Chapter 4
Ketika ia menatapku
Aku mulai takut
Ia bisa membaca perasaanku
Arisa mengeluh mendengar tugas conversation untuk minggu depan. Bagaimana tidak, ia hanya mendapat waktu satu minggu untuk membuat conversation sesuai tema, dan penampilan mereka juga akan masuk penilaian untuk pelajaran kesenian. Mereka bahkan disarankan menambahkan materi lain untuk penilaian kesenian selain akting, seperti menyanyi, menari atau bermain musik.
Minggu depan, dua jam pelajaran kesenian akan ditambah dengan dua jam conversation untuk penilaian ini. Dan lagi, nilai ini akan digunakan untuk nilai praktek ujian akhir semester mereka. Miss Anne dan Bu Sandra, guru keseniannya, beralasan bahwa ini juga untuk menghemat waktu, mengingat sebentar lagi sekolah mereka akan sibuk dengan festival ulang tahun sekolah, lalu berlanjut dengan persiapan ujian akhir semester dan pertunjukan akhir tahun.
Sebagian murid masih protes karena sedikitnya waktu untuk persiapan mereka, yang itu berarti mereka akan harus berlatih setiap hari sampai hari penilaian. Sementara sebagian lagi menerima keputusan itu tanpa protes karena mereka pikir waktu-waktu ini adalah waktu luang yang mereka miliki sebelum festival sekolah, ulangan-ulangan harian dan persiapan ujian akhir semester mereka.
Sementara bagi Arisa, alasan kenapa ia keberatan dengan tugas ini adalah karena ini adalah tugas yang akan memaksanya terjebak dengan Ken selama seminggu penuh. Ia tidak butuh waktu tambahan untuk itu, sungguh. Dan lagi, ini adalah conversation, yang itu berarti, mereka tidak akan bisa mengerjakan tugasnya secara individu seperti tugas presentasi.
Seolah insiden saat presentasi kemarin dan efeknya kemudian belum cukup, sekarang Arisa harus menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ken. Ia menghela napas berat ketika kata-kata Ken minggu lalu kembali terngiang di kepalanya,
“Lo juga tau kan, anak-anak pada mikir kalo gue suka ama lo?”
Arisa benar-benar tidak butuh insiden salah paham yang lebih parah lagi. Betapa bodohnya, betapa memalukannya, jika sampai teman-teman sekelas Arisa tahu kebenaran bahwa Arisalah yang menyukai Ken, dan bukan sebaliknya. Itu juga, Arisa tidak membutuhkannya.
***
Arisa berusaha menjaga ekspresi agar tetap tenang dan datar sementara teman-teman sekelasnya sudah ramai bersorak menggodanya dan Ken saat Ken mengambil tempat di sampingnya untuk membahas tugas kelompok mereka. Untuk tugas itu sendiri, mereka bisa memilih salah satu dari dua kategori relationship; friendship atau couple.
Dengan kelompok hanya dua orang, dan tema seperti itu, ada kemungkinan beberapa kelompok akan memberikan penampilan yang sama, karena itulah Miss Anne dan Bu Sandra menyarankan agar murid-murid kelas itu lebih kreatif dalam menyiapkan pertunjukan mereka.
Arisa bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan Ken. Berpikir dengan benar saja ia tidak yakin bisa, kini ia harus memikirkan pertunjukan yang kreatif. Berada di sebelah Ken sambil menjaga ekspresinya saja sudah cukup sulit, kini ia harus berperan menjadi salah satu dari relationship partner Ken.
Arisa tidak yakin ia bisa berpura-pura menjadi sahabat Ken seperti teman-teman dekat Ken yang setia. Namun, jika mengambil opsi kedua, ia khawatir akan berakhir dengan benar-benar mengatakan perasaannya pada Ken.
Sejujurnya, meskipun Arisa menyatakan perasaannya pada Ken, ia sama sekali tidak mengharapkan jawaban cowok itu. Selama ini, ia menikmati perasaan sukanya pada Ken dan tidak mengharapkan apa pun. Ia benar-benar ingin menjaga perasaan ini untuk dirinya sendiri. Ia tidak ingin …
“Kita nggak mungkin pake friendship, kan?” Celetukan Ken menarik Arisa dari pikirannya.
Arisa melirik Ken. “Kenapa?”
“Karena lo benci sama gue,” sahut Ken enteng. “Lo selalu ngehindarin gue.”
Arisa tersentak kecil. Ia tidak pernah mengatakan itu. Ia memang selalu berusaha menghindari Ken, tapi alasannya sama sekali bukan itu. Dan sekarang, ia bahkan tak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada Ken.
“Kalo kita milih couple pun, kita nggak mungkin bisa meranin couple, jadi kita cuma bisa make confession aja. Dan karena lo benci sama gue, lo nggak mungkin jadi yang confess, jadi gue aja yang bakal confess ke elo,” lanjut Ken.
Arisa tak tahu harus menanggapi bagaimana. Itu salah. Ia bukannya membenci Ken. Lagipula, meskipun ia memang tidak bisa menjadi pihak yang harus menyatakan perasaan, itu juga bukan karena ia membenci Ken, tapi karena ia khawatir akan mengatakan yang sebenarnya tentang perasaannya. Namun lagi-lagi, tidak mungkin ia menjelaskan itu pada Ken.
“Jadi sekarang, kita buat ceritanya dulu, trus buat conversation-nya, dan mutusin lagu apa yang bakal gue pake buat confess,” Ken kembali berbicara. “Lagu favorit lo apa?” ia tiba-tiba bertanya.
“Eh?” Arisa gelagapan. Kenapa tiba-tiba Ken bertanya tentang itu?
“Kalo lo punya lagu kesukaan, gue bisa pake itu buat confess-nya ntar,” terang Ken santai.
“Oh …” gumam Arisa seraya memalingkan wajah. “Gue nggak suka lagu tertentu. Tapi gue suka musik, jadi lo pilih aja lagu yang lo suka.”
“Oke,” jawab Ken pendek. “Trus buat ceritanya … lo tau temen-temen gue, kan?”
Arisa mengangguk pelan.
“Temen-temen gue itu ada yang namanya Rey sama Aira, lo mungkin nggak tau mereka yang mana,” sebut Ken.
Salah. Arisa tahu. Rey dan Aira selalu berdebat untuk hal-hal terkecil sekalipun.
“Mereka berdua selalu aja debat buat hal-hal nggak penting,” urai Ken. “Kalo pake karakter mereka, kayaknya lebih gampang. Aira juga selalu ngomong kalo orang yang paling dia benci di dunia ini tuh Rey. Jadi … itu pas kan, buat lo?”
Arisa menatap Ken, sudah hendak protes karena Ken terus mengatakan hal-hal yang sama sekali tak ia tahu, tapi kalimatnya terhenti di ujung bibir ketika menyadari ia nyaris melakukan kesalahan. Arisa berdehem, sebelum kembali menghindari tatapan Ken dan menyahut,
“Terserah lo aja.”
Dalam hati, Arisa memaki dirinya sendiri. Ia nyaris saja meneriakkan perasaannya pada Ken. Dan ia khawatir, ia benar-benar akan melakukan itu di kesempatan lain. Selama Ken berada di dekatnya, perasaannya benar-benar tidak aman. Ia bisa meneriakkan perasaannya kapan saja.
Dengan Ken berada di dekatnya, perasaannya seolah berubah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Itu adalah hal terakhir yang diinginkan Arisa. Ia bukannya menghindari Ken tanpa alasan.
***
Ketika mereka memutuskan untuk melanjutkan mengerjakan tugas conversation di rumah Arisa sepulang sekolah, Arisa tahu mamanya akan heboh. Namun, ia sama sekali tidak menyangka mamanya akan seheboh ini. Arisa tidak bisa mencegah dirinya untuk merasa bersalah pada Ken ketika mamanya mulai menginterogasinya.
“Mama, Arisa mau ngerjain tugas, nih,” ucap Arisa, setengah mendesak ketika mamanya masih terus menanyakan segala hal tentang Ken saat Arisa sudah kembali ke teras belakang setelah mengganti seragam.
“Oke, oke. Mama kan, cuma penasaran sama pacar …”
“Temen, Mama. Temen,” Arisa menekankan kalimatnya.
“Oh, masih temen? Tapi kemaren Sera bilang …”
“Mama, please …” Arisa benar-benar memohon kini, dan akhirnya Mama mengalah.
“Oke, oke …. Gomen (Maaf) …” ucap mamanya sebelum pamit pada Ken untuk masuk ke dalam.
Arisa mendesah lelah sepeninggal mamanya. “Sori,” ia berkata tanpa menatap Ken. Ia tak sanggup. “Mama selalu kayak gitu kalo gue bawa temen ke rumah.”
“Lo pasti jarang banget ngajak temen-temen lo main ke rumah,” tebak Ken.
Arisa mengedikkan bahu sebagai jawaban setujunya. Siapa pun sepertinya juga tahu itu, mengingat Arisa tidak punya teman dekat. Teman-teman sekelasnya bisa datang ke rumahnya saja karena tugas kelompok. Jika bukan karena itu, kenapa Arisa mau repot-repot membawa orang asing ke rumahnya?
“Lo beda banget sama nyokap lo,” komentar Ken.
Arisa tak menyahut, tak merasa perlu membalas pernyataan Ken. Ia tidak ingin Ken tahu lebih banyak lagi tentangnya, dan ia tak ingin mengatakan lebih banyak lagi tentangnya pada Ken. Insiden tentang presentasi beberapa waktu lalu sudah cukup memberinya pelajaran. Ia tidak ingin kesalahpahaman seperti itu terulang lagi.
***
“Ari-chan.” Panggilan itu datang dari mama Arisa dari dalam rumah. Lalu, mama Arisa berbicara dalam bahasa Jepang.
Ini kedua kalinya Ken berada di rumah Arisa, dan berbeda seperti kemarin, kali ini, ia merasa terasing karena Arisa dan mamanya saling berbicara dengan bahasa Jepang satu sama lain, seolah tak ingin Ken tahu apa yang mereka bicarakan. Dugaan Ken, Arisa pasti memaksa mamanya melakukan itu.
Ken mengerutkan kening ketika mendengar Arisa mengucapkan maaf. Maaf untuk apa?
Mama Arisa yang mendengar jawaban Arisa itu lalu keluar ke teras belakang, tampak kecewa. Ken memperhatikan Arisa yang menarik napas dalam, seolah mempersiapkan diri, sebelum berbalik dan menatap mamanya.
Arisa mengatakan sesuatu yang membuat mamanya tampak semakin kecewa. Namun kemudian, mama Arisa tersenyum dan mengangguk. Mama Arisa lantas menatap Ken dan berkata,
“Tante titip Arisa, ya?”
Ken mengerutkan kening bingung mendengarnya. Lalu, ia mendengar Arisa berkata pelan padanya,
“Gue bilang ke Mama kalo besok kita latihan di rumah lo.”
Ken mengangkat alis ketika menatap cewek itu, lalu dalam bisikan, Arisa berkata, “Please …” dan Ken tak punya pilihan lain selain menjawab Mama Arisa,
“Iya Tante. Nggak usah khawatir. Besok pulangnya Ken bakal anter Arisa.”
Mama Arisa tersenyum, tampak lebih tenang. “Ya udah, sekarang lanjutin aja latihannya. Tante mau masak buat makan malam. Ken mau makan malam di sini sekalian? Tante jago masak, lho,” ucap Mama Arisa dengan bahasa Indonesia berlogat Jepang.
Ken menggeleng. “Makasih, Tante. Tapi Mama juga udah nungguin di rumah. Kasian kalo Mama makan sendirian,” ia berkata.
Mama Arisa tersenyum. “Mama Ken pasti seneng punya anak sebaik Ken,” ujar Mama Arisa sebelum kembali masuk ke dalam.
Ken meringis mendengarnya, lalu menoleh ke arah Arisa yang sudah menjatuhkan kepala di atas meja. Saat itulah Ken tahu, ada yang salah di sini. Sesuatu sedang terjadi di sini, dan sialnya, ia sama sekali tidak tahu apa itu.
“Tadi lo ngomong apa aja ama nyokap lo?” tuntut Ken.
Arisa tampak ragu dan enggan untuk mengatakan, jadi Ken harus menambahkan,
“Gue nggak mau bohong ke nyokap lo tanpa alasan. Kita besok nggak ada latihan karena lo bilang ada acara. Tapi kalo acara lo itu …”
“Besok Mama ulang tahun,” akhirnya Arisa mengungkapkan.
Ken mengangkat alis. “Trus, lo mau ninggalin nyokap lo sendirian di rumah, di hari ulang tahunnya?”
Arisa menggeleng. “Gue pengen bikin kue ulang tahun buat Mama, tapi gue nggak mau Mama tau. Makanya, besok gue mungkin mau pinjem dapurnya Sera. Karena itu, gue … yah, gitu, deh. Mama sebenernya besok ngajakin liburan ke villa, tapi gue bilang gue ada latihan ama lo,” urai Arisa tanpa sekali pun menatap Ken.
Sekarang Ken menyadari, Arisa selalu berusaha menghindari menatapnya jika mereka berada sedekat ini. Cewek ini jauh lebih berani saat ia menatap Ken dari jauh, dan entah kenapa, itu sedikit membuat Ken kesal. Arisa bahkan tak mau menatapnya saat berbicara padanya.
Sungguh, jika Ken tidak tahu perasaan Arisa yang sebenarnya, ia pasti akan berpikir bahwa cewek itu benar-benar membencinya.
***
Arisa tampak terkejut ketika membuka pintu dan melihat Ken yang berdiri di depan pintu rumahnya pagi itu. Cewek itu hanya menatap Ken tanpa sanggup berkata-kata selama beberapa saat, sampai suara mamanya terdengar dari dalam, berbicara dalam bahasa Jepang.
“Ari-chan?” Suara mama Arisa kini terdengar tepat di belakang cewek itu. Dan ketika mama Arisa melihat Ken, wanita itu langsung tersenyum lebar. “Oh, Ken udah datang? Ayo masuk,” ajak mama Arisa seraya menarik Arisa ke dalam dan membuka pintu lebih lebar untuk Ken.
Ken membalas senyum mama Arisa seraya mengikuti wanita itu ke dalam rumah.
“Tadinya Tante mau anter Arisa, tapi Arisa nggak mau. Ternyata kamu yang mau jemput Arisa. Habis Arisa nggak bilang sih ke Tante kalo kamu yang jemput,” celoteh riang mama Arisa memenuhi ruang tamu.
“Lo ngapain ke sini?” desis Arisa pelan.
Ken menoleh pada cewek itu. “Jemput elo. Elo nggak tau rumah gue, kan?”
“Tapi kan …”
“Lo pikir gue mau jadi partner in crime lo?” potong Ken geli.
“Tapi Sera …”
“Gue udah telpon dia dan bilang kalo lo nggak jadi pinjem dapurnya. Jadi, hari ini, lo boleh pinjem dapur gue,” terang Ken.
Arisa tampak akan protes, tapi menghentikannya karena mamanya kembali memanggilnya.
“Tadi Mama udah buatin sushi buat kamu sama Ken,” ucap mama Arisa riang.
“Mama …” Arisa sudah hendak protes, tapi Ken menyelanya,
“Wah, kok repot banget, Te …”
Mama Arisa menggeleng. “Tante buatnya banyak, jadi nanti kalian juga bisa makan bareng sama mamanya Ken. Salam Tante buat Mama Ken, ya?”
Ken tersenyum dan mengangguk. “Makasih, Tante,” ucapnya.
Mama Arisa mengangguk, lalu berbalik dan akhirnya meninggalkan mereka berdua untuk pergi ke dapur. Ken meringis ketika mendapati tatapan galak Arisa.
“Lo …”
“Lo kalo di rumah selalu ngomong pake bahasa Jepang ama nyokap lo?” Ken mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
Arisa masih menatapnya kesal. “Ya, kecuali di depan orang lain. Karena kata Mama itu nggak sopan,” balasnya ketus.
“Tapi kemaren lo ama nyokap lo ngomong pake bahasa Jepang di depan gue,” cetus Ken.
Arisa seketika memalingkan wajah.
“Kenapa? Nyokap lo bilang itu nggak sopan, tapi kenapa …”
“Karena gue khawatir Mama bakal ngomong yang nggak-nggak di depan lo,” sela Arisa, semakin kesal. “Gue nggak suka Mama ngomong sama lo,” lanjut Arisa sebelum meninggalkan Ken dan menyusul mamanya.
“Ouch,” gumam Ken. Jujur, kata-kata Arisa itu menyakitkan. Sejauh ini, itu yang paling menyakitkan. Berjaga-jaga, Ken mulai mempersiapkan diri untuk kata-kata menyakitkan Arisa berikutnya.
***
“Lo yakin, nggak pa-pa ninggal nyokap lo sendirian gini?” tanya Ken ketika mereka sudah tiba di depan rumah Ken. “Tadi kayaknya bokap lo juga nggak ada, kan?”
Arisa mengamati rumah Ken seraya menjawab pertanyaan itu, “Papa masih di luar kota dan nanti malem baru balik. Rencananya kalo gue mau ke villa, Papa bakal langsung nyusul ke sana. Tapi gue udah bilang ke Papa kalo gue mau ngasih surprise buat Mama. Gue bahkan pura-pura nggak inget kalo ini hari ulang tahun Mama. Tapi karena ini buat surprise, so I think it’s okay.”
Lagi, cewek itu berbicara tanpa menatap Ken. Sepertinya, di dunia ini, satu-satunya hal yang tidak cukup menarik perhatian Arisa adalah Ken. Bahkan meskipun cewek itu menyukainya … tunggu, ia benar-benar menyukai Ken, kan? Selama lima bulan Ken mengawasinya, Ken bisa yakin akan itu. Namun, kini …
“Orang rumah lo gimana? Nggak pa-pa gue minjem dapur lo?” Arisa akhirnya menatap Ken.
Diam-diam Ken mendesah lega sebelum menjawab, “Nggak pa-pa. Gue udah bilang ke nyokap gue. Nyokap malah pengen bantuin lo. Bokap gue juga udah tau dan katanya sempet ketemu ama bokap lo pas rapat orang tua awal tahun ajaran baru kemaren. Kantornya pernah ada proyek sama kantor bokap lo juga. Dan … gue anak tunggal, jadi nggak ada kakak ataupun adik.”
Arisa mengangguk-angguk. “Soal sushi-nya … kalo orang tua lo nggak suka …”
“Bokap gue suka masakan Jepang abis meeting proyek ama kantor bokap lo di restoran Jepang dulu,” potong Ken. Semalam, ia sudah bertanya banyak hal tentang pertemuan papanya dengan papa Arisa.
Arisa kembali mengangguk-angguk. “Oke, kalo gitu … oke …” gumam cewek itu.
Ken tersenyum kecil. Pagi ini, ia menyadari satu hal; ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan pada cewek ini, tentangnya, tentang keluarganya, segalanya. Selama ini, Arisa hanya tahu tentang Ken di sekolah. Namun, karena Ken juga sudah sedikitnya tahu tentang keluarga Arisa, ia merasa lebih adil setelah mengatakan sedikit hal tentang keluarganya pada cewek itu. Ia bahkan tidak keberatan untuk bertukar cerita lebih banyak lagi dengan cewek ini.
***
“Tante iri, deh. Ken aja nggak pernah bikin surprise buat Tante.” Ken memutar mata mendengar kata-kata mamanya itu. “Kamu sekali-sekali bikinin Mama kue ulang tahun dong, Ken. Kayak Arisa ini …”
“Ken nggak suka masak. Mama juga tau, kan?” Ken mengingatkan mamanya.
Mama Ken mencibir. “Biasanya kamu paling males kalo disuruh bantuin Mama di dapur. Tapi giliran Arisa yang di dapur, kamu betah banget seharian di sini.”
Ken melirik Arisa, memperhatikan ekspresi cewek itu seraya berkata cepat, “Kalo Ken ninggalin Arisa sendirian, takutnya ntar Mama ngomong macem-macem ama dia.”
“Kenapa? Macem-macem yang gimana? Atau ini contohnya, kamu waktu kecil masih ngompol sampai kelas lima?” sebut mamanya.
“Mama!” Ken bisa merasakan wajahnya panas. “Itu kan, cuma sekali. Mama tuh …” Ken menatap cemas ke arah Arisa ketika cewek itu mulai sibuk menahan tawa.
“Ken di sekolah populer lho, Te. Kalo fans dia tau tentang itu, bakal heboh satu sekolah,” Arisa berkata.
“Iya, kamu pake itu buat ngancam dia kalo dia buat masalah atau bikin kamu susah,” dukung mama Ken.
“Ma …” protes Ken terhenti ketika ia mendengar tawa kecil Arisa.
“Metode kayak gitu efektif banget ya, Te?” Arisa bertanya.
Mama Ken mengangguk. “Biasanya, Tante juga ngancam Ken kalo Tante bakal kasih tau ke temen-temen dia kalo Ken itu waktu masih kecil selalu nangis, nggak mau kalo dipakein celana. Jadi, Tante sering biarin dia keliaran di rumah nggak pake celana.”
Arisa tergelak saat menatap Ken. Dan protes yang sudah siap dilontarkan Ken, seketika lenyap.
“Sekarang Arisa ngerti kenapa Ken nggak berani ninggalin kita berdua sendiri di sini, Te,” ucap Arisa geli. “Ntar pas kuenya udah selesai, bisa-bisa Arisa tau semua cerita konyol masa kecilnya Ken.”
Mama Ken tertawa dan mengangguk. Begitulah, Ken menghabiskan harinya dengan mengamati Arisa dan mamanya terus mengobrol dan bertukar cerita sembari membuat kue ulang tahun untuk mama Arisa. Ken bahkan tak lagi protes ketika mamanya menceritakan cerita-cerita konyol masa kecilnya karena hari ini, untuk pertama kalinya, ia bisa melihat Arisa tersenyum dan tertawa, berkali-kali, tanpa pura-pura.
***
“Arisa, makasih ya, udah main ke rumah,” ucap mama Ken tulus seraya memeluk Arisa yang berpamitan sore itu.
Arisa tersenyum tulus dan mengangguk. “Arisa yang makasih karena udah dibantuin. Tante jago bikin kuenya. Kapan-kapan Arisa boleh tuh diajarin, Te.”
Mama Ken tertawa seraya melepaskan pelukan. “Iya. Nanti sering-sering aja main ke rumah. Tante kasih resep-resep rahasia Tante. Tapi nanti Tante juga dikasih resep masakan Jepangnya mamamu, ya?”
Arisa tersenyum geli dan mengangguk.
“Sampaiin juga salam balik Tante buat mamamu, ya?” lanjut mama Ken.
Arisa kembali mengangguk. “Makasih banyak ya, Tante, buat hari ini.”
Mama Ken mengangguk. “Tante jadi iri sama mamamu. Coba Tante punya anak cewek,” katanya.
Arisa tertawa pelan. “Nanti Arisa aja yang buatin kue buat Tante, gimana?”
Tidak hanya mamanya, tapi Ken juga terkejut dengan penawaran cewek itu.
“Duh, masa gara-gara anak Tante nggak mau buatin kue buat Tante, Tante sampai ngerepotin kamu,” ucap mama Ken.
Arisa menggeleng. “Nggak kok, Tante. Arisa janji, nanti Arisa bakal buatin kue juga buat Tante.”
Mama Ken tersenyum haru, lalu kembali memeluk cewek itu. Selama beberapa saat, Ken merasa tersisih, lagi. Bahkan di rumahnya sendiri, ia merasa tersisih karena cewek ini. Namun kali ini, Ken justru merasa senang melihat keakraban Arisa dan mamanya. Cewek ini …
“Ya udah, kamu hati-hati pulangnya. Kasian mamamu nunggu sendiri di rumah padahal ini hari ulang tahunnya.” Mama Ken melepaskan pelukan dan mengantar Arisa ke pintu depan.
Arisa tersenyum dan mengangguk. Ketika Arisa hendak menuruni undakan teras, lagi-lagi mama Ken merangkulnya tiba-tiba.
“Ma, udah sore, nih. Mau sampai kapan nahan Arisa di sini?” Ken mengingatkan mamanya.
Mama Ken menghela napas berat, sebelum untuk ketiga kalinya, melepaskan pelukan pada Arisa. Ken bahkan belum sekalipun memeluk cewek itu, pikir Ken getir.
“Kamu hati-hati ya, Ken, bawa mobilnya,” pesan Mama.
Ken mengangguk, mencium pipi mamanya sebelum bersama Arisa, menuruni undakan teras, dan masuk ke mobil. Arisa membalas lambaian tangan mama Ken dari dalam mobil sebelum Ken membawa mobil melaju meninggalkan rumah.
“Ken,” panggil Arisa tiba-tiba.
Ken melirik cewek itu, menunggu. Apa yang akan dia katakan? Hal burukkah? Hal baikkah? Apakah ia menyesal karena pergi ke rumah Ken hari ini?
“Gue naik taksi aja, deh,” lanjut cewek itu.
“Heh?” Ken penasaran kenapa tiba-tiba Arisa mengatakan itu.
“Kasian nyokap lo, sendirian di rumah,” Arisa berkata.
Ken memutar mata. “Kalo gue nggak nganterin elo, gue bakal diusir ama nyokap gue kali, Sa.”
Arisa meringis. “Tapi kasian nyokap lo sendirian di rumah. Lagian … bokap lo ngapain sih, pake ada acara kantor weekend gini.”
Ken tersenyum geli. Tadi setengah jam sebelum Arisa pulang memang papa Ken pergi untuk menghadiri acara kantor setelah menitipkan salam untuk papa Arisa. “Itu pesta kantor, tapi bokap gue masih harus ketemu beberapa orang sebelum pestanya ntar. Harusnya sih nyokap gue ama gue ikut, tapi karena tadi ada lo, bokap gue pergi sendiri.”
“Tuh kan … gue jadi tambah nggak enak, nih.” Arisa menggigit bibir panik. “Gue turun di sini, deh. Lo balik aja dan lo berangkat ke pestanya sama nyokap lo. Masih sempat, kan?”
Ken tak dapat menahan tawanya. “Nyantai aja kali, Sa. Tadi juga bokap gue udah bilang kalo gue ama Nyokap nggak perlu dateng.”
“Tapi …”
“Sshh …” sela Ken. “Gue lagi nyetir, jangan diajak ngomong, ntar gue nggak konsen. Lo lupa tadi nyokap gue bilang apa? Gue harus hati-hati, soalnya gue bawa tuan putri.”
“Apaan, sih …” desis Arisa kesal, tapi ia tak lagi merengek meminta taksi.
***
“Ini apa?” Ken mendapat heart attack dadakan ketika tiba-tiba Arisa mengulurkan sebuket besar bunga ke arahnya. Ketika mereka meninggalkan toko bunga tadi, Ken tidak bertanya alasan Arisa membeli dua buket bunga. Mungkinkah cewek itu …?
“Buat nyokap lo.” Jawaban Arisa membuat Ken lega, sekaligus kecewa. Dalam hati Ken mengomeli diri sendiri.
“Kenapa?” Suara Ken terdengar ketus, meski ia sama sekali tak meniatkannya.
“Karena lo nggak bisa bikin kue buat nyokap lo, seenggaknya beliin bunga bukan hal yang sulit, kan?” balas Arisa enteng.
Ken menelengkan kepala. Arisa tidak ingin Ken menyampaikan bunga ini untuk mamanya dari cewek ini, tapi dari Ken?
“Nyokap lo suka bunga, kan? Tadi taman di depan rumah lo banyak banget bunganya. Itu punya nyokap lo, kan?” Cewek itu tampak sedikit cemas memikirkan kemungkinan mama Ken tidak suka bunga.
Ken tersenyum menenangkannya. “Iya, itu punya Nyokap. Dan ya, Nyokap suka bunga. Suka banget.”
Arisa menghela napas lega. “Syukur deh,” ucap cewek itu seraya menjatuhkan buket bunga itu di atas pangkuan Ken. “Dan buat hari ini, thanks banget, ya. Gue nggak tau gimana balasnya, tapi … kalo lo butuh bantuan … apa pun … yah, who knows, gue bisa bantu.” Arisa meringis, tampak ragu.
Ken khawatir cewek itu tidak akan sanggup membantu Ken ketika Ken meminta bantuannya nanti. Toh saat ini, Ken hanya ingin mendengar sendiri dari mulut cewek itu, bahwa cewek itu menyukainya, dan alasan ia menyukai Ken. Permintaan seperti itu … Arisa pasti akan mendorong Ken sejauh mungkin setelah mendengarnya.
Untuk saat ini, itu adalah hal terakhir yang ia inginkan. Mengingat berapa banyak hal bodoh yang telah Ken lakukan hanya demi bisa mendekati Arisa belakangan.
***