Gadis itu tengah duduk di taman kota, dekat rumahnya. Hari memang masih terbilang pagi, akan tetapi matahari sudah terasa cukup menyengat. Gadis itu bermenung di bangku putih, membiarkan kulitnya terbakar oleh terik hari itu. Ia hanya menyipit, terus berpikir –sementara rambutnya yang tergerai beterbangan dihembus angin pagi yang sejuk. “Hei, Angel,” sapa seorang pemuda mendekati gadis itu. Ia mengambil tempat duduk di sebelah. “Kak Vito,” sapa Angel balik, tersenyum. Ia berpindah sedikit, memberi ruang bagi Vito untuk duduk. Si pemuda gondrong itu, menghela napas begitu ia sudah duduk dengan nyaman. Ia menoleh pada Angel. “Nggak ada jadwal kuliah?” Angel menggeleng. “Sebentar lagi, jam setengah sepuluh, Kak.” Vito melihat ke arah jam tangannya. “Tapi kamu bisa terlambat lho, Ngel.”

