Tante Merry : Go To Paris

1215 Kata
Aku menghela napasku, menelan salivaku dengan susah payah. Setelah semua yang terjadi, akhirnya aku menuju kursi kosong yang tersedia untukku sambil memaksa senyumku agar tampak lebih alami. "Hai, Tante..." Kalimat bodoh itu keluar begitu saja dari mulutku. Dan aku sangat menyesal karena harus menanggung akibat dari ucapan polosku itu. "Hai, Sayang. Mari duduk di sini." Tante Merry menarik kursi kosong tepat di sebelahnya. Kursi kosong yang seharusnya diduduki oleh Dara. Akan tetapi, gadis nakal itu lebberjalanih memilih untuk duduk di samping sahabatnya, Kinara. "Iya, makasih, Tante." Senyum dikulum malu-malu, tapi hatiku terus saja mengutuki keadaanku. Dengan terpaksa aku menurut dan duduk di kursiku meskipun perasaanku sangat tidak nyaman. Aku membuka piring dan mulai mengulurkan tangan mengisi piringku dengan nasi beserta lauk dan sayur buatan Mbak Asih. Aku dan yang lainnya mulai makan dalam hening. Mami tidak mengizinkan ada pembicaraan saat sedang makan. Suasana berjalan seperti biasa dan sejauh ini belum ada hal yang aneh sampai di akhir acara makan malam dan piring-piring di depan kami satu per satu mulai kosong. Tante Merry menyeka bibirnya dengan serbet setelah menghabiskan makan malamnya. Dan tanpa seorangpun menyadari, tangan sahabat Mami itu turun di atas pahaku hingga membuat mataku melebar seperti ingin melompat keluar. Wow... apa-apaan ini? Aku membatin. Aku takut bila Mami melihatnya kemudian menjadi salah sangka terhadap kami. Dengan perlahan tanpa menyinggung perasaannya, aku menggeser tangan Tante Merry turun dari pahaku. Untung saja, wanita itu langsung menarik tangannya kembali ke atas meja. Dan aku bisa bernapas dengan lega. "Oya, Bang... gimana tugas magang kamu di rumah sakit? Apa kamu masih lama tugas di sana, ya?" tanya Tante Merry saat membuka pembicaraan. Aku langsung mengangguk. "Semuanya baik, Tante. Dan sepertinya aku juga bakalan lama menjadi koas di sana," jelasku tanpa ada pikiran yang buruk di balik pertanyaannya. "Oh, begitu, ya? Kalau magang sebagai koas itu apa tidak boleh mengambil izin selama beberapa hari? tanya Tante Merry lagi. Keningku berkerut saat aku mulai menangkap sinyal aneh darinya. "Memangnya kenapa harus ambil cuti?" tanyaku balik. "Soalnya Tante mau ajak kalian liburan bareng, Bang. Kemarin Tante juga udah bilang, kan? Jadi, gimana keputusan kalian?" desak Tante Merry. Tangannya kembali turun mengusap pahaku kiriku. Jujur saja, perbuatannya sungguh membuatku risih. Mendengar pertanyaan dari teman arisannya, Mami langsung buka suara. "Kami ikut, Jeng Merry. Tapi hanya saya dan Kinara aja, Kaito udah bilang kalau dia gak bisa ikut sama kita," jawab Mami tegas. Dan jawaban itu cukup mewakili diriku. Wajah Tante Merry terlihat kecewa, sementara Dara dan Kinara tampak bahagia karena akhirnya mereka bisa liburan bersama. Mereka saling berpelukan sambil tertawa senang. "Sayang sekali, Tante tadinya berharap kalau kamu juga bisa ikut." Tante Merry membuang napasnya kuat. Jelas sekali bila wanita itu sangat kesal. Aku langsung mengatupkan kedua tanganku di depan da-da sambil memasang wajah menyesal. "Maaf, ya, Tante. Mungkin lain kali Kaito bisa ikut. Tapi saat ini kayaknya gak bisa, deh. Apalagi Kaito baru aja mulai magang di rumah sakit itu. Kaito harap Tante bisa mengerti situasi Kaito sekarang ini," kataku dengan mendayu-dayu, walaupun rasanya aku ingin memuntahkan kembali isi perutku. "Udah deh, Ma. Jangan paksa Bang Kaito lagi. Lagian gak masalah kalau kita perginya cuma berempat, iya kan, Tante?" Dara tersenyum penuh arti ke arah Mami. Aku bisa menebak jika gadis itu butuh bantuan Mami untuk membujuk ibunya itu. Begitu pun dengan diriku. Aku ikut menatap Mami dengan wajah memohon. "Iya, Jeng Merry. Udahlah, kita berempat juga gak masalah. Kita berempat bisa puas-puasin liburan. Anak laki-laki emang tau apa soal perempuan? Nanti yang ada Kaito malah mengeluh terus-terusan karena merasa bosan harus menemani empat perempuan," bujuk Mami. "Iya, Tante. Bang Kaito juga suka ngeluh kalau diajak jalan-jalan. Gak enak banget jalan sama dia," timpal Kinara menguatkan ucapan Mami Diana. Mendengar kalimat sahut-menyahut dari Mami dan Kinara membuatku terpaksa menutup mulutku dengan kedua tangan agar suara tawaku jangan sampai pecah. Atau usaha mereka harus berakhir dengan kekecewaan. Tante Marry akhirnya memyanggupi dan mengangguk setuju pada ucapan ketiga wanita lain yang sangat mendukungku. "Ya sudah, saat liburan nanti kita langsung berangkat. Untuk tiket pergi serta penginapannya biar saya yang siapkan. Kalian cukup siapkan dokumen aja karena kita akan liburan ke Paris selama satu minggu penuh." Tante Merry memberitakan dengan antusias sambil tersenyum lebar hingga bertepuk tangan senang. "Apa? Paris? Beneran, Ma?" "Paris? Yey... kita ke Paris." Kinara dan Dara sahut menyahut di kursi mereka, kemudian langsung terlonjak senang sambil berpelukan. Ekspresi terkejut sekaligus bahagia juga ditunjukan oleh Mami dan hal itu sukses membuat darahku seperti menguap. Paris? Waw... aku ingin sekali pergi ke sana. Orang-orang bilang tempat itu sangat indah, apalagi ketika malam hari. Hello? Apakah kalian tidak berniat menundanya hingga masa koasku berakhir? Aku langsung cemberut sedih, tetapi terus memaksakan senyumku pada mereka walau dalam hati aku menangis. "Bang, benaran gak mau ikut? Entar nyesal, loh." Kinara berusaha meyakinkanku lagi. Sekilas ku lihat senyuman Tante Merry kembali menggantung di bibirnya. "Sayang banget kalau kamu gak bisa ikut. Tapi gak apa-apa, yang penting kamu harus belajar dengan baik supaya bisa jadi dokter. Iya kan, Jeng Diana?" Tante Merry mengedipkan sebelah matanya pada Mami. Aku menatap Mami dengam raut sedih. Kali ini rasanya aku ingin ikut, Mami. *** Malam berlalu begitu cepat ketika pembicaraan mereka berlanjut ke ruang tengah dan aku masih menjadi pendengar setia hingga jam dinding berdentang kuat sebanyak tiga kali, menunjukkan sudah pukul 10 malam. Kinara mulai menguap lebar sambil meregangkan badannya. Sesaat kemudian, adikkubangkit berdiri dan pamit undur diri untuk naik ke kamarnya. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah sangat mengantuk dan butuh istirahat. Melihat Kinara pergi, aku juga memutuskan untuk naik ke kamarku setelah pamit pada semua orang yang ada di ruang tengah. Aku mengejar Kinara yang melangkah gontai menaiki anak tangga. Ku kalungkan tanganku di bahunya untuk menahan keseimbangan tubuhnya agar jangan jatuh. "Ayo, naik sama Abang. Abang takut kalau kamu sampai jatuh ke bawah karena mengantuk." Kinara tersenyum, lantas menyandarkan kepalanya di bahuku. "Makasih ya, Bang. Bang Kaito itu baik banget sama Kinara." "Tentu saja. Kamu itu adiknya Bang Kaito satu-satunya. Gadis tengil titipan Papi yang harus Abang dan Mami jaga dengan baik," kataku dengan lembut. "Aishiteruyo, Kyōdaì." "Watashi mo imōto ga daisukidesu." Aku mengusap puncak kepala Kinara dengan lembut. Adikku lantas tersenyum penuh haru. Kami lanjut melangkah naik hingga di anak tangga terakhir. Aku mengantar Kinara sampai di depan pintu kamarnya, kemudian berbalik arah dan masuk ke kamarku sendiri. Ku jatuh tubuhku di atas ranjang empuk berukuran king size milikku setelah mengunci pintu kamarku dengan baik. Aku tidak ingin ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam dan menindihku dengan ganas. Aach... entahlah! Otakku tiba-tiba saja memutar adegan di ruang makan tadi dengan sangat jelas. Sikap Tante Merry tadi sempat membuat jantungku berdebar kencang hingga rasanya hampir terlepas dari tempatnya. Teman arisan Mami itu memang sering menggodaku setiap kali aku ikut dalam grup arisan mereka, tapi tidak pernah menyangka jika Tante Merry akan seberani tadi. Positif thinking, Kaito! Mungkin saja yang terjadi tadi hanya sebuah sentuhan biasa. Jangan terlalu over thinking tentang semua hal. Dan mungkin itu benar-benar tidak disengaja, iya kan? Aargh... aku tidak tahu! Kepalaku sangat pusing sekarang. Dan aku butuh istirahat agar besok aku siap untuk kembali ke kehidupan nyata yang menungguku di depan sana. Ya, kehidupanku di antara keluhan para pasien serta omelan dokter cantik itu. Aku menarik napasku dan membuangnya perlahan. Lalu ku pejamkan mataku hingga akhirnya aku mulai terlelap dibuai mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN