“Ghaffi, salim dulu sama Nenek." Ucap Rayyan menundukkan pandangannya, sejak tadi Ghaffi terus memegangi ujung kokonya. Ghaffi mendongak membalas pandangan Ayahnya lalu kembali melihat kearah Bunda Azha yang tersenyum lembut. “Nenek.." Ucap Ghaffi pelan, meraih tangan Bunda Azha dan mencium punggung tangan wanita tua itu, setelahnya Ghaffi kembali berdiri di sebelah Ayahnya. “Langsung saja Rayyan, kedatangan Bunda cuma mau bilang, untuk sementara kamu yang urus Ghaffi, agar Nisa dan Dirga bisa fokus pada calon anak mereka." Ujar Bunda Azha. Rayyan sungguh tidak keberatan, memang ini yang dia harapkan, bisa mengurus Ghaffi, tetapi kenapa kesannya seperti keluarga mantan istrinya tidak menginginkan Ghaffi. Rayyan menganggukkan kepalanya. “Dengan senang hati, Bun, apa Nisa.. " “Bu

