4. House of Gold

2133 Kata
Kata Saphira, Papa kritis. Orang sehat jatoh di kamar mandi aja bisa fatal akibatnya. Lha ini papa gue yang lumpuh, yang pankreasnya udah gak bisa produksi insulin dalam jumlah banyak, yang sudah tua dan semalem baru aja ngasih pesan ke gue. Gimana gue gak panik??? Gue melihat keluarga gue ada di koridor rumah sakit, mukanya pucet semua. "Ulfa mana?" Tanya gue saat sampai. "Dititip ke tetangga, kan anak di bawah 12 tahun gak boleh masuk Bang." Ujar Fira. Gue mengangguk. "Papa gimana?" Tanya gue. "Gak tau, dokternya belum keluar." Ujar Fira. Gue berjalan mendekati Mama, lalu duduk di sampingnya. Gue peluk dulu Mama yang ternyata badannya dingin banget. "Ma? Mama pulang ya? Biar Eza aja yang nunggu Papa." Kata gue, tapi Mama menggeleng. "Tadi ke sini naik apa Dek?" Tanya gue. "Mobil Abang, Fira nyetir tadi." Jawabnya dan gue mengangguk. Sejujurnya, gue tegang banget ini. Gue tau kalo Mama itu sayang banget sama Papa, gue tau kalo Mama pasti takut Papa kenapa-kenapa. Gak cuma Mama, gue juga, gue yakin Fira juga ngerasa hal yang sama. Dan tentu saja, semua orang yang ada di posisi ini merasakan hal yang sama. Gue berusaha menegarkan diri. Gue gak boleh ikutan lemah saat keluarga gue lemah juga, gue kan anak laki. Sekian puluh menit duduk sambil mengusap-usap punggung Mama, seseorang keluar dari ruang IGD. Gue langsung berdiri, begitupun Mama dan Fira. "Pasien masih dalam massa kritis, belum bisa diganggu, kondisinya masih terus dipantau oleh tim saya, mohon doanya yaa Mas, Bu, Dik." Ujar si dokter, gue sedikit lega, ya lega, setidaknya si dokter tidak mengucapkan 6wordsmith like 'maaf, kami sudah melakukan yang terbaik' kan kalo gitu end berarti. "Jadi kita cuma bisa nunggu dok?" Tanya gue. "Yaa, dan berdoa. Sebentar lagi pasien akan kami pindah ke ICU." Ujar si dokter, lalu ia meminta kami untuk mengurus berkas-berkas, gue langsung sigap dan meminta Fira untuk jagain Mama. Setelah semua masalah administrasi selesai, gue berjalan ke ruang ICU, gue liat Mama dan Fira di koridor, duduk di kursi besi tunggu yang disediakan. "Papa udah masuk Ma?" Tanya gue. "Udah Bang," "Yaudah, biar Papa ditemenin sama Abang aja ya, kamu ajak Mama balik, udah kemaleman, kasian Ulfa masih dititip." Kata gue. "Kamu aja Za yang pulang, Fira juga. Eza besok kerja, Fira kuliah, Mama bisa di sini temenin Papa." Sahut Mama. Gue menggeleng. Gue belum gila untuk biarin Mama gue yang sudah kepala lima ini jaga di rumah sakit sendirian. "Kalo mama mau di sini, yaudah, Eza temenin." Kata gue. Mama mengangguk. "Dek, kamu ke parkiran, di motor Kakak ada jaket, ambilin, buat Mama, nanti makin malem takut makin dingin." Kata gue sambil memberi kunci motor. Saphira mengangguk lalu bangkit dan berjalan menjauh dari tempat ini. Mama di samping gue mulai terisak, gue langsung menarik Mama ke dalam dekapan gue. Membiarkannya menangis di d**a gue. "Papa kuat Ma, kecelakaan yang lebih parah aja pernah Papa alamin, he'll survive." "Kecelakaan dulu, Papa kehilangan kakinya, Mama takut kecelakaan ini, kita yang kehilangan Papa." "Engga Ma, Eza yakin Papa bakal bertahan, buat kita, buat Kak Qila juga. Papa kan kangen sama Kak Qila." "Kakak udah kamu kabarin?" Tanya Mama. "Udah Ma, tapi gak ada balesan." Mama hanya mengangguk, tak lama Fira datang membawa jaket, gue menerima jaket tersebut lalu membantu Mama memakainya. "Fir kamu pulang aja Dek, jagain Ulfa ya?" Ujar Mama. "Aku pake motor Abang aja ya? Ini kak kunci mobilnya!" Fira memberikan kunci mobil dan gue memberikan dia stnk motor kesayangan gue itu. *** Papa masih dirawat, yang jaga gantian antara gue dan Fira, Mama gue paksa pulang untuk istirahat, sekalian jagain Ulfa, sementara itu, gak ada balesan sama sekali dari kakak gue. Di kantor, anak-anak bilang gue kaya orang gila, ya gimana gak gila kalo Papa gue sudah 2 hari gak sadar? "Gan, lo apaan banget sih!" Seru Andre saat masuk ke ruangan gue. "Apaan?" Tanya gue. "Lo daripada kerja gak jelas gini, mending minta izin gih ke Lia." Ujarnya, sambil duduk di kursi dihadapan gue. "Gue udah minta izin buat bulan depan, Dre, udah disetujui sama Pak Prya, gue minta maju, gak bisa. Kesel gue!" "Yaudah kerjaan lo kasih ke kita-kita aja, lo balik cepet aja, paling potong uang makan, yang penting kerjaan beres dah, entar gue aja yang laporan ke Bu Indri." "Bener yaa??" tanya gue memastikan. "Iya bossque!" "Papa kamu kamu sakit Za?" Gue dan Andre menoleh, Lika ada di depan pintu. s**t lah, kenapa dia bisa tau?? Kan yang gue kasih tau Andre sama Lia doang. Dan, kenapa juga sih dia masih aku-kamu-an, gak mempan yaa gue nasehatin baik-baik, masa kudu dikasarin terus?? Ini anak satu bikin gue sakit kepala aja bisanya! "Eh mbak Lika, sini mbak, duduk dulu." Ujar Andre. Sontoloyo emang ni bocah satu. Lika masuk ke ruangan gue, duduk di samping Andre, mukanya sok-sokan panik gak jelas gitu. "Tadi Andre bilang kalau Papa kamu sakit, sakit apa?" Tanyanya. Ohhh Andre si mutan LDR ini yang bocorin sakitnya Papa gue. Kurang diajar emang ini anak kambing satu. "Lo kenapa bocor sih Ndree?" Tegur gue langsung saat gue melihat Lika mau buka suara. "Eh? Ya orang nanya kan gue jawab." Gue kesel sih kalo kaya gini, tapi yaudah lah, masih ada hal penting lain yang harus gue urusin. Bodo amat deh si Lika mau kaya gimana juga, gak peduli. "Dre, lo urus ya? Gue mau balik cepet." Kata gue, Andre mengangguk lalu gue pergi meninggalkan ruangan. **** "Fir, kalo Lika nanya Papa dirawat di mana, jangan kamu jawab ya!" Kata gue saat gue datang untuk berganti giliran jaga. "Eh??" "Kamu udah bilang?" "Belum sih, tapi Kak Aya dari kemarin nelefon, cuma pas aku lagi sibuk Bang, jadi gak keangkat." "Yaudah bagus, gausah diangkat." Kata gue. "Bang Eja masih cinta sama Kak Aya?" "Abang heran, kamu tau gimana Abang dulu, kenapa kamu santai aja sih dia muncul lagi?" Tanya gue. "Abang udah gak cinta sama Kak Aya?" "Fir bisa gak jangan panggil dia Aya? Panggil Lika aja." Pinta gue. "Eh?" "Please!" "Yaudah iya Kak Lika. Jadi Abang sama Kak Lika gimana sih?" Tanyanya. "Cuma partner kerja, gak ada apa-apa lagi." Jelas gue. "Kak Lika udah balik, orang tuanya tau?" "Dek, jangan bahas dulu ya? Abang mau fokus sama Papa." Gue merebahkan diri di sofa. Gue amat sangat gak mau mengingat kejadian buruk di masa lalu. Rasanya sudah cukup, gue gak mau mengenang itu lagi. "Oke deh Bang!" **** Eragon's dragon calling... Ponsel gue bergetar dan nama Saphira muncul di layar, baru aja gue mau ngegas mobil buat jemput Papa. Kata Fira, Papa udah baikan dan boleh pulang. Yaak, puji syukur Papa sudah sadar. "Kenapa Fir? Sabar dong, baru mau jalan ini." Ujar gue menjawab panggilannya. Ya, Saphira yang di rumah sakit urus Papa dan administrasi, gue di rumah ambil mobil dan sampein kabar bahagia ini ke Mama. "Bang, Papa meninggal." Ujar Fira, suaranya tercekat menahan tangis. Gue diem. Gak. Gak mungkin. Papa mau pulang. Kata dokter Papa membaik. Papa mau pulang. Ke rumah. Tidur lagi sama Mama di kamar. Gak mungkin Papa meninggal. "Bang?!!!" Seruan itu menyadarkan gue kembali. "Bohong!" "Abang!" Jeritnya Fira, kemudian suara tangisnya. "Abang kesana Dek, sekarang." Gue melempar ponsel gue ke jok penumpang, saat gue bersiap akan menginjak gas, gue teringat Mama. Gue harus gimana dulu ini?? Jemput Papa? Apa kasih tau Mama yang lagi happy di dalem rumah? Oke, mending gue ke Mama dulu. Kan makin syok kalo gue pulang cuna bawa jenazah. Ikutan dibunuh gue sama Mama nanti. Gue turun dari mobil dengan perasaan gak karuan, masuk ke ruang tengah ada Ulfa lagi nonton TV. "Nenek mana, Fa?" Tanya gue. "Di dapur Om, lagi bikin sop buat Kakek pulang nanti." Jawabnya. Hati gue teriris dengernya. Papa pulang, tapi bukan untuk tinggal bareng kita lagi, Papa pulang untuk beneran pulang, bahkan tak sempat pamit. Gue berjalan lemah ke dapur, menemukan Mama yang lagi potong-potongin wortel. Ya tuhan, harus gue yang sampein ini ke Mama gue sendiri? Harus?? "Ma?" Panggil gue. "Eh? Kenapa Za? Ada yang ketinggalan? Cepet geh! Papa sama Fira nunggu nanti!" Seru Mama masih asik sama wortel. "Ma?" Akhirnya Mama meletakkan pisaunya lalu berbalik. "Kamu kenapa Fachreza??" Tanya Mama, nada suaranya syok, mungkin karena liat tampang gue. Gue maju, memeluk Mama seerat mungkin. Gue menangis dipelukan Mama. Gue gak sanggup bilang soal Papa, jadi gue hanya menangis, memeluk Mama seerat yang gue bisa. "Eza jangan kaya gini! Kamu bikin Mama takut! Kenapa???" Mama mendorong gue dari pelukannya. Menangkupkan kedua tangannya di wajah gue. "Kenapa nak?" Tanya Mama. Mukanya berubah sekarang, gak seceria tadi. "Ma, tadi, tadi Fira nelefon." Kata gue. "Iya, telefon Mama juga, katanya Papa boleh pulang, abis Papa minta pulang terus, sana cepet jemput!" Mama masih semangat walaupun gue menangkap kekhawatiran dalam suaranya. "Papa udah gak ada, Papa meninggal." Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut gue. Mama langsung ambruk, gue menahannya, menariknya kembali dalam pelukan gue, gue memperat pelukan gue saat mama terisak tanpa suara. "Ma, jemput Papa yuk? Biar gak kelamaan nunggunya." Ujar gue. Mama gak menjawab, masih terisak dan kali ini terdengar suara tangisannya. Gue cuma bisa diem, gue gak ngerti harus apa dan gimana, karena gue pun butuh pegangan. "Nenek kenapa?" Tanya Ulfa, ia sudah bergabung dengan kami di dapur, mungkin karena mendengar suara tangisan Mama. Mama melepas pelukan gue, lalu gue menunduk untuk menggendong Ulfa. "Kita ke rumah sakit ya?" Kata gue. Mama mengangguk, lalu gue menggandeng tangannya menuju mobil. Di perjalanan, mama diem, banyak nangis sih sebenernya, di belakang Ulfa diam, mungkin dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Sekian menit diperjalanan, kami sampai, langsung masuk dan nyari Fira. Kami masuk ke ruangan Papa di rawat, tapi kamarnya sudah kosong. Di salah satu koridor rumah sakit, gue liat Fira, dia duduk memeluk lutut di lantai, gue notice dia karena hafal sama bajunya. "Dek!" Panggil gue sambil menurunkan Ulfa dari gendongan gue. "Papa mana Dek??" Tanya Mama. "Udah dibawa ke kamar mayat, Ma, kalo udah tanda tangan baru dimandiin dan boleh dibawa pulang." Jelasnya, gue tarik ia untuk berdiri lalu memeluknya. "Kamu liat pas Papa gak ada?" Tanya gue. Dia mengangguk. Ah, gue juga mau liat Papa disaat terakhirnya. "Permisi, keluarga Pak Hilman." Seorang perawat mengintrupsi kami. Gue melepaskan pelukan gue dari Fira, lalu mendengarkan apa saja yang harus gue selesaikan. Mama dan Fira ke kamar mayat, sementara gue ke bagian depan mengurus adminstrasi dengan Ulfa. Setelah semua selesai, perawat tadi mengantar gue ke kamar mayat, Ulfa ikut karena ia ingin melihat Kakeknya untuk terakhir kali. Gue melihat Papa damai dalam tidur abadinya. Papa bahkan tersenyum. Well, mungkin ini pilihan tuhan yang terbaik. Gue hanya menarik nafas panjang, berusaha menahan air mata gue, berusaha menerima kalau gue sudah ditinggalkan oleh my super daddy. Gosh! Lalu, gue mengikuti salah satu perawat pria untuk memandikan Papa gue. Gue hanya berdiri di sudut ruangan, memandangi Papa gue karena gue gak cukup kuat untuk berdiri dan ikut memandikan papa gue secara langsung. "Pak Reza? Kalau mau bisa untuk keramasin Papanya." Ujar seorang pemandi jenazah itu. Gue menelan ludah, lalu mendekat. Mengambil posisi di bagian kepala Papa. Gue membasahi tangan gue kemudian menuangkan sedikit sampo ke telapak tangan gue lalu membusakannya, langsung gue mengusap rambut Papa yang masih sangat lebat ini dengan sampo, sedikit memijat kulit kepalanya selayaknya saat gue sedang mandi. Air mata mengalir saat gue melakukan ini. Ya ampun Pa, maaf ya, Eza cuma bisa keramasin Papa doang, Eza gak cukup kuat Pa. Gue mengambil selang air lalu menekan handle-nya untuk mengeluarkan air, membasuh shampo sambil mengusap rambut papa layaknya pekerja salon lagi keramasin orang. "Udah ya, Mas?" Kata gue kepada salah seorang perawat. "Iya Pak Reza, gak apa-apa." Katanya. Gue mundur, kembali memperhatikan Papa dari jauh. Selesai, kali ini gue ikut mengkafani Papa, melakukan sesuai yang diperintahkan si perawat. "Pak, ini bagian kepalanya gak diikat dulu ya, takutnya di rumah duka nanti ada saudara atau kerabat dekat ingin melihat, tapi kalau mau dimakamkan, iketnya gini ya mas?" Si perawat ini menjelaskan dan mengajarkan pada gue. Gue mengangguk. Gue menyerahkan kunci mobil gue ke Saphira, sementara gue dan Mama ikut bersama Papa di dalam ambulance menuju rumah. Gue kaget saat sampai rumah. Entah siapa yang ngabarin kalau Papa meninggal. Rumah gue udah rame sama tetangga dan saudara. Bendera kuning bahkan dipasang di kedua sisi pagar rumah gue. Mama gak berhenti menangis, bahkan saat masuk ke rumah, Mama langsung masuk kamar, tidak mempedulikan saudara dan tetangga yang ikut berbelasungkawa dengan kepergian Papa. Gue menyusul Mama, masuk ke kamar dan terlihat beliau sedang memeluk foto Papa, menangis dan sesekali terisak. Gue beraniin diri duduk di samping Mama, lalu memeluknya erat. Air mata gue keluar lagi. "Ma, Eza janji, setelah Papa pergi, Eza yang jagain Mama, Eza yang tanggung jawab atas keluarga ini. Dan Eza janji, soon or later, Eza akan bawa Kak Qila ke rumah ini ya Ma. Dan Mama tau kan, dulu, sekarang dan selamanya akan selalu jadi prioritasnya Eza."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN