Keduanya duduk di bangku panjang, tak jauh dari air mancur yang berada di tengah- tengah area taman kota itu. Ugi dan Angel duduk di bangku yang sama, dan Ugi tak pernah melepaskan sedikitpun pandangannya dari adik kawannya itu. “Angel,” panggilnya dengan pandangan lekat, membuat gadis itu memalingkan mukanya ke arah lain. “Ya, Kak?” Ugi memiringkan kepalanya, menangkap mata Angel. “Dengar, Angel, aku tahu kamu mungkin nggak pernah nyangka hal ini bakal terjadi, dan aku memang nggak pernah bilang siapapun soal ini. Mungkin, Abangmu udah punya feeling, tapi bagaimanapun aku nggak pernah kasih pernyataan pasti soal ini ke dia,” kata Ugi. “Dan sekarang, aku bakal ngasih penegasan, sama kamu dan Ronald.” Angel tak berkomentar, membiarkan Ugi melanjutkan. “Aku sayang sama kamu, Angeline Ad

