Chapter 3
Aku tak ingin pergi dari sisimu
Tapi kini kau semakin menjauh
Aira tersentak ketika tiba-tiba Rey merangkulnya saat mereka menunggu teman-teman mereka yang lainnya di pelataran parkir pagi itu.
“Lo kenapa?” tanya Rey bingung mendapati reaksi Aira.
Aira berusaha tersenyum saat menggeleng. Ini adalah hal biasa di antara mereka. Namun, sejak kejadian minggu lalu … Aira merasa ada yang salah dengannya. Jika berada di dekat Rey, jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia pernah merasakan ini sebelumnya, saat mereka masih SMP. Aira akhirnya bisa melupakan perasaannya itu pada Rey, tapi kini …
“Ai,” panggil Rey.
“Hm?” sahut Aira tanpa menoleh. Ia tidak berani, karena wajah mereka terlalu dekat. Biasanya, ia tidak pernah memikirkan itu, tapi kini …
“Perasaan gue aja atau emang belakangan ini elo ngejauhin gue, ya?” Aira bisa merasakan Rey masih menatapnya, lekat.
Aira meringis. “Masa, sih?”
“Hm,” jawab Rey mantap. “Lo marah ama gue? Kenapa, kenapa? Gue ada salah ngomong apa? Lo kebiasaan sih, kalo ngambek nggak mau ngomong. Lo pikir gue paranormal yang bisa nebak pikiran lo?”
Aira kembali meringis. Ia berpikir keras. Apa yang harus ia katakan? Alasan apa yang harus ia berikan?
“Itu … gue …” Aira menarik lengan Rey dari bahunya, lalu menatap sekeliling pelataran parkir. Hanya ada beberapa murid dari kelas lain di koridor. Lalu, suara derum motor memasuki area pelataran parkir dan Aira mengenali pengendaranya; Alfon.
“Gue suka ama Alfon,” ucap Aira cepat, terlalu cepat. “Gue …”
“Alfon?” tanya Rey, memastikan Aira untuk tidak mengulang kata-katanya.
Aira mengangguk. “Gue nggak tau sejak kapan, tapi … belakangan kalo deket dia jantung gue jadi aneh. Gue jadi mendadak nervous kalo di deket dia,” dustanya.
Selama beberapa saat, Rey tak menyahut. Aira mendongak untuk menatap Rey, tapi ketika mendapati Rey juga menatapnya, Aira buru-buru menunduk. Apakah Rey tahu bahwa ia berbohong? Tidak … tidak mungkin, kan?
“Kenapa lo nggak ngomong sejak awal?” tanya Rey geli seraya mengacak rambut Aira, membuat perutnya bergolak.
“Gue malu, kali,” desis Aira. “Dia bikin gue kesel mulu, sih. Lo pasti bakal ngeledekin gue kalo lo tau.”
Rey tertawa kecil. “Nggak lah,” ucapnya. “Trus, sekarang lo mau gimana? Pedekate?”
Aira melirik Rey yang sudah menatap Alfon yang berjalan ke arah mereka.
“Iya,” jawab Aira. “Bantuin gue deket ama dia.”
Aira melihat Rey tersenyum. Entah kenapa itu menyakitinya.
“Oke.” Hanya itu jawaban Rey.
Dengan itu, Aira mengambil jarak dari Rey. Setidaknya, sekarang ia tidak akan menanyakan alasannya lagi, dan Aira tidak perlu berbohong lagi. Saat Alfon datang, tiba-tiba Rey berkata,
“Gue ke kelas dulu, ya? Gue belum ngerjain tugas. Lo temenin Aira, ya?”
Alfon mengerutkan kening, tapi ia mengangguk. Sepeninggal Rey, Alfon menatap Aira penuh selidik.
“Kalian berantem?” tanyanya.
Aira menggeleng.
“Trus?” tuntut Alfon.
“Ya kan, tadi Rey udah bilang, dia belum ngerjain tugas, tuh,” jawab Aira, berusaha santai.
Selama beberapa saat Alfon terdiam, lalu tiba-tiba ia mendengus geli. “Gue nggak percaya Rey bisa segampang itu percaya ama lo.”
Aira kontan menoleh kaget. Alfon tidak mungkin mendengar percakapan Aira dan Rey tadi, kan? Ia tidak mungkin …
“Lo suka ama gue?” Alfon bahkan menahan tawa ketika mengatakannya.
“Lo … denger tadi gue ngomong apa ke Rey?” panik Aira.
Alfon menggeleng. “Gue bisa liat dari ekspresi lo ama ekspresinya Rey tadi.”
“No way,” gumam Aira tak percaya.
“Rey nggak liat wajah lo langsung sih, makanya dia nggak tau kalo lo bohong. Iya, kan?” tebak Alfon.
Aira ternganga tak percaya. Bagaimana Alfon bisa tahu?
Seolah bisa membaca pikiran Aira, Alfon hanya tersenyum seraya mengedikkan bahu santai.
***
Rey berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan bagaimana Aira terus menoleh ke belakang untuk menatap Alfon. Awalnya, ia sempat khawatir Aira menjauhinya karena kejadian di kafe. Namun, meskipun ia bersyukur karena alasan Aira menjauh sama sekali bukan itu, entah kenapa ia masih merasa … terganggu.
“Kalo lo ngeliatin dia terus kayak gitu, bisa-bisa dia tau tanpa perlu lo ngomong,” celetuk Rey.
“Eh?” Aira menoleh ke arahnya.
Rey menghindari tatapan Aira, khawatir Aira akan melihat perasaannya. “Tapi kalo lo nggak khawatir tentang itu sih, nggak masalah,” ucapnya sesantai mungkin.
Aira meringis. “Ya nggak bisa gitu, lah. Ntar dia kaget kalo mendadak dia tau gue suka ama dia.”
Rey mendengus kecil. “Lo mau gue tukeran tempat duduk ama dia?”
“Hah? Nggak pa-pa, tuh?” Aira tampak antusias.
Rey mengangguk paksa, berusaha menutupi kekecewaannya.
“Tapi nggak deh,” ucap Aira kemudian. “Ntar dia bisa tau, dong.”
Kata-kata Aira itu membuat perasaan senang sekaligus kecewa berbaur di d**a Rey. Ia senang karena Aira tidak akan menyuruhnya pergi, tapi ia juga kecewa karena Alfonlah alasannya. Sepertinya ia harus mulai menyiapkan diri jika sampai Aira benar-benar tidak lagi menginginkan Rey di sampingnya.
***
Aira terkejut ketika tiba-tiba Rey berdiri dari duduknya di sebelah Aira, lalu menarik Alfon ke tempat yang ditinggalkannya. Rey lalu mengambil tempat di depan Alfon. Aira berusaha tampak setenang mungkin ketika Yura dan yang lain mulai menatapnya dan Rey bergantian, penuh selidik.
“Kalian berantem?” tanya Arisa.
Rey menggeleng, begitu pun Aira.
“Gue bosen di deketnya Aira. Berantem mulu. Capek,” jawab Rey santai, tapi cukup untuk membuat hati Aira mencelos.
“Bukannya di mana pun kalian duduk, seberapa pun jauh jaraknya, kalian pasti berantemnya, ya?” celetuk Alfon.
Aira menatap Alfon penuh peringatan. Ia tahu apa alasan Rey melakukan ini, tapi dia …
“Iya sih,” sahut Rey. “Kalo ama gue dia berantem terus, sih. Mulai sekarang, lo aja ya yang ngurusin dia,” ucapnya pada Alfon.
“Lo nggak nyesel ntar? Kalo nggak ada Aira, hidup lo bakal sepi, tuh. Nggak ada temen berantem, nggak ada cewek bawel kayak dia. Lo nggak pa-pa?” tanya Alfon, terdengar sedikit terlalu serius.
Aira mengernyit menahan sakit di dadanya saat Rey dengan santainya mengangguk. Ia bahkan tak menatap Aira.
“Malah bagus, dong. Hidup gue jadi lebih tenang.” Kata-kata Rey berhasil membuat mata Aira buram oleh air mata.
Sebelum siapa pun sempat melihatnya, Aira menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
“Oke,” Alfon berbicara, lalu Aira merasakan rangkulan Alfon di bahunya. “Mulai sekarang, temen berantem elo gue ya, Ai,” ucapnya pada Aira.
“Oke,” jawab Aira, berusaha terdengar seriang mungkin meski saat ini ia tak berani mengangkat wajahnya karena khawatir air matanya akan jatuh hanya dengan menatap wajah Rey.
***
Rey berusaha menjaga ekspresinya sedatar mungkin saat melihat Aira dan Alfon berjalan berdampingan di depannya, tangan Alfon melingkari bahu Aira. Namun, ia tak bisa melakukan apa pun karena inilah yang diinginkan Aira. Setidaknya, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk cewek itu.
“Gue nggak ngerti deh, lo kok tenang banget ngeliat mereka berdua?” Yura menatap Rey penasaran.
Rey berusaha tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Emangnya kenapa?”
“Lo ama Aira kan … deket banget. Kalian nggak terpisahkan. Dan … gue selalu mikir kalo akhirnya lo bakal ama Aira. Yang lain juga …”
“Gue ama Aira cuma sahabat, Ra,” sela Rey. “Gue udah pernah bilang, kan?”
Yura menggeleng, masih tak mau menerima penjelasan Rey itu. Masalahnya, hanya itu yang bisa Rey jelaskan padanya. Karena ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia sudah menyukai Aira sejak mereka masuk SMA, tapi ia tak ingin merusak persahabatannya dengan Aira hanya karena perasaan egoisnya.
Ia tidak ingin Aira menjauh darinya karena itu. Namun, jika Aira menjauh darinya seperti ini, setidaknya Rey merasa lebih baik. Karena betapa pun ini menyakitinya, setidaknya ia masih bisa melihat cewek itu tersenyum.
***
“Al, lo sekalian nganter Aira bisa, kan?” Rey berteriak pada Alfon begitu guru mata pelajaran terakhir hari itu meninggalkan kelas.
Alfon mendongak dan mengangguk. Ia sempat melihat sorot terluka di mata Rey sebelum anak itu menyambar tas dan meninggalkan kelas lebih dulu. Ia bahkan tidak berani menatap Aira. Sama seperti Aira tidak ingin Rey melihat kebenaran di matanya, Rey pun seperti itu. Mereka terlalu mengenal satu sama lain dan kenyataan itu kini justru menakuti mereka.
Yah, lihat saja, sampai berapa lama mereka bisa bertahan dengan permainan ini. Toh Aira sangat suka permainan seperti ini. Cewek itu …
“What a show, eh?” Sarkasme dingin itu datang dari Ice Princess yang duduk di sebelah Alfon.
Alfon belum pernah sekesal ini hanya karena mendengar suara seseorang. Cewek es di sebelahnya benar-benar luar biasa.
“Lo sendiri, sekarang kafe jadi ruang belajar? Kenapa? Nggak betah di rumah lo? Mau gue pinjemin ruang belajar? Eh … atau jangan-jangan … lo mau sok rajin belajar di tempat umum gitu?” ucap Alfon dengan nada merendahkan.
Tatapan dingin nan tajam Elsa kemudian membungkam Alfon seketika. Cewek itu tampak benar-benar marah. Ia memang tak mengatakan apa pun, tapi ia kini melemparkan buku-bukunya ke dalam tas dengan kasar. Alfon bahkan tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa cewek itu sangat marah.
Sebelum ia pergi, ia sempat berkata dingin, “Gue selalu ke kafe itu setiap hari bahkan sejak gue masih SMP. Kalo lo nggak tau apa-apa, mending lo diem, deh.”
Alfon mengerutkan kening. Sejak SMP? Setiap hari? Jika begitu, Aira dan yang lain pasti juga tahu itu karena mereka juga sering ke kafe. Jadi, waktu Aira memberinya tantangan untuk confess itu …
Alfon mendengus tak percaya seraya melemparkan buku-bukunya sembarangan ke dalam tas, seperti yang dilakukan Elsa tadi, sebelum menghampiri Aira. Ia bahkan tak memberi kesempatan pada Aira untuk bertanya dan segera menyeretnya pergi dari sana setelah berpamitan sekilas pada Yura.
“Alfon, apaan sih?” Aira berusaha menarik tangan dari pegangan Alfon.
Alfon menghentikan langkah di tengah koridor untuk menatap Aira tajam. “Harusnya gue yang tanya, maksud lo apa nyuruh gue confess ke Elsa di kafe waktu itu?” Alfon takjub pada dirinya menyadari ia berhasil mengatakannya tanpa berteriak.
Aira menatap sekeliling mereka panik. “Jangan di sini,” cewek itu berkata.
Alfon mengikuti tatapan Aira dan mendapati kini mereka menjadi pusat perhatian, jadi mau tak mau ia menuruti Aira dan melanjutkan langkah menyusuri koridor.
“Untung Rey udah pulang. Coba kalo dia liat kita kayak gini, dia nggak bakal percaya kalo gue suka ama lo,” gerutu Aira.
“Sori, tapi ini juga salah lo. Elo yang …”
“Oke, ntar gue jelasin,” Aira memotong cepat. “Karena itu ada hubungannya ama masalah pribadi Elsa.”
Alfon mengerutkan kening mendengar itu. Seketika, ia menghentikan langkah. “Lo tau seberapa banyak tentang Elsa?” tuntutnya.
“Kenapa? Sekarang lo penasaran ama dia? Lo akhirnya suka beneran ama dia?” ledek Aira seraya menyeret Alfon ke pelataran parkir.
Alfon mendesis kesal. “Gue mau ngebales cewek super dingin itu. Meski insiden gue di kafe waktu itu semua gara-gara lo, tapi dia juga salah. Dia udah tau kalo gue confess ke dia nggak serius, tapi dia malah ngomong gitu di depan pegawai kafe. Dia sengaja mau bikin gue malu.”
“Nggak mungkin,” gumam Aira tak percaya.
“Percaya atau nggak, cewek itu bener-bener nggak punya …” Alfon menghentikan kata-katanya. Terakhir Rey menyebutkan tentang cewek itu tidak punya perasaan, Alfon bahkan mendebatnya. Namun, setelah beberapa kali cewek itu membuat Alfon kesal … tidak, tidak. Ia tidak separah itu. Entah kenapa, Alfon merasa cewek itu menyimpan sesuatu … sebuah rahasia yang hanya disimpannya sendiri.
“Pokoknya, yang jelas, dia itu selalu bikin gue kesel setengah mati. Dia selalu ngeledek gue dan …”
“Gue pikir, dia nggak ngomong sebanyak itu, tapi kalo denger apa yang udah dia lakuin ke elo, kayaknya tiap kali dia ngomong, dia pasti ngeledek lo. Atau nggak, dia ngomongin hal yang buat lo kesel. Gue bener, kan?” Aira tersenyum puas.
“Lo mau gue ngomong ke Rey tentang yang sebenernya?” akhirnya Alfon menggunakan ancamannya.
“Jangan!” sergah Aira panik. “Sori, gue yang salah.”
“Kalo gitu, apa aja yang lo tau tentang Elsa? Lo tadi bilang tentang masalah pribadinya cewek es itu. Jadi …”
“Gue nggak bisa sembarangan ngomongin masalah pribadi orang lain kali, Al,” potong Aira.
“Kalo gitu, gue bakal bilang ke Rey kalo lo …”
“Oke, oke!” Aira mengalah. “Tapi kita nggak bisa ngomongin itu di sekolah. Dan gue butuh waktu buat nyiapin hati gue buat ngebocorin masalah pribadi orang lain, jadi besok Minggu aja kita keluar.”
“Date?” goda Alfon.
“As if,” balas Aira penuh sarkasme, seketika mengingatkan Alfon pada Elsa.
“Oke, deal.” Alfon tersenyum membayangkan ia akan punya bahan untuk balik mempermalukan Elsa. Cewek itu harus tahu dengan siapa ia berhadapan.
***