Mata Rosa menggeliat dalam pejamnya. Peluh membasahi pelipisnya meski pendingin ruangan kamar Paul tersetel dengan suhu yang cukup rendah. Pada satu momen, wanita itu seolah tersentak dan membuka matanya. Rosa baru saja mengalami mimpi yang memacu adrenalinnya hingga terbangun. Dengan napas terengah Rosa kemudian terduduk dan terkejut akan keberadaan dirinya di atas tempat tidur. Padahal seingatnya ia berada di sofa ruang tamu. Matanya menelisik desain kamar yang futuristik, tetapi juga minimalis. Tidak banyak perabotan, hanya ada ranjang, dua meja pada kedua sisi dekat ranjang, sofa besar yang bersandar di belakang jendela, lemari memanjang tanpa corak serta sebuah pot besar berisi tanaman yang hanya berupa daun. Aroma maskulin dengan kesederhanaan, namun terkesan elegan pada kamar ter

