20. Peneror

1828 Kata

Pagi-pagi Ratih sudah kedatangan tamu di apartemennya. Hal seperti ini begitu berharga. Sebab sangat jarang terjadi, wanita itu akan datang jika ingin membicarakan sesuatu yang penting--selain dari itu, tidak pernah. Semacam tidak memiliki rasa peduli, padahal bagaimana pun Ratih adalah putrinya. "Pagi, Mami." Ratih baru bangun, menggulung rambutnya asal. Menarik kursi bar dapur, mengambil sepotong roti dan selai cokelat. "Tumben Mami berkunjung, ada perihal apa nih?" tanya Ratih tanpa basa-basi, dia terlalu malas memperpanjang pembicaraan yang akhirnya menjadi sebuah bumerang. Intan Laksa, mengangguk sambil tersenyum tipis. Ratih mengerti dirinya sekali, sangat tahu jika Intan datang pasti ada satu hal yang penting. "Yap, ada yang ingin Mami bicarakan. Kamu sudah sarapan?" "Aku baru b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN