila yang berada di bawah meja. Refleks, Kamila menoleh. Meski begitu, dia berusaha tidak memperlihatkan keterkejutan di wajah. Mereka harus memikirkanmu cara agar bisa segera terbebas dari Daniel. Apa saja. Masih ada banyak hal yang harus dibicarakan dan Daniel mengacaukan segalanya.