Kia membuka matanya yang masih terasa berat. Dia hanya memakai selimut, perempuan itu meraba sisi sebelahnya berbaring. Kosong. Sepertinya, Devan sudah pergi. Pergi? Berarti lelaki itu sudah sehat dan bisa beraktivitas kembali. Kia memandang mentari yang menyilaukan, yang masuk karena jendela ternyata sudah terbuka. Lalu matanya yang tadi menyipit kini terbuka sempurna, jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Mentari sudah sangat tinggi dan terik. "Matilah aku! Paman pasti khawatir dan sedang mencari keberadaanku saat ini." Kia bergegas menyeret langkah, menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Devan. Terburu-buru dibasuhnya seluruh tubuh. Ia melirik sekilas cermin di dalam kamar mandi yang memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang penuh dengan tanda merah. "Astaga!"

