Part 23 “Haciimm.” “Haciimm.” Sekitar pukul empat pagi Clara keluar dari kamarnya. Kehujanan semalam, membuatnya demam dan flu. Badannya menggigil, dan ia tidak berhenti bersin. Di dapur, Clara membuat satu teh hangat. Hidungnya tersumbat dan susah bernafas. Jemari Clara menggenggam pegangan cangkir, membawanya ke ruang tengah. Kemudian, ia duduk menghadap ke arah kaca, yang tirainya terbuka. Tampak pemandangan pagi hari yang indah. Ia mencoba menghibur dirinya dari sakit hati semalam. Hawa dingin, membuat Clara melingkarkan tangan memeluk dirinya sendiri. Peristiwa semalam kembali terlintas di benaknya. Hatinya masih saja sakit, ada rasa yang tak biasa yang membuat air matanya merebak. Galih, pria itu ternyata tidak pernah mencintainya sama sekali. “Haciimm.” “Haciimm.” Akhi

