Setahun sudah berlalu semenjak Arman memilih tinggal di kampung halamannya Aleksa. Tak ada sedetik pun waktu terlewati tanpa menunggu kedatangan Aleksa dengan menggendong buah hati mereka yang pasti saat ini sudah lahir. Arman memejamkan mata, untuk merasakan lembutnya tangan Aleksa pada saat malam pertama bersamanya dikamar ini. " Mas, berjanjilah. Kamu tidak akan pernah menyakiti perasaanku, kamu akan selalu mempercayai kesetiaan dan kejujuranku?" " Mas janji, sayang. Mas tidak akan membiarkan airmata ini menetes dari sudut matamu. Mas tidak akan membiarkan hatimu terluka," Kata - kata itu kembali terdengar ditelinganya, menembus jiwa Arman yang kini sedang rapuh. Janji yang sudah diingkarinya hanya dalam tujuh hari pernikahaan. " Al...kembalilah, jangan kamu siksa aku seperti

