Ada Apa Denganku?

1246 Kata
Hari ini aku melenggang santai memasuki koridor rumah sakit. Aku tidak mau ambil pusing memikirkan insiden mobil mogok di jam kritis seperti tadi. Sisi positifnya adalah karena aku tidak terlambat karena harus mengantar Kinara ke sekolahnya lebih dulu. Dan lagi, aku bisa sedikit lebih santai tanpa perlu capek mengemudikan mobilku di jalanan macet. Aku menebar senyuman manis pada setiap orang yang aku temui pagi ini mulai ketika aku melewati pintu masuk rumah sakit. Suasana hatiku sedang membaik saat ini. Sudah tahu 'kan apa alasannya? Yup, karena aku akan pergi liburan akhir tahun keliling dunia, dengan atau tanpa Mami dan Kinara. "Selamat pagi, Dokter." Beberapa orang staf rumah sakit menyapaku dengan ramah sambil tersenyum manis ketika kami berpapasan di koridor rumah sakit. Aku langsung mengangguk dan membalas senyuman mereka dengan senyuman maut milikku. "Selamat pagi juga, Bu," kataku tak kalah ramah. Keempat wanita itu langsung mengulum senyumnya malu-malu saat berlalu di depanku. Tak berselang lama, aku kembali bertemu dengan beberapa perawat lain yang bertugas di poli yang berbeda denganku. Dan kali ini mereka juga menunjukkan sikap yang sama. Sekali lagi aku juga menundukkan kepalaku sambil tersenyum ramah. "Selamat pagi, Bu. Gimana kabarnya hari ini?" tanyaku basa-basi pada mereka. Aku mulai curiga mengapa semua orang sangat ramah padaku pagi ini. Padahal hari-hari sebelumnya, semuanya masih biasa aja dan aku jarang terlibat percakapan dengan siapapun kecuali dengan pasien dan juga dua orang staf di meja pendaftaran serta petugas security. Apa sedang terjadi sesuatu? Tapi apa? Apakah hari ini aku terlambat lagi dan mereka sedang membahas tentang hal itu? Tapi itu gak mungkin. Aku bahkan masih punya waktu 10 menit lagi sebelum briefing pagi dimulai. "Hai... ngapain melamun di sini?" Suara lembut Gita menyadarkanku dari lamunan. Aku mengangkat wajah dan melirik padanya. "Oh, hai. Kamu baru sampai?" tanyaku saat melihat sosoknya yang terlihat berbeda hari ini. "Iya. Kenapa?" tanya Gita dengan raut bingung menghias wajahnya. Aku langsung menggeleng pelan. "Gak apa-apa, cuma nanya aja. Kemarin siang tumben kalian pulang duluan? Biasanya kamu nungguin aku sampai selesai. Kenapa?" Gita terlihat salah tingkah. Gadis itu melangkah maju meninggalkan aku yang masih berdiri mematung menunggu jawaban darinya. "Git!" panggilku kuat saat mengejarnya sampai di ruang pertemuan hingga beberapa orang yang ada di sekitar kami memalingkan wajahnya padaku. Ku lihat Gita masuk dan berkumpul bersama dengan teman-teman yang lain. Aku ragu untuk bertanya, tapi rasa penasaranku sudah sampai ke ubun-ubun. Akhirnya aku menarik gadis itu ke belakang, agak menjauh dari teman kami yang lain. "Kamu kenapa sih, Git? Aku nanya kok malah kabur," protesku padanya. Baru kali ini cowok ganteng seperti aku dianggurin sama perempuan seperti tadi. Gita menggaruk kepalanya sambil mengulum senyum. "Maaf ya, Kaito, aku takut kamu marah. Sebenarnya kemarin aku dan kawan-kawan yang lain bukan sengaja ninggalin kamu. Soalnya pas aku cariin kamu ke ruangan ternyata kamu udah gak ada. Terus pas aku tanya sama bapak yang jaga di pintu depan itu, katanya kamu udah pergi. Aku pikir kamu udah pulang duluan, makanya kami langsung pulang," terang Gita. Mendengar ucapan Gita aku langsung menghela napas lega. "Oh, waktu itu aku lagi makan siang di cafe depan. Terus pas aku balik ternyata kalian udah gak ada," jelasku. "Jadi, kamu balik buat nyariin kita di sini?" cicit Gita. "Ya, iyalah." "Ya ampun, maaf ya, Kaito. Kenapa gak nelpon aja, sih?" "Males. Buat apa lagi nelpon kamu?" balasku sengit. "Idih... udah gede tapi sukanya merajuk, kayak anak kecil aja," ejek Gita. "Biarin. Habisnya kamu gak setia kawan," balasku pura-pura marah. "Sstt...!" Percakapan kami berakhir saat seorang teman menegur kami ketika pertemuan akan segera dimulai. Aku dan Gita langsung menutup mulut dan masuk dalam barisan seperti hari-hari sebelumnya. Mendengarkan pengarahan pagi seperi biasanya. Kulayangkan pandanganku mengitari ruangan yang cukup luas untuk mencari seseorang yang sangat ingin ku lihat pagi ini. Sosok berkulit putih bersih dengan rambut hitam panjang yang menjuntai hingga di bawah punggung. Sayangnya aku harus menelan rasa kecewa. Sosok itu tidak bisa kutemui di antara puluhan orang yang berada di dalam ruangan ini. Apa dia tidak datang, ya? Apa mungkin hari ini dia terlambat? Aku membatin. Pengarahan yang disampaikan oleh pimpinan rumah sakit sudah tidak ku dengar lagi. Akan tetapi, gerakan kepalaku tertahan saat aku hendak menoleh ke belakang. Sebuah tangan menahan kepalaku agar tidak berbalik ke belakang. Da-daku berdebar cukup keras hingga membuat sensasi gamang di bawah perutku saat aku menyadari bahwa orang yang sedang aku cari sejak beberapa menit yang lalu sedang berdiri persis di belakangku. "Jangan melihat ke belakang. Lihat lurus ke depan!" tegur Dokter Karina dengan suara tegas. Aku langsung menelan saliva. Denyut jantung berkedut berkali lipat kencangnya. Bunyi gemuruh di dalam sana bahkan terdengar hingga ke liang pendengaranku saat ujung jarinya menyentuh kulit wajahku. "Dokter Karina?" gumamku pelan. "Hmm." Aku baru akan menoleh lagi. Tetapi lagi-lagi jarinya menahan wajahku agar tidak menoleh ke arahnya. "Dokter terlambat, ya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya dengan suara berbisik pelan. "Enggak. Saya sudah dari tadi di sini," sahutnya pelan. Apa? Jadi sejak tadi dia udah ada di situ? Batinku. Jantungnya seperti melompat keluar dari tempatnya karena merasa malu. Dokter Karina pasti berpikir jika aku dan Gita punya hubungan spesial. Hingga akhirnya, apa yang aku khawatirkan terjadi juga ketika wanita itu kembali membuka mulutnya beberapa menit kemudian. "Apakah dia pacarmu?" Suara lembut itu kembali membuat aku terkejut. "Bukan, Dok. Dia bukan pacar saya," jawabku dengan cepat. Namun, aku tidak mendengar sahutan lain setelah percakapan kami hingga pertemuan berakhir dan kami keluar dari ruangan itu. Ku ikuti langkah Dokter Karima hingga kami masuk ke dalam ruangan poli anak, bersama dengan seorang perawat. Sesampainya di dalam ruangan, kami berubah menjadi dua orang asing yang baru saja berkenalan. Sikap Dokter Karina berubah dingin dan tegas seperti biasanya. Tetapi lucu dan menggemaskan ketika dirinya berhadapan dengan seorang anak. Aku menatapi wajah cantik dengan semu merah di pipinya itu agak lama hingga tidak menyadari ada orang lain di ruangan ini yang menyaksikan kelakuanku yang memalukan ini. Perawat tua itu terpaksa menyenggol lenganku untuk membuatku sadar. "Pagi-pagi jangan melamun, Dok. Ini datanya diisi dulu," kata wanita itu padaku saat menyerahkan tumpukan map berisi rekam medis pasien yang datang pagi ini. "Oh iya, maaf." Aku langsung mengambil alih tumpukan map dari tangannya sambil tersipu malu. Bisa kalian bayangkan semerah apa wajahku saat ini? Aku bahkan malu untuk mengangkat wajahku. Dengan cepat aku selesaikan tugasku, mengisi beberapa laporan data rekam medis pasien yang sedang menunggu di luar untuk segera dipanggil. Belum lagi laporan harian yang harus segera aku kerjakan seperti biasanya. Sekitar tiga puluh menit aku duduk sambil menunduk tanpa melirik sedikit pun pada Dokter Karina. Pandangannya hanya fokus pada lembaran di depanku, sebelum perawat tua itu kembali menegurku jarena diam-diam memperhatikan dokter cantik yang duduk sambil menatap layar ponselnya. Hingga beberapa saat kemudian, Dokter Karina bangkit berdiri lalu keluar dari ruangan saat benda pipih yang tengah dipegangnya berdering nyaring menyita perhatianku beberapa saat hingga tubuh wanita itu menghilang di balik pintu. Sayup-sayup ku dengar suara Dokter Karina berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Tetapi, suara perawat tua yang duduk tak jauh dariku kembali menyadarkanku untuk segera menyelesaikan tugasku. "Gimana, Dok? Apa pasiennya sudah bisa dipanggil masuk?" tanya wanita itu membuyarkan usahaku untuk mendengar percakapan Dokter Karina dengan entah siapa. "Oh iya, bentar lagi, Bu. Masih ada beberapa lagi yang belum saya isi," sahutku cepat seraya membingkai senyumku. "Sini, biar saya bantu siapkan salinannya," ucap perawat itu menawarkan bantuannya. Bagus deh, dengan begitu aku bisa menghemat waktu dan bisa keluar untuk mencuri dengar percakapan dokter cantik itu dengan alasan memanggil pasien untuk diperiksa. "Makasih ya, Bu," ucapku seraya mengulas senyum penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN