"Pacaran kok virtual, itu darling apa daring?"
RA•
******
Cipa menghidangkan masakan diatas meja makan dengan rapi, seluruh anggota Ferdiansyah menatap menu makan malam hari ini dengan berbinar, entah rasanya seperti apa tadi terlihat menggiurkan.
Dengan cekatan, Cipa membagi rata pada piring masing-masing sesuai permintaan mereka, Io yang memang suka makan langsung melahap makanan walau masih berantakan.
"Enak, Kak," puji Arga dengan binar dimatanya walau wajahnya masih terlihat datar, berbeda dengan twins yang sudah makan dengan lahap setelah mereka membaca doa.
"Gimana?" tanya Cipa pada Bara yang duduk disampingnya.
"Melebihi masakan restauran." Bara dengan bangga memuji masakan Cipa yang terasa sangat nikmat.
"Ya udah diabisin ya," ucap Cipa yang diangguki semangat oleh semuanya.
Setelahnya selesai acara makan malam dan juga mencuci piring bersama, dengan sedikit kerusuhan mereka kini sedang duduk bersama diruang keluarga.
"Kakak kan katanya orang Semarang, kok bisa sampai sini?" tanya Derra penasaran, ia meletakkan buku ensiklopedia diatas meja dan menatap Cipa yang duduk lesehan disampingnya dengan memangku Io yang belajar membaca.
"Cerita nya kakak kabur dari rumah, ndak kabur sih cuma pergi karena pingen lihat dunia luar," jawab Cipa seadanya, ia kini sedang fokus pada si kecil Io.
"Sama kayak kita ya, bedanya kita ikut karena Daddy ngurus cabang kantor," ucap Della yang dibalas kekehan oleh Bara.
"Mom, Io ntuk mo bobo," ucap Io membalik tubuhnya sehingga menghadap kearah Cipa lalu memeluk tubuh Cipa dengan erat.
"Lho malah bobo, ayo kekamar biar badannya ga sakit," ucap Cipa sambil mengelus punggung Io, bukannya membangun kan tapi malah membuat Io semakin nyenyak.
"Kakak nginep aja, ayo ku anter kekamar nya Io," ucap Della menutup laptopnya dan berjalan menuju lantai 2 dimana kamar sang adik berada. Cipa segera berdiri dengan perlahan agar Io tak terbangun dan mengikuti langkah kaki Della dibelakang.
"Kakak nginep sini aja, nanti pinjem baju Daddy atau ke kamarku, ada di samping ya," ucap Della setelah membuka kan pintu untuk Cipa.
"Nanti kakak telfone ibu kos dulu ya," ucap Cipa pelan, ia menepuk-nepuk p****t Io dengan pelan saat anak itu menggeliat.
Setelah meresa Io tidak terganggu dan sudah tidur dengan lelap, dengan pelan Cipa beranjak dari sana menuju ruang keluarga dimana ia meletakkan seperangkat tas nya.
Segera ia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi ibu kost dengan cepat, mengabaikan tatapan bingung dari orang-orang yang masih disana. Bukan karena nanti ibu kost mencarinya, Bukan! Yang ia khawatirkan Salah Koko, ia takut Koko malah berulah dan membuat repot ibu kost.
Setelahnya, ia meraih tas nya dan berjalan menuju lantai 2 dimana kamar Io berada. Bara yang melihat itu segera beranjak dan berjalan mendekati Cipa.
"Bersih-bersih lah dahulu, nanti akan kukirim kan baju twins," ucap Bara saat langkah mereka sudah sejajar.
"Terima kasih," balas Cipa lalu masuk kedalam kamar, tepat diatas kasur, ia melihat tumpukan baju yang ia yakin milik twins. Ia meraih baju tersebut, melihat pakaian apa yang akan ia pakai.
Sebuah celana Levis panjang dan baju dengan seperempat potongan lengan juga tentunya sedikit tipis sehingga membuat kulit, bahkan dalaman baju yang kontras bisa terlihat, disana juga ada piyama panjang, tapi lagi-lagi kainnya berbahan tipis. Ia menduga bahwa Twins adalah orang yang mudah gerah dan tidak mau ribet, terbukti dari dua potong pakaian yang berada ditangannya.
"Pinjem baju Arga aja kali ya? Eh tapi Arga kan serem, masa pinjem mas Bara?" Dengan bingung dan penuh pertimbangan, setelah 10 menit ia hanya seperti gelandangan, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar Io dan mengetuk pintu Bara yang berada didepan kamar Io.
Tok tok tok
"Assalamualaikum, Mas," ucap Cipa setelah mengetuk pintu didepannya.
Tak lama, datang lah sosok Bara dari balik pintu seraya menjawab salamnya.
"Kenapa, Fii?" tanya Bara bingung.
"Ehm, boleh pinjam baju lengan panjangnya? Yang punya twins tipis," ucap Cipa pelan, bahkan jika Bara tak peka dan tidak memiliki pendengaran yang tajam, mungkin suara pelan itu hanya terucap untuk udara yang lewat saja.
"Sebentar ya," ucap Bara lalu kembali masuk kekamar dengan pintu yang masih terbuka, Cipa yang melihat itu hanya menunduk dan sekilas melihat kamar Bara yang luas melebihi kamar Io.
"Ini, kemeja untuk kamu," ucap Bara memberikan sebuah kemeja berwarna putih bergaris biru yang terlihat terlipat rapi.
"Terima kasih, maaf ngerepotin, assalamualaikum," ucap Cipa langsung pergi meninggalkan Bara yang hanya bisa menatap pintu kamar Io dimana Cipa tadi menghilang.
********
Setelah selesai dengan acara ritual mandinya, kini Cipa berjalan menuju kasur dan berbaring di samping Io yang masih asik di alam mimpi.
"Ih kamu gemoy banget sih," ucap Cipa dengan gemas.
Ia melirik jam dinding yang tergantung di dinding menunjukkan jarum pendek di angka 5 membuat Cipa hanya bisa pasrah, tidak mungkin bukan jika ia membangun Io sekarang? Lebih baik ia turun ke dapur untuk membuat sarapan.
Sesampainya ia di dapur, ia melihat hanya beberapa maid yang sedang membersihkan rumah yang super super besar ini. Cipa membuka kulkas dan melihat apa saja yang ada dan apa saja yang bisa diolah untuk dijadikan sarapan.
Dengan telaten ia mengeluarkan beberapa sayuran dan juga bahan dari kulkas lalu berjalan ke arah freezer box yang berisi semua jenis daging baik ayam, ikan maupun sapi. Ia mengambil ayam bagian ceker juga daging lalu mulai meracik sarapan untuk pagi ini.
Sup sayur dengan ceker didalamnya juga ia menggoreng ayam juga sosis.
"Non Siapa," panggil seorang maid yang kaget melihat keberadaan tamu tuannya sedang masak.
"Eh? Bibi. Cipa masak sup buat sarapan, Bi. Bibi mau nyoba?" tawar Cipa dengan tangan mengambil mangkok kecil dan menuangkan sup didalamnya.
"Enak, Non," puji Bi Ika yang tengah menikmati sup buatan Cipa.
"Enak banget. Tapi biasanya tuan Bara kalo pagi gak pernah sarapan, biasanya beliau hanya minum kopi saja," ucap Bi Ika membuat Cipa mengerutkan keningnya bingung.
"Aish! Sarapan itu penting lho, bisa ya cuma sarapan kopi, kuat banget lambungnya," ucap Cipa dengan greget.
"Eh udah jam 6, Bi. Cipa mau bangunin Rio dulu," ucap Cipa setelah selesai menata hasil masakannya dengan sempurna di meja makan.
"Silahkan, Non," ucap Bi Ika yang langsung diangguki oleh Cipa lalu ia berjalan menuju kamar dimana Rio berada.
"Hari Sabtu ya sekarang? Koko udah bangun belum ya?" Dengan hati bertanya-tanya dan bimbang memikirkan apakah kucing yang sudah ia angkat menjadi anak itu masih bernapas, pasalnya, jika Koko tinggal sama ibu kos bisa seharian Koko tidak akan keluar kandang alias hanya rebahan saja atau bisa jadi malah keluyuran tidak pulang untuk mencari janda.
Ngomong-ngomong, sudah 3 hari ini ia belum sempat pergi ke dokter untuk periksa kesehatan juga beberapa penyakit ringan yang ia alami, biasanya ia akan pergi tiga Minggu sekali atau saat butuh saja, tapi karena memang banyak kerjaan juga sekarang ada makhluk kecil nan menggemaskan selalu bersamanya, membuat ia sedikit tak bisa meluangkan waktu sedikit pun.