"Tiga tahun sekali, kamu pulang Ke Indonesia, tapi selalu saja pergi ke tempat lain, menemui orang lain sebelum bertemu Papa dan Mamamu di rumah?" protes Nyonya Reyna.
Wanita penuh kharisma itu, pura-pura marah. Bibirnya, menyunggingkan senyum pada putra pertamanya. Mengangkat kedua tangannya membuka pelukan.
"Iya, Ma," jawab Reyn.
Sangat, santai yakin jika Sang mama sebenarnya sangat rindu padanya. Ia berjalan menghampiri mamanya, dan memeluknya begitu erat. Nyonya Reyna, selalu membelanya bahkan ketika Sang Papa Wisnu Hartanto, mengumpat dan memarahinya karena, selalu semaunya sendiri.
"Bagaimana kabarmu, Reyn?" tanya wanita itu.
Segera memeluk putranya itu dengan hangat. Kemudian mereka berdua berjalan, berdampingan menuju sofa utama, yang berada di ruang tengah. Selalu sama, suara lembut Nyonya Reyna, membuat putra pertamanya itu tunduk. Kehangatan yang di pancarkan di sorot mata wanita itu, menurun pada Reyn. Menjadikannya pria yang tangguh dan mengayomi, begitulah ia dikenal teman-temannya.
"Seperti yang Mama lihat, aku baik-baik saja!" jawab Reyn.
Suaranya nyaring, bertemu dengan mamanya memberi aura positif, yang membuatnya bersemangat.
"Baiklah, karena mama harus menyiapkan pesta untukmu, nanti malam, mama akan sibuk, jadi sebaiknya kamu istirahat saja!" pinta Nyonya Reyna.
Meski Reyn sudah berumur 28 tahun, Nyonya Reyna masih saja memperlakukannya seperti anak remaja. Memanjakan putra semata wayangnya itu.
"Iya," jawabnya.
Reyn, melangkahkan kakinya, menuju lantai dua. Ia akan beristirahat, sejenak sebelum acara makan malam yang sudah direncanakan ibunya dimulai. Sambil menatap sayu langit-langit di kamarnya, Reyn kembali mengingat Clara. Sepuluh tahun ia berada di negeri orang, bertemu dengan wanita-wanita cantik dari berbagai negara. Namun, nama Clara tetap menjadi satu-satunya nama yang abadi terukir dihatinya.
..........
Malam harinya.
Reyn, mematut di depan cermin. Ia mengenakan celana berbahan kain, yang membalut kaki jenjangnya dengan begitu indah. Kemeja putih berkerah dan berlengan panjang, sudah di pakainya. Menutup kulit putih tulang milik pria itu. Di lengkapi jas berwarna hitam, yang membuatnya semakin memesona dan memikat.
"Tampan," bisiknya.
Pria itu tersenyum kepada dirinya sendiri. Terus saja mengagumi tampangnya, tak lupa ia memberi minyak dan parfum di rambutnya. Bibir pria itu kembali menyunggingkan senyum, tatkala melihat kesempurnaan di wajahnya.
"Tuan Reyn," panggil Faris.
Mulai hari ini, pria berusia tiga puluh tahun itu, akan menjadi sekretaris pribadi Reyn.
Reyn hanya menoleh. Memandang sekilas pria yang di titahkan orang tua untuk membantunya dalam pekerjaannya itu.
"Kita harus turun sekarang, Tuan Wisnu dan Nyonya Reyna sudah menunggu, Anda," titahnya.
"Baik," jawab Reyn.
Reyn, berjalan terlebih dahulu, diikuti Faris yang berada di belakangnya. Meski masih canggung, Faris akan melaksanakan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.
Di lantai bawah yang sudah di hias, dengan banyak makanan yang sudah dipesan. Beberapa pilihan minuman juga sudah tersedia. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan menikmati, musik jazz yang mengalun sebelum acara dimulai.
Tepat setelah Reyn berdiri di samping Pak Wisnu, musik jazz perlahan berhenti. Para tamu yang mengobrol mulai dia. Para tamu yang berasal dari petinggi di Hartanto Group, rekan terdekat, dan juga kerabat perlahan mulai tenang. Mereka fokus melihat pemuda yang berdiri di samping Presdir dari Hartanto Group.
"Terima kasih untuk rekan-rekan yang sudah hadir, di kesempatan malam ini. Akan memperkenalkan putra pertama saya, bernama Reyn Hartanto yang mulai besok akan menjadi wakil saya dalam menjalankan, perusahaan," ucap Pak Wisnu.
Seketika ruang tamu, yang cukup luas itu menjadi riuh. Banyak dari mereka yang tidak menyangka jika Wisnu memiliki anak laki-laki yang tampan seperti Reyn. Beberapa kerabat yang mengenal Reyn juga terheran-heran karena penampilan Reyn yang sekarang berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu.
Jika dulu Reyn, gendut berantakan dan jelek. Sekarang ia sudah berubah 180°, menjadi tampan, berkulit putih, dan berkarisma. Apalagi penampilannya yang rapi, mudah sekali baginya untuk mendapatkan wanita hanya dalam waktu singkat.
Reyn memberikan hormat, memberi salam pada rekan-rekan papanya yang kelak juga akan menjadi rekan kerjanya.
Acara berlangsung lancar, mereka pun menyambut Reyn dengan hangat. Hingga pandangan mata pria muda itu tertuju pada gadis yang berdiri di stan minuman. Ya! ada gadis yang selama sepuluh tahun ini mengganggunya. Tanpa dia menemuinya secara langsung gadis itu ternyata datang ke tempatnya. Ya! Clara sedang berdiri di sana, dengan baju seragam kerjanya.
Reyn tersenyum sinis, ia mengutuki dirinya sendiri yang sepuluh tahun lalu ditolak mentah-mentah pada gadis itu.
"Aku akan mengambil minum," ucap Reyn pada Faris.
Ingin menyapa gadis itu dari dekat.
"Biarkan saya yang mengambilkan minum untuk Anda Tuan," ijin Faris. Tetap menunjukkan rasa hormatnya pada, Reyn.
"Tidak, aku ingin mengambil sendiri," ucap Reyn kekeh.
"Iya, Tuan," jawab Faris yang selalu setia di sampingnya.
Reyn melangkah percaya diri menghampiri Clara, dia berdiri di hadapan gadis itu.
"Berikan aku minuman dingin," pintanya.
Dia menatap Carla, menyelidik apakah gadis itu mengenalinya, ternyata Carla tak mengingat Reyn sama sekali, dia sibuk meracik minum untuk Reyn.
"Ini, Tuan,"
Carla memberikan satu gelas minuman, bersoda dengan dua balok es batu yang tenggelam di dasar gelas, warna biru muda dari minuman itu. Hanya sekejap ia menatap pemuda tampan di hadapannya, sungguh tergoda dengan penampilan Reyn yang begitu menawan. Hingga ia menelan ludah saat memperhatikan, Reyn yang sedang meneguk minuman dinginnya.
Reyn, meneguk habis minuman di gelasnya, dengan sekejap mata dia memperhatikan Clara yang tetap mengamati dan masih tertegun, tidak mengenalinya sama sekali.
"Beraninya kamu melihatku seperti itu!" tegas Reyn.
Ia menaruh, gelas kosongnya di hadapan Clara. Kedua manik matanya tajam memperhatikan gadis itu.
"Tidak, tidak Tuan!" jawab Clara gemetar.
Bukan hanya suara tangannya juga ikut bergetar. Raut wajahnya pun menjadi pucat.
"Sekali lagi, kamu berani menatapku seperti itu lagi! Aku pastikan kamu keluar dari pekerjaanmu!" tegas Reyn.
Ia menatap tajam dengan jari telunjuk mengarah tepat di hadapan Clara. Puas sekali melihat gadis itu ketakutan. Ya! Rasa malunya sepuluh tahun yang lalu saat di tolak dan di permalukan gadis itu sedikit terkikis.
"Jangan, Tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi, maafkan saya berani lancang," ucap Clara.
Menundukkan kepala karena ketakutan. Beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan keributan di antara mereka berdua.
Reyn tertawa puas di dalam hati, gadis sombong nan angkuh itu kini memohon dan tak berani membantahnya. Ada rasa puas tersendiri yang ia rasakan. Reyn, masih memiliki hati untuk tidak mempermalukan gadis itu di kali pertama perjumpaan mereka.
.
.
.
To be Continue.